
Kania bingung harus bagaimana. Harus merasa senang atau takut saat melihat hasil testpacknya.
Dua garis, namun yang satu masih samar. Bahkan hampir tak terlihat. Satu sisi Kania senang jika akhirnya dia kembali mengandung benih dari Devan. Tapi di sisi lain, dia takut kecewa. Takut hasil itu tidak akurat. Atau testpack itu sudah rusak.
Lebih baik dia menyembunyikan hal itu lagi dari Devan terlebih dahulu. Lagi-lagi Kania takut Devan akan kecewa jika hasilnya tidak sesuai dengan yang di harapkan.
Kania memilih menunggu sampai dua atau tiga hari lagi untuk kembali melakukan test. Juga menunggu bagaimana kelanjutan datang bulannya yang tidak normal ini.
***
Sore harinya, Kania dan Devan ke rumah Bram dan Hanum untuk menjemput Shaka. Bunda ratu tak henti-hentinya tersenyum bahagia melihat Kania dan Devan kembali akur.
"Kemarin kamu kemana, Ka? Mama sama Papa khawatir sekali sama kamu."
Hanum bertanya saat Shaka sedang asyik dengan mainan barunya. Sehingga dia tidak akan mendengar dan tidak akan tahu kalau kemarin bundanya kabur dari rumah, bukan sedang ada pekerjaan bersama ayahnya seperti yang sudah dikatakan oleh Hanum.
Kania tersenyum malu karena sudah kabur dari rumah. "Ke Gresik, Ma. Rumah nenek dari Bapak."
"Cuma ke Gresik?" Devan terlihat terkejut. "Dan aku nyuruh anak buahku nyari kamu sampai ke tempat tinggal kamu dulu, Yang. Ternyata cuma di Gresik doang."
Baik Bram, Hanum maupun Kania tak dapat menahan tawanya mendengar Devan yang menggerutu kesal. Hampir seluruh Jawa Timur di jelajahi oleh semua anak buah Devan, tapi ternyata Kania hanya di Gresik.
Entah kenapa Devan tidak kepikiran Kania ke Gresik. Padahal dia tau ada kerabat Kania yang tinggal di Gresik.
"Yang penting Kania sudah kembali." Bram menengahi. "Dalam rumah tangga, pertengkaran dan perbedaan pendapat itu pasti ada. Yang penting harus bisa jaga emosi, jaga ucapan agar tidak melukai satu sama lain. Terutama kamu, Devan. Papa tidak mau mendengar permasalahan seperti ini lagi."
Devan mengangguk patuh. "Baik, Pa."
"Kalau kamu lelah, lebih baik kamu bicara baik-baik. Jangan dikit-dikit terbawa emosi."
"Iya, Pa."
Setelah sholat isya, Kania, Devan dan Shaka pulang ke rumah mereka sendiri. Dengan kecepatan sedang Devan mengemudikan mobilnya, membelah jalanan ramai kota Surabaya di malam hari.
"Kemarin Bunda pergi dari rumah, kan? Bunda sama ayah lagi berantem, ya?"
Devan dan Kania saling berpandangan mendengar pertanyaan Shaka. Saling melempar tanya lewat tatapan mata, dari mana Shaka tau akan hal itu?"
"Eng-enggak. Kan, Bunda sama Ayah lagi ada kerjaan di luar kota. Jadi Shaka sama Oma dan Opa dulu. Bukan karena ayah dan bunda berantem."
"Jangan bohong, Bunda. Kemarin Shaka dengar Oma bilang ke Opa kalau bunda pergi dari rumah. Sekarang ayah dan bunda sudah baikan?"
__ADS_1
Kania dan Devan mengangguk malu. Hal seperti itu tidak bisa lagi disembunyikan dari Shaka. Kania berharap, setelah ini tak ada lagi pertengkaran antara dirinya dan Devan. Sekalipun ada, Kania anggap itu adalah bumbu dalam rumah tangga. Dan Kania berdoa kemarin adalah yang pertama dan terakhir Kania pergi dari rumah karena pertengkarannya dengan Devan.
"Maafkan Ayah dan Bunda ya, Nak. Sekarang ayah dan bunda udah nggak berantem lagi, kok. Iya, kan, bunda?"
Kania mengangguk mengiyakan ucapan Devan.
"Jangan ditiru ya, Nak. Nggak baik. Kemarin Ayah sama Bunda khilaf."
"Iya, Ayah. Ayah sama Bunda jangan berantem lagi, ya."
"Insyaaallah, Nak."
***
Sesampainya di rumah, Devan langsung menggendong Shaka yang tertidur. Menidurkannya di kamar Shaka sendiri.
Sedangkan Kania ke dapur untuk menghangatkan makanan untuk mereka makan malam.
"Makan, Mas. Tadi siang aku masak ini sebelum ke kantor." Kania menyerahkan sepiring nasi lengkap dengan tumis brokoli dan ayam goreng.
"Kamu udah sempat masak, Sayang? Jam berapa kamu pulang?"
"Jam sembilan udah sampai rumah. Kalau nggak dinasehati nenek, mungkin aku baru pulang seminggu lagi."
"Lagian ngapain juga aku pulang. Suamiku aja pangku-pangkuan sama cewek lain."
"Jangan diungkit lagi, Sayang. Kamu tau tadi dia yang memaksa. Aku nggak ngapa-ngapain."
Kania terkekeh pelan. Lalu mendekati Devan kemudian mengalungkan tangannya pada leher Devan dari belakang. "Maaf. Aku percaya sama kamu, Mas. Jangan sia-siakan itu."
Devan meraih satu tangan Kania lalu mengecupnya pelan. "Jawabanku tetap sama, Sayang. Aku tidak akan berjanji. Tapi akan berusaha."
Kania sudah bahagia memiliki Devan dan Shaka di dalam hidupnya. Andai dia diijinkan hamil dalam waktu dekat, kebahagiaannya pasti akan bertambah. Pasti kehamilannya juga akan membawa kebahagiaan untuk orang-orang terdekatnya.
Jantung Kania berdebar menanti hari esok. Dia tak sabar lagi untuk melakukan test urin besok pagi. Semoga saja hasilnya lebih terlihat lagi.
"Ada yang kamu pikirkan, Sayang?"
Kegundahan hati Kania ternyata terbaca oleh Devan. Sesegera mungkin Kania memasang wajah cerah, menampik kecurigaan Devan. "Nggak ada apa-apa, Mas."
"Beneran?"
__ADS_1
Kania mengangguk pasti. Memberikan senyuman terbaik pada Devan, meyakinkan Devan bahwa dia baik-baik saja.
Setelah Devan selesai makan, Devan langsung menarik tangan Kania yang masih mengalung di lehernya dan membawa Kania ke dalam pangkuannya. "Kangen," bisik Devan hangat dengan tangan yang sudah mulai bergerilya di bagian tubuh Kania.
Pipi Kania merona mendengar ucapan Devan. Napas Devan terasa hangat menyapu telinganya.
"Tapi Mas harus tahan sampai empat hari ke depan."
Kania salah tingkah. Sebenarnya Kania sudah mandi keramas saat kamar yang ada di roof top kantor Devan tadi. Dengan kilat mengeringkan rambutnya sebelum Devan kembali ke kamar.
Jika malam ini Devan memintanya pun sudah tidak masalah bagi Kania. Tapi karena hasil testpack yang masih samar tadi, Kania jadi takut untuk melakukan hubungan suami istri dengan Devan. Takut dia benar-benar hamil, dan akan berefek buruk pada janinnya.
🌼🌼🌼
"Oh, ini istrinya Devan? Cantiknya nggak seberapa, ya. Pasti pakai pelet, ya, buat rayu Devan?"
Kania menatap datar wanita yang siang ini berdiri di depan rumahnya. Berani-beraninya dia datang ke rumahnya. Dia siang bolong, di saat sedang enak-enaknya Kania rebahan.
"Buat apa kamu ke sini?" tanya Kania disertai dengan tatapan tajamnya. Tak berniat juga untuk mempersilahkan Ivanka untuk masuk ke dalam rumah.
"Wow, santai saja, Nyonya Devan. Saya ke sini hanya untuk menjelaskan betapa kualitas kamu jauh lebih di bawah saya."
"Oh, ya? Dalam hal apa?"
Ivanka menyibakkan rambutnya dengan angkuh. Menatap remeh Kania yang hanya mengenakan setelan rumahan dan rambutnya diikat ke atas. Memang tidak mencerminkan seorang istri CEO ternama. Tapi Devan selalu suka dengan penampilan Kania yang seperti itu.
"Ku dengar kamu putus kuliah karena hamil. Beneran anaknya Devan? Keluarga kamu juga petani biasa. Penampilan kamu juga biasa saja. Berbeda jauh denganku. Aku berpendidikan tinggi. Keluargaku sederajat dengan keluarga Devan. Dan yang pasti, aku tidak hamil di luar nikah."
Kania tertawa kecil. "Berpendidikan tinggi tidak menjamin seseorang akan memiliki adab yang baik. Terserah kamu mau menilaiku bagaimana, aku tidak peduli. Yang aku mau kamu pergi dari sini."
"Berani kamu ngusir aku?"
"Kenapa? Ini rumahku. Aku yang berhak menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh datang ke sini. Kamu mau mengundang media? Mengatakan tidak-tidak tentang penyambutan kamu di rumah ini? Maaf, kamu bukan siapa-siapa yang harus aku sambut dengan baik. Apalagi kedatangan kamu hanya ingin menunjukkan siapa kamu dan merendahkan aku."
Ivanka mengepalkan kedua tangannya. Semua ucapan Kania mampu membungkam mulutnya. Ingin rasanya menjambak rambut Kania, atau melakukan hal apapun yang membuat Kania akan meminta maaf padanya karena telah berucap sedemikian panjangnya pada Ivanka.
Namun Ivanka segera tersadar kalau di sudut atap teras rumah Kania dan Devan ada cctv yang tengah menyorot keduanya.
"Awas kamu!" ancam Ivanka sebelum pergi meninggalkan rumah Kania.
Kania hanya bisa menggelengkan kepalanya sepeninggal Ivanka. "Ada-ada aja, sih. Ada, ya, orang kayak gitu?" gumam Kania sambil menutup kembali pintu rumahnya.
__ADS_1
🌼🌼🌼