Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Lagu cinta


__ADS_3

Tak begitu jauh dari situ, sebuah kedai kopi tampak masih ramai. Belasan orang terjaga menikmati musim semi dengan minum kopi, menghisap shisha, main kartu dan berbincang tentang apa saja. Ada yang sedang menikmati film india. Ada juga yang sedang berdiskusi dengan serius. Temanya meloncat-loncat, ke mana-mana.


Musim semi memang indah. Paginya indah. Siangnya indah. Sorenya indah. Malamnya pun indah. Lebih lebih bagi mereka yang menikmatmya dengan penghayatan ibadah.


Namun demikian, ada juga orang -orang yang sama sekali tidak peduli dengan datangnya musim semi. Ada juga bahkan yang tidak pernah merasakan datangnya musim semi. Mereka bahkan nyaris tidak pernah merasakan ad anya pergantian musim. Semua itu, lantaran kerasnya kehidupan yang harus mereka hadapi dan lalui. Lantaran mereka harus terus memeras otak dan menghadapi hidup dengan kucuran keringat dan bekerja tiada henti.


Di antara orang -orang yang nyaris tak pernah p eduli datangnya musim semi itu adalah ‘Mas Insinyur ’ Bryan , dan beberapa orang mahasiswa yang bekerja dengannya.


Malam itu, di kamarnya yang berada di sebuah apartemen, tepat di samping taman di mana ada dua ekor kucing yang sedang mendendangkan lagu - lagu cinta, ia masih juga belum istirahat dari pekerjaannya. Sementara teman -teman nya satu rumah sudah larut bermesraan dengan mimpi indahnya masing masing.


Bryan masih sibuk berkutat dengan kacang kedelainya yang telah ia beri ragi. Dengan penuh kesabaran ia harus membungkusnya agar menjadi tempe. Sejak lamarannya pada Anna Althafunnisa telah didahului oleh sahabatnya sendiri,


Bryan memutuskan untuk total bekerja. Sejak Ustadz Mujab menyarankan agar ia mengukur dirinya, ia memutuskan untuk total membaktikan diri pada ibu dan adik -adiknya di Indonesia. Ia niatkan itu semua sebagai ibadah dan rahmah yang tiada duanya. Ia juga meniatkannya sebagai tempaan dan pelajaran hidup yang harus ia tempuh di universitas besar kehidupan. Ia yakin, semua itu tidak akan sia -sia. Bukankah Allah tak pernah menciptakan segala sesuah dengan kesia -siaan.


Ia tidak lagi memiliki mimpi yang melangit tentang calon isteri. Ia sudah bisa mengaca diri. Ia yakin jodohnya telah ada, telah disiapkan oleh Allah Swt. Maka ia tidak perlu kuatir. Jodoh adalah bagian dari rezeki. Rezeki seseorang sudah ada jatahnya. Dan jatah rezeki seseorang tidak akan diambil oleh orang lain. Begitulah yang tergores dalam pikirannya. Maka ia merasa tenang dan tenteram. Tetapi tempaan hidup, ilmu hidup harus diusahakan. Allah tidak akan menambah ilmu seseorang kecuali seseorang itu berusaha menambah ilmunya. Ia merasa bekerja serius adalah bagian dari upaya menam-bah ilmu dan bagian dari usaha mengubah nasib.


Sejak peristiwa itu ia merasa harus lebih serius menghadapi hidup. Ia mulai membangun diri untuk berproses tidak hanya sukses secara bisnis, tapi juga sukses secara akademis. Ia mulai menata diri untuk menyelesaikan S.1 tahun ini juga. Setelah itu ia tetap akan belajar dan belajar tiada hentinya.

__ADS_1


Wajahnya tampak lelah. Kedua matanya telah merah. Namun sepertinva ia tak mau menyerah. Dalam kondisi sangat letih, ia harus tetap bekerja. Ia tak mau kalah oleh keadaan. Ia tak mau semangatnya luntur begitu saja oleh rasa kantuk yang terus menderanya. Bila sudah begitu, ia selalu ingat perkataan Al Barudi yang selalu melecut jiwanya, Orang yang memiliki semangat.


Ia akan mencintai semua yang dihadapinya.


Ia melihat jam yang tergantung di dinding kamarnya. Ia menghela nafas dalam-dalam. Sudah masuk ujung malam, dua jam lagi pagi datang. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Ia harus punya waktu untuk istirahat, meski - pun cuma satu jam memejam mata.


Ia lalu berdiri dan menggerak- gerakkan tubuhnya untuk menghilangkan rasa linu dan pegal yang begitu terasa. Dua menit ia melakukan gerakan senam ringan. Lalu kembali jongkok. Dan kembali membungkus kedelai calon tempe dengan penuh ketelitian dan kesabaran.


Tepat pukul tiga kurang lima menit ia berdiri dan bernafas lega. Pekerjaannya telah usai. Masih ada sedikit waktu untuk istirahat sebelum Subuh tiba. Alat- alat kerjanya ia rapikan. Ia letakkan pada tempatnya. Segera ia membersihkan tangannya dan mengambil air wudhu. Sebelum merebahkan badannya di atas tempat tidur, terlebih dahulu ia sempatkan dirinya untuk shalat tahajud dua rakaat lalu shalat Witir. Ia membaca tasbih sambil mengatur jam bekernya. Lalu perlahan tidur.


Baru saja matanya terpejam, ia mendeng ar namanya dipanggil-panggil pelan. Pintu kamamya juga diketuk, pelan.


Dengan perasaan sangat berat, kepala sedikit pusing, ia bangkit.


"Siapa? " tanyanya. "Hafez Kang."


Bryan turun dari tempat tidurnya dan beranjak membuka pintu kamarnya. Di depan pintu kamarnya berdiri seorang pemuda berkaca mata.

__ADS_1


"Ada apa Fez?" tanya Bryan.


"Maaf Kang, saya tidak kuat lagi. Saya tidak bisa tidur Kang. Saya tidak tahu harus bagaimana? Saya perlu orang yang saya ajak bicara. Saya mau minta pertimbangan Kang. Saya tidak kuat lagi Kang." Jelas Hafez dengan suara serak.


"Masih tentang perasaanmu pada Cut Mala?" "Iya Kang."


"Aku tahu kau pasti berat menanggung perasaan itu Fez.


Tapi afwan, aku belum tidur. Aku harus istirahat. Bila tidak aku bisa ambruk. Nanti saja kita bicarakan Setelah shalat Subuh ya. Kau baca Al-Quran saja sana untuk menenangkan jiwa sambil menunggu Subuh. Nanti kalau sudah Subuh aku dan teman -teman dibangunkan. Gitu ya?"


"Tidak bisa sekarang Kang?"


"Aku tidak kuat Fez. Aku baru saja selesai membungkusi tempe. Aku sangat lelah. Aku butuh istirahat."


"Baiklah Kang. Setelah shalat Subuh."


Pemuda berkaca mata itu beranjak ke kamamya. Bryan menutup kamarnya. Tanpa dikunci. Ia merebahkan badannya. Ia tahu Hafez menghadapi masalah serius. Tapi ia perlu istirahat. Dan membicarakannya setelah Subuh ia rasa tidak terlambat. Subuh sudah sangat dekat. Ia kembali berdoa, memejamkan mata dan tidur. Lelap.

__ADS_1


Sementara Hafez keluar dari kamamya dengan membawa mushaf. Ia mengikuti saran Bryan. Di ruang tamu ia membaca Al-Quran dengan suara pelan. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi menghayati dan mentadabburi apa yang dibacanya. Pikirannya tetap saja tertuju pada Cut Mala. Ia sendiri tidak tahu kenapa satu bulan ini hati dan pikir annya tidak bisa lepas dari Cut Mala. Mahasiswi Al Azhar dari Aceh yang tak lain adalah adik kandung teman yang paling akrab dengannya, yaitu Fadhil. Ia tidak menyadari bahwa perasaan cintanya pada gadis Aceh itu tumbuh dengan begitu lembut dan perlahan. Dan sekarang perasaan itu sudah sedemikian membuncah. Berbunga -bunga. Bahkan nyaris tak bisa dikuasainya.


Sedemikian membuncahnya perasaan itu, hingga ia tak bisa berbuat apa-apa. Padahal saat itu, ia harus konsentrasi memikirkan ujian Al Azhar yang tingg al satu bulan lagi. Yang ada dalam pikiran dan hatinya selalu saja Cut Mala. Wajah Cut Mala. Suara Cut Mala. Langkah kaki Cut Mala. Budi bahasa Cut Mala. Gaya bahasa Cut Mala. Tingkah laku dan perangainya yang halus, sopan, dan sangat menjaga diri. Prestasi prestasinya yang selalu terukir dengan gemilang. Bahkan pendapat-pendapatnya yang tertuang dalam pelbagai buletin kemahasiswaan di Cairo.


__ADS_2