
"Kau ini kok inginnya meloncat. Langsung ke intinya. Film kalau langsung ke intinya tidak menarik. Novel kalau langsung kau baca intinya juga tidak menarik. Kau harus sabar membacanya. Baca yang urut bab demi bab. Paragraf demi paragraf. Kata demi kata. Huruf demi huruf. Baru akan kau temukan keindahan rangkaian novel itu. Keutuhan cerita novel itu. Jangan lompat-lompat. Jangan main potong langsung ke inti. Ceri ta tentang gadis salehah yang indah ini juga begitu. Ada rangkaian ceritanya yang tidak boleh ditinggalkan. Kalau ditinggalkan ceritanya tidak utuh. "
"Sudahlah Pak, ayo dilanjutkan saja ceritanya. Jangan malah ceramah tentang novel segala. Apa hubungannya? Kayak sastrawan saja!"
"Lho erat sekali hubungannya cerita dengan novel lho Mas. Begini..."
Bryan langsung memotong,
"Dilanjut saja ceritanya Pak. Tentang sastra, hubungan cerita dengan novel biar nanti saya baca sendiri saja di perpustakaan SIC. Keburu siang Pak."
"Baiklah. Anakku yang kuliah di Malaysia itu laki laki namanya Amir. Dulu selesai SMP di SIC langsung kulempar ke Al Munawwir Krapyak Jogja. Selesai Madrasah Aliyah langsung dapat beasiswa ke Madinah. Sekarang S.2 di Malaysia. Dia belum menikah. Dia sendiri tidak tahu kisah kelam masa laluku sebelum tobat. Dia hanya tahu aku adalah seorang ayah yang dulu pernah nyantri di pesantren. Dan aku pikir dia tidak perlu tahu. Biar dia tahu yang baik -baik saja. Nanti kalau dia mau cari isteri baru akan bapak kasih tahu."
"Berarti kira -kira dia seusia dengan saya ya Pak."
"Lebih tua kamu dua tahun. Aku lanjutkan ya. Sedangkan adiknya yang kini kuliah di Fakultas Kedokteran UNS, sejak SMP sudah kuletakkan di pesantren."
"Di pesantren mana Pak ?"
"Di pesantren tempat aku nyantri dulu. Aku titipkan pada Pak Kiai yang menggemblengku selama satu tahun itu. Pak Kiai itu namanya K.H. Lutfi Hakim. Nama pesantrennya, Daarul Quran. Terletak di Desa Wangen, Polanharjo."
"Oh ya saya tahu Pak. Saya dulu pernah ke sana sekali. Itu kan arahnya dari Popongan terus ke barat . Dekat dengan daerah Janti Klaten. "
__ADS_1
"Ya benar."
"Terus hubungannya apa pesantren itu dengan cerita gadis cantik yang salehah itu? Apa yang Pak Ali maksud adalah anak gadis Pak Ali itu?" Bryan sudah tidak sabar. Ia merasa Pak Ali ceritanya melingkarlingkar tidak segera sampai yang dimaksud.
"Tidak. Sama sekali tidak. Aku sudah tahu standar kecantikan yang kau pakai. Standar kamu adalah Kirana dan gadis - gadis Mesir. Maka anak gadisku meskipun menurutku cantik, tapi jika standarnya Kurana bisa dikatakan tidak cantik. Bersabarlah sedikit, sudah hampir sampai pada tujuan. Aku kembali ke alur cerita. Anak gadisku itu aku titipkan kepada Pak Kiai Lutfi. Beliau jaga dan beliau didik dengan baik. Pada saat yang sama Pak Kiai Luffi punya anak gadis yang sangat cerdas. Dan sangat cantik. Sungguh sangat cantik. Kecantikannya ibarat permata maknun yang mengalahkan semua permata yang ada di dunia. Aku berani bertaruh kecantikannya bisa mengatasi Krana. Ini menurutku lho Mas. Sebab kecantikan seorang perempuan di mata lelaki itu relatif. Dan untuk kecerdasannya aku berani bertaruh, tak banyak gadis seperti dia. Aku tahu persis, sebab aku pernah belajar pada ayahnya selama satu tahun. Jika Kirana bisa bahasa Prancis dan Inggris. Maka Putri Pak Kiai Lutfi ini bisa bahasa Arab, Inggris dan Mandarin. Saat di Madrasah Aliyah dia pernah ikut program pertukaran pelajar ke Wales,U.K. Dan apa kau tahu di mana dia sekarang?"
Bryan menggelengkan kepala.
"Dia sekarang ada di Carro. Sedang menempuh S.2 di Kuliyyatul Banat, Al. Dia sedang mengajukan judul tesisnya."
"Sedang S.2? Siapa namanya? Kok saya tidak pernah dengar ceritanya."
"Namanya Anna Althafunnisa."
"Ya."
"Baru kali ini saya dengar nama itu. Aneh sekali. Padahal orang-orang di rumah saya semuanya aktivis. Tapi mereka kok tidak pernah nyebut -nyebut nama itu ya?"
"Tidak banyak orang yang tahu. Sebab Anna Althafunnisa menyelesaikan S.1 -nya tidak di Cairo. Tapi di Alexandria sini. Ia lebih banyak berinteraksi dengan mahasiswi Malaysia daripada mahasiswi Indonesia. Dan Anna lebih memilih menutup diri dari kegiatan -kegiatan yang bersifat glamour. Kalau kau sempat membaca majalah Al Wa'yu Al Islami, cobalah cari edisi bulan lalu. Ada ar tikel dia dimuat di sana. Dia memakai nama pena Anna Lutfi Hakim."
"Sekarang dia tinggal di Cairo?"
__ADS_1
"Iya. Dialah gadis cantik dan salehah yang aku maksud. Dan saat ini ayahnya menginginkan dia segera menikah. Aku pikir kamu lebih baik menikah dengan orang yang sekualitas Anna daripada dengan yang model Kirana. Kalau kamu mendapatkan Anna, kamu telah mendapat -kan surga sebelum surga. Percayalah padaku. Aku tahu betul kualitas Anna, ayahnya, dan keluarganya. Mereka dari golongan orang -orang yang ikhlas. Saran saya khitbahlahAnna Althafunnisa itu sebelum bidadari dari Pesantren Daarul Quran itu dikhitbah orang lain."
Hati Bryan berbunga -bunga. Ada rasa sejuk yang tiba - tiba menyelinap ke dalam dadanya. Namun ia tiba tiba diserang rasa ragu.
"Apa saya pantas melamarnya Pak? Apa saya pantas untuknya? Saya ini S.1 saja sudah sembilan tahun belum juga selesai. Dan apa prestasi saya? Apa yang bisa saya andalkan? Membuat tempe? Apa ada kiai yang mau anaknya menikah dengan penjual tempe?"
"Kenapa kamu jadi inferior begitu. Percayalah padaku, Pak Kiai Lutfi itu tidak pemah memandang dunia. Dunia itu remeh bagi beliau. Datanglah, lamarlah. Belilah tiket, pulanglah ke tana air dan lamarlah bidadari itu!"
"Waduh kalau harus pulang berat Pak. Apa tidak ada cara lain selain pulang?"
Pak Ali diam mengerutkan keningnya, sebentar kemudian, wajahnya cerah. Setengah berteriak ia menjawab, "Ada! Kau bisa melamar lewat Ustadz Mujab. Ustadz Mujab itu masih keluarga dekat Kiai Lutfi. Kau datangi saja Ustadz Mujab dan sampaikan maksudmu untuk disampaikan kepada Kiai Lutfi dan Anna. Insya Allah semua akan mudah. Ustadz Mujab kau kenal kan?"
"Wah lebih dari kenal. Saya sangat akrab dengannya. Tapi yang membuat saya heran, kenapa beliau sama sekali tidak pernah menyinggung nama Anna Althafun -nisa sama sekali ya?"
"Itulah mahalnya Anna Althafunnisa. Tidak sembarangan dibicarakan. Tidak sembarangan diobral. Bukankah permata yang sangat mahal itu jaran g dipamerkan orang?"
"Pak Ali punya fotonya?"
"Aduh, sayang sekali tidak punya. Tapi itu tidak penting. Langsung saja kau lamar. Kalau setelah menyuntingnya kamu menyesal, akan aku serahkan leherku ini untuk kau pancung. Sungguh!" Bryan tersenyum. Kata -kata terakhir Pak Ali semakin membuatnya mantap sekaligus penasaran. Seperti apa Anna itu? Namun, ia merasa telah mendapat jawaban atas tekad yang ia ikrarkan sebelum tidur tadi malam. Tekad yang ia rajut dengan doa.
Ia yakin Anna adalah jawaban atas doanya yang ia bawa sampai tidur. Ia yakin bukanlah sebuah kebetulan jika pagi itu Pak Ali akan bercerita tentang Anna Althafunnisa. Itu bukanlah kebetulan belaka. Sebab ia meyakini bahwa segala yang terjadi di alam semesta ini tidak ada yang kebetulan. Semua sudah ditulis takdirnya dan diatur oleh Yang Maha Kuasa. Tekadnya telah bulat . Begitu sampai di Cairo ia akan datang ke rumah Ustadz Mujab. Datang untuk menanyakan gadis yang disebut sebut Pak Ali sebagai "Bidadari dari Pesantren Daarul Quran ."
__ADS_1
Ia akan menanyakan apakah gadis itu masih kosong, belum dikhitbah orang? Apakah gadis itu bisa dipinangnya? Kalau ya, maka ia akan langsung meminangnya. Saat itu juga kalau bisa. Tak ada lagi keraguan dalam hatinya.