Benih CEO

Benih CEO
Bab 65


__ADS_3

Sebenarnya bukan suatu masalah yang besar yang terjadi di perusahaannya. Bram menyelesaikannya dengan cepat selagi Devan mencari keberadaan Kania.


"Ini yang terakhir Papa menyelesaikan masalah kamu, Devan. Itupun Papa tidak akan melakukannya kalau saja Kania tidak menghilang. Temukan Kania secepatnya sebelum media tau soal masalah rumah tangga kalian."


Devan mengangguk lesu. "Terimakasih, Pa."


Tanpa menjawab, Bram langsung meninggalkan ruangan Devan.


"Dan satu lagi." Bram urung meninggalkan ruangan Devan. "Selesaikan masalah yang satu itu. Papa tidak mau mendengar ada pertengkaran lagi antara kamu dan Kania. Apalagi karena masalah yang satu itu."


Sekali lagi Devan mengangguk. Namun kali ini sebuah anggukan malas yang dia berikan kepada Papanya.


Dengan kasar Devan merebahkan tubuhnya ke atas sofa. Masih terus memikirkan dimana keberadaan Kania sekarang. Dia sedang apa? Tidak rindukah dia dengan Devan dan Shaka? Apa harus pergi tanpa kabar begini untuk menghukum Devan?


"Belum ada kabar soal Kania?"


Nino masuk dan langsung menanyakan Kania. Dirinya pun turut was-was. Sudah dua puluh empat jam Kania menghilang. Dia takut masalah Devan akan terendus media jika Kania tidak segera pulang.


"Kalau udah, nggak mungkin aku di sini."


Iya juga, ya? pikir Nino.


"Tambah personil untuk mencari Kania. Kalau perlu, cari ke kota dimana dia tinggal di sana dulu. Siapa tau dia ada di sana."


Perintah Devan langsung di kerjakan dengan cepat oleh Nino. Beberapa orang langsung meluncur ke tempat tinggal Kania dulu saat dia hamil dan melahirkan Shaka.


🌼🌼🌼


"Pulang, Nduk. Apa ndak kasian sama anak dan suamimu?"


Mendengar kata anak, rasa rindunya semakin membuncah. Sudah dua hari lamanya dia meninggalkan Shaka tanpa menghubunginya sama sekali. Handphonenya tidak aktif semenjak dia meninggalkan rumah.


Apakah Shaka tengah merengek mencarinya? Atau Omanya bisa menenangkan dia dengan segala cara?


Kania yakin menghilangnya dia sudah membuat semua orang kebingungan mencarinya. Ibu mertuanya pasti sudah uring-uringan karena Kania tak kunjung memberi kabar.


Tapi biarlah. Kania ingin memberi pelajaran pada Devan agar dia bisa menjaga ucapannya. Bukan hanya kepada istrinya sendiri, tapi juga kepada orang lain.


Ucapan Devan kemarin begitu melukai Kania. Haruskah Devan berkata seperti itu? Dia pikir siapa yang membuat Kania berhenti kuliah?


Andai Devan tidak melakukan hal keji malam itu, pasti saat ini Kania juga bisa meraih mimpinya. Bekerja di kantor yang besar.


Kania akui dia bukan orang yang berpendidikan. Tapi mendengar suaminya sendiri mengatakan dia tidak akan mengerti pekerjaan Devan karena Kania tidak kuliah, rasanya rendah sekali Kania di hadapan Devan.


"Jangan meninggalkan rumah terlalu lama tanpa ijin dari suami sekalipun kamu sedang marah."

__ADS_1


Perempuan tua yang dia sebut Mbah Uti itu terus menasehati Kania. Bukan dia tidak mau dan tidak senang didatangi cucunya sendiri. Tapi dia akan lebih senang jika cucunya datang dengan keadaan bahagia. Bukan dengan tangis seperti kemarin.


"Pahami suamimu. Mungkin dia sedang ada masalah di kantornya. Pekerjaan sedang banyak-banyaknya."


"Tapi dia menyinggung perasaanku, Mbah."


"Mbah mengerti, sangat mengerti perasaanmu. Lagipula semua sudah berlalu. Bukannya rencanannya kamu juga mau kuliah lagi? Anggap saja ucapan suamimu kemarin sebagai penyemangatmu. Mbah ngomong begini bukan berarti Mbah membenarkan tindakan Depan."


"Devan, Mbah." Kania membenarkan panggilan Mbahnya yang salah. Lidah tua, harusnya Devan menjadi Depan.


"Ya itu pokoknya. Intinya saling initerosepeksi diri."


"Introspeksi, Mbah."


"Ya begitu pokoknya. Mbah Ndak ngerti. Kamu mungkin lagi sensistip."


"Sensitif, Mbah."


"Ya wes, embohlah. Pokoknya itu. Karena datang bulan, apalagi sebelumnya berharap kamu hamil. Yang Depan juga lagi banyak pekerjaan dan kelelahan. Wajar kalau kalian kebawa emosi satu sama lain. Pulang, ya. Kasian anak kamu juga kalau kayak gini. Jadi korban antara kamu dan Depan, to?"


Kania mengangguk membenarkan. Tentu Shaka yang jadi korban perseteruan antara kedua orangtuanya. Buktinya sekarang Kania memilih kabur dan menitipkan Shaka pada kedua mertuanya.


"Minta maaf sama suamimu. Mbah yakin suamimu juga akan minta maaf sama kamu nanti. Maafkan dia. Wes to. Nanti hati kamu jadi tenang. Percaya sama Mbah."


"Iya, Mbah."


Rumah masih begitu berantakan saat Kania masuk ke dalamnya. Mungkin Devan tak sempat membereskannya karena Devan sendiri selama ini tidak pernah keberatan kalau dimintai tolong untuk membantu membersihkan rumah.


Apalagi saat masuk ke dalam dapur. Nasi yang ada di dapur masih nasi yang Kania masak kemarin sebelum dia pergi. Itupun masih utuh.


Lauknya juga masih berada di atas piring dan sudah basi tentu saja. Dalam keadaan utuh dan tidak tersentuh sama sekali.


Kania menghela napas panjang dan melipat lengan bajunya dan mulai membereskan semuanya. Menggantinya dengan nasi dan masakan baru agar saat Devan pulang nanti, semua sudah siap.


Setelah selesai urusan dapur, selanjutnya urusan pakaian kotor dan menyetrika pakaian yang sudah kering.


Masih harus menyapu lantai tapi Kania sudah cukup lelah. Sejak pagi sudah banyak yang dia kerjakan. Jika harus ditambah dengan menyapu lantai rumah dua lantai dan cukup besar ini, Kania sudah tidak sanggup.


Salahnya sendiri kenapa dulu menolak saat Devan menawarkan asisten rumah tangga.


Ya Kania pikir dia masih mampu mengerjakan semuanya sendirian. Tapi kalau berbarengan seperti ini, Kania tidak sanggup.


Masih jam satu siang, masih terlalu lama untuk menunggu Devan pulang dari kantor. Kania berencana untuk datang ke kantor Devan saja. Dia tak ingin menunggu lama lagi untuk memperbaiki hubungannya dengan Devan. Dalam perjalanan, semoga Devan ada di kantor karena Kania tidak mengabari Devan, berniat untuk memberi kejutan untuk Devan. Dan semoga saja Devan sudah tidak marah lagi padanya.


Semua mata menatap Kania dengan tatapan terkejut saat baru saja Kania masuk ke kantor Devan.

__ADS_1


Ada apa? pikirnya penuh tanya.


Biasanya mereka akan tersenyum antusias saat tahu Kania datang. Tapi kali ini, ada ketakutan di balik senyum mereka.


"Pak Devan ada?" tanyanya pada Nindi.


"Ada, Bu."


Tanpa banyak bertanya lagi, Kania segera masuk ke dalam lift dan memencet tombol naik ke lantai dimana ruangan Devan berada.


Hatinya berdebar, tak sabat melihat wajah terkejut Devan saat melihat dirinya datang ke kantor.


Kania juga tidak berhenti tersenyum. Dia sudah rindu pada Devan.


Benar apa kata neneknya. Ternyata semua terasa ringan jika kita mampu memaafkan kesalahan orang lain. Keduanya memang harus sama-sama instrospeksi diri.


Tanpa mengetuk pintu, Kania langsung membuka pintu ruangan Devan.


Satu pemandangan yang membuat hati Kania luluh lantak.


Devan kembali menghancurkan semua kepercayaan yang susah payah dia kembalikan. Kania salah jika berpikir Devan akan mencarinya, atau merasa kehilangan atas dirinya yang tak pulang dan tak ada kabar selama dua hari.


"Aku pikir kamu akan mencariku. Tapi ternyata kamu mencari yang baru."


Devan tersentak saat mendengar suara wanita yang sejak kemarin menghilang. Tangannya reflek mendorong dengan keras wanita seksi yang duduk di pangkuannya.


"Devan..." rengek wanita itu karena hampir terjatuh.


Tapi Devan tak peduli. Dia lebih memilih menghampiri Kania yang wajahnya telah berlinang air mata.


"Kania, kamu pulang, sayang?"


Devan hendak memeluk Kania. Namun Kania memundurkan kakinya, menolak sentuhan Devan.


"Iya, aku pulang. Tadinya aku ingin memperbaiki hubungan kita. Tapi sekarang aku sudah berubah pikiran. Kita bertemu di pengadilan."


Kania langsung berlari meninggalkan ruangan Devan dengan hatinya yang hancur. Beruntung dengan cepat lift terbuka. Sehingga dia bisa cepat menghindar dari Devan yang mengejarnya dengan cepat.


"Kania!!"


Hanya itu yang Kania dengar sebelum pintu lift benar-benar tertutup.


🌼🌼🌼


Tadinya mau nggak update. tapi pada nungguin ya. 😁😁 mohon untuk yang komennya bikin nggak mood mending skip cerita ini saja. jujur, kadang baca komenan yang katanya ceritanya "membosankan", bikin aku nggak mood buat lanjut nulis. jangan bilang, namanya juga nulis, ya harus siap di kritik. Oke. boleh kritik, tapi yang membangun. kalau membosankan, jangan di lanjut buat baca. selesai.

__ADS_1


Maaf, aku lagi kepanasan. cuaca panas banget hari ini, Alhamdulillah. 🀣🀣🀣


__ADS_2