Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Cerita


__ADS_3

"Bingung memilih dua gadis yang sama -sama memiliki kelebihan untuk aku nikahi." Jawaban Vidy membuat Bryan langsung mengalihkan pandangannya dari kakek berjubah abu-abu ke wajah Vidy yang masih asyik dengan roti kibdah nya.


"Ceritanya bagaimana?" Tanya Bryan dengan nada serius.


Vidy menghentikan makannya. Ia meneguk air putih untuk membersihkan tenggorokannya. Lalu memandang Bryan lekat-lekat.


"Aku akan cerita. Tapi janji tidak kaubocorkan siapa siapa. Masyi ?"


"Masyi."


"Begini. Aku saat ini sedang dikejar-kejar sama Kirana Putri Pak Dubes itu?"


"Dikejar-kejar Kirana. Ah yang benar Vid”? Bryan kaget mendengar penuturan sahabatnya itu.


"Benar. Aku tidak bohong. Kau tahu sendirilah kan Kirana itu bukan mahasiswi Al yang sangat menjaga akhlak. Ia lulusan Prancis. Ia langsung saja bicara terus terang padaku. Tadi malam dia menanyakan lagi jawabanku. Aku belum jawab. Kirana aku lihat sudah berusaha fair dan jujur. Ia telah menceritakan semua hubungannya dengan pacar -pacarnya yang gagal. Ia sudah pernah ganti pacar lima kali. Sekali waktu di SMA. Empat kali waktu di Prancis. Dua pacarnya yang terakhir adalah orang bule. Kirana menyadari tidak cocok dengan mereka. Ia ingin hidup yang lurus -lurus saja. Dia bilang ingin memiliki suami yang bisa membimbingnya. Jujur saja Aku tertarik padanya. Aku tertarik tidak semata - mata karena kecantikan wajahnya. Tapi aku tertarik karena potensi yang ada dalam dirinya yang jika diarahkan di jalur yang benar bisa sangat bermanfaat bagi umat."


"Potensi itu mi salnya apa itu?"


"Kau tahu sendiri kepiawaiannya menulis dalam bahasa Inggris dan Prancis. Pesona keartisan dirinya. Dia bercerita akan main dalam sebuah film garapan sutradara Mesir. Dan ia juga sudah ditawari main film di Indonesia. Tak lama lagi dia akan menjadi artis. Dan kau bayangkan jika artis itu bisa


memberikan teladan yang baik. Maka masyarakat yang mengaguminya akan meniru kebaikannya. Jika keartisannya nanti digunakan untuk berdakwah, apa tidak dahsyat."

__ADS_1


"Kalau yang terjadi sebaliknya bagaimana? Misalnya ia jadi artis terus gaya hidupnya yang hedonis sebagaimana artis pada umumnya bagaimana? Apa kau sudah benar -benar tahu siapa Kirana?"


Vidy terdiam sesaat. Ia lalu berkata,


"Aku melihat kesungguhan Kirana untuk baik. Itu yang meyakinkan aku. Dia akan baik jika dibimbing oleh yang mampu membimbingnya."


"Terus yang kau bingungkan apa? Kelihatanrnya kau sudah mantap begitu"


"Masalahnya aku sudah terlanjur melamar seseorang. Dia mahasiswi Al ini. Tapi sampai sekarang dia belum memberi jawaban. Aku bingung. Kalau aku batalkan lamaranku dan aku memilih Kirana yang sudah jelas mengejarku aku takut dianggap lelaki plin-plan. Aku takut dianggap memainkan anak orang. Tapi kalau aku menunggu terlalu lama, aku takut akhirnya lamaranku itu ditolak, dan aku khawatir Kirana sudah berubah pikiran. Aku bingung."


"Begitu kok bingung. Percayalah padaku, tak ada mahasiswi Cairo yang akan menolak lamaranmu, kecuali mahasiswi itu sudah punya calon atau ia sudah dilamar orang. Siapa yang menolak lamaran pemuda tampan, cerdas kaya dan kandidat master dari Cairo University? siapa? Hanya gadis tolol yang akan menolak. Yang cerdas itu ya Kirana. Ia mengejar kamu karena dia cerdas. Aku yakin Kirana sudah tahu reputasi kamu dengan baik. Maka percayalah mahasiswi yang kau lamar itu pasti mau. Kalau begitu sebenarnya kau sudah bisa memutuskan apa yang harus kauputuskan."


Furqan ragu untuk menjawab. Akhirnya dia tidak mau berterus terang.


"Ah sudahlah kalau itu rahasia. Aku tidak enak menyebutnya." Lirihnya.


"Ya sudah. Kalau begitu ya istikhara saja." "Ya, insya Allah. Kau ada nasihat untukku?" Bryan tersenyum.


"Tinggalkan apa yang meragukan bagimu, dan ambillah yang tidak meragukan bagimu."


"Terima kasih. Yuk kita ke hotel. Pakai taksi saja. Biar aku yang bayar."

__ADS_1


"Ayo"


Sebelum pergi terlebih dahulu Vidy membayar roti kibdah yang dibawanya. Cerita Vidy semakin mengukuhkan hati Bryan bahwa ia tidak boleh mengharapkan Kirana. Bisa jadi Kirana akan menjadi isteri sahabatnya itu. Ia tidak mau mengarah apa yang kelihatannya diarah juga oleh sahabatnya. Namun ia masih ragu apakah bisa orang seperti Kirana diajak untuk berdakwah dan berkomitmen menjalankan agama dengan baik. Apakah orang seperti Kirana tidak akan melihat aturan-aturan agama sebagai dogma yang membatasi kebebasannya sebagai manusia? Apa reaksi Vidy jika Kirana hendak memberihadiah ciuman khas Prancis padanya? Ia hanya bisa berharap bahwa sahabatnya itu akan ditunjukkan yang terbaik oleh Allah Swt. Sebab tak ada yang baik di dunia ini kecuali datangnya dari Allah Subhanahu wa ta'ala.


Siang itu sebelum jam dua belas, semua orang dalam rombongan "Pekan Promosi Wisata dan Budaya Indonesia di Alexandria" sudah keluar dari hotel. Tepat jam setengah satu mereka sudah bergerak meninggalkan Alexandria menuju Cairo. Rombongan yang terdiri atas empat puluh lima orang itu meluncur ke Cairo dengan dua mobil satu bus dan satu mobil barang.


Bryan duduk di samping Romi. Pak Ali mengendarai BMW bersama Pak Dubes dan teman Pak Dubes. Mobil mewah satunya dikendarai oleh Atase Pendidikan dan Atase Perdagangan. Yang lainnya ikut dalam bus yang tak kalah nyaman. Baru keluar dari Alexandria Romi sudah harus ke toilet. Ia tidak sempat membersihkan perutnya sebelum berangkat sebab tergesa gesa. Ia tadi terlalu asyik berenang di pantai dan nyaris lupa waktu. Kalau saja Pak Atase Perda - gangan tidak mengabsen semua orang di lobby, bisa jadi Romi akan ketinggalan.


Saat Romi pergi ke toilet itulah Kirana yang duduk agak di belakang maju dan duduk di tempat duduk Romi yang kosong. Bryan dan Kirana belum sempat berbinca ng sejak peristiwa pemutusan pembicaraan tadi malam. Eliana mendahului percakapan,


"Eh Mas terima kasih atas kiriman  habasy takanatnya ya? "


"Oh sama-sama. Oh iya, sama minta maaf atas sikap saya yang mungkin tidak berkenan tadi malam. Mungkin itu membuat Mbak Kirana marah. Saya dengar dari Romi tadi pagi Mbak marah."


"Ah tidak. Hanya sedikit emosi saja. Kita lupakansaja itu semua. Ini kalau boleh sayatanya, kenapa kau menjawab mendapat ciuman Prancisitu musibah. Saya yakin Mas tadi malam mengatakan dengan serius."


Bryan tersenyum. Ia geli sendiri mendengar perkataan Kirana. Katanya lupakan saja semuanya, tapi masih bertanya tentang jawabannya tadi malam. Namun ia tidak mau mengungkit hal itu. Ia ingin langsung menjawab pertanyaan Kirana.


"Setiap orang punya prinsip. Dan prinsip seseoran itu biasanya berdasar pada apa yang diyakininya. Iya kan Mbak?" Kata Beyan mengawali jawabannya.


"Iya." Kata Kirana sambil mengangukkan kepala. Saat itu ia sama sekali tidak memandang Bryan sebagai tukang masak, tapi memandang Bryan sebagai seorang mahasiswa yang memiliki satu sikap dan pendirian.

__ADS_1


__ADS_2