
Bagi mahasiswa dan pelajar Al Azhar, gedung Muraqib atau nama resminya Muraqabatul Bu'uts Al Islamiyyah pasti menyisakan kenangan tersendiri. Bagi yang dapat bea siswar maka mengurus beasiswanya juga tidak lepas dari Muraqib. Bahkan bagi yang tidak mendapatkan beasiswa dari Al Azhar dan ingin mengajukan permohonan beasiswa k e lembaga lain, juga harus mendapatkan surat keterangan tidak menerima beasiswa dari Muraqib. Seluruh lembaga pendidikan di dunia yang ingin menyamakan ijazah mereka dengan ijazah Al Azhar harus melalui proses di Muraqib.
"Pentingnya Muraqib bagi Al Azhar nyaris sama seperti tangan bagi manusia", begitu kata Zuleyka, seorang maha - siswi dari Turki, suatu kali kepadanya saat bertemu di depan Muraqib. Mungkin ungkapan itu terlalu berlebihan. Namun memang Muraqib jadi bagian pusat administrasi dan birokrasi yang sangat vital bagi Al Azhar.
Begitu sampai di Tayaran Street ia melihat jam tangannya. Sebelas kurang seperempat. Ia ingin segera sampai rumah, dan mengabarkan kebahagiaannya kepada seluruh teman rumah. Nanti setelah shalat Zuhur ia akan ke Daarut Tauzi’, membeli beberapa buku dan kitab. Ia belum pernah ke toko buku yang satu ini. Pulang dari Daarut Tauzi' setelah Ashar. Dan si Zahraza, mahasiswi asal Kedah yang satu rumah dengannya tak usah repot repot masak. Setelah shalat Maghrib, ia mau mengajak orang satu rumah makan di Palace, restaurant milik mahasiswa Thailand di kawasan Rab'ah El Adawea yang terkenal Tom Yam dan nasi gorengnya.
Dan saat pulang dari PaIace ia akan mampir ke ru mah Laila yang menjadi agen Malaysia Air Lines. Ia akan pesan tiket pulang ke Tanah Air dengan transit dua minggu di Kuala Lumpur. Kalau tidak, ia akan pesan pada Laila lewat telpon saja. Rencananya ia hendak melakukan penelitian di Malaysia untuk bahan tesisnya. Maka ia merasa, sebaiknya ia berangkat minggu ini. Sebab Wan Aina mahasiswi asal Selangor yang tinggal serumah dengannya mau pulang ke Malaysia minggu ini.
Putri bungsu orang penting di Malaysia itu pulang hanya dua minggu untuk menghadiri pernikahan kakaknya. Pikirnya, ia bisa bersama Wan Aina selama di Kuala Lumpur. Sehingga urusan penelitian untuk tesis nya tentang "Asuransi Syariah di Asia Tenggara" akan menjadi lebih mudah. Ia berencana hendak melakukan penelitian di Perpustakaan ISTAC -IIUM di Petaling Jaya, Perpustakaan IIUM di Gombak, dan Perpustakaan Univers iti Kebangsaan Malaysia di Kajang. Dan kakak Wan Aina yang hendak menikah adalah dosen di IIUM. Wan Aina sendiri berjanji akan menemaninya selama mela -kukan penelitian di Malaysia.
Itulah rencana yang telah tersusun dalam kepalanya saat ini. Yang paling penting ia harus segera pulang ke Tanah Air sambil melakukan penelitian serius untuk tesisnya. Ia ingin segera pulang untuk berbagi rindu, cerita, dan rasa bahagia dengan abah dan ibundanya tercinta.
Begitu menyeberang Tayaran Street hand phonenya berbunyi. Ada SMS masuk. Ia menghentikan langkah dan melihat layar hand phone, dari Mbak Zulfa, isteri Ustadz Mujab, yang masih bisa digolongkarl sepupu dengannya. Kakek ayah Ustadz Mujab adalah juga kakek abahnya. Jadi antara dirinya dan Ustadz Mujab masih erat p ertalian darah nya. Ia buka pesan yang masuk :
"***. Wr. Wb. Dik Anna, bagaimana Istikharahnya? Sdh ada kepastian? Td Ust. Vidy ngebel ke Ust. Mujab, katanya besok mau dolan. Mungkin mau menanyakan hasilnya."
__ADS_1
Ia tertegun sesaat, sesuatu yang nyaris dia lupakan, kini ditanyakan. Memang sudah tiga bu lan yang lalu ia diberitahu Mbak Zulfa tentang keseriusan Vidy yang ingin mengkhitbahnya. Saat itu ia sedang konsentrasi ujian, jadi ia anggap angin lalu. Apalagi Vidy bukan yang pertama mengutarakan keseriusan kepadanya. Ia telah menerimanya belasan kali. Baik yang melalui orang ketiga seperti Vidy, atau yang langsung blak -blakan lewat telpon, sms, email, surat maupun disampaikan langsung face to face. Semuanya telah mampu ia selesaikan dengan baik.
Namun lamaran dari Furqan, Mantan Ketua Umum PPMI, dan kandidat M.A. dari Cairo University, ia rasakan agak lain. Tidak mudah baginya untuk mengatakan "tidak", seperti sebelum-sebelumnya. Juga tidak mudah untuk mengatakan "ya."
Ia sama sekali tidak menem ukan alasan untuk menolak. Namun juga belum mendapatkan kemantapan hati untuk menerimanya. Pikirannya masih terpaku pada tesisnya. Namun ia juga sadar bahwa waktu terus berjalan, dan usianya hampir seperempat abad. Memang sudah saatnya ia membina rumah tangga, menyempurnakan separo agama.
Ia melangkah sambil memasukkan hand phone ke dalam tas birunya. Jilbab putih yang menutupi sebagian jubah biru lautnya berkibaran diterpa semilir angin sejuk musim semi. Ia mencoba menghadirkan bayangan wajah Vidy.
Namun spontan ada yang menolak dan dalam jiwanya. Ia tersadar, dalam kenikmatan, dalam kelapangan selalu ada ujian. Dalam setiap hembusan nafas dari aliran darah selalu ada setan yang ingin menyesatkan. Ia langsung istighfar dan ber-ta'awudz . Ia juga sad ar bahwa dirinya adalah manusia biasa yang punya nafsu, bukan malaikat suci yang tak memiliki nafsu.
Yang pasti, sunah Nabi tetap harus diikuti, dan suatu saat nanti ia harus mengatakan "ya" atau "tidak" untuk Vidy. Ya, suatu saat nanti tidak harus saat ini. Musim semi kali ini ia tidak ingin diganggu siapa saja, termasuk apa saja yang berkenaan dengan vidy.
Sementara itu di belahan lain Kota Cairo, tampak sebuah sedan Fiat putih keluar dari pelataran Fakultas Darul Ulum, Cairo University. Sedan itu melaju pelan di Sarwat Street lalu belok kanan ke Gami'at El Qahirah Street, kemudian belok kanan melintas di depan Zoological Gardeen dan terus melaju ke arah sungai Nil.
Tak lama kemudian Fiat putih itu telah berada di atas El Gama'a Bridge, salah satu jembatan utama Kota Cairo yang melintang gagah di atas sungai Nil. Begitu sampai di kawasan El Manyal yang berada di Geziret El Roda, sedan itu belok kanan menyusuri Abdel Aziz Al Saud Street yang membentang di tepi sungai Nil dari ujung selatan Geziret sampai ujung utara. Sedan putih buatan Italia itu terus melaju ke ujung utara, hingga melintasi Cairo University Hospital. Tepat di ujung utara Geziret, tampak Meridien Hotel berdiri gagah.
__ADS_1
Sedan terus melaju dengan tenang hingga masuk di pelataran Meridien. Begitu menemukan tempat yang tepat di pelataran parkir, sedan itu berhenti. Seorang pemuda berwajah Asia keluar dari sedan. Ia mengeluarkan tas ransel dan tas jinjing hitam. Setelah mengunci mobil ia melangkah ke arah pintu masuk hotel. Dua orang pelayan hotel berkemeja hijau muda dengan rompi dan celana hijau tua menyambutnya dengan senyum manis. Seorang di antara mereka menawarkan untuk membawakan tasnya, tapi ia menolak. Pemuda itu berjalan tenang melewati lobby hotel menuju resepsionis. Dua orang petugas resepsionis dengan aura kecantikan khas gadis Mesir menyambutnya dengan senyum. Seorang di antara mereka menyapa,
"Good Afternoon, Sir. Can I help you? "
Pemuda itu membalas dengan senyum seraya menunjuk - kan paspornya. Saat menyerahkan pasporn ya, ia sempat membaca nama dua resepsionis itu. Dina dan Suzan. Si Dina menerima paspor itu dengan senyum lalu menulis sesuatu di komputer. Sebelum Dina berkata, sang Pemuda telah mendahuluinya dengan sebuah kalimat dalam bahasa Arab,
"Lau samahti ya Anesa Dina "
"Na'am, " Resepsionis bernama Dina tampak terkejut, "Hadratak bitakallim 'arabi? "
"Alhamdulillah, fiin Anesa Yasmin? Heya musy gaiya el yom?"
"Heya hategi bil leil, insya Allah."
Dina lalu melihat data di komputer. "Kamar Anda 615, Tuan Vidy"
__ADS_1
"Kalau boleh 919."
"Sebentar saya cek dulu."