
Atau kemungkinan kedua, Tuhan - tuhan itu bekerja sama menciptakan matahari. Matahari diciptakan dengan keroyokan. Jika demikian, jelas jelas mereka bukanlah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab mereka lemah. Bagaimana tidak. Untuk menciptakan matahari saja mereka harus bekerja sama. Tidak bisa menciptakan sendiri. Kekuasaan -Nya tidak mutlak. Yang terbatas kekuasaanya berarti lemah dan tidak layak disebut sebagai Tuhan.
Jika Tuhan itu lebih dari satu, bisa saja terjadi pembagian tugas. Ada yang bertugas mencipta matahari, ada yang bertugas mencipta bumi, ada yang bertugas men cipta langit dan seterusnya. Jika demikian, mereka bukan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebab pembagian tugas itu menunjukkan kelemahan, menunju kkan ketidak-mahakuasaan.
Tuhan yang sesungguhnya adalah Tuhan Yang menciptakan dan menguasai seru sekalian alam. Tuhan yang menciptakan alam semesta ini dengan kekuasaan Nya yang sempurna. Tuhan yang ilmu -Nya meliputi segala sesuatu.
Dan yang memiliki sifat maha sempurna seperti itu hanya ada satu, yaitu Allah Swt. Dialah Tuhan yang ses ungguhnya. Sebab tidak ada yang memproklamirkan diri sebagai pencipta alam semesta ini kecuali hanya Allah Swt.
"Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha suci Allah yang memiliki ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan”
Pemuda bemama Bryan Alexander Wijaya itu masih menatap ke arah laut. Matahari masih satu jengkal di atas laut. Sebentar lagi matahari itu akan tenggelam. Warna kuning keemasan bersepuh kemerahan yang terpancar dati bola matahari menampilkan pemandangan luar biasa indah. Ia jadi ingat sabda Nabi, ''Sessungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan."
"Subhanallah!" Kembali ia bertasbih dalam hati.
Ia terus menikmati detik -detik pergantian siang dan malam yang indah itu. Cahaya matahari seperti masuk ke dalam laut yang perlahan menjadi gelap. Siang seolah olah masuk ke dalam perut malam. Matahari hilang tenggelam. Lalu perlahan bulan datang. Subhanallah. Siapakah yang mengatur ini semua? Siapakah yang mampu memasukkan siang ke dalam perut malam? Seketika azan berkumandang menjawab pertanyaan itu dengan suara lantang: Allaahu Akbar! Allaahu Akbar! Allah Maha Besar. Allah Maha Besar. Ya, hanya Allah Yang Maha Besar kekuasaan-Nyalah yang mampu memasukkan siang ke dalam perut malam. Dan memasukkan malam ke dalam perut siang.
"Tidakkah engkau memperhatikan, bahwa Allah memasukkan malam ke dalam siang dan memasukan siang ke dalam malam dan Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar sampai kepada waktu yang ditentukan. Sungguh Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."
__ADS_1
Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu - lampu jalan berpendaran. Alexandria memperlihatkan sihirnya yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. Kelap - kelip lampu kota yang mendapat julukan "Sang Pengantin Laut Mediterania" itu bagai tebaran intan berlian.Bryan Alexander Wijaya menutup gorden jendela kamarnya. Ia bergegas untuk shalat di masjid yang jaraknya tak jauh dari hotel.
Saat tangannya menyentuh gagang pintu hendak keluar, telpon di kamarnya berdering. Ia terdiam sesaat. Ia menatap telpon yang sedang berdering itu sesaat dan terus membuka pintu lalu melangkah keluar. “Kalau dia benar -benar perlu, nanti pasti nelpon lagi setelah shalat. Apa tidak tahu ini saatnya shalat," lirihnya menuju lift.
Ia membenarkan tindakannya itu dengan berpikir bahwa datangnya azan yang memanggilnya itu lebih dulu dari datangnya dering telpon itu. Dan ia harus mendahulukan yang datang lebih dulu. Ia harus mengutamakan undangan yang datang lebih dulu. Apalagi undangan yang datang lebih dulu itu adalah undangan untuk meraih kebahagiaan akhirat. Padahal kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal.
***
Saat pulang dari masjid, Bryan bertemu kirana didepan pintu masuk lobby hotel. Melihat bryan wajah kirana tampak riang.
"Hei ke mana saja? Aku sudah mencari Mas bryan ke mana-mana? Sudah dua puluh tujuh kali aku ngebel ke kamar Mas bryan! Ada hal penting! Ayo kita bicara di lobby saja!" ujar kirana ngerocos tanpa memberi kesempatan menjawab. Gadis berpostur tubuh indah itu berbalut kaos lengan panjang ketat berwarna merah muda dan celana jeans putih ketat. Balutan khas gadis -gadis aristokrat Eropa itu membuatnya tampak langsing, padat, dan berisi. Parfumnya menebarkan aroma bunga -bungaan segar dan sedikit aroma apel. Wajahnya yang putih dengan mata yan g bulat jernih memancarkan pesona yang mampu menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya.
"Lho kok diam saja, ayo Mas, kita bicarakan di lobby! Ini penting!" uajar kirana kembali mengajak bryan masuk ke lobby hotel. bryan tergagap. Ia mengangguk. Dan mau tidak mau bryan mengikutinya. Sebab ia berada di Alexandria karena kontrak kerja dengannya.
"Mbakkirana sudah shalat?" tanya bryan pelan. Ia mencoba menguasai dirinya, yang sesaat sempat oleng. Ia memanggilnya 'Mbak', meskipun ia tahu kirana lebih muda tiga tahun dari dirinya. Tak lain, hal itu karena rasa hormatnya pada gadis itu sebagai Putri Pak Duta Besar.
"Ah shalat itu gampang! Yang penting itu. Ada tugas penting untuk Mas bryan malam ini. Tugas terakhir. Aku janji!" sahut kirana nyerocos tanpa rasa dosa karena menggampangkan shalat.
__ADS_1
“Tu... tugas?" “Ya."
"Untuk saya!?"
"Ya, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Mas bryan?" "Tugas dari siapa?"
"Ya dariku."
"Dari Mbak?"
"Iya."
bryan menghirup nafas. Detak jantungnya sudah normal. Ia sudah menguasai dirinya sepenuhnya. Dengan mimik serius ia berkata,
"Sebentar Mbak, bukankah tugas saya sudah selesai tadi sore Mbak? Dengan berakhirnya acara Pekan Promosi Wisata tadi sore berarti tugas saya kan sudah selesai. Dalam kesepakatan yang kita buat, saya bertugas membuat dan menjaga Stan selama enam hari. Dari jam sepuluh pagi sampai jam empat sore. Menunggu stand enam jam setiap hari. Berarti tugas saya sudah selesai dong. Jika ada tugas lagi ini jelas di luar kesepakatan. Jelas saya tidak bisa menerimanya Mbak, maaf! Apa hubungannya Mbak dengan saya sehingga dengan seenaknya Mbak memberi tugas kepada saya!? Apa saya bawahan Mbak!? Maaf saya tidak bisa Mbak!"
Meskipun ia di kalangan mahasiswa negara P dikenal sebagai penjual xx, ia tidak mau diperlakukan seenaknya. Ia sangat sensitif terhadap hal-hal yang terasa melecehkan harga diriya. Memberi perintah seenaknya kepadanya adalah bentuk dari penjajahan atas harga dirinya.bryan adalah orang yang sangat menghargai kemerdekaannya sebagai manusia yang hanya menghamba kepada Allah Swt.
__ADS_1
kirana yang pernah sekian tahun tinggal di Prancis agaknya langsung menyadari kekhilafannya. Ia buru buru meralat ucapannya dan meminta maaf.