
Dengan mengu mpulkan semua keberaniannya ia menjawab dengan suara bergetar. Dan dengan hati bergetar pula,
"Namanya Anna Althafunnisa Putri Pak Kiai Luffi Hakim. Asal Klaten. Kalau tidak salah sekarang sedang program pascasarjana di Kuliyyatul Banat, Al Azhar."
Ustadz Mujab kaget mendengar kata -kata yang keluar dari mulut Bryan. Ia seperti mendengar suara petir yang nyaris merobohkan apartemen di mana dia dan keluarganya tinggal.
ya.
"Anna Althafunnisa?" Tanya Ustadz Mujab tidak perca Bryan mengangguk dengan tetap me nundukkan kepala. Ustadz Mujab menghela nafas panjang. Ia seperti hendak mengeluarkan sesuatu yang menyesak di dadanya.
"Siapa yang mengabarkan kamu tentang Anna Althafunnisa?"
"Ada. Tapi dia tidak mau disebut-sebut namanya Ustadz,"
Ustadz Mujab kembali menghela nafas panjang. "Allahlah yang mengatur perjalanan hidup ini. Sungguh aku ingin membantumu yan. Tapi agaknya takdir tidak menghendaki aku bisa membantumu kali ini. Anna Althafunnisa itu masih terhitung sepupu denganku. Aku tahu persis keadaan dia saat ini. Sayang kau datang tidak waktuya. Anna Althafunnisa sudah dilamar orang. Ia sudah dilamar oleh temanmu sendiri.
"Sudah dilamar temanku sendiri? Siapa?"
"Vidy! Ia sudah dilamar Vidy satu bulan yang lalu."
Mendengar hal itu tulang -tulang Bryan bagai dilolosi satu per satu. Lidah dan bibirnya terasa kelu. Vidy lagi. Ia berusaha keras mengendalikan hati dan perasaannya untuk bersabar.
__ADS_1
"Maafkan aku yan. Aku sarankan kau mencari yang lain saja. Mahasiswi Indonesia di Al Azhar kan banyak . Dunia tidak selebar daun kelor." Ustadz Mujab berusaha menenteramkan.
"Iya Ustadz. Tapi saya akan mencari yang sekualitas Anna Althafunnisa."
Ustadz Mujab terhenyak mendengar jawaban Bryan. Begitu mantapnya ia memasang standar. Ia seolah lah sudah tahu persis Anna Althafunnisa.
"Apa kamu sudah pernah ketemu Anna?"
"Belum."
'Sudah pernah tahu wajahnya?"
"Belum."
"Firasat yang membuat saya mantap Ustadz."
"Tapi menikah tidak cukup memakai firasat. Jujur aku sangat kaget dengan standarmu ini. Baiklah aku buka sedikit. Anna adalah bintangnya Pesantren Daaru Quran. Sejak kecil ia menghiasi dirinya dengan prestasi, dan prestasi selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia menyelesaikan S.1 - nya di Alexandria dengan predikat mumtaz. Kalau ingin memiliki isteri seperti dia. Cobalah kau menstandarkan dirimu dulu seperti dia. Kalau aku jadi orang tuanya, dan ada dua mahasiswa Al Azhar yang satu serius belajarnya yang satu hanya sibuk membuat tempe. Maaf iya pasti aku akan memilih yang lebih serius belajamya. Kau tentu sudah paham maksudku. Bukan aku ingin menyinggungmu, tapi aku ingin kau memperbaiki dirimu. Aku ingin kau lebih realistis. Cobalah kauraba apa opini di Cairo tentang dirimu."
"Iya Ustadz. Terima kasih. Ini akan jadi nasihat yang sangat berharga bagi saya." Jawab Bryan dengan mata berlinang. Kalimat Ustadz Saiful Mujab sangat berat ia terima. Ia sangat tersindir. Tapi ia tidak bisa berbuat apa apa. Dengan bahasa lain, sebenamya Ustadz Mujab seolah ingin mengatakan bahwa dia sama sekali "tidak berhak" melamar Anna. Atau lebih tepatnya sama sekali "tidak layak" melamar Anna. Hanya mereka yang berprestasi yang berhak dan layak melamarnya. Dan lagi-lagi, prestasi yang dilihat adalah prestasi akademis. Dan di mata orang orang yang mengenalnya di dunia akademis, ia sangat dipandang remeh karena tidak juga lulus dari Al Azhar. Padahal sudah delapan tahun lebih ia menjalaninya.
Bryan lalu minta diri. Dalam perjalanan ke rumahnya ia meneteskan air mata. Ia berusaha tegar dan sabar. Namun setegar -tegarnya ia adalah manusia biasa yang memiliki air mata. Ia bukan robot yang tidak memiliki perasaan apa -apa. Ia mengusap air matanya. Ia tidak bisa menyalahkan siapa saja jika ada yang meremehkannya. Karena memang kenyataannya ia belum juga lulus. Ia berusaha meneguhkan hatinya bahwa hidup ini terus bergulir dan berproses.
__ADS_1
"Baiklah saat ini aku belum berhasil menunjukkan prestasi. Tapi tunggulah lima tahun kedepan. Akan aku bukti kan bahwa, aku Bryan Alexander Wijaya berhak melamar gadis salehah yang mana saja."
Sampai di rumah ia langsung ke kamarnya untuk istirahat. Diatas meja masih tergeletak surat dari Husna, adiknya di Indonesia yang mengabarkan bahwa si kecil Sarah perlu operasi amandel. Dan perlu biaya seragam pondok pesantren. Ia langsung teringat akan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua. Ia menangis. Ia merasakan betapa sayangnya Allah kepadanya. Allah masih ingin ia fokus pada tanggung jawabnya membiayai adik-adiknya. Inilah hikmah yang ia dapat dari peristiwa kekecewaannya karena Anna telah dilamar orang lain.
"Allah belum mengijinkan aku menikah. Aku masih harus memperhatikan adik -adikku sampai ke gerbang masa depan yang jelas dan cerah. Kalau aku menikah saat ini, perhatianku pada adik-adikku akan berkurang." Ia berbisik pada dirinya sendiri. Ia bertekad untuk menutup semua pintu hatinya. Dan akan ia buka kembali saat nanti sudah pulang ke Indonesia. Setelah ia sudah selesa S.1 dan adik-adiknya sudah bisa ia percaya mampu meraih masa depannya.
Tiba-tiba ia tersenyum.
"Bodohnya aku kenapa aku memasukkan Kirana dan Anna ke dalam hati. Bodohnya aku. Tugas yang jelas di mata menuntut tanggung jawab saja masih panjang kok malah tergoda dengan yang tidak jelas." Gumamnya lagi pada diri sendiri.
Ia menancapkan tekadnya untuk bekerja lebih keras lagi. Dan ia akan belajar lebih keras. Ia ingin sukses dua duanya. Ia lalu teringat harus segera mengirimkan uang ke Indonesia. Ke rekening Husna, agar si Sarah bisa belajar dengan tenang di pesantrennya. Ia ingin adik bungsunya itu menghafal Al - Quran. Tiba -tiba ia rindu seperti apa adik bungsunya itu. Ia tidak tahu seperti apa wajah adiknya itu sebenarnya. Ia hanya
tahu wajahnya yang ada di foto. Sebab ia belum pernah bertemu dengannya sama sekali. Saat ia meninggalkan Indonesia dulu, Sarah masih berada dalam kandungan ibunya.
"Ah semua sudah ada yang mengatur. Yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala . Jika saatnya ketemu nanti akan ketemu juga." Gumamnya dalam hati.
Jam setengah tiga. Purnama bulat sempurna. Bintang - bintang bertaburan menghias angkasa. Malam itu Kota Cairo terasa sejahtera. Angin musim semi mengalir semilir. Pelan. Berhembus dari utara ke selatan. Menerobos sela -sela pintu dan jendela apartemen. Menebarkan kesejukan -kesejukan.
Dua ekor kucing bercengkerama. Sesekali mengeong. Sesekali menjerit -jerit, melengking lengking memba -hana. Keduanya kejar-kejaran dengan suara yang sangat gaduh bagi yang mendengarnya. Di taman sebuah apartmen di kawasan Mutsallats, dua ekor kucing itu menikmali indahnya musim semi. Diiringi tasbih daun daun yang dibelai angin musim semi, mereka saling merayu. Mereka mendendangkan lagu -
lagu cinta. Ya. Lagu cinta yang sangat indah, yang hanya bisa dipahami oleh mereka berdua.
__ADS_1