
Weekend kali ini Meysin sedikit merubah kesehariannya, biasanya setiap weekend ia berkumpul dengan teman satu pekerjaan dengannya membicarakan gosip-gosip di antara teman mereka atau klien yang mereka layani, Meysi enggan menghadiri perkumpulan itu karena melihat riwayat panggilan di whatsaapnya ternyata sejak semalam ketiga sahabatnya menelpon berkali-kali, sebab itu ia takut ketiga temannya berpikir macam-macam tentangnya.
Ia ingin berteman baik seperti saat masuk sekolah sebelum ia terjun ke dunia malam. Meysin memutuskan untuk mengirim pesan di grup RSNM.
"Guys maaf ya kemarin gak ke jawab panggilannya, aku ketiduran." Terkirim sudah pesan itu selang dua menit berikutnya Nopri membalas "Iya nih, sibuk banget kayanya sekarang.
"Melihat pesan itu Meysin semakin yakin mereka akan curiga dengan pekerjaan yang ia jalani.“ Kemarin tidur di mana Mey?" sambung Soraya "Di rumahku yang lama, agak males sih kalo harus pilih ibu atau ayah." Jawab Meysin.
"Kalau gitu kita nginep aja mala mili di rumah kamu Mey, gimana?" saran Rya kepada ketiga sahabatnya. "Ide bagus tuh, udah lama juga kan gak main sama kamu Mey. "Sahut Nopri excited, “Oke, aku tunggu kalian ya." Pungkas Meysin membalas percakapan di grup itu.
"Hufttt, semoga setelah main bareng kaya biasa lagi mereka gak akan curiga soal pekerjaan sampinganku selama ini, sebenarnya ngapain juga ya kerja kaya gitu ternyata udah selama ini mereka gak terpengaruh sama sekali atau mungkin mereka gak pernah peduli apa yang dilakukan anaknya, Arrrghhhh semua ini hampiiir bikin gilaaa." Gerutu Meysin di depan cermin kamarnya.
Setelah mangkir dari acara perkumpulan Meysin memutuskan untuk pergi ke supermarket membeli beberapa makanan instan yang bisa di masak saat ketiga sahabatnya menginap malam nanti menggunakan motor yang ia dapat dari hasil kerjannya beberapa bulan ini.
~~ SETELAH PULANG DARI SUPERMARKET~
Terlihat pintu gerbang rumah Meysin sudah terbuka, padahal sebelum berangkat ke supermarket gerbang rumah dalam keadaan tertutup, Meysin melajukan motornya dengan cepat masuk ke dalam rumah.
"Ibu? Ngapain di sini?" ucap Meysin heran juga kaget kedatangan ibunya yang sudah beberapa hari hanya saling berbalas pesan. “Dari mana kamu? Pakai motor siapa?" tanya ibu Meysin sambil berdiri dari duduknya.
"Dari supermarket soalnya temen Mey mau nginep di rumah malam ini." Jelas Meysin kepada ibunya yang menatap dirinya seperti akan menerkam.
“ Temen yang mana?” tanya ibunya penasaran kali ini. “Emangnya ibu tau temenku yang mana aja? Intinya mereka sahabat aku yang selalu bisa nemenin aku dari awal setelah ibu dan ayah memutuskan untuk pergi dari hidup aku!!" Ujar Meysin tersulut emosi, semua keakraban dengan ibunya dulu menjadi hilang yang tersisa hanya sebuah ketidak percayaan terhadap ibunya yang tega kepada dirinya. Tanpa mendengarkan penjelasan ibunya lagi Meysin bergegas pergi ke kamarnya mengunci pintu kamarnya.
__ADS_1
Hari sudah siang, Meysin masih belum keluar dari kamarnya, sejak pukul sepuluh pagi tadi ibunya mencoba untuk mengetuk-mengetuk pintu kamar Meysin membujuknya untuk keluar, namun hasilnya nihil, Meysin sengaja mengurung diri karena ia tak ingin semakin kurang ajar kepada ibunya ia tidak bisa menahan diri untuk bersikap biasa saja setelah perceraian kedua orang tuanya. Karena sudah terlalu lama menunggu Meysin yang tak kunjung keluar dari kamarnya, ibu Meysin memutuskan untuk pulang sebelum itu ia menulis sebuah surat yang di simpan di bawah pintu kamar Meysin.
Meysin sedang asyik memainkan game di handphonenya tidak mempedulikan suara ketukan pintu kamarnya, tring.... (suara notifikasi pesan masuk dari grup RSNM)
"Mau, nanti kita bertiga datangnya barengan ya sekitaran jam empat sore." Pesan dari Rya.
"Iya, kalo punya uno card bawa ya !" balas Meysin di grup itu. Sudah tiga puluh menit berlalu Meysin tidak mendengar suara ketukan atau suara ibunya di luar kamar. Karena waktu menunjukan pukul dua barang belanjaannya tadi belum ia bereskan jadi ia memutuskan untuk keluar kamar, saat membuka pintu ada sebuah kertas dibawah pintu. Meysin membuka kertas itu dan membaca tulisan tangan ibunya.
Sekarang, ibu merasa sepertinya keputusan ibu saat itu salah. Tapi buat apa menyesal hal kemarin hanya satu dari ribuan proses kehidupan dalam hidup ibu, kamu setuju kan Mey? Ibu merasa kabu berubah juga karena ibu, tadinya ibu ke sini kangen pengen peluk kamu, tapi ibu salah dari awal saat kamu pulang ibu terlalu banyak bertanya dan membuatmu kesal.
Untuk kamu Mey, ibu gak pernah kemana-mana kamu bisa temui ibu dan ayah barumu rumah ibu selalu terbuka untuk kamu, ibu masih jadi ibu kamu. Sebentar lagi kamu akan jadi kakak Mey, kamu akan punya adik.
Maaf, telah banyak kesalahan yang ibu buat kepadamu, ibu akan selalu menyayangimu sampai kapanpun, jaga diri baik-baik ya
I love you, Meysin M putri kesayangan ibu.
"Ini udah jam empat lewat, kok pada belum datang sih." Gumam Meysin sambil mondar mandir dekat pintu rumahnya.
"Bentar ya Mey, nungguin dulu Rya ngaret banget." Pesan masuk dari Nopri. Meysin pun menyalakan tv untuk menunggu kedatangan temannya.
"Assalamualaikummmmmm, Meysin" Teriak Rya di depan pagar rumah Meysin Waalaikumussalam, lama ya datangnya janji jam berapa datang jam berapa." Jawab Meysin sambil membukakan pintu gerbang.
"Yuk masuk, barang bawaannya masukin kamar aja, trus kita nyantai nonton tv dulu aja kali ya?" titah Meysin lalu menanyakan pendapat sahabatnya yang lain. "Iya, santai aja kali Mey, kita mah bukan tamu istimewa." Jawab Rya sembali tersenyum kepada Meysin.
__ADS_1
"Mumpung lagi ngumpul gini, daripada hanya nonton tv gimana kalau kita cerita-cerita masalah yang kita alami?" Usul Nopri kepada tiga sahabatnya yang sedang fokus menonton kartun." Heiiii, ini lagi ngomong perhatikan dulu dong guys." Lanjut Nopri meninggikan suaranya, "Iya, ayo-ayo dari siapa dulu?" jawab Hala mulai memperhatikan keinginan Nopri.
" Aku dulu deh" Ujar Rya. “Jadi gini,aku punya cerita hidup yang sebagian besar kalian tau, setelah aku mencoba untuk memahami apa maunya si Arif (bapak baru Rya) itu, dia kayanya emang brengsek deh. Masa iya dia nyuruh aku kerja setelah kerja dia tau gitu tanggal berapa aku gajian trus dia dengan alibinya meminjam uang yang gak pernah tuh dia coba buat bayar, entah dipake apa tuh uangnya, diliat-liat setiap hari gak ada tuh kerja diam aja di rumah, dari situ aku belajar kita memang perlu memahami seseorang untuk dijadikan acuan saat berhubungan dengan orang tersebut. So, kita itu harus saling memahami.” Ujar Rya menceritakan dirinya ketiga sahabatnya medengarkan dengan seksama.
"Sekarang giliran kamu Mey" sambung Nopri menunjuk Meysin yang masih termenung mendengar cerita Rya. "Aku nih? Oke, seperti yang kalian tau aku jarang cerita apapun ke kalian, jarang ikut kumpul atau hanya sekedar video call, aku minta maaf, karena sebenarnya setelah perceraian orang tuaku saat itu aku merasa jadi orang yang paling tidak berguna, aku merasa di campakkan, dan aku bertemu dengan orang yang salah, ya aku memilih jalan yang salah. Aku juga bingung gimana cara berhentinya." Meysin menghentikan kata-katanya karena ia masih berpikir berkali-kali tentang keputusannya menceritakan hal sebenarnya kepada sahabatnya.
“Kalau masih gak bisa di ceritain gak apa-apa lagi Mey, kita masih punya banyak waktu kok selain hari ini untuk dengerin kamu." Ucap Soraya yang peka melihat Meysin tidak mampu berbicara lagi. "Soraya bener Mey, aku juga ingat Soraya pernah bilang kalau merasa salah kamu harus akui bahwa kamu salah setelah mengakui kamu juga harus mau berubah menjadi lebih baik." Saran Rya kepada Meysin.
"Sekarang, aku jadi berpikir yang aku lakukan memang benar-benar salah, lantas aku harus melakukan apa lagi supaya mereka sadar dan kembali memperhatikan aku. "Ucap Meysin menghela napas dalam, "Kamu, akan dapat perhatian penuh dari kita Mey, mungkin ini jalan hidup yang harus kamu lalui." Sahut Nopri mengusap-usap tangan Meysin.
Kayanya kita harus berpelukan, ayo berpelukaaaannnn." Ujar Nopri dan suara teriakan semangatnya yang khas memeriahkan kesedihan Meysin menjadi bahagia malam itu.
"Selanjutnya Soraya , silakan ceritakan Aya." Ujar Nopri sedikit menggoda Hala yang kebingungan, "Emmhh, oke sebenarnya ini khusus buat kamu Mey, tapi kalian juga boleh denger." Jawab Soraya melihat Meysin sedikit gugup, " Apa tuh?" balas Meysin
"Jadi, waktu aku masih sering ke rumah ini buat nemenin kamu setelah perceraian kedua orang tuamu, mungkin kamu juga masih ingat soal aku yang chatting sama Arion...., saat itu kamu bilang kamu suka sama Arion..., tapi maaf banget Mey maaf bangett." Soraya yang mulai bercerita dengan suara terjeda-jeda gugup.
"Baru beberapa hari kemarin, aku pacarana sama Arionnn, Mey aku benar-benar minta maaf sama kamu." Lanjut Soraya yang mulai memegang tangan Meysin berkali-kali meminta maaf.
"Hahaaha, gak apa-apa Aya, santai aja lagian Arion juga lebih kenal kamu kan?" balas Meysin dengan tawanya melihat raut wajah Soraya yang ketakutan. "Oww oww oww, jadiiiii sekarang Soraya punya pacar ?" Ujar Rya antusias.
"Udah gitu aja yang mau di sampaikan Ayal?" Tanya Nopri menepuk pundak Soraya, "Iya udah, sok sekarang lanjut kamu Nop." Jawab Soraya merasa canggung setelah bercerita.
"Gue nih? Huftt, jadi ini gue mau cerita hikmah dari kejadian yang gue alami, dikeseharian gue yang selalu dibumbui pertengkaran orang tua, gue jadi mikir kayanya kita harus tetap bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Ini pesan untuk kita semuaa, udah gue gitu aja hehe." Pungkas Nopri. “Dih, apaan gitu doang." Ujar Soraya melirik sinis ke arah Nopri.
__ADS_1
"Udah-udah, kita beralih main games aja." Ucap Rya mengeluarkan uno card di tasnya.
Kemeriahan malam ini berlanjut pada games-games berikutnya, hingga mereka berempat kelelahan dan tertidur pulas di kamar milik Meysin