Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Untuk Anna


__ADS_3

Gadis itu berjalan dengan hati berselimut cinta. Hatinya berbunga -bunga. Siang itu, Cairo ia rasakan tidak seperti biasanya. Musim semi yang sejuk, matahari yang ramah, serta senyum dari Profesor Amani saat memberinya ucapan selamat dan doa barakah. Semua melukiskan suasana indah yang be- lum pernah ia rasakan sebelumnya. Ia m erasakan begitu dalam rahmat dan kasih sayang Allah kepadanya.


Ia berjalan dengan hati berselimut cinta. Kedua matanya basah oleh air mata haru dan bahagia. Itu bukan kali pertama ia menangis bahagia. Ia pernah beberapa menangis bahagia.


Dulu, begitu kedua kakinya untuk pertama kalinya menginjak tanah Mesir, ia menangis. Juga saat berhasil lulus S.1 dua tahun yang lalu dengan predikat mumtaz, atau summa cumlaude. Ialah mahasiswi dari Asia Tenggara pertama yang berhasil meraih prestasi ini. Ia juga menangis pe- nuh rasa syukur ketika berhasil lulus ujian tahun kedua pasca sarjana. Lulus setelah melewati ujian tulis dan ujian lisan yang berat. Dalam ujian lisan ia harus berhadapan dengan empat profesor. Lulus juga dengan nilai mumtaz, sehingga ia berha k untuk mengajukan judul tesis. Saat itu ia merasakan betapa dekatnya Allah 'Azza wa Jalla . Betapa sangat sayanya Allah kepadanya. Doa dan usaha kerasnya senantiasa dijabahi oleh - Nya.


Dan hari ini, ia kembali menangis. Menangis bahagia. Hatinya dipenuhi keharuan -luar biasa. Batinnya terus bertasbih dan bertahmid. Jiwanya mengalunkan gerimi Subhaana Rabbiyal a'la wa bihamdih. Subhaana Rabbiyal a'la wa bihamdih. Subhaana Rabbiyal a’1a wabihamdih... Ia bertasbih. Proposal tesisnya langsung diterima tanpaa menunggu waktu yang lama. Hanya satu bulan saja sejak proposal tesisnya itu ia ajukan ke Qism Diraasat 'Ulya.


Ia kembali menangis. Ia kembali teringat kata abahnya tercinta,


"Anakku, alangkah indahnya jika apa saja yang kau temui. Apa saja yang kaurasakan. Suka, duka, nikmat, musibah, marah, lega, kecewa, bahagia. Pokoknya apa saja, Anakku. Bisa kau hubungkan derngan akhirat, dengan hari akhir. Dengan begitu hatimu akan sangat peka menerima cahaya hikmah dan hidayah. Hatimu akan lunak dan lembut Selembut namamu. Dan tingkah lakumu juga akan tertib setertib namamu!"

__ADS_1


Wajah abahnya seperti di depan mata. Saat itu ia bingung dengan maksud menghubungkan yang ditemui dan dirasakan dengan akhirat. Abah sepertinya tahu akan kebingungannya, maka abah langsung menyambung,


"Begini Anakku, jika suatu ketika kau dimurkai ibumu misalnya, carilah sebab kenapa kau dimurkai ibumu. Hayati perasaanmu saat itu, saat kau dimurkai. Ibumu murka kemungkinan besar karena kau melakukan suatu kesalahan, yang karena kesalahamnu itu ibumu murka. Dan saat kau dimurkai pasti kau merasakan kesedihan, bercampur ketakutan dan juga penyesalan atas kesalahanmu. Itulah yang kau temui dan kau rasakan, saat itu. Lalu hayati hal itu sungguh sungguh, dan hubungkan dengan akhirat. Bagaima na rasanya jika yang murka kepadamu adalah Allah. Murka atas perbuatan - perbuatanmu yang membuat -Nya murka. Bagaimana perasaanmu saat itu. Mampukah kau menanggungnya. Jika yang murka adalah ibumu, kau bisa meminta maaf. Karena kau masih ada di dunia. Jika di akhirat bisakah minta maaf kepada Allah saat itu? "


Air matanya kembali meleleh.


"Terima kasih Abah!" Lirihnya. Kata -kata abahnya itu memang sangat membekas dalam dirinya. Kata -kata abah saat berusaha menghiburnya kala ia dimurkai ibunya liburan tahun lalu. Ia dimurkai gara-gara asyik membaca saat diminta ibu - nya mengupaskan mangga keponakannya si Kecil Ilham putra kakak sulungnya. Saat itu ia hanya menjawab " Inggih, sekedap'' dan ia masih konsentrasi membaca buku yang baru ia beli dari Shopping Cent re Jogja. Ia tidak memperhatikan pisau dan mangga yang diletakkan oleh lbu di samping kanan - nya. Sementara ia terus asyik membaca, si Kecil rupanya tidak sabar. Diam -diam ia mengambil pisau dan berusaha mengupas sendiri. Akibatnya, jari si Kecil kepiris , darah mengalir dari jarinya dan harus dilarikan ke puskesmas. Ia dimurkai ibunya habis-habisan, buku yang ia baca dibakar oleh ibunya.


Saat itu ia benar -benar sangat menyesal. Ia merasa begitu kerdil. Kesalahannya seola h tidak bisa ditebus, tidak termaaf - kan. Merasa menjadi orang paling berdosa di dunia. Ibu tidak pernah marah bila ia membaca buku. Tapi saat itu beliau sangat murka justru dikarenakan keasyikannya membaca buku.


Abah menghiburnya. Itu baru ibu yang murka, bagaima- na jika Allah yang murka? Dan hari berikutnya, ibu sudah tersenyum padanya, sudah melupakan semua kesalahannya. Si Kecil Ilham seperti tidak merasakan sakit pada jarinya saat ia ajak main bongkar-pasang balok susun.

__ADS_1


Dia terus berjalan. Kakinya mela ngkah menyeberangi jalan raya dan rel metro yang melintas di depan Kulyyatul Banat. Sinar matahari begitu cerah dan bening, tidak seperti saat musim panas atau musim dingin. Sesekali ia mengusap matanya yang sembab dengan sapu tangannya.


Sesungguhnya yang membuat dia menangis tidaklah semata -mata rasa bahagia karena proposal tesisnya diterima dalam waktu begitu singkatnya, sementara ada mahasiswi yang sudah dua kali mengajukan proposal tesis dan sudah menunggu satu tahun tapi belum juga diterima. Namun yang membuatnya menangis, karena ia teringat, bahwa yang dirasakannya barulah kebahagiaan duniawi, belum ukhrawi.


Begitu bahagianya ia, ketika jerih payahnya, kerja keras nya memeras otak, pontang -panting ke perpus -takaan Shalah Kamil dan IIIT Zamalek, membuka dan menganalisis ratusan referensi akhirnya membuahkan hasil yang melegakan jiwa. Begitu hahagianya hatinya saat diberi ucapan selamat oleh Profesor Amani. Benarlah kata pepatah, siapa menanam, dia mengetam.


Baru proposal tesis yang diterima, ia begitu bahagianya. Baru ucapan selamat dari Profesor Amani, ia begitu bangga - nya. Kalimat Guru Besar Ushul Fiqh yang sangat dicintai para mahasiswinya itu masih bergema dalam jiwanya :


"Selamat Anakku, semoga umurmu penuh barakah, ilmu- mu bermanfaat. Teruslah belajar dan belajar!" Air matanya kembali meleleh. Ia lalu berkata pada diri sendiri "Lantas seperti apakah rasanya ketika kelak di hari akhir seseorang mengetahui amalnya diterima Allah. Ia menerima catatan amalnya dengan tangan kanan. Dan mendapatkan ucapan selamat dari Allah, dari Baginda Nabi, dari malaikat penjaga surga, dan dari seluruh malaikat, para nabi dan orang -orang saleh. Saat surga menjadi tempat tinggal selama -lamanya. Kebahagiaan semacam apakah yang dirasa?"


Ia melangkah. Matanya basah, "Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'aliim. Tuhan terimalah amal kami, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Lirihnya dalam hati, sambil menghayati dengan sepenuh jiwa bahwa tiada prestasi yang lebih tinggi dari diteri - manya amal saleh oleh Allah dan dibalas dengan keridhaan - Nya.

__ADS_1


Ia terus melangkah menapaki trotoar di depan gedung Muraqib Al Azhar, ke arah Abdur Rasul. Ia menengok ke kiri, memandang gedung Muraqib sekejab. Di gedung itulah dulu berkas-berkasnya masuk Universitas Al Azhar diproses. Di gedung itulah ia pertama kali kenal antrean yang lumayan panjang di Mesir. Di gedung itu juga ia berkenalan dengan Wan Najibah Wan Ismail, mahasiswi dari Kedah, Malaysia yang kini menjadi salah satu sahabat karibnya. Saat itu ia juga antre untuk mendaftarkan diri masuk Al Azhar.


__ADS_2