Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Lagu Cinta


__ADS_3

Itu semua telah membuat hati Hafez begitu kagum pada - nya. Ah, tak hanya kagum, tapi ada sesuatu yang aneh mendera-dera hatinya, entah apa namanya. Ia merasa, di dunia ini tak ada gadis yang ia anggap sempurna untuk menjadi pendamping hidupnya, menjadi ibu dari anak -anaknya, selain gadis dari Tanah Rencong itu.


Sehap kali ia mendengar nama itu disebut, hatinya sela lu bergetar. Berdesir -desir. Disebut oleh siapa saja. Termasuk ketika ia mendengar nama itu disebut oleh Fadhil kakak kandung Cut Mala sendiri.


Dan setiap kali ia membaca nama gadis kelahiran Ulee Kareng Banda Aceh itu tertulis di buletin, buletin apa saja . rasa cintanya bertambah -tambah.


Ia merasa sudah nyaris gila. Ia sadar perasaan seperti itu tidak boleh menjajah dirinya. Tapi entah kenapa ia merasa sangat tidak berdaya. Ia membaca Al -Quran dengan perlahan


dan ia kembali tidak berdaya. Cut Mala hinggap lagi di kelopak matanya.


Sudah sekuat tenaga ia mengusir kelebatan bayangan Cut Mala, tapi tak kuasa. Semakin ia coba mengusirnya, justru semakin jelas bayangan Cut Mala bersemayam di benaknya. Ia benarbenar tak berdaya.


Dalam ketidak berdayaan, kehadiran bayangan Cut Mala, malah ia rasakan sebagai sebuah kegilaan dan kenikrnatan, kenikmatan dan kegilaan. Bagaimana tidak. Saat ia berusaha mentadabburi apa yang ia baca, saat itu justru muncul bayangan yang tidak -tidak di benaknya: "Seandainya ia telah menikah dengam Cut Mala, lalu di penghujung malam seperti itu ia membaca Al-Quran bareng Cut Mala. Bergantian. Terkadang ia yang membaca, Cut Mala yang mendengarkan. Atau Cut Mala yang membaca, ia yang menyimak dengan seksama. Alangkah indahnya. Alangkah indahnya.”


Ia memejamkan mata. Setetes airmata jatuh ke mushaf yang ia baca.

__ADS_1


Ia sesenggukan. Menangis dengan perasaan cinta, sedih, rindu dan merasa berdosa bercampur jadi satu.


"Ya Allah, ampuni dosa hambaMu ini. Ya Allah, jika yang kurasakan ini adalah sebuah dosa maka ampunilah dosa hambMu yang lemah ini."


Dalam doa dan istighfarnya, ia sangat berharap bahwa Allah Swt. mengasihi orang - orang yang sedang jatuh cinta seperti dirinya.


***


Di ufuk timur, langit menyemburatkan warna merah. Fajar perlahan menyingsing. Sebuah menara mengumandangkan azan. Disusul menara kedua.


Disebut "Masjid Planet" karena bentuknya yang tidak seperti masjid pada umumnya, tapi mirip bangunan dari planet lain.Ada juga yang menyebut "Masjid UFO", karena bentuknya agak mirip UFO.


Gadis Aceh itu membangunkan teman -temannya. Ketika ia masuk kamar Tiara, ia mendapati kakak kelasnya itu masih bersimpuh di atas sajadahnya dengan terisak - isak. Ia tidak ingin mengganggu nya.


Cut Mala atau lengkapnya Cut Malahayati, tinggal di dalam flat yang cukup luas itu dengan empat orang maha - siswi. Flat itu memiliki tiga kamar tidur berukuran cukup luas. Satu dapur. Satu kamar mandi. Balkon. Dan ruang tamu yang juga luas. Flat itu te rgolong mewah. Semua  lantainya  full karpet. Di ruang tamu ada seperangkat sofa yang diimpor dari Italia. Dapur full keramik. Dan kamar mandi yang tak kalah dengan hotel bintang tiga. Flat itu juga dilengkapi telpon, pemanas air, kulkas, kompor gas bahkan p engatur suhu udara diruang tamu.

__ADS_1


Cut Mala dan teman -temannya bisa dikatakan beruntung. Sebab untuk flat yang semewah itu mereka hanya membayar tiga ratus pound perbulan. Untuk ke kuliah pun seringkali ia memilih jalan kaki. Sebab flatnya dengan kuliah banat tidaklah jauh .


Pemilik flat itu bernama Madam Zubaida. Seorang pengusaha yang kaya. Ia memiliki perusahaan travel dan beberapa toko sepatu di Cairo dan Alexandria. Madam Zubaida sangat pemurah dan baik hati. Ia memiliki tiga orang anak. Satu putri, dua putra. Dua anaknya berada di luar negeri. Yang putri bemama Yasmin, sedang kuliah di Prancis, dan telah menikah dengan seorang staf Kedutaan Mesir di Paris. Anaknya yang nomor dua, kuliah di Istanbul. Hanya si Bungsu yang menemaninya. Masih kuliah di Fakultas Kedokteran Cairo University. Setahu Cut Mala, Madam Zubaida memiliki tiga rumah di Cairo. Satu di kawasan Mohandisin yang ia tempati bersama putra bungsunya. Yang kedua di kawasan Ma'adi, dan yang ketiga di Masakin Utsman Nasr City yang disewakan kepada mahasiswi dari Indonesia.


Tujuan Madam Zubaida menyewakan flatnya di Masakin Utsman memang tidak semata mata untuk mendapatkan uang, tapi agar flatnya ada yang menjaga, merawat dan mengurusnya. Maka ia hanya percaya pada para mahasiswi. Khususnya mahasiswi Indonesia. Kebetulan Madam Zubaida pernah memiliki seorang pembantu perempuan dari Indonesia. Madam Zubaida sangat terkesan dengan kehalusan budi dan ketelatenan pembantunya itu dalam mengurus rumahnya. Maka sejak itu ia sangat percaya pada perem puan dari Indonesia. Perempuan Indonesia memang luar biasa di mata Madam Zubaida.


Setiap bulan Madam Zubaida datang mengontrol keadaan flatnya pada hari yang tidak ia tentukan. Dan ia selalu puas, karena para mahasiswi dari Indonesia yang meninggali flatnya benar-benar menjaga dan merawat flatnya dengan baik. Cut Mala dan teman temannya bahkan selalu menjaga seluruh ruangan flat itu dengan pengharum ruangan, agar selalu segar dan wangi udaranya.


Bisa dikatakan, seluruh penghuni rumah itu adalah mahasiswi yang bernaung dalam Keluarga Mahasiswa Aceh. Cut Mala dari Pidie dan Tiara dari Banda Aceh. Keduanya benar - benar asli Aceh, maksudnya kedua orangtua mereka memang


asli Aceh. Selain mereka berdua ada Cut Rika dan Masyithah. Keduanya tidak berdarah Aceh murn i, namun tidak ada bedanya dengan yang berdarah Aceh. Cut Rika, lahir di Peukan Bada, Aceh Besar, tapi ia besar dan menghabiskan masa rema - janya di rumah neneknya di Bandung. Ayahnya asli Peukan Bada, ibunya asli Bandung. Dan terakhir adalah Masyithah, gadis paling cantik di rumah itu. Bahkan, mungkin mahasiswi Indonesia paling cantik di Cairo.  Hanya saja tidak banyak yang tahu seperti apa sesungguhnya kecantikannya. Sebab, dalam keseharian ia selalu memakai cadar.


Masyithah lahir di Aceh, ayahnya asli Syiria, ibunya asli Pakistan. Jadi sama sekali tidak ada darah Aceh yang mengalir dalam dirinya. Tapi sejak pertama kali melihat dunia ia telah jadi orang Aceh.


Masyithah lahir di Banda Aceh saat ayahnya mendapat tugas dari Rabithal 'Alam Islami untuk mengajar di IAIN Ar Raniry. Saat melahirkannya, ibunya meninggal dunia Ayahnya tetap teguh untuk menyelesaikan tugasnya berdahwah dan mengajar di Aceh.

__ADS_1


__ADS_2