
"Maafkan aku Mas Bryan. Mas benar. Sesuai dengan kesepakatan kontrak kita, tugas Mas sudah selesai. Tetapi ini ada masalah penting yang sedang aku hadapi. Dan aku rasa yang bisa membantu adalah Mas. Baiklah, ini di luar kontrak. Ini antara aku dan Mas sebagai sahabat. Ya sebagai sahabat yang harus saling tolong menolong. Saling bantu membantu.
"Begini, acara makan malam nanti jam delapan di Pantai El Muntazah. Aku sudah pesan menunya ke Omar Khayyam Restaurant. Masalahnya, dalam acara makan malam nanti secara mengejutkan kita kedatangan Bapak Duta Besar negara X untuk Turki yang datang tadi siang. Beliau teman kuliah ayahku di KL dulu. Ayah ingin menyuguhkan menu istimewa untuk -nya. Menu yang mengingatkan akan kenangan masa lalu.
Menu itu adalah nasi panas dengan lauk ikan bakar dan sambal pedas khas kota y. Ayah dulu sering makan menu itu bareng beliau di Pantai Parangtritis. Sebelum Maghrib tadi ayah memintaku untuk menyiapkan menu ini. Aku pusing tujuh keliling. Yang jelas aku sudah memerintahkan Pak Ali, itu untuk mencari ikan yang segar. Ikan apa saja yang penting layak dibakar. Pak Ali membeli enam kilo dan sekarang sudah ada di dalam kulkas di kamamya. Dan aku datang menjumpai Mas untuk minta tolong kepada Mas menyiapkan ikan bakar itu. Mas Insinyur, tolong ya? Please, ya?" Kata Kirana dengan nada memelas.
Bryan diam saja. Sesaat lamanya dia diam tidak menjawab apa-apa.
"Sungguh Mas, tolong aku ya. Please tolonglah. Aku janji nanti Mas akan aku kasih hadiah spesial. Please tolong aku. Ini masalah kredibilitasku dihadapan ayahku. Kalau ngurusi ikan bakar saja aku tidak bisa, beliau akan susah percaya pada kredibilitasku mengorganisir sesuatu yang lebih penting. Tolong aku, Mas, please. Aku tahu ini waktunya sangat mepet. Tapi aku yakin Mas bisa. Ayolah please ya?"
Kirana meminta dengan nada memelas sambil menangkupkan kedua tangannya di depan hidungnya. Gadis itu benar-benar memelas di hadapan Bryan. Melihat wajah memelas di hadapannya Bryan luluh. Sosok yang sangat tersinggung jika harga di rinya direndahkan itu adalah juga sosok yang paling mudah tersentuh hatinya.
"Baiklah akan saya bantu sebisa saya. Tapi sebelum membantu Mbak Eliana, saya ingin hak saya atas apa yang sudah saya kerjakan selama enam hari di sini dibayar.” Jawab Bryan tenang.
"Sekarang?"
"Ya, sekarang."
__ADS_1
"Apa Mas Bryan tidak percaya padaku?"
“Siapa yang tidak percaya? Saya hanya menuntut hak saya.”
“Baiklah.” Kirana mengeluarkan dompet dari celana jeannya. Lalu mengeluarkan lembaran dolar pada Bryan.
"Ini tiga ratus dollar. Seperti kesepakatan kita satu hari - nya lima puluh dollar."
"Terima kasih." Bryan menerima uang itu sambil tersenyum.
"Nanti kuitansinya menyusul ya. Nah, sekarang bisa membantu saya?"
"Tapi aku tadi sudah bilang akan memberi hadiah spesial."
"Itu tak penting. Karena waktunya sudah mepet yang paling penting saat ini adalah mencari bumbu untuk ikan bakar itu dan untuk sambalnya. Bumbu yang masih tersisa dari tadi tidak mencukupi. Di tempat saya juga sudah tidak ada lombok satu bijipun." Jawab Bryan.
"Kalau begitu sekarang juga kita berangkat mencari apa yang Mas butuhkan. Sebentar aku panggil Pak Ali dulu, ia lebih paham seluk beluk Alexandria." Sahut Kirana bersemangat. Gadis itu langsung menghubungi Pak Ali dengan telpon genggamnya.
__ADS_1
"Kita diminta ke depan. Kebetulan Pak Ali sudah ada di mobil. Memang tadi saya berpesan akan pergi setelah shalat Maghrib. Ayo kita berangkat!" Kata kirana usai menelpon.
"Sebentar. Apa tidak sebaiknya Mbak shalat Maghrib dulu kalau belum shalat?"
“Aduh, shalat lagi, shalat lagi. Shalat itu gampang!"
"Lho jangan meremehkan shalat dong Mbak. Kalau bak belum shalat mending Mbak shalat saja. Biar saya dan Pak Ali saja yang belanja."
"Tidak, saya harus ikut. Tidak tenang rasanya kalau saya tidak ikut. Tentang shalat yang Mas Bryan ributkan itu tenang saja Mas. Aku memang sedang tidak shalat. Kalau shalat malah dosa. Tahu sendiri kan perempuan ada saat -saat dia tidak boleh shalat. Ayo kita berangkat. Kita harus cepat, waktunya sempit!"
"Kalau begitu ayo." Bryan bangkit.
Mereka berdua berjalan tergesa ke luar hotel. Tepat di depan pintu hotel Pak Ali telah men unggu dengan mobil BMW hitam. Petugas hotel membukakan pintu mobil. Bryan duduk di depan, di samping Pak Ali dan Kirana duduk di bangku belakang. Kirana memberi instruksi kepada Pak Ali agar membawa ke kedai penjual bumbu secepat mungkm. Pak Ali langsung tancap gas melintas di atas El Ghaish Street menuju ke arah pusat perbelanjaan di kawasan El Manshiya. Bryan menikmati perjalanan itu dengan hati nyaman dan bahagia. Meskipun sebenarnya ia sangat lelah, namun rasa bahagia itu mampu mengatasi rasa lelahnya . Entah kenapa ia merasa malam itu terasa begitu indah. Berjalan di sepanjang jalan utama Kota Alexandria dengan mobil mewah bersama seorang Putri Duta Besar yang pualam. Ia merasa kebahagiaan itu akan sempurna jika mobil BMW itu adalah miliknya, ia sendiri yang mengendarainya dan Kirana duduk di sampingnya sebagai isterinya dengan busana Muslimah yang anggun memesona.
"Hayo, Mas Insinyur melamun ya?" Suara kirana mengagetkan lamunannya.
"E ti. . tidak! Saya hanya takjub dengan suasana malam kota ini. Dan saya bertanya kapan bisa memiliki mobil semewah ini, dan mengendarainya bersama isteri di kota ini?" Jawab Bryan sedikit gugup.
__ADS_1
"Wah impian Mas Insinyur tinggi juga ya? Saya yakin jarang ada orang yang bermimpi seperti Mas. Anak muda negara X yang punya impian mengendarai mobil BMW saya rasa tidak banyak. Apalagi yang bermimpi mengendarainya bersama isterinya di kota ini. Jangankan bermimpi seperti itu, BWM saja mungkin ada yang belum tahu apa itu dan ada yang belum pernah lihat bentuknya. Lha bagaimana bisa bermimpi? Bahkan, mungkin di antara anak muda negara X, terutama di daerah terbelakang masih ada yang beranggapan bahwa BMW itu merk sepeda, sejenis dengan BM X."
Bryan tersenyum mendengar komentar kirana. Komentar yang baginya terasa memandang rendah anak muda negara X tersebut. Tapi dulu saat ia masih di Madrasah Aliyah dan mengadakan camping dakwah di ujung tenggara W, ia bertemu dengan jenis anak anak remaja dan anak muda yang masih sangat terbelakang cara berpikirnya. Mereka merasa cukup dengan hanya lulus SD saja. Bahkan banyak yang tidak lulus SD. Mereka lebih suka mencari kayu bakar di hutan. Atau menggembalakan kambing di hutan. Mimpi mereka adalah bagaimana dapat kayu bakar yang banyak. Atau kambing mereka cepat beranak pinak. Itulah mimpi anak-anak muda yang ada dipedalaman daratan pulau A. Ia bayangkan bagaimana dengan yang berada di tengah hutan K dan P? Mereka yang berpikiran memakai baju yang layak saja belum. Yang untuk menjamah mereka saja harus menempuh perjalanan yang sangat sulit. Ia langsung membandingkan mereka dengan anak muda seperti Kirana yang sudah selesai kuliah di Prancis di usia yang masih belia. Sudah pernah merasakan tidur di hotel paling mewah di Eropa. Sudah pernah debat dengan Sekjen Liga Arab dengan bahasa Inggris yang fasih. Alangkah jauh bedanya.