Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Bidadari


__ADS_3

"Lha kalau mereka itu aku yakin wanita -wanita salehah." Gumam Pak Ali memandang Bryan mengalihkan pandangan.


"Itu mana Pak?'


"Itu." Tunjuk Pak Ali ke arah rombongan gadis -gadis berjilbab. Dari cara mereka memakai jilbab dan cara mereka berjalan menunjukkan kalau mereka dari Asia. "Mereka anak - anak Malaysia. Hampir semua yang kuliah di Al di sini adalah mahasiswi dari M. X boleh dikatakan tidak ada. Semua mahasiswinya ngumpul di C." Pak Ali menjelaskan panjang lebar seolah Bryan bukan mahasiswa Al. Bryan diam saja, tanpa dijelaskan pun ia sudah tahu. Ia sudah sembilan tahun tinggal di sini .


"Sudahlah Pak, tidak usah membahas mahasiswi M itu. Langsung saja pada cerita yang ingin Pak Ali sampaikan tadi. Matahari sudah bersinar terang. Kita belum sarapan."


"Baiklah Mas. Dengarkan baik -baik ya. Ceritanya ada sangkut-pautnya sedikit dengan hidupku."


Pak Ali memandang jauh ke tengah lautan. Ia mengambil nafas lalu melanjutkan,


"Dulu saya anak orang paling kaya di Pedan, Klaten. Saya kuliah di B. Saat kuliah saya kenal dengan gadis asli B, sebut saja namanya Neneng. Saya tergila -gila pada Neneng. Neneng memang primadona di kampus. Kecantikannya tak kalah dengan Sri Devi, bintang legendaris India itu. Sampai ia dapat julukan Sri Devi from B . Ia anak seorang diplomat. Ibunya asli India. Pokoknya cantiknya luar biasa.


"Segala cara aku gunakan untuk mendapatkan dia. Aku yakin bisa mendapatkannya. Aku berkeyakinan kalau aku berusaha aku pasti bisa. Benar, akhirnya aku bisa menyuntingnya. Saat ayahnya tugas di L, ia minta aku membawanya ke L. Karena kami sudah keluarga sendiri, ayahnya tidak mau membiayai hidup kami di L. Aku yang harus bertanggung jawab. Aku yang harus membiayainya. Sebab akulah suaminya.


"Demi cintaku padanya segala yang kumiliki aku korbankan. Harta orangtuaku aku habiskan untuk membiayai hidup di L. Kau tahu sendirikan, betapa mahal hidup di L. Sekaya-kayanya orang Pedan yang mengandalkan hasil pertanian mampu kuat berapa lama hidup di L? Akhir - nya harta orangtuaku ludes. Aku sendiri menanggung utang tidak sedikit. Aku benar benar tidak memiliki apa -apa. Aku hanya bisa kerja part time di sebuat toko swalayan di L. Gaji kerjaku hanya bisa untuk makan. Yang menyakitkan, isteriku yang cantik itu kerja di Club Malam. Ia bisa menari ala India. Dan tiap malam ia pulang diantar pasangan barunya. Ia hidup tanpa menganggapku sebagai suamin ya. Saat itu aku nyaris gila.

__ADS_1


"Aku sangat mencintainya. Semua telah aku korbankan untuknya. Tapi ia tanpa risih sedikit pun mengatakan kepadaku, 'Ali di rumah aku isterimu, tapi di luar rumah aku milik banyak orang. Kau jangan cemburu ya. Kau justru harus bangga memiliki isteri yang disukai banyak orang!'


"Aku tidak kuat dengan perlakuannya. Akhirnya aku ceraikan dia. Saat itu dia sedang hamil dua bulan. Tetapi aku tidak bisa yakin kalau yang sedang di kandungnya itu adalah anakku. Aku akhirnya pulang kem bali ke X sebagai gembel. Keluarga besarku yang dulu kaya -raya telah hancur berantakan. Orangtua dan adik -adikku memusuhiku. Aku lalu hidup menggelandang di S. Di stasiun Balapan. Aku lakukan apa saja untuk dapat uang. Segala jenis kejahatan sudah pernah aku lakukan. Sampai suatu hari aku nyaris mati karena tertangkap oleh warga ka mpung saat aku mencuri.


"Untungnya ada seorang kiai yang menyelamatkan nyawaku. Kiai itu memiliki pesantren tak jauh dari tempat aku mencuri. Di tangan kiai itu aku in syaf. Kiai itu begitu baik. Ia bagai malaikat.


"Aku belajar agama di pesantrennya selama satu tahun. Selama satu tahun aku makan dan tidur gratis di pesantren. Setelah hidup satu tahun di pesantren barulah aku memahami untuk apa aku hidup. Aku lalu pamit hendak merantau. Pak Kiai menyarankan agar aku kerja saja di Saudi, kebetulan ada teman Pak Kiai yang memiliki usaha kontainer di sana Namanya Pak Ahmad. Pak Ahmad membutuhkan sopir pribadi yang bisa berbahasa Inggris. Dan minta pada Pak Kiai kalau ada di antara santrinya yang bisa. Pak Kiai menawarkan padaku. Aku menerimanya dengan harapan bisa ke Tanah Suci untuk menangis kepada Allah di depan Ka'bah.


"Aku pun berangkat ke Saudi. Teman Pak Kiai itu yang membiayai tiketnya. Aku bekerja di sana. Sangat nyaman. Aku merasakan hidup tenang. Hubunganku dengan Pak Ahmad sangat baik. Aku sudah dianggap saudara sendiri oleh keluarga Pak Ahmad. Aku berdoa di depan Ka'bah agar diberi pendamping hidup yang setia dan baik. Doa itu dikabulkan oleh Allah. Suatu pagi, ya pagi seperti ini, aku dipanggil Pak Ahmad. Pak Ahmad berkata, 'Li, kamu mau nikah?'


'Tapi dia janda beranak dua. Tidak perawan. Bagaimana?


Mau?'


'Asal salehah mau Pak.'


'Dia salehah insya Allah. Begini Li. Kalau kau mau kau harus ke Mesir. Perempuan itu sekarang ada di Mesir. Suami - nya telah meninggal setengah tahun yang lalu. Dua anaknya masih kecil-kecil. Dan ia tetap ingin di Mesir sampai punya bekal yang layak untuk hidup di X.'

__ADS_1


"Aku langsung bertanya, 'Jadi saya nanti harus meninggalkan Jeddah dan tinggal di Mesir Pak?'


'Tidak apa -apa. Kalau kau mau kau berarti menolong janda dan dua anaknya. Kalau ikhlas besar pahalanya. Dan kau di Mesir sana akan langsung dapat pekerjaan. Jangan kuatir.'


'Apa Pak pekerjaannya, Pak?'


'Menggantikan pekerjaan almarhum suami janda itu. yaitu cleaning service merangkap sopir. Bagaimana Li kamu mau?'


"Aku lalu menjawab, 'Baiklah, bismillah saya mau.' "Akhirnya aku menikah dengan orang yang sekarang menjadi isteriku. Allah tidak hanya memberiku isteri yang salehah. Tapi Allah juga memberiku isteri yang cantik, penyabar, dan sangat pengertian. Lebih dari itu Allah menganugerahiku dua orang anak yang sangat menyejukkan hati. Dua anak itu tidak pernah menganggap aku bukan ayahnya. Mereka tahunya, ayah mereka ya aku ini. Inilah jalan hidup yang diatur oleh Allah. Sebab sekian tahun aku berumah tangga tidak juga punya keturunan. Ternyata setelah diperiksa medis aku divonis tidak bisa punya keturunan. Aku semakin sayang pada isteri dan anak anakku. Mereka pun semakin sayang padaku. Anakku yang pertama sekarang kuliah di Malaysia. Anak yang kedua kuliah di Fakultas Kedokteran UNS Solo. Seperti yang kau ketahui, di sini aku hidup berdua bersama isteri. Sesekali kami yang menjenguk mereka atau mereka yang menjenguk kami. Kini aku sangat bahagia. Tahun depan aku dan isteri berencana meninggalkan Mesir. Alhamdulillah kami sudah punya rumah di Solo Baru."


Pak Ali menghela nafas. Ada gurat kepuasan yang tergurat di wajahnya. Pak Ali membetulkan le tak kaca matanya. Bryan merasa belum puas. Ia merasa belum mendapatkan apa yang dijanjikan Pak Ali.


"Lha cerita gadis cantik salehahnya mana Pak?"


Pak Ali tersenyum "Sabar tho Mas. Gadis cantik saja yang kaupikir."


"Lho Pak Ali tadi kan bilangnya mau cerita tentang gadis cantik yang salehah. Lha ini sudah ke mana -mana kok belum muncul-muncul juga."

__ADS_1


__ADS_2