
"Aku salut Iho ada mahasiswa yang mandiri seperti Mas Insinyur." Puji Kirana. Hatinya tersanjung luar biasa.
Bagaimana tidak, gadis jelita itu seolah begitu menghormatinya. Ia dipanggil dengan panggilan "Mas Insi nyur", bukan langsung memanggil namanya, atau dengan kata ganti "kamu" atau "Anda".
Orang-orang memang biasa memang - gilnya "Mas Bryan", karena namanya Bryan Alexander Wijaya, atau "Mas Insinyur" karena ia memang dikenal sebagai "Insinyur" - nya dunia masak memasak di kalangan mahasiswa negara P di sana. Entah kenapa, mendengar pujian dari Kirana itu, ia merasakan kebahagiaan dengan nuansa yang sangat lain. Kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia tersenyum sendiri. Kedua matanya memandang ke arah pantai. Dua orang muda -mudi Mesir berjalan mesra menyusuri Pantai Cleopatra y ang berada tepat di depan hotel.
Ia tersenyum sendiri. Entah kenapa tiba -tiba berkelebat pikiran, andai yang berjalan itu adalah dirinya dan kirana. Alangkah indahnya.
Astaghfirullal! la beristighfar.
Ia merasa apa yang berkelebat dalam pikirannya itu sudah tidak dianggap benar. Ia mengalihkan pandangannya jauh ke tengah laut Mediterania. Nun jauh di sana ia melihat tiga kapal yang tampak kecil dan hitam.
__ADS_1
Kapal-kapal itu ada yang sedang menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan Alexandria. Sejak dulu Alexandria memang terkenal sebagai kota pelabuhan yang penting di kawasan Mediterania.
Pelabuhan utama Alexandria saat ini ada di kanan dan kiri kawasan Ras El Tin dan kawasan El Anfusi. Dua kawasan itu terletak di semenanjung Alexandria lama. Di ujung semenanjung itu berdiri dua benteng bersejarah Yaitu Benteng Qaitbai dan Benteng El Atta.
Dari jendela kamarnya ia bisa melihat Benteng Qaitbai itu di kejauhan. Kedua matanya kembali mengamati tiga kapal yang letaknya berjauhan satu sama lain. Ia edarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan. Laut itu terlihat begitu luas dan kapal itu begitu kecil.
Padahal di dalam kapal itu mungkin ada ratusan manusia. Ia jadi berpikir, alangkah kecilnya manusia. Dan alangkah Maha Penyayangnya Tuhan yang menjinakkan lautan sedemikian luas supaya tenang dilalui kapal kapal berisi manusia.
"Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sesung- guhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kebesaran- Nya bagi setiap orang yang sangat sabar lagi bany ak bersyukur."
Ia terus memandang ke laut Mediterania. Laut itu telah menjadi saksi sejarah atas terjadinya peristiwa peristiwa besar yang menggetarkan dunia. Perang besar yang berkobar karena memperebutkan cinta Ratu Cleopatra terjadi di laut itu. Pertemuan bersejarah yang diabadikan dalam Al-Quran antara Nabi Musa dan Nabi Khidir, konon, juga terjadi di salah satu pantai laut Mediterania itu.
"Laut yang indah, penuh nilai sejarah," lirihnya pada diri- nya sendiri. "Akankah aku juga akan mencatatkan sejarahku di pantai laut ini?" Ia berkata begitu karena nanti malam ada jadwal makan malam bersama seluruh staf Kedutaan negara P di Pantai El Mumtazah. la yakin akan bertemu lagi dengara Kirana disana.
__ADS_1
Matahari terus berjalan mendekati peraduannya. Sinar nya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan. Ombak datang silih berganti seolah menyapa dan menciumi pasir-pasir pantai yang putih nan bersih. Terasa damai dan indah. Menyaksikan fenomena alam yang dahsyat itu Bryan bertasbih, "Subhanallah. Maha Suci Allah yang telah menciptakan alam seindah ini."
Ya, alam bertasbih dengan keindahannya. Alam bertasbih dengan keteraturannya. Alam bertasbih dengan pesonanya. Segala keindahan, keteraturan dan pesona alam bertasbih, menjelaskan keagungan Sang Penciptanya . Bertasbih, menyucikan Tuhan dari sifat kurang. Keindahan senja sore itu men - jelaskan kepada siapa saja yang menyaksikannya bahwa Tuhan yang menciptakan senja yang luar biasa indah adalah Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Maha Sempu rna ilmu-Nya.
Siang malam, senja, dan pagi bertasbih. Matahari, udara. laut, ombak dan pasir bertasbih. Semua benda yang ada di alam semesta ini bertasbih, menyucikan asma Allah Semua telah tahu bagaimana cara melakukan shalat dan tasbihnya. Dengan sinarnya, matahari bertasbih di peredarannya. Dengan hembusannya udara bertasbih di alirannya. Dengan gelombangnya ombak bertasbih di jalannya. Semua telah tahu bagaimana cara menunjukan tidak ada Tuhan selain Allah Yang Maha Kuasa.
Keteraturan alam semesta, langit yang membentang tanpa tiang, pergantian siang dan malam, lautan luas membentang, gunung gunung yang menjulang, awan yang membawa air hujan, air yang menumbuhkan tanam -tanaman, proses penciptaan manusia sembilan bulan di rahim , binatang -binatang yang menjaga ekosistem dan keteraturar -keteraturan lainnya, itu semua menuniukkan bahwa ada Dzat Yang Maha Kuasa dan Maha Sempurna. Dzat yang kekuasaan -Nya tidak ada batasnya. Dzat yang menciptakan itu semua. Dan Dzat itu adalah Tuhan Penguasa alam semesta. Dan jelas Tuhan itu hanya boleh satu adanya. Tak mungkin dua, tiga dan seterusnya. Tak mungkin.
Sebab, jika Tuhan itu lebih dari satu pastilah terjadi kerusakan di alam semesta ini. Sebab masing -masing akan merasa paling berkuasa. Masing-masing akan memaksakan keinginan - Nya. Mereka akan berkelahi. Misalnya satu menghendaki ma- tahari terbit dari timur, sementara yang satu menghendaki matahari terbit dari barat. Terjadilah perseteruan. Dan rusaklah alam.
Ternyata matahari terbit dari timur dan tenggelam di barat, dengan sangat teraturnya. Matahari tak pernah terlambat terbit. Matahari juga tak pernah bermain main, belari-lari ke sana kemari di langit seperti anak kecil bermain bola atau petak umpet. Ia beredar di jalan yang ditetapk an Tuhan untuknya. Dan selalu tenggelam di ufuk barat tepat pada waktunya. Ketera turan ini menunjukkan, Tuhan Yang Menciptakan alam semesta ini adalah satu. Yaitu ‘Allah Wa Jalla, Tuhan Yang Maha Kuasa.
Tuhan yang men ciptakan alam semesta ini, yang tak terbatas kekuasaan -Nya itu memang tak mungkin berj umlah lebih dari satu. Sebab seandainya Tuhan lebih dari satu, lalu mereka sepakat menciptakan matahari, misalnya. Maka ada dua kemungkinan di sana. Pertama, Tuhan yang satu menciptakan,sementara Tuhan yang lain berpangku tangan. Tidak berbuat apa -apa. Dengan begitu, bisa berarti bahwa Tuhan yang tidak berbuat apa apa itu tidaklah Tuhan yang berkuasa. Sia-sia saja ia jadi Tuhan. Sebab, pada saat matahari diciptakan ia tidak berperan menciptakannya. Ia menganggur. Sama seperti makhluk yang menganggur. Jadi ia bukan Tuhan dan tidak bisa disebutTuhan.
__ADS_1