
Tak terasa taksi sudah sampai di depan hotel. Bryan turun. Pak Ali membayar ongkos taksi lalu menyusul turun.
“Perutnya masih sakit Pak?"
"Ya. Masih terasa. Aku rasa aku harus segera ke toilet. Oh ya Mas Bryan, kau langsung ingin istirahat?"
"Iya Pak, saya merasa letih banget."
“Baiklah. O ya, bagaimana kalau besok habis shalat subuh kita ngobrol -ngobrol sambil jalan-jalan di sepanjang pantai. Semoga saja sakit perutku sudah sembuh."
"Wah dengan senang hati Pak."
"Kalau begitu nanti kalau kau mau shalat subuh aku dibel ya. Kita subuhan di masjid bersama. Dari masjid kita langsung jalan jalan. Aku akan memberimu cerita yang indah. Kau pasti senang mendengarnya."
"Baik Pak. Mari pak, assalamu 'alaikum." Kata Bryan.
"Wa'alaikumussalam. Sampai ketemu besok." Jawab Bryan bergegas menuju lift, sementara Pak Ali menuju toilet. Hotel itu masih ramai. Beberapa orang masih asyik ngobrol di lobby hotel. Dua orang lelaki kulit putih tampak sedang serius berbicara dengan orang Arab berjubah putih. Dari caranya memakai kafayeh tampak -nya ia orang teluk. Lourantos Restaurant yang terletak tak jauh dari lobby juga ramai dengan pengunjung.
Sampai di kamar Bryan langsung merebahkan badannya. Ia tinggal menunggu mata terpejam. Telpon di kamarnya berdering. Ia sangat tidak menginginkan telpon itu. Ia paksakan untuk bangkit dan mengangkatnya. Dari Kirana.
“Hei Mas Insinyur, kok sudah pulang sih?" Suara dari gagang telpon.
"Iya, diajak Pak Ali yang sakit perut. Saya juga sudah letih.”
“Seharusnya kalau mau pulang bilang -bilang dong. Terima kasih ya, ikan bakarnya mantap. Pak Juneidi puas banget. O ya sebetulnya aku mau kasih hadiah spesialnya lho. Tapi Mas Insinyur keburu pulang sih?"
"Hadiahnya apa ?"
"Mau tahu?"
“Iya."
__ADS_1
"Ciuman spesial dariku."
“Apa? Ciuman spesial?"
"Yes."
"Ciuman spesialnya Mbak kirana itu ciuman yang bagaimana?"
"French kiss, ciuman khas Prancis."
"Mbak mau menghadiahi aku ciuman khas Prancis? Ah yang benar saja?"
"Benar, sungguh! Tapi Mas Bryan keburu pulang sih.
Jadi sorry dech ya."
"Ah Mbak jangan menggoda orang miskin dong."
"Saya tidak menggoda, serius. Saya sungguh sungguh mau memberi Mas Bryan ciuman itu tadi, sayang Mas keburu pulang.”
"Lho kok malah merasa untung."
“Iya soalnya jika dapat ciuman khas Prancis dari Mbak, bagi saya bukanlah jadi hadiah, tapi jadi musibah!’
"Jadi musibah?”
“Iya.”
"Dapat French kiss dariku bagimu jadi musibah!?"
"Iya."
__ADS_1
"Serius!? Nggak bercanda ka n!?"
"Serius! Sangat serius!"
"Bisa dijelaskan kenapa jadi musibah?"
"Penjelasannya panjang, besok saja! Yang jelas perlu Mbak ingat baik -baik saya bukan orang bule! Sudah ya, saya harus istirahat. Maaf!"
Bryan memutus pembicaraan dan meletakkan gagang telponnya sambil mendesis kesal,
"Dasar perempuan didikan Prancis tidak tahu adab kesopanan. Sudah tahu aku ini mahasiswa Al mau disamakan sama bule saja! Sinting kali!"
Telpon di kamarnya berdering lagi. Ia biarkan saja. Tidak ia sentuh sama sekali. Ia yakin itu telpon dari Kirana yang mungkin sedang emosi atau penasaran. Telpon itu berdering - dering sampai mati. Bryan mengambil air wudhu . Membaca doa. Mengecilkan AC . Dan siap untuk tidur. Telpon di kamarnya kembali berdering.
Ia sedang membaca Ayat Kursi. Sama sekali ia tidak bergeming dari tempat tidumya. Telpon itu terus berdering sampai akhirnya mati sendiri. Ia tak perlu mengangkatnya, toh jika umur masih panjang besok bisa bertemu dan berbicara panjang lebar kenapa hadiah ciuman itu baginya adalah musibah.
Sementara di El Muntazah, Kirana tampak gusar dan geram. Berani -beraninya pemuda itu memutus pembicaraan begitu saja. Dan berani -beraninya ia memandang sebelah mata terhadap dirinya. Pikirnya. Baru kali ini ia tidak dianggap bahkan diremehkan oleh seorang pemuda. Yang membuatnya geram kali ini yang meremehkannya justru orang yang sama sekali tidak diperhitungkannya.
"Dasar pemuda kampungan kolot! Pemuda konservatif!
Pemuda bahlul bin tolol! Awas nanti ya!" Geramnya.
Orang-orang yang memperhatikan tingkah Kirana itu jadi bertanya -tanya. Ada apa dengan Putri Pak Duta Besar itu? Siapa pemuda yang dikatakannya kolot itu? Siapa pemuda yang diumpatnya itu?
Selesai membaca Ayat Kursi Bryan tidak bisa langsung tidur. Ia merasa ada yang salah hari ini. Yang salah itu adalah rasa tertariknya pada anak Pak Dubes dan harapannya yang tidak -tidak padanya. Setelah sembilan tahun, baru kali ini hati - nya tertarik pada seorang gadis.
Dulu waktu di pesantren, waktu di Madrasah Aliyah ia pernah merasa suka pada seorang santriwati yang di matanya sangat memesona. Namanya Salwa. Selain Wajahnya yang menurutnya bagai bidadari suaranya sangat merdu. Santriwati dari Pati itu menjuarai MTQ tingkat kota T. Namun ia hanya bisa memendam rasa sukanya itu dalam hati. Sebab ia tahu, Salwa sudah dipinang oleh putra sulung Pengasuh Pesantren, Gus Mifdhal. Setelah itu ia tidak mau membuka hatinya lagi.
Yang ia heran, entah kenapa ketika mendengar prestasi - prestasi Putri Pak Dubes itu hatinya merasakan sesuatu yang lain. Ia mengagumi gadis itu. Dan ketika melihat wajahnya ia semakin kagum. Lalu ketika ia baru sedikit dekat saja sudah merasakan apa yang dulu ia rasakan terhadap Salwa. Ia harus mengakui ia jatuh cinta pada Kirana dan berharap yang tidak - tidak. Ia sendiri heran, kenapa?
Padahal ini bukan kali pertama ia bertemu dengan gadis cantik. Ia sering membantu bapak -bapak pejabat dan sering bertemu dengan anak gadis mereka yang sebenarnya tidak kalah jelitanya. Tapi ia merasa biasa biasa saja. Ia bahkan pernah umrah dan membimbing jamaah dari kota J. Di antara jamaah itu ada seorang foto model yang masih kuliah di kota J. Namanya Vera. Foto model cantik itu kelihatannya tertarik padanya. Sebab setelah Vera kembali ke kota J sering menelpon dirinya dan mengirim nya paket. Namun ia sama sekali tidak tertarik padanya. Kini Vera sudah jadi bintang sinetron. Dan ia juga tidak minta sedikit pun untuk sekadar menyapanya. Ia sama sekali tidak tertarik dengan foto model itu karena gaya hidupnya yang ia anggap tidak sejalan dengan jiwanya. Dan cara berpakaiannya yang menurutnya kurang santun meskipun sudah berulang kali umrah dan naik haji. Dalam hati ia berkata dengan tegas,
__ADS_1
"Cantik iya. Tapi kalau tidak bisa menjaga aurat, tidak memiliki rasa malu, tidak memakai jilbab, tidak mencintai cara hidup yang agamis, berarti bukan gadis yang aku idamkan!"
Standar dia untuk calon isteri minimal adalah Salwa. Dan standar itu tidak pernah ia turunkan. Tapi entah kenapa saat bertemu kirana yang cara berpaka ian dan cara hidupnya, menurutnya, tidak berbeda dengan Vera hatinya bisa luluh. Kenapa ia menurunkan standar yang telah bertahun -tahun ia jaga. Bahwa calon isterinya, minimal adalah perempuan yang berjilbab rapat, bisa membaca Al-Quran dan pernah mengecap kehidupan pesantren.