
Ia meletakkan tas, dan duduk di samping Khaled. Punggungnya ia rebahkan ke dinding mushala. Kedua kakinya ia selonjorkan. Ia menarik nafas pelan. Memejamkan mata. Lalu larut khusyuk mendengarkan bacaan ayat -ayat suci Al-Quran. Bacaan yang cepat, fasih dan enak didengar. Tidak keras juga tidak lirih. Ia menyimak dengan sepenuh hati. kesejukan yang tiada terkira. Kesejukan yang melebihi embun pagi musim semi.
Sepuluh menit kemudian bacaan ayat -ayat Ilahi itu ber henti. Ia membuka mata dan menyapa,
"Assalamu'alaikum ya Akhi."
Khaled menolehke arahnya. Sedikit kaget.
"Wa 'alaikumussalam wa rahmatullah. Masya Allah, Akhi Bryan, sudah lama?"
Khaled selalu menyambutnya hangat dan selalu memanggilnya dengan sebutan akhi di depan namanya, Bryan. Itulah nama yang ia kenalkan pada Khaled saat pertama kali kenalan tiga tahun yang lalu. Setiap Khaled memanggil namanya, ia merasakan ada keakraban yang kuat terjaga.
"Ada sedikit waktu untuk bincang -bincang, Akhi Khaled?"
"Tentu, dengan senang hati. Seluruh waktuku untukmu Akhi. "
"Bisa dijelaskan tahdid yang telah ada. Mana -mana yang muhim, muhim jiddan, makhdzuf, dan mana yang qiraah faqad?"
"Dengan senang hati, ya Siddi."
Khaled lalu membuka buku catatannya, dan menjelaskan kepada Bryan tahdid semua mata kuliah yang telah ia dapatkan selama mengikuti kuliah. Ia menjelaskan satu per satu dengan detil dan sabar. Ia juga memberi kesempatan kepada Bryan untuk bertanya. Dan semua pertanyaan ia jawab panjang lebar, sampai Briyan merasa puas.
"Ada hal lain yang bisa saya bantu ya Syaikh Bryan .? "
"Cukup, insya Allah. Jangan kapok kalau saya tanya ini itu."
"Ana fi khidmatik ya Siddi."
"Jazaakallah khairan."
"Sekarang gantian saya. Sebenarnya sejak dua hari yang lalu aku mencarimu untuk suatu urusan. Boleh kan saya menyampaikan sesuatu padamu?"
__ADS_1
"Dengan senang hati jika ada yang bisa saya bantu."
"Masih ingat kunjunganmu ke kampungku dua bulan yang lalu? "
"Ya. Kunjungan yang menyenangkan. Kampung yang menenteramkan. Dan sambutan yang hangat dan penuh persaudaraan. Saya sangat terkesan. Jazakumullah khaira."
"Ingat ketika engkau kubawa ke rumah Syaikh Abbas? "
"Yang Imam masjid itu?"
"Tepat."
"Ingat saat kita dijamu dirumanya."
"Masya Allah, jamuan yang tidak akan pernah saya lupakan. Keluarga yang ramah dan sangat berpendidikan."
"Ingat seseorang yang menyajikan makanan dan minuman."
"Kau tahu siapa perempuan bercadar itu?"
"Mungkin puteri beliau. "
"Tepat."
"Ada apa dengan puteri beliau?"
"Begini, Saudaraku.. "
Belum sempat Khaled menjelaskan lebih lanjut, seorang mahasiswa memakai jubah seragam khas Al memanggil Khaled dari pintu mushala,
"Ya Khaled, sur'ah! "
__ADS_1
"Ada apa?"
"Doktor Yahya memanggilmu di ruang kerjanya. Kau harus ke sana sekarang. Penting!"
"Sekarang?"
"Ya ayo cepat. Beliau tergesa -gesa mau ada urusan!"
"Mmm. Baik"
Khaled memasukkan buku yang tadi dibacanya ke dalam tas. Lalu berkata pelan, "Akhi Bryan, afwan, saya tinggal dulu. Kita lanjutkan pembicaraan kita di lain kesempatanya."
"O ya baik. Salam buat Doktor Yahya."
"Insya Allah."
Khaled bergegas keluar. Sementara Bryan, ia terpuruk dimushala dengan sebagian hati didera penasaran apa sesungguhnya yang akan dibicarakan Khaled tentang putri bungsu Syaikh Abbas itu? Sementara sebagian hatinya yang la in telah mengembara di Pasar Sayyeda Zainab. Ya ia harus ke sana untuk belanja bahan baku membuat tempe dan bakso. Ia harus ke sana jika ingin tetap bisa hidup dan menyelesaikan kuliah di sana
Bryan melihat jam tangannya. Sudah seperepat jam ia menuggu, bus ke Sayyeda Zaenab tidak juga datang, padahal bus ke Atabah sudah berkali -kali lewat. Halte bus di depan Masjid Al itu ramai manusia. Sebagian duduk di kursi halte, tapi yang berdiri jauh lebih banyak. Bus jurusan Imbaba datang. Orang -orang berlarian naik. Seorang ibu -ibu sekuat tenaga berusaha menggapai pintu bus. Tangannya telah meraih pegangan, dan ketika kakinya hendak naik, bus itu berjalan. Ibu-ibu itu tidak melepaskan pegangannya. Jadilah ia terseret. Para penumpang dan orang -orang yang melihatnya berteriak -teriak marah. Seorang lelaki setengah baya berteriak keras marah,
"Hasib ya hayawan! "
Bus itu berhenti, dan sang sopir tertawa nyengir tanpa terlihat berdosa sama sekali. Ibu-ibu berhasil naik dan kemarahannya tidak juga berhenti. Bryan melihat hal ltu dengan hati sesak. Sudah tak terhitung lagi ia melihat kejadian seperti itu. Seorang turis bule tampak asyik mengabadikan adegan kekonyolan. Tampaknya turis itu mendapatkan oleh oleh yang sangat unik untuk dia bawa ke negaranya. Bryan merasakan dadanya semakin sesak. Layakkah kekonyolan semacam ini terjadi di depan kampus Islam tertua di dunia? Tanyanya dalam hati.
Bus jurusan Imbaba itu telah hilang dari pandangan. Tak lama sebuah bus datang. Ia sangat akrab dengar nomor bus itu. Delapan puluh coret. Bus yang sangat legendaris dan terkenal bagi mahasiswa Asia Tenggara yang tinggal di kawasan Hayy El Ashir. Legendaris karena murahnya. Jauh dekat sama saja. Cuma sepuluh piester. Apa tidak murah. Dan terkenal, karena lewat jalur strategis bagi mahasiswa. Bus itu dari Hayyul Ashir Nasr City melewati Hayyu Thamin, Masakin Ustman, Kampus Al Nasr City, Muqowilun, Duwaiqoh, Kampus Al Azhar Maydan Huse in, dan berakhir di Attaba.
Selain itu, juga terkenal karena sering terjadi pencopetan di dalamnya. Maka seringkali mahasiswa Indonesia menyebutnya, "bus delapan puluh copet", bukan "delapan puluh coret". Meskipun demikian, bus itu tetap saja dicintai dan dekat di hati.
Begitu delapan puluh coret berhenti, dari pintu depan banyak penumpang yang turun. Dan di pintu belakang penumpang berjejal naik. Ia melihat seorang dosen ikut berdesakan naik. Ia amati dengan seksama, ternyata Prof. Dr. Hilal Hasouna, Guru Besar Ilmu Hadis. Ia selalu dibuat takjub oleh sikap tawadhu' dan kesahajaan para syaikh dan guru besar Universitas Al . Di negara nya mana ada seorang guru besar yang mau berdesakan naik bus.
Perlahan delapan puluh coret pergi. Lima detik kemudia ndatang bus bernomor enam puluh lima. "Ini dia," desis bryan lirih. Hatinya begitu lega dan bahagia. Selalu saja di dunia ini, jika seorang menanti sesuatu dan sesuatu yang dinanti itu hadir, maka hadir pulalah kebahagiaan yang susah dilukiskan. Di antara bus-bus yang lain, enam puluh lima adalah yang paling dicintai bryan. Karena bus itulah yang senantiasa mengantarkannya ke Pasar Sayyeda Zaenab. Bus itu telah menjadi alat yang sangat akrab dalam menunjang bisnisnya. Bisnis tempe dan bakso.
__ADS_1
Begitu bus berhenti beberapa orang naik dari pin tu belakang. bryan pun ikut naik. Bus tidak penuh sesak. Tidak ada penumpang yang berdiri. Namun tidak banyak tempat duduk yang kosong. Semua penumpang yang baru naik, mendapatkan tempat duduk, kecuali Bryan. Ia harus berdiri