Berani Menjadi Diri Sendiri

Berani Menjadi Diri Sendiri
Bab 19


__ADS_3

"Assalamualaikum."


Terdengar suara Rya masuk ke dalam kelas diikuti dengan Meysin di belakangnya mereka berdua langsung mengampiri Soraya dan Nopri yang sedang asyik berbincang.


"Heyy, kita butuh klarifikasi!!! apalagi soal kamu, Nop. "Gertak Meysin kepada Soraya dan Nopri, "Klarifikasi soal apa nih?" Ucap Soraya yang pura-pura tidak mengerti.


"Masa mau di sembunyiin aja nih?” sindir Rya melirik Soraya dan Nopri


"Oke, Ya seperti yang kalian liat barusan gue pacaran sama Aska sekarang, baru kemarin sih pacarannya." Suara Nopri pasrah menjelaskan hal itu kepada sahabatnya, "La, kita kapan punya doi?" Tanya Meysin lirih, "Gausah di pikirin ayo simpan tas dulu keburu di panggil upacara, cepettt." Jawab Rya menarik tangan Meysin untuk pindah ke meja mereka.


Upacara hari senin diadakan dengan lancar sampai pembelajaran selanjutnya di sela-sela pembelajaran saat sedang mencatat Meysin dan Rya saling berbincang sambil menulis.


"Lula, pernah gak ngerasa cape jadi kamu yang sekarang atau ada gak yang ingin banget kamu rubah dari dirimu? Tanya Meysin sambil menulis materi pelajaran yang sedang berlangsung.


"Menurutku ya Mey, kita hidup untuk berjuang dan yang namanya berjuang pasti capek kalo kata Vita syukuri saja apa yang kamu dapat hari ini, hal yang mau aku ubah itu mungkin cuman satu yaitu memperbanyak waktuku dan ibu selagi ia masih hidup." Suara Rya lirih terdengar.


"Maaf jadi sedih, fokus-fokus nulis lagi Lula!" Meysi memberikan intruksi.

__ADS_1


Setelah pulang sekolah terlihat raut wajah Meysin seperti sedang memikirkan banyak hal, sepeti biasa ia pulang menggunakan angkutan umum, sesampainya di rumah Meysin melihat tetangganya yang membawa dirinya kedalam lingkungan pekerjaan salah sedang berdiri dekat pintu gerbang rumah Meysin.


"Lama banget pulangnya, udah di tunggu dari tadi juga.” Ucapnya sedikit mengeraskan suaranya, “Ada...apa ya kak?” Terdengar suara Meysin lirih, Sombong banget lo sekarang ya! Suruh gue masuk ke rumah lo dulu kek." Suaranya semakin meninggi sekilas terdengar seperti akan marah.


"Iya maaf kak, mari masuk" ucap Meysin membukakan gerbang rumahnya mereka duduk di kursi depan pintu.


"Lo tuh kayanya sering main sama temen sekolah lo kan? Gue bilang apa kalo lo masih deket sama mereka lo itu hanya akan takut mereka tau siapa lo saat ini, ya kan? Makannya gue tuh pengen lo sering-sering gabungnya sama kita, kemarin malah mangkir datang keperkumpulan, main-main kan lo sama temen lo itu di sini." Cecarnya tak henti mengomentari sikap Meysin akhir akhir ini.


"Iya maaf kak aku udah jarang banget main sama mereka semenjak kerja di sana." Jawab Meysin dengan polosnya, "Selalu ingat satu hal orang-orang yang berada di dekat lo sekarang itu akan menjauhi lo kalau mereka tau siapa lo sebenarnya jadi lo cukup berteman dengan teman kita bekerja aja yang sudah pasti mengerti pekerjaan yang kita lakukan.


" Sarannya yang selalu menginginkan Meysin menjauhi sahabatnya. Setelah perkataan itu Meysin menjadi tergoyahkan apa benar sahabatnya akan menjauhi dirinya, ia menjadi semakin benci terhadap dirinya sendiri yang tidak tau bagaimana caranya lepas dari pekerjaan buruk itu.


"Memangnya kakak gak ernah ngersa ini salah?" Tanya Meysin yang masih ingin membujuk untuk berhenti bekerja,


"Gak penting pertanyaan lo, malam ini lo harus kerja gue gak mau tau, jangan jadi beban hidup gue dong lo kerja ya kerja aja yang bener, bisanya cuman bikin orang curiga doang sama tingkah lo akhir-akhir ini." Pintanya memberikan intruksi sembari mondar-mandir berjalan-jalan di depan Meysin.


"Aku mau istirahat dulu kak malam ini." Jawab Meysin menolak keinginan tetangganya, "Gak bisa lo harus kerja kalau sampai gak hadir lo mau orang-orang sekitar lo tau tentang pekerjaan yang lo lakukan saat ini? Mau hah?" Gertak tetangganya menakut-nakuti Meysin.

__ADS_1


"Tujuan gue ke sini cuman mau memperingati lo jangan sampai malam ini gue gak liat muka lo di sana. Gue pulang!" Pungkas tetangganya berjalan meninggalkan meysin yag masih tercengang dengan gertakannya tadi.


"Sebenarnya takut banget terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kalau terus bekerja begini." Gumamnya dalam hati sembari membuka kunci pintu rumahnya. Meysin sangat takut topengnya saat ini akan terbongkar terpaksa mengikuti keinginannya untuk bekerja lagi ia mencari-cari baju yang cocok untuk malam ini, setelah mencari baju menyiapkan dirinya lalu ia merebahkan dirinya merasa tak sanggup untuk pergi malam ini. TRING...(Suara Pesan Masuk)


"Kalau mau cerita masalah lo hari ini, telpon aku ya Mey." Pesan masuk dari Rya sejak pulang seolah Meysin merasa tidak karuan melihat pesan itu ia langsung menelpon Rya.


"Hallo, Rya lagi gak sibuk emangnya?" terdengar Meysin memastikan keadaan Rya terlebih dahulu untuk menceritakan keluh kesahnya hari ini.


"Gak sibuk aku mah santai aja, mau cerita apa Mey?" Ujar Rya dalam telpon. "Rya gue pengen banget punya kehidupan seperti Soray dan Nopri, ya walaupun mereka sama-sama punya masalah setidaknya mereka punya ibu untuk diajak cerita, lo pernah Meysin mulai mengeluhkan pikirannya, "Iya Mey, aku mengerti maksudmu menilai kehidupan orang lain yang indah tampak dari luar memang mudah, tapi di saat kamu benar-benar mencari cara agar bisa seperti mereka mungkin saja keindahannya tak akan terasa lagi, untuk apa menjadi seperti orang lain Mey, sebenarnya mereka juga belum tentu bahagia." Jelas Rya menanggapi pertanyaan Meysin,


“Tapi aku capek hidup kaya gini,!" Ujar Meysin merasa prustasi penat dengan pikirannya juga keadaan yang memaksanya untuk tetap melakukan hal yang salah.


"Dulu, aku pengen banget punya ayah sepeti anak-anak lainnya yang selalu di jemput ayahnya, saat ini setelah tuhan memberikan ayah baru dan megambil ibuku, aku merasa ingin mencabut kembali ucapanku saat ingin memiliki ayah, karena jauh lebih bahagia saat aku memiliki ibu tanpa terpengaruh oleh kebahagiaan orang lain Bersama ayahnya, namun itu semua gak bisa di ulang lagi, aku hanya bisa terima ini semua sebagai perjalanan hidup, intinya gak perlu ingin seperti orang lain karena saat kita di posisi mereka belum tentu kita bahagia itu saja." Ujar Rya meyemangati Meysin.


"Selain itu Mey, lo sebenarnya masih punya orang tua yang utuh hanya saja lo harus menurunkan ego lo untuk dekat dengan mereka lagi." Lanjut Rya mengingatkan Meysin yang merasa tak punya siapa-siapa.


“Iya sih kamu benar, makasih sudah mau sharing malam ini, aku mau istirahat sekarang kututup ya telponnya, assalamualaikum Rya. balas Meysin “Iya waalaikumussalam." Jawab Rya yang juga menutup telponnya.

__ADS_1


Setelah selesai menelpon Rya, Meysin berganti pakaian bersiap untuk pergi ke tempatnya bekerja walau perasaannya menolak untuk melakukan pekerjaan itu lagi.


__ADS_2