
Sambil menyenandungkan zikir pagi Bryan berjalan di atas pasir yang lembut. Ia berjalan di samping Pak Ali. Hari masih sangat pagi. Pantai Cleopatra masih sepi. Udara berkabut tipis. Desau angin laut yang berhembus terasa membelai dengan lembut relung relung jiwa. Kedamaian yang nyaris sempurna.
Tiga orang gadis dengan lari-lari kecil melintasi mereka berdua. Sambil berlari mereka bercanda bahagia. Tubuh mereka tertutup rapat celana training panjang dan kaos lengan panjang. Yang dua menutup kepala dengan jilbab. Sedangkan yang satu membiarkan rambutnya te rgerai diterpa angin ke sana kemari. Seorang di antara mereka mene - ngok ke belakang. Sekilas Bryan menatap wajahnya. Putih bersih khas. Gadis itu langsung menarik wajahnya dan tertawa sambil terus berlari bersama dua temannya. Meskipun cuma melihat sekilas gadis itu tak kalah memesonanya dibanding Kirana.
"Cantik ya Mas?" Suara Pak Ali menyadarkan Bryan bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian.
"Siapa Pak yang cantik?" Sahut Bryan.
"Ya gadis itu, yang menengok dan menatap kamu."
"Kalau gadis ya jangan ditanya lah Pak. Katanya kalau ada gadis tiga, maka yang cantik enam." Jawab Bryan santai.
"Kok bisa. Tiga orang kok yang cantik enam." "Bayangannya juga cantik."
"Wah kau ada -ada saja."
"Saya kan cuma bilang katanya tho Pak. Perkataan ya kan bisa benar bisa tidak."
"Ngomong -ngomong cantik mana gadis tadi sama anaknya Pak Dubes, Kirana."
Bryan terhenyak, tak mengira akan mendapat pertanyaan seperti itu dari Pak Ali. Entah mengapa ia sebenarnya sedang tidak ingin berbicara tentang Kirana. Sudah terlalu sering Kirana dijadikan topik pembicaraan di kalangan mahasiswa, putra maupun putri, juga kalangan masyarakat Negara X. Bryan sudah bosan, apalagi jika teringat kejadian tadi malam. Ia sama sekali sudah tidak tertarik dengan Kirana.
"Apa tidak ada topik lain Pak, selain Kirana? Pagi -pagi begini sudah membahas Kirana lagi dan lagi."
__ADS_1
Pak Ali tersenyum mendengar jawaban Bryan.
"Aku ingin menceritakan hal penting padamu. Untuk kebaikanmu."
"Tentang Kirana?"
"Bisa dikatakan tentang Kirana bisa juga dikatakan tidak."
"Mendengar nama Kirana saja saya sudah bosan Pak”
"Ah yang benar?"
“Benar Pak, sungguh."
"Mas, Bapak ini sudah makan asam garam lebih darimu. Bapak tidak bisa kau bohongi. Jujur saja Bapak sungguh memperhatikanmu empat hari ini. Dan Bapak melihat kamu itu sesungguhnya sangat mengagumi Putri Pak Dubes itu. Bahkan bapak berani menyimpulkan kamu itu sebenarnya suka sama dia."
"Itu tak penting. Yang penting Bapak ingin memberi saran sama kamu. Ini serius, sebaiknya orang seperti kamu jangan jatuh cinta sama sekali pada Kirana dan orang seperti kamu jangan sekali-kali memimpikan isteri model Kirana Itu saja! "
Seketika Bryan menghentikan langkahnya. Karena ada larangan dalam saran Pak Ali ia menjadi terhenyak penasaran. Seperti Nabi Adam ketika dilarang makan buah Khuldi malah jadi penasaran. Dan begitulah manusia jika mendapat larangan seringkali reaksi yang pertama kali ti mbul adalah justru penasaran ingin tahu. Ada apa dilarang? Kenapa dilarang?
"Memangnya kenapa Pak?"
Pak Ali tersenyum mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Bryan.
__ADS_1
"Sudah kuduga, pasti pertanyaan itu yang akan langsung keluar. Kau pasti penasaran. Kenapa aku sarankan sebaiknya jangan memimpikan isteri model Kirana, alasan utamanya adalah agar kau tidak sengsara. Tidak hidup sia -sia. Agar kau bahagia! Aku melihat kau sama sekali tidak cocok jika punya isteri gadis model Kirana. Ya, dia cantik dan cerdas. Juga kaya. Anak pejabat. Tapi kebahagiaan rumah tangga tidak cukup hanya dengan memiliki isteri yang cantik, cerdas, kaya dan terhormat. Tidak.
Akhir -akhir ini Kirana memang jadi buah bibir. Termasuk di kalangan mahasiswa Al. Baik putra maupun putri. Tidak sedikit yang aku lihat sangat tertarik pada Kirana. Meskipun mereka tahu bagaimana cara berpakaiannya yang terkadang tak kalah beraninya dengan a rtis Hollywood. Yang aku heran, bagaimana mungkin ada mahasiswa Al tertarik dengan gadis model itu. Mana Quran dan Hadis yang telah kalian pelajari? Dan aku lihat kamu sendiri sebenarnya juga terpikat kecantikan Kirana. Aku bisa melihat dan bahasa tubuhmu sorot matamu, dan getar suaramu. Kau boleh saja mengatakan bosan mendengar namanya. Tapi aku lebih tua darimu."
"Tapi Kirana itu kalau pakai jilbab seperti ketika menjadi M.C. peringatan tahun baru hijriah tampak anggun dan cantik lho Pak?"
"Lho, bisa bilang begitu kok mengingkari kalau tertarik pada Kirana Ya, Nicole Kidman kalau pakai jilb ab juga cantik. kirana juga. Tapi kalau di diskotik tak kalah dengan penari perut. Kau mau punya isteri seperti itu!?"
"Pak jangan membuka aib orang, jangan memfitnah orang dong!"
Pak Ali malah tersenyum.
"Kalau aku mengatakan si Tiara, mahasiswi Al yang biasa mengajar Al -Quran di Masjid SIC itu kala u di diskotik tak kalah dengan penari perut barulah aku memfitnah dia. Lha ini, orang Kirana sendiri bangga cerita ke mana -mana. Bahkan ia sudah cerita di website pribadinya. Ayahnya yang jadi Dubes itu juga bangga. Bahkan pernah meminta putrinya menunjukkan kebolehannya dihadapan diplomat diplomat asing. Sampai ada seorang sutradara yang akan memintanya ikut main film. Kalau kemungkaran itu ditutup -tutupi saya akan berusaha ikut menutupi. Ini kemung karannya malah dipropagandakan, dibangga -banggakan. Coba kau renungkan apakah ketika aku mewanti-wanti anak perempuanku agar tidak mencontoh Nicole Kidman yang sangat bangga ta mpil tanpa busana di sebuah pertunjukan teater di Inggris, aku katakan: 'jangan mengagumi orang yang suka bermaksiat terang- terangan itu! ', apakah itu berarti aku memfitnah bintang Hollywood itu? Padahal berita perbuatan gilanya itu dimuat di koran koran dan internet d i seluruh dunia."
"Kok saya tidak pernah tahu hal-hal seperti itu ya Pak?"
"Sebaiknya memang kamu tidak tahu yang begitu -begitu. Kalau tahu nanti malah gawat, kau tidak jadi bikin tempe. Tidak juga jadi kuliah. Adik -adikmu di Indonesia bisa kelaparan. Karena pikiranmu ke mana mana. Aku hanya ingin mengingatkan padamu jangan mudah tertarik pada perempuan cantik. Di akhir jaman itu tidak sedikit perempuan yang cantik memesona, namun sebenarnya adalah seorang pelacur. Na'udzubillaah! "
"Tapi perempuan cantik yang salehah, benar -benar salehah dan menjaga kesuciannya banyak lho Pak."
Pak Ali kembali tersenyum.
"Iya bapak percaya itu. Karena itulah kamu harus benar - benar matang dalam memilih isteri. Jangan asal cantik. Lha kebetulan Bapak punya cerita tentang gadis yang cantik, salehah, memesona dan cerdas. Kau mau mendengar kan? "
__ADS_1
"Wah, boleh Pak."
"Kalau begitu ayo kita duduk di sana. Bapak akan cerita panjang lebar." Kata Pak Ali sambil menunjuk pembatas jalan di pinggir trotoar yang bisa diduduki. Mereka berdua berjalan ke sana. Alexandria semakin terang. Kabut mulai hilang perlahan-lahan. Pantai mu lai ramai. Jalan jalan sudah mulai dipenuhi kendaraan yang lalu lalang. Di kejauhan tampak Benteng Qaitbey berdiri di ujung tanjung. Gagah dan menawan. Mereka duduk menghadap laut yang bergelombang tenang. Bryan memandang ke arah kiri, ke arah benteng. Sementara Pak Ali memandang ke arah kanan.