Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Tekad


__ADS_3

Dua Duta Besar itu langsung asyik bernostalgia sambil menikmati ikan bakar buatan Bryan. Dari jauh Bryan melihat dengan mata puas. Ia lalu duduk melihat sekeliling. Di sisi yang lain tak jauh dari dua Duta Besar itu staf sedang berpesta bersama beberapa orang mahasiswa dan rombongan Penari yang didatangkan dari kota W. Ia melihat Kirana ada di tengah tengah mereka. Kirana duduk berbincang - bincang dengan seseorang yang sangat ia kenal. Orang yang berbincang dengan kirana adalah Vandy. Teman satu pesawat saat datang ke kota ini dulu. Ada sedikit bara memercik dalam dadanya, namun ia redam segera. Ia merasa tidak pada tempatnya ia merasa cemburu. Kirana itu siapa? Bukan siapa - siapanya.


Melihat Vandy yang selalu dalam posisi begitu terhormat, Bryan tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Bahwa ada rasa iri. Iri ingin seperti dia. Rasa itu begitu halus masuk ke dalam hatinya. Dulu ia dan Vandy satu pesawat. Lalu selama satu tahun satu rumah. Tahun pertama di negara ini ia naik tingkat dengan nilai lebih baik dari anak konglomerat kota J itu. Bahkan Vandy sering bertanya padanya tentang kosa kata bahasa Arab yang musykil saat membaca diktat. Tapi kini, teman lamanya sudah hampir selesai S.2 -nya di University C. Dan ia sendiri S.1 saja masih juga belum lulus - lulus, apalagi S.2. Vandy lebih dikenal sebagai intelektual muda yang sering diminta menjadi nara sumber di berbagai kelompok kajian, sedangkan dirinya lebih dikenal sebagai penjual tempe, pembuat bakso dan tukang masak serba bisa, namun tidak juga lulus ujian.


Bryan menghela nafas panjang. Ia lalu berdiri mencari - cari Pak Ali. Ia menengok ke kanan dan ke kiri mengedarkan pandangannya ke segala arah. Namun tak juga ia temukan Pak Ali. Ia sendirian. Hendak bergabung dengan staf itu rasanya canggung.


Mereka sudah memulai acara dua puluh menit yang lalu. Ia memutuskan untuk menikmati kesendiriannya itu. Untung ia tadi sempat mengambil sepiring nasi dan satu ikan untuk dicicipi. Dan sambil duduk Bryan mulai menyantap ikan bakar itu. Perutnya sudah sangat lapar. Ia makan dengan lahap sendirian, sambil menatap bulan dan bintang bintang. Tiba -tiba ia teringat ibu dan ketiga adiknya di Indonesia.


"Mereka pasti sedang tidur nyenyak di sana. Ibu mungkin sedang berdoa dalam shalat malamnya." Lirihnya pada diri sendiri sambil membayangkan wajah ibunya dalam balutan mukena putih dengan mata berkaca -kaca. Ada keharuan yang tiba-tiba menyusup begitu saja ke dalarn dadanya.


Kalaulah ia harus jujur, maka impiannya yang paling tulus adalah segera pulang ke Tanah Air bertemu dengan ibu dan adik-adiknya. Tak ada impian yang lebih kuat dalam jiwanya melebihi itu. Namun akal sehatnya selalu menahan agar impiannya itu tidak sampai meledak dan melemahkannya.


Adalah wajar bagi seseorang yang sudah bertahun -tahun tidak bertemu keluarganya dan mengharap bertemu keluarga - nya. Namun jika dengan sedikit kesabaran pertemuan itu akan menjadi lebih bermakna kenapa tidak sedikit bersabar. Ia bisa saja mengusahakan pulang. Tapi kuliahnya belum tuntas dan adik-adiknya masih memerlukan dirinya untuk bekerja keras. Ia tidak ingin menyerah pada kerinduan yang menjadi penghalang kesuksesan. Ia ingin adik -adiknya sukses, dirinya sukses. Semua sukses. Gambaran masa depan jelas. Baru ia akan pulang.


"Mas Bryan, pulang yuk!" Suara itu mengagetkannya. Ia menengok ke asal suara.

__ADS_1


Pak Ali telah berdiri di samping kanannya.


"Dari mana saja Pak Ali? Saya cari -cari dari tadi. " Sapanya.


"Aduh Mas, perutku sakit. Aku habis dari toilet. Yuk kita pulang ke hotel yuk. Kayaknya aku harus segera istirahat nih."


"Lha Pak Ali tidak menunggu Pak Dubes. Nanti kalau Pak Dubes mencari bagaimana? Terus kalau saya pulang yang membereskan barang -barang siapa?"


“Tenang. Aku sudah tidak ada tugas malam ini. Pak Dubes nanti biar disopiri Pak Amrun. Terus barang barang biar diurus sama Mbak Kirana. Aku sudah bicara dengan Mbak Kirana. Katanya kita pulang tak apa -apa. Apalagi sebagian mereka mau begadang sampai pagi. Termasuk Pak Dubes dan kawannya dari Turki.”


"Gampang. Yang penting sama Pak Ali beres deh. Kita pulang pakai taksi biar aku yang bayar."


"Ya sudah kalau begitu. Ayo."


Dua orang itu bergegas ke luar ke jalan lalu meluncur ke hotel dengan taksi. Dalam perjalanan ke hotel Bryan lebih banyak diam. Ia hanya bicara jika Pak Ali bertanya. Bryan masih terbayang -bayang oleh wajah ibu dan adik -adiknya.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu berapa umurmu Mas Bryan?"


"Dua puluh delapan Pak."


"Kalau aku perhatikan, gurat wajahmu lebih tua sedikit dari umurmu. Kayaknya kau memikul sebuah beban yang lumayan berat. Aku perhatikan kau lebih banyak bekerja daripada belajar di sini ini. Boleh aku tahu tentang hal ini?"


"Ah Pak Ali terlalu perhatian pada saya. Saya memang harus bekerja keras Pak. Bagi saya ini bukan beban. Saya tidak merasakannya sebagai beban. Meskipun orang lain mungkin melihatnya sebagai beban. Saya memang harus bekerja untuk menghidupi adik adik saya di tanah air. Ayah saya wafat saat saya baru satu tahun kuliah di disini. Saya punya tiga adik. Semuanya perempuan. Saya tidak ingin pulang dan putus kuliah di tengah jalan. Maka satu -satunya jalan adalah saya harus bekerja keras di sini. Jadi itulah kenapa saya sampai jualan tempe, jualan bakso, dan membuka jasa katering."


Pak Ali mengangguk -angguk sambil membetulkan letak kaca matanya mendengar penuturan Bryan. Ada rasa kagum yang hadir begitu saja dalam hatinya. Anak muda yang kelihatannya tidak begitu berprestasi itu sesungguhnya memiliki prestasi yang jarang dimiliki anak muda seusianya.


"Aku sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi adik-adikmu di sana. Aku sangat salut dan hormat padamu Mas. Sungguh. Ketika banyak mahasiswa yang sangat manja dan menggantungkan kiriman orangtua, kau justru sebaliknya. Teruslah beker ja keras Mas. Aku yakin engkau kelak akan meraih kejayaan dan kegemilangan. Terus lah bekerja keras Mas, setahu saya yang membedakan orang yang berhasil dengan yang tidak berhasil adalah kerja keras. Dan nanti kalau kau sudah sukses jagalah kesuksesan itu. Setahu saya, dari membaca biografi orang -orang sukses, ternyata hal paling berat tentang sukses adalah menjaga diri yang telah sukses agar tetap sukses."


"Terima kasih Pak Ali. Tapi saya minta Pak Ali tidak menceritakan apa yang barusan saya ceritakan pada Pak Ali kepada orang lain. Saya tidak mau itu jadi konsumsi banyak orang. Biarlah masyarakat disana taunya saya disini adalah mahasiswa yang tidak lulus -lulus karena lebih senang bisnis tempe, bakso dan kater ing. Itu bagi saya sudah cukup membuat nyaman. Janji Pak ya?"


"Ya, saya janji."

__ADS_1


__ADS_2