
Bukan hal yang mudah untuk memutuskan sesuatu yang berpengaruh besar pada kehidupannya kelak.
Menerima lamaran Devan, hal itu sama sekali tidak terlintas dipikirannya. Bahkan bermimpi dan berharap di lamar dan di nikahi Devan pun tidak pernah. Bagaimana mungkin dia akan menjalin rumah tangga tanpa cinta. Bahkan saat lelaki itu menganggap Kania perempuan murahan yang menjual dirinya.
Seperti itukah lelaki yang akan menjadi pemimpinnya?
Tapi melihat kebahagiaan Shaka saat bersama Devan, rasanya Kania begitu egois kalau seandainya dia menolak lamaran Devan. Harapan Shaka untuk bisa berkumpul dengan Devan begitu besar.
"Kania. Sudah lama?"
Kania segera menarik diri dari lamunannya saat Tasya menyapa dan menghampiri dirinya.
"Mikirin apa, sih? Mikir jawaban buat lamarannya Devan, ya?"
"Kok, kamu tahu?"
Tasya tertawa pelan. "Kania, kamu lupa aku itu siapanya Devan? Ya jelas tahu-lah."
"Jangan-jangan kamu sengaja ngajak aku jalan-jalan biar aku nggak tahu kalau mereka datang ke rumahku?" Kania menuding Tasya bersekongkol dengan Devan.
Dengan cepat Tasya menggelengkan kepalanya. "Enggak. Aku enggak tahu kalau soal itu. Sumpah!" Tasya mengagungkan dua jarinya, membentuk huruf V.
Kania mengembuskan napas dengan kasar. Sejak kemarin otaknya terus memikirkan jawaban apa yang akan di berikan pada Devan dan keluarganya.
Rasanya masih ragu, hatinya tidak yakin untuk menerima Devan masuk terlalu jauh dalam kehidupannya.
Bukankah selama ini sudah cukup dengan Kania yang mengijinkan Devan dan keluarganya bertemu dengan Shaka? Tanpa batas waktu. Kapanpun mereka ingin bertemu dengan Shaka, Kania mengijinkannya.
Kania hanya takut kecewa. Dia tak siap jika harus gagal lagi seperti saat bersama Rama kemarin.
Jika bersama Rama, Rama begitu mencintainya. Tapi keluarga Rama membenci dirinya.
Tapi kalau bersama Devan justru kebalikannya. Keluarga Devan begitu menyayangi Kania dan menerima Kania apa adanya. Tapi tidak dengan Devan yang tidak menyukai dirinya.
"Katanya ada kerjaan buat aku. Apa?" Tujuan keduanya bertemu karena Tasya mengatakan kalau dia ada kerjaan untuk Kania.
"Yakin mau kerja? Nggak mau habisin duitnya Devan aja?" Tasya menatap Kania dengan ragu.
"Apaan, sih? Emang aku siapanya Devan mau habisin duitnya dia?" sungut Kania dengan kesal.
"Tapi kalau aku jadi kamu, mendingan aku rebahan, santai-santai di rumah, sekalinya keluar ngabisin duitnya Devan."
Kania menyentil dahi Tasya dengan gemas sampai Tasya mengaduh kecil. "Itu kamu, bukan aku!"
"Sakit, Kania!" keluhnya lebay. Justru di sambut tawa oleh Kania.
__ADS_1
Kania masih tak menyangka kalau sekarang dia bisa berteman dekat dengan Tasya seperti ini. Dia baik, dia tulus meskipun mulutnya ceplas-ceplos seenaknya sendiri.
Berbeda dengan Dita. Dia sudah dianggap sahabat dekat, bahkan seperti saudara sendiri oleh Kania. Tapi tega-teganya Dita menusuk Kania dari belakang. Menyebarkan aibnya sampai semua orang tahu tentang masa lalunya.
"Seriusan, deh, Ka. Telingaku bisa putus di jewer Tante Hanum kalau aku ngasih tahu kerjaan ke kamu. Kamu itu calon mantu kesayangan Tante Hanum. Dia nggak mungkin ngijinin kamu buat kerja."
"Udah, deh, Sya. Belum tentu aku jadi mantunya dia. Mending cepat bilang, ada kerjaan apa buat aku?"
"Ya udah, deh, iya." Tasya menyerah. "Jadi, adiknya papaku, Tante Rinda, baru aja buka cabang toko kue di daerah sini. Dia butuh orang yang berpengalaman untuk toko kuenya ini. Kamu kan, dulu katanya pernah punya toko kue. Jadi aku udah usulkan nama kamu ke dia. Katanya, sih, mau ngabarin lagi nanti. Jadi kamu siap-siap aja."
Mata Kania berbinar cerah mendengar ucapan Tasya. Akhirnya dia mendapat pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. "Makasih banyak ya, Tasya. Akhirnya aku nggak jadi pengangguran lagi."
Tasya hanya mengangguk pelan dan tersenyum. Sambil berharap semoga Hanum tidak memarahinya habis-habisan karena calon mantu kesayangannya di berikan pekerjaan sebagai karyawan di toko kue.
***
Dengan antusias Hanum menyiapkan makan siang untuk Devan. Sebab, dia akan meminta Kania untuk mengantarkan makanan tersebut ke kantor Devan. Semua demi bisa membuat keduanya lebih dekat lagi. Jadi Kania tak perlu ragu untuk menerima lamaran Devan.
Sudah hampir seminggu sejak Bram dan Hanum datang ke rumah Kania, belum juga muncul tanda-tanda Kania akan memberikan jawaban. Hanum tidak sabar menantikannya.
Siapa tahu, dengan cara meminta Kania datang ke kantor Devan dengan membawa makan siang untuk Devan ini bisa berhasil.
Dengan ragu Kania menerima box lunch yang di berikan Hanum. Harusnya dia tak memenuhi permintaan Hanum yang meminta Kania untuk datang ke rumah Hanum.
Jika Kania tahu akan seperti ini, tentu saja dia akan mencari alasan agar bisa menghindar.
"Kamu tenang aja soal itu. Sudah sana berangkat," jawab Hanum dengan senyuman yang tak pernah lepas dari bibirnya.
Terpaksa Kania menuruti Hanum dengan menaiki mobil yang akan mengantarkan Hanum ke kantor Devan.
Sepanjang perjalanan, jantung Kania berdebar kencang. Bukan karena dia sedang jatuh cinta dan akan segera bertemu dengan sang pujaan hati.
Tapi semenjak Devan melamarnya, Kania tidak ingin bertemu dengan Devan. Dia tidak siap memandang wajah lelaki yang membencinya, tapi malah melamar dirinya.
Aneh. Itu aneh bagi Kania.
Sekitar tiga puluh menit perjalanan, Kania sudah sampai di kantor Devan.
Anehnya, Nindita mengangguk hormat pada Kania saat Kania sampai di depan meja resepsionis. "Bu Kania silahkan masuk!" ucapnya yang membuat Kania mengernyit heran.
"Mbak Nindita nggak salah ngomong, kan?"
Nindita tersenyum penuh hormat. "Tidak, ibu. Silahkan masuk!"
"Eh, i-iya." Kania mengangguk kaku. Setelahnya dia paham, jadi ini maksud Hanum yang memintanya untuk tenang.
__ADS_1
Pasti Hanum yang sudah menyuruh Nindita dan semua orang di kantor Devan untuk bersikap baik dan hormat pada Kania. Sehingga tidak ada satupun orang yang menahan orang asing seperti Kania untuk masuk ke dalam kantor Devan.
Sesampainya di lantai tempat ruangan Devan berada, Kania merasa aneh dengan suasana yang begitu hening. Ruangan sekertaris yang ada di depan ruangan Devan pun kosong.
Kania bingung, dia langsung masuk atau menunggu sekertaris Devan datang agar bisa masuk ke dalam ruangan Devan.
Kalau Kania langsung masuk begitu saja, Kania takut akan seperti tempo hari. Dia menerobos masuk begitu saja saat Devan sedang meeting.
Dengan ragu, Kania mendekati pintu ruangan Devan. Tak ada suara orang sedang berbicara. Tapi, ada suara aneh yang terdengar oleh Kania.
Kania mencoba berpikir positif. Dia tidak ingin berburuk sangka pada Devan. Tapi rasa penasarannya membuat tangannya begitu lancang memutar gagang pintu ruangan Devan.
Box lunch di tangan Kania terjatuh saat Kania berhasil membuka pintu dan melihat pemandangan di depan matanya.
Jantungnya berdegup kencang, tangannya pun gemetaran. Bahkan untuk memunguti kotak makan yang isinya sudah berantakan pun Kania tak mampu.
Mencari aman, Kania lebih memilih membalikkan badannya lalu berlari meninggalkan ruangan Devan dengan cepat.
Di dalam lift, Kania masih tak berhenti memikirkan apa yang baru saja dia lihat.
Devan dan sekertarisnya, apa sudah menjadi rahasia umum kalau seorang bos dan sekertaris pasti ujung-ujungnya akan terlibat dalam urusan seperti itu?
Lalu, apakah Kania masih harus menerima Devan sebagai suaminya? Dia menuduh Kania bukan wanita baik-baik. Tapi ternyata kelakuannya sendiri lebih buruk dari Kania.
***
*Apa jawaban kamu, Ka? Kami sudah tidak sabar menunggu jawaban kamu."
Kania tersenyum kaku. Jawaban ini sudah dia dapatkan sejak dia memergoki Devan sedang bermain dengan sekertarisnya. Entah saat itu Devan langsung menghentikan aktivitas mereka atau tidak, Kania tidak peduli.
"Maaf, Pak, Bu. Saya tidak bisa menerima lamaran Devan."
Semua mata tertuju pada Kania. Mereka begitu terkejut mendengar jawaban Kania yang berada di luar ekspektasi mereka.
"Kenapa, Ka? Devan akan bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan terhadap kamu. Kenapa kamu menolaknya?" Hanum terlihat tidak terima.
"Maaf, Bu. Untuk alasannya, saya rasa Devan sudah tahu. Bu Hanum bisa bertanya langsung pada Devan sendiri."
Mendengar ucapan Kania, Hanum melayangkan tatapan tajam pada Devan. "Apa yang kamu lakukan, Devan? Masalah apa lagi yang kami perbuat?"
Devan menunduk. Dalam hatinya merutuki Kania yang secara tidak langsung membuka rahasia Devan di depan orangtuanya.
Setelah ini, dia harus bersiap menghadapi kemarahan orangtuanya, untuk yang kesekian kalinya.
🌼🌼🌼
__ADS_1
Tadinya mau sering-sering up, sehari dua kali misalnya. tapi kadang moodnya buat nulis lagi udah ambyar kalau udah habis up satu bab. 😁 maafkan diriku, teman-teman. kadang moodnya masih suka berantakan. nulis butuh mood yang baik biar idenya mengalir terus.
Happy reading yaa.. semoga tetap suka. ❤️❤️