Berani Menjadi Diri Sendiri

Berani Menjadi Diri Sendiri
Bab 1


__ADS_3

"Mulai hari ini aku harus punya teman baru, gak peduli asal dari sekolah mana yang penting punya teman!!!" ~ Meysin


Meysin bersiap-siap memakai baju seragam rok biru miliknya, Rano (ayahnya) sudah memanaskan mobil, mereka akan pergi mendaftar ke SMA Tunas Bangsa. Sesampainya di sana banyak sekali para orangtua di sekolah padahal itu masih sangat pagi. Rano memarkirkan mobil miliknya dan langsung membawa berkas meysin untuk mendaftar, ia mengikuti mengikuti para orangtua lainnya.


meysin yang kebingungan harus ke mana akhirnya menemukan tempat duduk yang masih kosong, beberapa menit berlalu ia melihat gadis seumuran dengannya ikut seorang di belakang para orangtua, ada rasa penasaran di benaknya.


"Kenapa gak orangtuanya yang antri ya?" gumamnya penasaran dengan gadis yang tanpa orangtua.


Setelah memperhatikan gadis itu cukup lama sampai tidak kedatangan Rano ke tempat duduknya berhasil membuyarkan pengamatannya.


Malah melamun, ini formulirnya isi dulu nanti ayah kasih ke sana” suruh Rano kepada anaknya yang sedang duduk melamun.


Meysin mengisi formulir yang diberikan, waktu kerja gadis yang diamati meysin tadi datang meminta izin duduk di sebelah meysin yang masih kosong


"Boleh izin duduk di sini?" tanpa melihat siapa yang berbicara meysin langsung mengiyakan sambil mengisi formulir. Gadis itu duduk dan mengisi formulir yang sama.


"Beress!!, nih yah udah" ujar meysin memberikan formulir yang sudah diajukan kepada Rano, Rano sudah mengajukan berkas formulir yang sudah meysin isi kepada panitia pendaftaran. Sedangkan Yerikho berbalik melihat siapa yang duduk di sebelahnya.


"Hah! Ini yang tadiaku liatin bukan siiii." Gumamnya kaget gadis yang ia lihat tiba-tiba ada di sebelahnya, "Kesempatan nih bisa punya teman baruuu, kenalan ah." Serunya dalam hati ingin membuka pembicaraan dengan gadis di sebelahnya, diam-diam Meysin menunggu waktu yang tepat untuk mengajak berkenalan, setelah gadis itu selesai mengisi formulir langsung langsung saja meysin membuka percakapan mengajak gadis itu berbicara.


"Eeh, boleh kenalan gak? Aku Meysin panggil aja Mey Nama kamu siapa?" Ucapmeysin dengan nada bicaranya sedikit gemetar sambil menyodorkan tangannya.

__ADS_1


"Iya boleh, aku Rya senang bisa kenalan sama kamu," jawab rya dengan suara ceria miliknya.


Meysin memberikan pertanyaan yang dari tadi dibuatnya penasaran, "Kenapa antrinya sendiri? Ibu atau ayah kamu dimana? Eh maaf ya kalo kurang sopan." Meysin bertanya sambil memandang yang tidak gatal karena ia sedikit tidak enak untuk menanyakan hal itu.


"emmmh itu, pengen sendiri aja sih, kalau gitu aku duluan ya. Mau kasih formulirnya, semoga bisa ketemu lagi, bye" pungkas Rya beranjak dari tempat duduknya tadi.


"Mey, yuk pulang, udah beres kok tinggal tunggu pengumuman atau kita mau pergi kemana dulu? Mau beli es krim?" ajak Rano yang juga menggoda anaknya yang beranjak remaja


"Apaan sih ayah, aku udah bukan anak kecil yang selalu pengen es krim! Lagian ini tuh masih pagi." ucap meysin dengan alisnya yang mengerut dan memang sinis khas miliknya terpancar untuk ayahnya yang berani menggodanya


"Okey deh yang udah bukan anak kecil lagi, mau kemana dong? Atau pulang aja?" suara pasrah Rano melihat anaknya


"O iya yah!! Aku mau ke toko bukuuu, ada novel yang baru riliss ayah! Yuk kesana aja yaaa, pliss." Teriakan meysin penuh semangat dan sedikit rengekan untuk ayah


Rano dan meysin sampai di toko buku bandung, meysin mencari-cari novel yang ia mau, sudah dua kali memutar rak novel tapi yang dicari belum juga ketemu, akhirnya ia bertanya pada pegawai di toko itu, alhasil ternyata buku yang dicari memang sudah rilis tapi belum dijual di toko tersebut, meysin yang sedikit kesal mencari novel lain, tidak lama berkeliling ia berhenti tepat di depan novel bercover kuning tua. Karena tertarik dengan novelnya akhirnya memutuskan untuk membeli novel tersebut, Kemudian meysin dan Rano beranjak untuk pulang.


Di perjalanan meysin bertanya tentang kesulitan yang ia hadapi saat menginjak masa remaja ini.


"Ayah, kenapa sih aku kesulitan untuk punya banyak teman, aku juga sering takut buat memulai percakapan dengan orang lain kalo ngobrol sama ayah atau ibu?" tanya meysin Ketika dalam perjalanan menuju pulang.


"Ayah juga dulu gitu mungkin ibu juga gitu, tapi yang paling penting berani mencoba gak salah kok kalau harus takut sama hal-hal yang pertama kamu lakukan, berbicara tuh gak harus sempurna ada kekurangan juga gapapa harus nyambung aja biar gak dianggap gila, hehe. " Jawab Rano berusaha mengubah suasana agar tidak begitu serius.

__ADS_1


"iih kan lagi serius, gak mood ngobrol deh." Respon mey sangat kesal kepada Rano, melihat kelucuan anaknya saat marah


Rano malah tertawa sambil mengacak-acak rambut mey


Rya


"Bu, kenapa sih harus nikah lagi?" tanya rya wajahnya memendam kekesalan pada ibunya yang memutuskan untuk menikah lagi.


"Biar lebih lengkap aja, kamu juga jadi punya ayahkan " Jelas ibunya tanpa ingin membuat anaknya tidak lagi berprasangka buruk padanya.


“Sebenarnya sih rya udah merasa lengkap punya ibu, tapi kayanya keputusan ibu gak bisa di ubah? Gak apa-apa sih kalau ibu yakin dengan pernikahan ini lanjut aja, semoga aku dan ibu bisa bahagia seperti yang kita inginkan." Ucap rya suaranya pasrah dengan keputusan ibunya


Hari berlalu tiba di mana alias pernikahan Ibu rya akan dimulai, rasa bahagia bagi ibunya terpancar dalam senyum yang terlihat setiap detik berganti. Sebaliknya rya merasa tidak nyaman saat melihat ayah tirinya bersanding dengan ibunya.


Gemelut perasaan tidak suka itu membuat rya pergi meninggalkan acaranya. Acara berlangsung meriah dengan suasana bahagia tanpa Ibu rya sadari anak satu-satunya tidak ada di acara tersebut sampai akhirnya semua acara mereka hendak pulang ke rumah. Di sana Ibu rya tersadar saat melihat anaknya yang sedang terlelap dalam tidurnya yang masih mengenakan kebaya. Rasa kesal mencuat dalam benak Ibunya, namun ia menahan semua iturencana akan di luapkan saat rya sudah bangun.


Waktu sudah menunjukan pukul 17.15 WIB. Rya keluar dari kamarnya dengan mata setengah berjalan menuju kamar mandi saat melewati ruang tengah.


"Kenapa pulang duluan ya ?" lemparan pertanyaan dari Ibunya yang tengah menyaksikan tv bersama suami barunya.


“Tadi agak pusing bu, jadi aku mau istirahat aja. Acaranya lancarkan?" jawab rya untuk memastikan kebenarannya bahwa di tidak suka ayah tirinya.

__ADS_1


"Abis mandi Ibu tunggu di teras ya. Ibu mau ngobrol." ibunya tegas sambil menyilangkan kedua tangan perintah. "Iya" jawab rya, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.


Ibu rya sudah menunggu di kursi depan rumah, selang beberapa menit kemudian Alula menghampiri ibunya, "Mau bicara soal apa?" ujar rya langsung saat ia duduk di samping ibunya karena ia tidak mau terlalu bertele-tele. "La, ibu mau jujur,


__ADS_2