
Bryan melahap tha'miyah bil baidh dengan lahap. Pak Ali juga. Setelah kenyang mereka menuju hotel. Di tengah jalan Pak Ali menghentikan langkahnya dan berkata,
"Mas. Habasy takanat-nya biar saya saja yang membe- rikan. Kalau sudah dia makan, saya akan mengatakan itu hadia darimu. Kau Jalan jalan saja dulu. Kira-kira satu jam. Setelah itu kau boleh datang. Dan insya Alaah semua akan damai dan aman."
"Wah ide yang bagus itu Pak." Sahut Bryan berbinar. Ia lalu menyerahkan bungkusan berisi habasy takanat itu kepada Pak Ali. Pak Ali tersenyum. Lalu berjalan ke hotel. Sementara Bryan langsung naik Eltramco ke Pasar El Manshiya. Ia ingin membeli oleholeh untuk teman -teman satu rumahnya .
***
Begitu masuk hotel, Pak Ali langsung ditanya oleh Kirana seolah-olah Kirana sudah lama menantinya.
"Pak Ali ke mana saja? Lihat tukang masak kurus itu tidak?" Nadanya tidak lembut seperti biasanya.
"Saya dari jalan jalan menghirup udara pantai. Biar segar. Tukang masak kurus itu yang Mbak Kirana maksud siapa? Si Romi?"
"Bukan si Romi. Itu si Bryan."
"Kalau si Romi saya tahu. Dia sedang renang di pantai. Kalau Bryan sekarang persisnya saya tidak tahu. Tadi sih ketemu di jalan. Dia naik Eltramco ke El Manshiya."
Kirana mendengus. Wajah yang biasanya putih cemerlang itu tampak merah padam. Ia lalu duduk di sofa. Tak jauh dari - nya dua remaja putri Mesir sedang berbincang -bincang dengan serunya. Sesekali terdengar suara cekikikan dari mereka. Pak Ali duduk di depan Kirana.
"Eh ngomong -ngomong Mbak eh sudah makan pagi?" Tanya Pak Ali.
"Belum Pak. Lagi tidak nafsu. Apalagi menu hotel. Sudah bosan sekali rasanya."
Pak Ali tersenyum, lalu berkata, "Kalau habasy takanat mau?"
Mendengar tawaran Pak Ali, wajah Kirana sedikit cerah.
"Wah itu boleh Pak. Sebenarnya saya lapar. Yuk kita keluar cari habasy takanat Pak Ali yuk?"
__ADS_1
"Tak usah keluar. Ini saya sudah bawa. Tadi saya baru saja makan tha'miyah bil baidh. Ini saya bawa untuk Mbak Kirana." Jawab Pak Ali sambil menyerahkan bungkusan dalam plastik hitam berisi habasy takanat.
"Wah terima kasih banget Pak ya. Wah enak nya langsung dimakan saja ini. Pak temani saya ke restaurant yuk. Biar ini saya makan di sana sambil minum the panas."
"Ayo."
Mereka berdua lalu masuk Lourantos Restaurant.
Desain interior restauran itu perpaduan Arab dan Eropa. Menu yang dihidangkan pagi itu adalah menu Arab dan Italia. Tapi habasy takanat tidak ditemukan di situ. Eliana menyantap habasy takanat dengan lahap dan penuh semangat. Selesai menyantap makanan khas Mesir itu Kirana lalu menyeruput teh panasnya yang kental. Gadis itu kelihatan beg itu menikmati makan paginya. Dan Pak Ali melihatnya dengan hati lega.
"Ada apa sih Mbak, kok mencari Mas Insinyur ?
Kelihatannya ada urusan penting ya?"
"Ya. Aku sedang marah padanya?"
"Ia berani menghinaku tadi malam."
"Ah yang benar saja Mbak. Saya sama sekaIi tidak percaya anak itu berani menghina Mbak."
"Pak Ali percaya atau tidak percaya itu tidak penting " "Bukan begitu Mbak Kirana. Saya kuatir Mbak Kirana salah paham. Sebab saat ketemu saya tadi Mas Bryan justru memperlihatkan hal yang sebaliknya pada saya. Mas Bryan begitu perhatian sama Mbak. Tadi saya dan Mas Bryan juga bertemu Romi. Romi bilang Mbak Kirana marah besar pada Bryan. Bryan malah tersenyum saja. Terus Bryan nitip pada saya untuk memberikan habasy takanat ini pada Mbak."
"Apa!? Jadi bukan Pak Ali yang membelikan untuk saya?"
"Bukan. Yang membelikan itu Mas Bryan Lha yang
membawa kemari saya."
"Pak Ali, Pak Ali kenapa tidak bilang dari tadi. Aduh, aduh, aduh! Saya kira itu dari Pa kAli."
__ADS_1
"Saya tadi kan bilang, ini saya bawa habasy takanat. Yang membelikan adalah Bryan. Dititipkan pada saya."
"Kenapa tidak dia sendiri yang memberikan pada saya!?" Tanya Kirana ketus.
"Saya tidak tahu Mbak Kiraba. Kelihatannya dia tergesa gesa. Dia bilang mau beli barang -barang di pasar . Tidak ada waktu lagi katanya.Yang penting ini menunjukkan bahwa Mas Bryan sendiri tidak merasa memiliki masalah pada Mbak Kirana. Kalau dia merasa memiliki masalah mana mungkin mau membelikan habasy takanat, makanan kesukaan Mbak. Justru kelihatannya dia sangat menghormati Mbak. Dan ingin membuat Mbak merasa senang."
Kirana diam. Kata-kata Pak Ali masuk ke dalam hatinya. Menyejukkan panas amarahnya. Tapi ia belum bisa lega sepenuhnya. Amarahnya belum mau juga sirna seluruhnya.
"Tapi tadi malam dia berkata kasar ditelpon pada saya Pak. Dia juga memutus pembicaraan seenaknya saja! Apa itu tidak penghinaan Pak Ali!?"
Pak Ali tersenyum.
"Mungkin saat itu Mas Bryan sedang capek. Letih. Orang kalau letih itu pikirannya bisa tidak jernih. Cobalah ingat, kemarin itu ia kerja sejak pagi sampai malam."
Penjelasan Pak Ali semakin meluluhkan hatinya. "Semestinya Mbak Kirana harus berterima kasih pada Mas Bryan. Enam hari ini tenaga dan waktunya ia curahkan untuk membantu Mbak Kirana. Bahkan dalam kondisi sangat letih, dia masih mau membakarkan ikan untuk membantu Mbak Kirana. Dan pagi ini, dia mengirim sesuatu yang sangat Mbak suka. Semestinya Mbak berterima kasih sama dia. Saya dengar orang Barat yang terdidik itu mudah mengucapkan terima kasih pada orang yang membantunya." Sambung Pak Ali.
Amarah Kirana perlahan mereda. Ruang di hatinya yang semula berisi amarah yang meluapluap pada Bryan perlahan berubah diisi rasa kasihan. Ia menyesal sudah sedemikian emosi dan marah, sementara orang yang akan di marahinya sedemikian tulus padanya. Diam - diam menyusup ke dalam dada nya rasa malu pada dirinya sendiri. Ia menyadari apa yang disampaikan Pak Ali ada benarnya. Penjual tempe yang pandai masak itu memang sudah banyak membantunya.
"Pak Ali. Nanti kalau ketemu Mas Bryan sampaikan terima kasih saya ya atas habasy takanat-nya. Saya mau mandi dan berkemas-kemas." Kata Kirana dengan wajah lebih cerah.
"Insya Allah, tapi kalau menyampaikan sendiri tentu lebih baik." Jawab Pak Ali dengan senyum mengembang.
"Ya. Nanti kalau ketemu dia." Tukas Kirana sambil bangkit dari duduknya.
Di sebuah toko buku di El Manshiya, Bryan bertemu dengan Vidy SeteIah berpelukan, Vidy mengajak Bryan menemaninya makan roti kibdah 9 di samping sebuah masjid tua sambil berbincang-bincang. Bryan menuruti ajakan teman lamanya itu dengan senang.
"Saya ini sedang bingung menentukan pilihan." Kata Vidy sambil mengunyah roti kibdah-nya.
"Pilihan apa?" Sahut Bryan kalem. Matanya memandang ke arah seorang ka kek berjubah abu-abu yang berjualan tasbih dan kopiah putih. Kakek itu duduk termenung Matanya memandang ke arah jalan. Bryan berusaha merekareka apa yang ada dalam pikiran kakek itu saat itu.
__ADS_1