Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Tekad


__ADS_3

Dan betapa menyesalnya dirinya begitu menurunkan standar ternyata yang ia dapatkan adalah kehinaan. Akal sehatnya menggiringnya untuk kecewa pada Kirana. Kecewa karena ia merasa sudah bisa meraba cara hidup kirana. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan Putri Pak Dubes itu saat kuliah di Prancis. Sudah berapa lelaki bule dan tidak bule yang berciuman bibir dengannya. Dan ia ditawari untuk jadi lelaki ke sekian yang berciuman dengannya. Ini jelas bertentangan dengan apa yang ia jaga selama ini. Yaitu kesucian. Kesucian jasad, kesucian jiwa, kesucian hati, kesucian niat, kesucian pikiran, kesucian hidup dan kesucian mati.


Entah kenapa tiba -tiba ia merasa berdosa. Ia merasa berdosa dan jijik pada dirinya sendiri yang begitu rapuh, mudah terperdaya oleh tampilan luar yang menipu. Ia jijik pada dirinya sendiri yang ia rasa terlalu cair pada lawan jenis yang belum halal baginya. Ia heran sendiri kenapa jati dirinya seolah pudar saat berhadapan atau berdekatan dengan Kirana. Apakah telah sedemikian lemah imannya sehingga kecantikan jasadi telah sedemikian mudah menyihir dirinya. Ia beris - tighfar dalam hatinya. Berkali -kali ia meminta ampun pada Dzat yang menguasai hatinya.


Bryan meratapi kekhilafannya dan memarahi dirinya sendiri. Dalam hati ia bersumpah akan lebih menjaga diri, dan hal yang menistakan seperti itu tidak boleh terjadi lagi. Ia juga bersumpah untuk segera menemukan orang yang tidak kalah hebatnya dengan Kirana, tapi berjilbab rapat, salehah, bisa berbahasa Arab dan berbahasa Inggeris dengan fasih. Kalau terpaksa gadis itu harus orang kota ini tak apa. Yang jelas rasa terhinanya harus ia sirnakan.


Ia harus menemukan kembali kehormatannya sebagai seorang Bryan yang memiliki harga diri. Meskipun masyarakat negara X di negara P ini  mengenalnya hanya sebagai tukang masak atau penjual tempe, tapi harga diri dan kesucian diri tidak boleh diremehkan oleh siapapun juga. Ia yakin akan mendapatkan isteri yang lebih jelita dari Kirana, dan lebih baik darinya. Ia yakin. Itu tekadnya. Ia ulang -ulang tekad itu dalam hatinya. Ia rajut dengan doa. Ia bawa tekad itu ke dalam tidurnya. Ke dalam mimpinya. Dan ke dalam alam bawah sadarnya.


Briya. bangun dua puluh menit sebelum azan Subuh berkumandang. Ia masih punya kesempatan buang hajat dan sikat gigi. Setelah itu ia mengambil air wudhu. Ia teringat belum shalat Witir. Ia sempatkan untuk Witir tiga rakaat. Selesai shalat ia sempatkan untuk nyebut -nyebut ibu dan adik - adiknya dalam munajat. Azan Subuh berkumanda ng. Ia bangkit membuka gorden kamarnya. Jalan utama Kota Alexandria masih lengang. Hanya satu dua mobil yang berjalan. Kabut tipis tampak rata menyelimuti gedung gedung. Kaca jendela sedikit mengembun. Udara di luar berarti dingin.


Alexandria memang sedang memasuki peralihan musim. Peralihan dari musim dingin ke musim semi. Sisa -sisa musim dingin masih terasa. Saat Subuh tiba udara masih menyengatkan hawa dinginnya. Dalam kondisi seperti itu melingkarkan tubuh di tempat tidur dengan kehangatan seli - mut tebal terasa sangat nyaman. Lebih nyaman daripada bangkit menuju masjid.


Hayya 'alash shalaah. Hayya 'alash shalaah. Hayya 'alal falaah.


Hayya 'alal falaah.

__ADS_1


Ash shalaatu khairun minan nauum. Ash shataatu khairun minan nauum.


Suara azan menggema, memantul dari gedung ke gedung. Menyusup masuk ke rumah -rumah menggugah jiwa jiwa yang lelap. Suara itu nyaring bagaai burung camar, terbang ke tengah laut. Dan mencumbui laut dengan mesra. Shalat itu lebih baik dan tidur. Shalat itu lebih baik dari tidur .


Allahu akbar Allahu akbar.


Laa ilaaha illallah.


Suara suci itu bergerak dengan lembut dan cepat. Menyapa alam. Menyapa pasir -pasir di pantai. Menyapa kerikil -kerikil. Menyapa aspal. Menyapa pohon -pohon kurma. Menyapa embun -embun. Menyapa ombak yang  berdesir. Menyapa ge- lombang yang naik turun. Menyapa kabut yang lembut. Menyapa udara. Menyapa, alam semesta. Menyapa apa saja. Semuanya menjawab. Semuanya shalat. Semuanya menyuci - kan dan mengagungkan asma Allah. Semuanya bertakbir kecuali yang tetap tidur.


Seolah mengiringi takbir alam di pagi itu, bibir Bryan bergetar mengucap takbir menjawab azan. Dengan tenang ia melangkahkan kedua kakinya meninggalkan hotel yang masih lengang. Sampai di masjid ia mendapati Pak Ali yang sedang sujud di shaf depan. Bryan shalat Tahiyatul Masjid. Lalu shalat Qabliyah Subuh. Sambil menunggu imam berdiri di mihrab - nya ia mengulang -ulang doa Nabi Yunus. Doa yang telah menyelamatkan Nabi Yunus dari kegelapan di perut ikan. Doa yang mampu menurunkan kasih sayang Tuhan. Doa yang mampu mendatangkan keajaiban -keajaiban. Doa yang nikmat dilantunkan dan terasa sejuk di hati dan pikiran.


Subhanaka inni kuntu minadzdzaalimiin.


Orang-orang sudah berdatangan. Ada dua puluhan orang. Seorang lelaki separo baya dengan jenggot yang telah memutih sebagian, maju ke depan. Shalat Subuh didirikan. Sang imam membaca surat An Najm. Briyan larut dalam penghayatan. Orang yang shalat di samping kanannya menangis sesenggukan. Bacaan sang imam memang menyentuh perasaan. Apalagi orang disini biasanya paham makna ayat-ayat suci Al-Quran yang dibacakan.

__ADS_1


Bryan itu sendiri hanyut dalam keindahan ayat demi ayat yang dibaca sang imam. Hati dan pikirannya terbetot dalam tadabbur yang dalam. Ia merasakan seolah-olah Tuhan yang menurunkan Al-Quran mengabarkan kepadanya bagaimana Rasulullah menerima wahyu yang diturunkan.


Demi bintang ketika terbenam.


Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru.


Dan tiadalah yang ia ucapkan itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.


Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).


Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat.


Yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril) itu menampakkan diri dengan rupa yang asli.


Ia seolah- olah terbetot masuk ke jaman kenabian. Seolah- olah ia ikut serta menyaksikan Rasulullah Saw. menerima ayat-ayat suci Al-Quran. Seolah-olah ia mendengar suara Jibril mendiktekan Al-Quran, sampai Rasulullah Saw. hafal tanpa keraguan. Seolah -olah ia mendengar bagaimana Rasulullah Saw. Mengajarkan Al-Quran kepada sahabat sahabatnya yang sela lu haus hikmah dan ilmu pengetahuan.

__ADS_1


Ayat demi ayat dibaca sang imam. Orang  di samping kanannya terus sesenggukan. Pikiran dan hatinya masih larut dalam tadabbur dan penghayatan. Surat An Najm membuatnya merinding ketika menguraikan untuk apa Islam diturunkan. Demi kebahagiaan manusia dan alam semesta Islam ditu runkan. Tuhan menurunkannya dengan segenap cinta dan kasih sayang-Nya. Tak ada sedikit pun Tuhan memiliki keinginan mengambil keuntungan dari makhluk-Nya. Allah yang menggenggam langit dan bumi serta isinya sama sekali tidak membutuhkan makhluk -makhluk-Nya. Justru makhluk -makhluk Nyalah yang membutuhkan Allah, Tuhan Yang Maha Kaya dan Maha Penyayang. Allah memberi kebebasan seluas - luasnya kepada makhluk makhluk-Nya untuk memilih berbuat baik atau kejahatan. Semua ada balasannya masing -masing. Adil. Tak ada kezaliman. Setiap orang mengetam apa yang ia tanam.


Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya. Dia memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dan memberi balasan keepada orang orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik. 


__ADS_2