Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Lagu Cinta


__ADS_3

Ia dirawat oleh seorang gadis dokter yang membantu kelahirannya. Entah bagaimana awalnya, akhimya dokter asli Aceh yang merawatnya itu berhasil disunting ayahnya. Dialah ibunya, yang ia kenal sekarang. Meskipun sesungguhnya ia ibu tiri, tapi ia tak pernah merasa menjadi anak tiri. Sejak itu ayahnya pindah kewarganegaraan menjadi orang Indonesia. Sekarang ayahnya bek erja di Kedutaan Besar Syiria di Jakarta. Sementara ibunya bekerja di RSCM Jakarta. Masyithah sudah bisa berbahasa Arab sejak kecil. Maka wajar jika ia paling fasih berbahasa Arab di rumah itu. Selain bahasa Arab, ia juga fasih berbahasa Indonesia dan Aceh .


Cut Mala dan teman -temannya menjalankan shalat Subuh berjamaah. Mereka menggelar sajadah di ruang tamu. Yang menjadi imam pagi itu Cut Rika. Mahasiswi tingkat tiga jurusan tafsir itu membaca surat An Nisa'. Bacaannya tartil dan fasih. Suaranya indah. Semuanya larut   dalam penghayatan kalam ilahi. Usai shalat mereka zikir, mengingat Allah Swt., lalu membaca Al Ma' tsurat. 12 Setelah itu mereka kembali ke kamarnya masing -masing untuk tilawah.


Cut Mala mengikuti Masyithah masuk kamar. Mereka berdua memang tinggal dalam kamar yang sama. Keduanya lalu larut dalam tadarus Al -Quran. Cut Mala terus membaca. Sementara Masyithah menyudahi bacaannya. Ia menyalakan komputernya. Tiara mendekati Cut Mala. Cut Mala menyu - dahi bacaannya.


"Mau aku ajak jalan jalan Dik Mala? " Lirih Tiara. "Mau Kak."


"Yuk kita  keluar.  Kita  ke Hadiqah Dauliyah. Sekalian menghirup udara pagi. Aku ingin sedikit bicara denganmu."


"Ayuk."


Cut Mala melepas mukenanya. Memakai jubah hijau tua nya dan memakai jilbab hijau mudanya. Setelah yakin dengan penampilannya ia melangkah keluar kamar mengikuti Tiara. Masyithah yang mengetahui ke mana mereka akan pergi berteriak,


''Jangan lupa nanti mampir beli roti."


"Insya Allah. " Jawab Cut Mala.


* * *


Usai shalat Subuh, Bryan tetap di masjid, demikian juga Hafez. Bryan membaca dua halaman mushafnya lalu mendekab Hafez yang duduk terpekur tak jauh darinya. Beberapa

__ADS_1


orang Mesir duduk melingkar untuk membaca Al -Quran bergantian. Biasanya Bryan menyempatkan ikut, tapi kali ini ia sudah berjanji pada Hafez .


"Sebaiknya kita berbincang -bincang di luar sana sambil berjalan-jalan dan menghirup udara pagi" kata Bryan pada Hafez.


Hafez mengangguk. Keduanya keluar meninggalkan masjid dan berjalan menelusuri trotoar ke arah Mahatta Gami'.


"Kau bilang kau akan konsentrasi pada studimu Fez. Apa kau lupa dengan itu?" Kata Azzam seraya menghentikan langkahnya. Hafez juga menghentikan langkahnya.


"Aku inginnya begitu Kang. Tapi entah kenapa aku sama sekali tidak bisa melupakan dia. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Aku bingung aku harus bagaimana. Saat shalat, aku membayangkan jika shalat bersamanya. Saat membaca Al - Quran aku membayangkan jika aku membaca Al -Quran bergantian dengannya. Saat berdoa pun aku juga mengingat dirinya. Aku harus bagaimana Kang?"


"Ini penyakit, kau harus sadar itu Fez!"


"Aku sadar Kang, sangat sadar. Aku tak boleh membayangkan wajahnya. Itu tidak boleh. Itu haram. Tapi bayangan wajahnya datang begitu saja Kang. Aku bisa gila Kang. Aku rasa satu -satunya jalan aku harus berterus terang pada Fadhil, bahwa aku mencintai adiknya dan aku langsung akan melamarnya dan menikahinya secepatnya"


"Itu pikiran yang bagus. Menikah. Tapi masalahnya apa kamu yakin adik si Fadhil. Siapa itu namanya Cut Nala?"


"Bukan Nala Kang,Mala."


"O ya Cut Mala. Apa kamu yakin dia siap untuk menikah. Dia baru tingkat dua. Sedang asyik -asyiknya merasakan dinamika hidupnya sebagai seorang mahasiswi. Bahkan seorang aktivis. Terus kalau dia siap menikah apa kamu yakin dia mau menikah denganmu? "


"Lalu aku harus bagaimana Kang?"

__ADS_1


"Kau harus melupakannya. Jika dia jodohmu, percayalah, dia tidak akan ke mana- mana. Dia tidak akan diambil siapapun juga."


"Tapi rasanya sangat susah Kang."


"Aku tahu. Selama kau masih satu rumah dengan Fadhil kau takkan bisa melupaka nnya. Aku tahu setidaknya tiap dua hari sekali Fadhil mendapatkan telpon dari adiknya, dan sebaliknya Fadhil juga sering menelpon adiknya. Terkadang tanpa sadar Fadhil menyebut nama adiknya itu di depanmu, di depan kita -kita. Bagi orang lain yang tak memi liki perasaan apa -apa, mendengar namanya mungkin tak ada masalah. Tapi bagi kamu, itu sama saja air hujan menyirami tanaman yang mengharap air. Belum lagi kalau adiknya itu datang mengantar sesu-atu, yang terkadang mengantar makanan untuk kakak nya. Ya untuk kakaknya, tapi kita ikut menyantap masakan nya. Bagi yang lain mungkin tidak masalah, tapi bagimu menyantap masakannya akan mengobarkan bara asmara yang mungkin susah payah kau padamkan. Jika kau nekat berterus terang pada Fadhil saat ini, percayalah k au bisa merusak sega - lanya. Kau bisa merusak dirimu sendiri. Merusak hubungan mu dengan Fadhil. Bahkan juga bisa merusak Cut Mala."


"Kok bisa sejauh itu efeknya Kang?"


"Keinginan menikah itu baik. Keinginan melamar seseorang juga tidak salah. Namun jika waktunya tidak tepat, yang didapat bisa hal yang tidak diinginkan. Kau tentu tahu saat ini sudah sangat dekat dengan ujian. Waktunya orang


konsentrasi pada ujian. Kalau kau membuka perasaan dan keinginanmu saat ini, pasti bisa membuyarkan konsentrasi Fadhil, juga adiknya Cut Mala. Bahkan jika Cut Mala pun siap menerimamu. Konsentrasinya pada pelajaran akan buyar dan beralih memikirkan lamaranmu. Apalagi jika ia sebenamya tidak siap menikah. Fadhil juga akan sangat memikirkan hal itu. Sebab, kau adalah teman nya, dan Cut Mala adalah adik nya. Jika Cut Mala menolak lamaranmu Fadhil pasti akan sangat tidak enak padamu. Belum lagi hal -hal lain di luar prediksi kita. Saya pernah mendapat cerita dari seorang bapak di KBRI, ada seorang mahasiswi gagal ujiannya gara -gara dilamar oleh seseorang lewat telpon dan mahasiswi itu tidak siap menerima lamaran itu. Konsentrasinya buyar dan ujian - nya gagal. Apa tidak kasihan kalau itu terjadi pada Cut Mala."


"Terus saya harus bagaimana Kang?"


"Kau harus berhasil mengatasi dirim u. Kau harus bisa mengatasi perasaanmu. Jangan kau korbankan orang lain. Sebaiknya untuk sementara, kau mengungsilah yang jauh supaya bisa konsentrasi belajar. Nanti setelah ujian selesai, aku akan membanturnu membicarakan hal ini dengan Fadhil. Ini lebih baik bagimu dan bagi semuanya. Percayalah, siapa jodohmu, sudah ditulis di Lauhul Mahfudz. Kau jangan kuatir. Jika memang yang tertulis untukmu adalah Cut Mala, Insya Allah tidak akan ke mana- mana.


"Baiklah Kang. Aku ikut saranmu. Tapi janji ya Kang, setelah ujian selesai nanti akan membanlu berbicara dengan Fadhil."


"Ya, aku janji."


Cut Mala dan Tiara keluar flat dan turun menggunakan lift. Mereka lalu berjalan ke selatan menuju Hadiqah Dauliyah. Sebuah taman kota di Nasr City yang sangat dibanggakan

__ADS_1


oleh orang Mesir. Taman yang terdiri hanya atas beberapa hektar itu, mereka sebut Had iqah Dauliyah, artinya International Garden, Taman Internasional.


__ADS_2