Bertasbih dalam Ikhtiar cinta

Bertasbih dalam Ikhtiar cinta
cerita


__ADS_3

Berulang kali Kirana menelpon kamar Bryan. Tak ada yang menjawab. Ia ingin membuat perhitungan dengan Nryan. Kata-kata Briyan tadi malam ia anggap sangat merendahkannya. Ia sangat tersinggung. Apalagi tadi malam pemuda kurus itu memutus pembicaraan dengannya secara sepihak. Siapa dia berani-beraninya berlaku tidak sopan p adanya? Baginya tindakan Bryan itu tidak hanya tidak sopan, tapi sangat menghinanya. Ia memang orang yang mudah emosi jika ada sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan suasana hatinya.


Kirana mondar -mandir di lobby hotel. Ia memperhatikan dengan seksama orang-orang yang duduk dan lalu lalang di situ. Ia menanti Bryan untuk dilabraknya. Ia hendak memarahinya seperti ia memarahi pembantu -pembantunya yang melakukan sesuatu yang membuatnya murka.


Pagi itu suasa hotel sudah terasa sangat panas bagi Kirana. Ia menanyakan keberadaan Bryan kepada semua orang. Para mahasiswa, rombongan Penari Saman, bahkan ayahnya sendiri. Semua menjawab tidak tahu pasti. Ada yang menjawab mungkin sedang jalan -jalan di Pasar El Manshiya. Ada yang menjawab mungkin sedang mencari sesuatu di Abu Qir. Ada yang menjawab mungkin sedang ziarah ke Masjid Nabi Daniyal. Ada yang menjawab mungkin sedang renang di pantai. Semua jawaban tidak ada yang memuaskannya. Ia ingin segera bertemu dengan pemuda tidak tahu diuntung itu. Ia ingin segera menumpahkan segala murkanya. Ia ingin segera ********** jika bisa. Sementara Bryan dan Pak Ali berjalan santai menelusuri pantai. Bryan melepas sandalnya dan membiarkan kakinya telanjang menginjak pasir pantai yang lembut.


"Pak Ali." Sapa Bryan pelan.


"Ya, Mas."


"Pak Ali sudah lapar?"


"Iya."


"Mau sarapan di hotel?"


"Entah kenapa ya Mas. Aku kok sudah bosen banget sarapan di hotel."


"Saya juga Pak Ali. Kalau begitu kita cari tha'miyah bil baidh 7 di luar hotel yuk?"


"Ayuk."


Mereka langsung berjalan mencari kedaitha'miyah, kedai yang menjual makanan khas terdekat. Saat merekamelintasi jalanraya menujuke kedai itu seseorang memanggil-manggil nama mereka. Mereka menengok kearah suara. Ternyata siRomi. Mahasiswa asal Madura yang dipercaya


membuat dan menjaga stand Sate Madura. Anak asli Pamekasan itu berjalan dengan setengah berlari ke arah mereka. Tubuh kurusnya dibalut kaos hitam dan celana panjang hitam. Tangan kanannya menenteng kantong plastik hitam.


"Ada apa Mi?" Sapa Bryan begitu jaraknya dengan Romi tidak terlalu jauh.


"Anu, anu Mas. Kamu dicari -cari oleh Mbak Kirana Kelihatannya kok dia sedang marah. Segeralah kamu ke lobby hotel. Jika tidak segera ke sana aku kuatir dia semakin marah. Dan jika dia marah celakalah kita semua. Cepat- cepatlah kamu minta maaf?"


"Minta maaf atas apa Mi?"

__ADS_1


"Ya tidak tahu. Yang penting minta maaf. Mungkin dia tersinggung karena sesuatu yang tidak kamu sadari. Apa sih beratnya minta maaf? Jangan sampai kemarahannya berimbas pada bisnis kita."


"Wualah tho Mi, kamu kok berpikir terlalu jauh. Kenapa kamu takut sekali rezeki kamu terancam oleh kemarahan seorang Kirana Apalagi dia. marahnya sama aku. Kok kamu yang takut?"


"Tidak gitu Mas. Saya hanya tidak mau ambil risiko. Saya tidak mau susah. Marahnya orang kaya sering membuat susah orang miskin. Marahnya pejabat sering membuat susah rakyat. Kirana kalau membawa bawa ayahnya kan bisa membuat kita repot. Bukan begitu Pak Ali?" Jelas Romi sambil memandang Pak Ali. Pak Ali ha nya menyahut ringan, "Itu urusan kalian."


Bryan memandang Pak Ali. Wajah Pak Ali tetap seperti semula, tak ada perubahan. Lalu sambil menepuk pundak Romi, Bryan menenangkan,


"Jangan berpikir ke mana -mana. Tenanglah, tak akan terjadi apa-apa. Akan segera kutemui Kirana."


Romi hanya diam saja.


"Kau mau ke mana Mi? Kau kemari hanya untuk menemui kami atau ada keperluan lain?" Tanya Bryan mengalihkan pembicaraan.


"Aku mau renang di pantai. Terakhir sebelum pulang. "


"Bawa salin?"


"Kok sendirian? Tidak ngajak teman?"


"Iya yang lain tak ada yang mau. Katanya sudah bosan. Ya sudah, aku berangkat sendiri saja. Atau kau mau menemani?"


"Aduh aku masih banyak hal yang harus aku bereskan. Ya sudah ya. Hati-hati."


"Ya."


Bryan dan Pak Ali melanjutkan perjalananke kedai tha'miya. Romi semakin mendekati pantai. Udara belum hangat betul. Orang yang berenang di pantai bisa dihitung dengan jari. Saat itu belum banyak pengunjung yang datang. Sebab masih ada sisa-sisa musim dingin. Pantai itu akan menjadi sangat ramai ketika libur musim panas datang.


"Mas Saya sarankan kau damai saja sama putri - nya Pak Dubes itu. Tidak usah cari penyakit. Aku tidak tahu masalahmu dengannya. Tapi damai adalah hal yang disukai oleh fitrah umat manusia di mana saja." Saran Pak Ali.


Bryan lalu menjelaskan kejadian tadi malam setelah pulang dari El Muntazah. Tentang telpon Kirana Tentang hadiah spesial berupa ciuman khas Prancis. Tentang jawaban - nya. Tentang pemutusan pem bicaraan secara sepihak darinya. Pak Ali mendengarkan sambil berjalan.

__ADS_1


"Ada saran tambahan Pak Ali?" Tanya Bryan sambil mensejajarkan langkahnya dengan langkah Pak Ali yang agak lambat.


"Saranku. Sebaiknya kau minta maaf. Lalu jelaskan dengan detil dan baik-baik kenapa menolak ciuman itu. Tidak usah dihadapi dengan emosi. Api bertemu api akan semakin panas. Emosi lebih banyak merugikannya daripada menguntungkannya


"Aku sangat yakin  dia sangat marah Pak. Trus bagaimana cara meredamnya?"


"Gampang. Hati wan ita mudah diluluhkan. Belikan dia hadiah kejutan. Dia akan merasa senang. Rasa senang bisa meredam amarah. Sebab amarah itu datang biasanya karena rasa tidak senang."


"Enaknya hadiahnya apa ya Pak?"


"Apa saja yang bisa didapat pagi ini. Tidak harus mahal." "Pak Ali punya usul, barang apa begitu?"


Pak Ali mengerutkan dahi sesaat. Tiba -tiba wajahnya seperti bersinar.


"Yah ini saja. Belikan saja rnakanan khas Mesir kesukaannya. Ini mudah didapat pagi ini dan murah."


"Kalau dia sudah makan pagi bagaimana? Apa tidak jadi mubazir?"


"Percayalah, dia belum makan pagi. Orang kalau sedang marah malas makan. Dia akan makan kalau marahnya mulai reda. Percayalah dia belurn makan pagi. Dan percayalah dia juga sudah bosan dengan menu hotel."


"Apa makanan kesukaannya Pak?" "Habasy takanat." 8


"Yang benar Pak? Masak gadis selangsing dia suka


habasy takanat?


"Iya. Habasy takanat itu tidak otomatis bikin gemuk Iho.


Bikin kenyang iya. Tapi bikin gemuk belum tentu." "Ayo Pak kalau begitu kita segera beli."


Mereka berdua berdua mempercepat langkah. Sampai di kedai yang dituju, mereka memesan empat tha'miyah bil baidh untuk dimakan di situ dan dua habasy takanat, untuk dibungkus. Pemilik kedai itu adalah orang Mesir gemuk dengan jenggot hampir menutupi setengah wajahnya. Keangkeran wajahnya sirna oIeh senyum dan keramahannya. Bryan senang dengan keramahan itu. Sebab tidak sedikit pemilik kedai tha'miyah yang tidak ramah. Ia masih ingat dengan pemilik kedai tha'miyah di kawasan Hay El Ashir Cairo yang sangat tidak ramah. Tak pernah senyum. Ia pernah diabaikan. Benar - benar diabaikan. Pemilik itu melayani semua orang Mesir tapi seolah-olah tidak melihat

__ADS_1


__ADS_2