Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
Senja


__ADS_3

"Ya, yang kau katakan mungkin ada benarnya. Memang tidak banyak dari mereka yang memiliki impian tinggi." Komentarnya ringan. Dalam hati Bryan menambah, "Apalagi yang bermimpi bisa menyunting  Putri Dubes yang sepektakuler seperti dirimu dan bisa menjadikannya Muslimah yang baik pasti lah sangat sangat sedikit jumlahnya."


"Karena pemudanya tidak banyak yang punya impian tinggi dan besar itulah, maka negara X tidak maju-maju. Kalau yang kau impikan selama ini apa Mas? Bukan yang tadi lho. Yang selama ini kau impikan." Tanya kirana.


"Kira-kira apa, coba, kau bisa tebak tidak?" Sahut Bryan.


"Mm... mungkin mendirikan pesantren."


“Salah.”


“Terus apa?" Jadi orang pa ling kaya di pulau Jawa he he he..."


"Wow...gila! It's great dream, man! Tak kuduga Mas Bryan punya impian segede itu. Impian yang aku sendiri pun tidak menjangkaunya. Gila! Boleh... Boleh! Kali ini aku boleh salut pada Mas Bryan."


BMW itu terus melaju dengan tenang dan elegan. Beberapa menit kemudian mobil itu berhenti di depan kedai penjual bumbu-bumbu di El Hurriya Street. Dengan cepat dan cermat Bryan membeli bumbu. Bryan tidak lupa mengajak ke kedai penjual sayur-mayur.


"Untung saya ingat, ikan bakar itu harus ada lalapannya." Kata ABryan pada kirana. Ia bergegas masuk ke kedai penjual sayur mayur dan membeli ketimun, kubis, dan tomat untuk dibuat lalapan. Setelah itu mereka meluncur kembali ke hotel dengan perasaan lega. Dan yang paling lega tentu saja kirana. Jika bahan baku telah didapat, bumbu telah didapat, dan koki yang akan menggarap bisa diandalkan, apakah tidak layak baginya untuk merasa lega.


Dalam perialanan ke hotel, Pak Ali memilih menelusuri El Hurriya Street. Terus ke arah timur laut. Mereka melewati Konsulat Amerika Serikat. Terus melaju tenang. Sampai di kawasan Ibrahimiya sebelum Sporting Club belok kiri. Lalu belok kanan melaju di El Amir Ibrahim Street. Dari dalam mobil, Bryan melihat trem listrik yang penuh penumpang . Kereta itu melaju ke arah El Manshiya. Gadis-gadis Mesir tampak berdiri di dalam trem. Tangan kanan mereka menggenggam erat pegangan seperti gelang, sedangkan tangan kiri mereka memegang buku.


“Sepertinya gadis -gadis itu baru pulang dari kampus ya." ujar Kirana kembali membuka suara. kirana seperti tahu apa yang diperhatikan Bryan.


"Iya." jawab Pelan Bryan.

__ADS_1


“Gadis sini itu cantik -cantik ya. Langsing langsing." "Iya."


"Tapi saya lihat kalau sudah jadi ibu -ibu kok gemuk gemuk sekali ya?"


“Iya. Setahu saya memang adat di sini tu seorang suami malu kalau isterinya tidak gemuk. Malu dianggap tidak bisa memberi makan dan tidak bisa mensejahterakan isterinya."


"Aneh. Apa sejahtera itu berarti harus gemuk?"


"Tidak juga. Ada juga kan orang merana, orang stres malah gemuk. Tapi masyarakat disini yang modern agaknya sudah mulai meninggalkan adat itu. Kita juga mudah menemui ibu - ibu disini tetap yang tetap langsing."


“Ngomong-ngomong apa Mas Insinyur punya impian menikah dengan gadis negra P?"


"Menikah dengan gadis negara P ?" Spontan Bryan mengulang pertanyaan Kirana.


"Iya. Pernah terbersit dalam hati ?” "Pernah."


“Cantik?”


“Pasti.”


"Wow. Tak kusangka. Mas Insinyur ternyata benar -benar pemuda berselera tinggi. Eh Mas, jujur ya, kalau gadis seperti diriku ini menurut Mas cantik tidak?"


Muka Bryan memerah mendengar pertanyaan itu. Seandainya ada cahaya yang terang pasti perubahan wajahnya akan tampak. Namun keadaan malam itu menutupi perubahan wajahnya. Ia sama seka li tidak menduga akan mendapat pertanyaan seperti itu. Tiba tiba rasa tinggi hatinya muncul. Ia tidak mau mengakui begitu saja kecantikan Putri Duta Besar itu. Ia tidak mau menyanjungnya sebagaimana orang -orang banyak menyanjungnya.

__ADS_1


"Kok diam Mas? Bagaimana Mas, orang seperti aku ini menurut Mas cantik tidak?" ujar kirana kembali mengulang pertanyaannya.


"Bilang aja cantik! Gitu aja kok mikir!" Sahut Pak, Ali sambil terus berkonsentrasi menjalankan mobil ke arah El Ghaish Street. Sebentar lagi mereka sampai.


“Jangan dipengaruhi Pak. Biar dia jujur menilainya. Cantik tidak?" Tanya kirana ketiga kalinya.


“Tidak! " Jawab Bryan sambil tersenyum. Bryan lalu memandang bulan purnama yang bersinar terang di atas laut. Purnama itu seolah tersenyum dan bertasbih bersama bintang-bintang dan angin malam. Bryan tak mau tahu apa perasaan Kirana saat itu, yang penting ia merasa menang.


"Ah. Kau tidak jujur itu Mas! Ayo jujur sajalah!" Protes Pak Ali dengan suara agak keras.


Bryan hanya tersenyum. Dan diam. Cukup dengan diam ia sudah menang. Dan Kirana pun diam. Ia belum menemukan kata -kata yang tepat untuk bicara. Maka ia memilih diam. Sesaat lamanya Bryan dan Kirana saling diam. Mobil terus bergerak ke depan. Tak terasa mereka sudah sampai di halaman Hotel El Haram.


Acara makan malam itu berlangsung di sebuah taman yang terletak di garis Pantai El Muntazah. Sebuah pantai yang terkenal keindahannya di Alexandria. Bryan sama sekali tidak bisa menikmati acara itu, sebab ia sibuk mempersiapkan ikan bakar permintaan khusus Bapak Duta Besar, ayah Kirana. Bryan yang ingin istirahat di malam terakhir merasa tidak bisa istirahat. Ia yang sedikit ingin merasakan nuansa romantis di El Muntazah yang sangat terken al itu sama sekali tidak bisa merasakannya.


Bryan membakar semua ikan yang dibeli Pak Ali. Ia meracik bumbu sedetil mungkin. Ia minta Pak Ali membantunya mengipasi arang agar terjaga baranya, sementara ia membuat sambalnya. Akhirya ia bisa menghidangkan ikan bakar keinginan itu kehadapan dua orang Duta Besar, yaitu ayah kirana.


Duta Besar negara X untuk Negara P dan kawannya Duta Besar negara X untuk Turki. Dua Duta Besar itu duduk di tempat terpisah dari staf yang lain. Mereka memang ingin bernostalgia berdua saja. Di hadapan mereka ada satu nampan berisi nasi panas yang masih mengepulkan asap. Nampan berisi ikan bakar. Dua piring kecil berisi sambal. Dua piring agak besar berisi lalapan. Lalu dua mangkok berisi air untuk cuci tangan. Dan dua piring besar yang masih kosong. Bryan mempersilakan keduanya untuk menikmati hidangan itu.


"Terima kasih Mas ya." Kata Pak Alam, ayah Kirana pada Bryan. Bryan tersenyum dan mengangguk dengan ramah sambil sekali lagi mempersilakan untuk menyantap. Ia lalu minta diri.


"Hidangan ikan bakar ini untuk mengingatkan masa - masa kita belajar di universitas xx dulu. Meskipun kita ada di Alexandria, tapi ini saya siapkan ikan bakar seperti yang kita rasakan di Parangtritis dulu." Kata Pak Alam.


"Wah sungguh tidak rugi aku berkunjung ke sini menjenguk teman lama. Sungguh, aku merasa sangat terhormat menerima surprise ini." Sahut Pak Juneidi dengan senyum mengembang.

__ADS_1


"Ayo langsung saja Pak Jun. Mencium baunya sudah tidak sabar rasanya perut ini. Ayo kita pulu'an pakai tangan saja rasanya lebih nikmat." Kata Pak Alam sambil mengambil satu piring yang kosong dan mengisinya dengan nasi. Lalu ia mencuci tangan kanannya ke dalam mangkok berisi air dan jeruk nipis.


“Ya benar Pak Alam.Pulu'an dengan tangan memanglebih nikmat." Tukas Pak Juneidi seraya melakukan hal yang sama.


__ADS_2