Berani Menjadi Diri Sendiri

Berani Menjadi Diri Sendiri
Bab 20


__ADS_3

Berada di sekolah berteman dengan banyak siswa membuat perasaan Meysin jauh lebih baik ketimbang berdiam diri di rumah memikirkan hal buruk yang telah ia lakukan, walaupun berada di sekolah membuatnya berkali-kali merasakan kecewa karena orang yang ia sukai selalu memilih sahabatnya sendiri, perasaan yang entah harus di sembuhkan dengan cara apa yang jelas setidaknya ia masih memiliki Ryauntuk membuatnya tertawa ketika di sekolah.


“Rya, hari ini kamu kerja?" Meysin menuliskan pertanyaan itu dalam lipatan secarik kertas yang diberikan kepada Rya, karena pelajaran sedang berlangsung. Kemudian Rya membaca pertanyaan dari Yerikho dan menuliskan jawabannya, "Iya, kenapa mau ikut?” ia menggeserkan secarik kertas itu kepada Meysin. Tanpa membalas jawaban dari Meysin hanya menyimpan kertas itu di bawah mejanya. Mereka berdua kembali memperhatikan pembelajaran ekonomi yang sedang berlangsung sedari tadi.


Bel pulang sekolah berbunyi seperti biasanya Soray dan Nopri akan pulang dengan pasangannya masing-masing, karena setelah mereka berdua memiliki pacar setiap hari selalu di antar dan di jemput oleh pacarnya. “Mey. Ryaaa..kita pulang duluan ya, dahh." Ujar Nopri meninggalkan kelas sembari melambaikan tangannya, disusul oleh Soraya Byee... hati-hati kalian pulangnya ya." Ucap Soraya yang juga pergi keluar kelas menyusul Nopri.


"Iya, kamu juga hati-hati." Jawab Rya dan Meysin bersamaan. "Mey." panggil Rya sambil memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, “Apa ?" Jawab Meysin yang sedang memakai sweeternya, "Tadi mau apa nanya aku kerja atau enggak?” Tanya Rya sedikit penasaran kepada Meysin yang sejak tadi tidak menjawab pesannya dalam secarik kertas tadi.


"Hari ini aku punya misi yang harus dilakukan, yaitu menjadi mata-mata, katanya sih pertemuannya di café dekat sekolah tempatmu kerja." Ujar Meysin menjelaskan maksudnya dengan antusias kepada Rya. Penjelasan semakin membuat Rya heran dengan misi yang Meysin sebut "Misi Apaan? Gaya banget pake misi-misian, atau jangan-jangan selama ini kamu tergabung sebagai anggota intel?" ujar Rya yang awalnya menganggap remeh misi yang akan dilakukan Meysin, namun setelah berpikir ia merasa perlu menyelidiki maksud dari misi yang dilakukan Meysin di tempatnya bekerja.


"Ini gak ada gaya-gayanya sama sekali, ini asli memata-matai seseorang.” Meysin mulai membuat Rya semakin penasaran dengan rencananya. "Yang bener dong Mey, jangan main-main itu tempat kerjaku gimana kalo nanti aku di pecatkan ribet urusannya." Suara Rya yang sudah emosi karena Meysin tidak juga membeberkan siapa yang akan ia mata-matai.“ Tenang dong Rya my bestii, ini gak akan berpengaruh sama pekerjaan kamu, tapi aku punya tugas buat kamu, gimana mau gak? Kalo kamu mau entar aku kasih tau maksudnya mau ngapain, entar aku kasih keuntungannya yaitu menginap di rumahku, mau gak?" Ucap Meysin menawarkan pekerjaan tambahan kepada Rya.


"Lama banget cepat jelasin ngapain kerjanya, kapan coba aku gak bantuin kamu?" jawab Rya dengan perasaan sombongnya," Yuk sambil jalan aku jelasinnya, masa duduk terus di sini." Ajak Meysin berjalan keluar dari kelas mereka.


"Jadi, malam ini aku dapat info katanya ayahku akan makan malam dengan istrinya yang baru itu, katanya sih istrinya punya anak seumuran sama kita tapi gak tau juga benar atau enggaknya, nah karena aku penasaran banget ya aku mau cari tau sendiri, selanjutnya tugasmu adalah menyimpan alat penyadap suara di meja mereka, kan aku pengen tau juga apa yang mereka bicarakan, please bisa kan?" Ujar Meysin menjelaskan rencananya kepada Rya, "Katanya gak berpengaruh sama kerjaan itu mah berpengaruh banget, kalo harus simpan alat penyadap suara itu artinya harus cari tau dulu dong ke tim reservasinya, aku kan kerjanya mengantarkan pesanan saja.


"Terdengar helaan napas Rya yang merasa salah telah ingin membantu Meysin dan rencananya kali ini. "Kalau soal itu, tenang aja aku udah tau ayahku duduk di kursi no 17, tau kan di mana itu?" Jawab Meysin dengan semangat dan semua rasa penasarannya akan terbayar malam ini.


"Ya taulah, mana alatnya? Tanya Rya meminta alat itu. "Bentar...." Ucap Meysin mencari-cari alatnya di dalam tas miliknya.


"Mana? Lama banget carinya." Tanya Rya sedikit mendesak Meysin dengan raut wajah khawatirnya, "Tadi pagi ada kok di tas, sekarang gak ada di mana ya?" Tanya Meysin merasa semua rencananya akan gagal begitu saja.


"Tadi terakhir disimpan di mana?" selidik Rya seperti membantu mencarikan alat penyadap suara itu untuk Meysin. Padahal sebenarnya Rya sudah membawa alat itu di tasnya karena secara tidak sadar sejak tadi pagi saat Meysin masuk ke dalam tasnya menyimpan alat itu di bawah mejanya tak sengaja Rya melihat itu, Rya sudah yakin bahwa sahabatnya itu akan melakukan sesuatu dengan alat yang ia bawa jadi Rya membawa alat penyadap suara itu ke dalam tasnya. "Rya, berhenti dulu jalannya ih aku belum nemuin alatnya, atau ketinggalan di sekolah ya?

__ADS_1


" Terdengar suara Meysin yang sangat kebingungan, "Udah deh Mey, ini dikit lagi sampai di cafenya kalo harus balik lagi ke sekolah nanti aku telat kerja." Ucap Rya dengan santainya membiarkan Meysin kebingungan sendirian, "Ryaaa, aku balik lagi aja ke sekolah yaa." Ucap Meysin sembari berlari putar balik menuju sekolah, secepat mungkin Rya mengejar Meysin dan berteriak memanggilnya, "Meyyy, tungguuuu ." Akhirnya teriakan itu menghentikan Meysin yang sedang berlari.


“Apaan? Kita gak punya banyak waktu!" Ucap Meysin yang masih berharap rencananya tidak gagal, Alatnya aadaa di aku, cepatt balik lagii ke sinii, cepattttt." Ujar Rya meneriaki Yerikho, kemudian Meysin kembali mendatangi Rya sedang tertawa melihat tingkah sabahatnya.


"Orang satu ini udah mulai gila? Ngapain ngeprank kaya gitu pura-pura gak tau dari tadi kek ngomong, kan aku gak usah lari-lari!!! Bikin emosi aja." Suara ? Meysin membentak Rya dengan napasnya yang masih terengah-engah.


"Hahahahha, iya sorry tadinya aku kira gak akan senekat itu balik lagi ke sekolah, udah ah kelamaan ngobrol di sini jam masuk kerja aku bentar lagi nih no.17 kan mejanya." Ujar Rya yang masing menertawakan Meysin, "Iya sana masuk duluan aja aku mau ke toilet dulu pake kostum samara." Meysin memberi arahan kepada Rya, kemudian ia pergi menuju toilet. Meysin yang sudah berganti pakaian keluar dari toilet dengan percaya diri ia memasuki café lalu ia duduk di meja yang sangat strategis untuk memata-matai ayahnya.


Dua puluh menit berlalu, alat penyadap suara sudah berhasil dipasang oleh Rya, karena terlalu lama menunggu Meysin sudah mulai gelisah tidak bisa diam, tiba-tiba pintu café terbuka terlihat ayahnya dan ibu sambungnya berjalan beriringan diikuti oleh anaknya yang sudah jelas seumuran dengan Meysin , sontak melihat itu Meysin bersiap-siap mendengarkan pembicaraan mereka. Penyadap suara yang sudah aktif membuat percakapan ayahnya terdengar jelas sampai ke telinga Meysin.


Duduk sayang.” Terdengar suara ayahnya Meysin memerintah istri dan anaknya yang baru, suara itu membuat Meysin mengingat masalalunya lagi.


“Eca mau pesan apa, ayah mau apa?” pertanyaan berurutan dengan suara lembut milik istri barunya, Meysin menahan emosinya saat mendengar panggilan ayah itu keluar dari mulut ibu orang lain bukan lagi dari ibunya, setelah mendengar itu kenyataan bahwa ayahnya bukan lagi miliknya benar-benar terasa sangat nyata dan tentunya menyakitkan.


"Mey, kenapa? Mau pulang aja?" Rya menghampiri meja Meysin menyarankannya untuk pulang dibandingkan memaksakan diri melihat ayahnya yang sudah bahagia.


"Enggak apa-apa kok, aku masih mau di sini sembari nunggu kamu beres kerja, kamu mau kan tidur di rumahku hari ini, lagian besok libur juga." Ujar Meysin mengangkat kepalanya yang tertunduk, saat berbicara ia merubah raut wajahnya terlihat seperti benar-benar baik-baik saja.


"Iya mau, kita pulang ke rumah kamu, tapi antar aku pulang ke rumahku dulu ya." Jawab Rya sambil meminta Meysin mengantarnya pulang terlebih dahulu, "Kamu mau pindah ke belakang gak, aku ada tempat istirahat di belakang.” Rya menyarankan tempat untuk Meysin bersembunyi menghilangkan penatnya.


“Gak usah Rya, aku mau pesan hot lemon tea aja." Jawabnya menolak saran Rya, "Oke sip, tunggu sebentar ya." Rya pergi kembali memesankan pesanan Meysin kepada chef di sana.


Rasa penasaran Meysin belum hilang, ia ingin sekali melihat wajah saudara tirinya itu, mencari posisi yang tepat agar bisa melihatnya tiba-tiba saudara tirinya itu berjalan menuju wastafel di sanalah terlihat oleh Meysin wajah saudara tirinya, seketika setelah melihat wajahnya Meysim merasa tidak asing dengan wajahnya tapi entah siapa, ia berpikir keras terlintas satu nama di ingatannya "Mirip Arion, masa iya Arion punya adik, tapi mirip sih." Gumam Meysin setelah melihat saudara tirinya.

__ADS_1


Rya datang membawakan pesanan Meysin "Ini pesanannya, selamat makan besti." Ujar Rya dengan ramah melayani, "Rya, lo harus liat wajah saudara tiriku yang duduk satu meja sama ayah, dia mirip banget Arion pacar Soraya, tapi takut salah juga liat dulu sana Titah Meysin gregetan.


Setelah melihat wajah saudara tiri Meysin, Rya kembali menghampiri Meysin , “Demi apapun beneran mirip bangettt, tapi kita gak usah berprasangka macam-macam dulu, nanti tanya ke Soraya aja biar pasti, udah ah gue kerja lagi ya bye." Dengan antusias Rya menyetujui prasangka Meysin dan pergi melanjutkan pekerjaanmya di café itu.


Satu jam berlalu perbincangan hangat terjadi diantara keluarga baru itu, Yerikho yang semakin muak memposisikan duduknya agar tidak melihat mereka.


Lalu mereka bersiap-siap pulang setelah selesai makan di sana. Meysin menundukkan kepalanya tidak mau sampai ayahya mengenalinya. Ayahnya sudah pulang dari café itu, tidak lama kemudian Rya keluar dari dapur cafenya menghampiri Meysin.


"Aku udah beres yuk pulang, ke rumahku dulu ya kita naik grab aja." Ujar Rya mengajak Meysin pulang menggunakan kendaraan online, lalu mereka memesan grab untuk pergi ke rumah Rya, sesampainya di rumah Ryaa...


"Assalamualaikum." Rya memasuki rumahnya dengan lampu ruang tengah yang masih menyala terdengar suara orang berbincang dari dapur, “Bapak!!” Rya dan Meysin yang melihat bapak sambung Rya bermesraan dengan perempuan yang entah dari mana asalnya yang jelas perempuan itu masih sangat muda.


"Hebat ya! Aku capek kerja kamu main perempuan bahkan di rumah aku sama ibu, hak kamu apa di sini? Tapi cukup gak perlu jawab atau jelasin apapun lanjutkan apa mau kamu di rumah ini! aku ke sini cuman mau bawa barangku, buat kamu pastikan kamu pulang besok pagi sebelum aku kembali ke rumah ini!!" Terdengar jelas suara kekecewaan dari Rya yang merasa rasa lelahnya saja belum teratasi di tambah dengan apa yang ia lihat ketika pulang ke rumahnya sendiri yang sudah ternodai oleh lelaki yang selama ini Rya terima keberadaannya hanya karena ingin mendiang ibunya tenang di alam sana.


Setelah kemarahan Rya keluar di hadapan bapaknya dan perempuan itu, bapaknya diam tanpa suara, Rya langsung pergi ke kamarnya membawa beberapa barang yang ia butuhkan, sedangkan Meysin memesankan kendaraan online untuk mereka pergi ke rumah Meysin, dalam keadaan itu Meysin yang sedang di luar rumah menunggu mobil pesanannya tiba gelisah tak karuan sebab sebenarnya ia tahu siapa yang sedang bersama bapak Rya dia juga salah satu teman kerjanya.


Saat Rya hendak menyusul Meysin di luar rumah bapak Rya menahannya, "Ryaa maafkan kesalahan bapak barusan, maaf Ya." Ujarnya sambil memegang tangan Ryaa.


“Gak usah pegang tanganku, mana perempuan itu, masih di dalam kan? Ya sudah temui saja bilang padanya jangan sampai aku melihat wajahnya lagi, dan untuk kamu jangan harap kepercayaanku masih tetap utuh.” Rya melepaskan genggaman bapaknya, lalu ia berlari keluar rumah menemui Meysin, secara bersamaan mobil mereka tiba, lalu mereka melanjutkan perjalanan menuju rumah Meysin.


Di dalam mobil tak henti-hentinya Rya menangis Meysin yang juga sedang mengalami fase sedihnya memeluk Rya menenangkannya, "Hidup ini lucu ya Mey? Di saat aku mau menerima dia sebagai pengganti ibuku, dia mengeluarkan jati dirinya yang brengsek, Apa yang harus aku lakukan sekarang, mengusirnya dari rumah? Atau membiarkannya begitu saja? Kenapa.... kenapa ibu harus pilih dia buat jagain aku, padahal aku hanya butuh ibuku bukan dia, bukan dia Mey!!" Tangisnya semakin tak bisa ia tahan, mobil itu menjadi saksi bisu kesedihan Ryaa.


Meysin yang sangat mengerti perasaan sahabatnya ia hanya mendengarkan kemarahannya, memeluknya lebih erat tanpa mengbandingkan dengan dirinya yang juga sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2