
Blood Academy, akademi yang didirikan oleh salah satu keluarga terkuat di dunia. Akademi yang menjunjung tinggi keadilan dan kesetaraan status sebagai murid.
Sebagian besar murid di sana merupakan bangsawan yang memang memiliki kekuatan dari faktor keturunan. Meski begitu, tetap ada beberapa murid dari kalangan orang biasa. Biasanya, kekuatan mereka masuk ke kategori yang biasa-biasa saja, walaupun ada yang melebihi tahap itu.
Contohnya sepasang anak kembar ini— Alva dan kakaknya, Ava. Mereka dapat masuk ke akademi dengan nilai yang masuk ke 3 besar. Ava menjadi juara 2 sedangkan Alva menjadi juara 1.
"Alva, Alva...! Kita diterima, loh! Yeayy!" ujar Ava dengan bahagianya.
"Iya, iyaa. Tenanglah sedikit, Kak."
"Hehe.... Setelah 15 tahun kita hidup dan berlatih sendiri, tentu saja aku bahagia karena adikku dapat diterima di Blood Academy," ucap Ava sambil mengelus rambut Alva.
Alva terlihat tersipu karena tindakan kakaknya, namun ia tetap bersikeras mempertahankan ekspresi datarnya. Dia memegang tangan Ava untuk membuatnya berhenti mengelus rambutnya.
"Ngomong-ngomong, seperti apa ya seragamnya? Aku tidak pernah melihatnya karena jarang ada murid akademi yang keluar menggunakan seragam," ucap Alva.
"Kamu belum pernah lihat?"
"Memangnya Kakak pernah melihatnya?"
Ava berkacak pinggang— merasa bangga. "Sudah dong...!"
"Kapan? Di mana? Bahkan tidak ada kabar angin yang mengatakan ada murid akademi yang keluar dalam 10 tahun terakhir."
Alva menatap curiga kakaknya. Ava terlihat kelabakan, tak tahu harus menjawab apa.
Sebenarnya, beberapa tahun lalu Ava pernah bekerja sebagai tukang bersih-bersih di akademi itu. Dia tidak memberitahu Alva karena mungkin dia akan diceramahi. Bodohnya, dia malah keceplosan dan merasa bangga dengan itu. Dia pasti akan diinterogasi setelah ini.
Alva menarik tangan kakaknya yang sedari tadi dia pegang. Mau tidak mau, wajah mereka berdekatan, membuat Ava langsung mengalihkan pandangannya. Mata Alva yang menyorot tajam, membuatnya tak kuasa untuk menatapnya.
"Oke oke, aku akan mengatakannya," ujar Ava pasrah.
Sang adik kembali menarik kakaknya untuk duduk di pangkuannya, namun kali ini dengan lembut. Ava mulai menceritakan semuanya tentang dia yang berkerja menjadi tukang bersih-bersih.
Benar saja. Alva menceramahi Ava dengan banyaknya kalimat yang terus terucap, terus keluar dari mulutnya. Kemudian, Ava dengan lembut mendekap Alva dalam pelukannya. "Iya.... Aku tidak akan mengulanginya."
Alva hanya terdiam. Semua rasa kesal dan khawatirnya mulai teredam. Ia kemudian membalas pelukan kakaknya, menenggelamkan semua perasaan negatifnya dalam dekapan itu.
Di sisi lain....
Para guru di akademi sedang mengadakan rapat, membahas tentang cara pembimbingan untuk murid yang diterima di akademi. Mereka juga membahas tentang latar belakang siswa serta sifatnya.
__ADS_1
"Bagaimana dengan perwakilan siswa tahun ini? Siapa yang harus dipilih?," tanya Mr. Farensco selaku Kepala Akademi.
"Saya mengusulkan untuk memilih Alva Daniel Xavier sebagai murid terbaik tahun ini," usul Mr. Gyofano.
"Aslinya saya setuju. Namun, bukankah di sini juga ada Pangeran Ezra Jevella Ellard yang dikenal berdarah dingin? Bagaimana jika beliau tersinggung?," tanya Dr. Jahaz.
"Saya rasa itu tidak perlu diperhatikan. Tuan Alva bahkan sudah jelas lebih istimewa dibandingkan dengan Pangeran Ezra. Apalagi beliau peringkat 1. Sudah sangat jelas siapa yang harus dipilih," ujar Master Briyyan.
"Saya setuju dengan pendapat Master Briyyan." balas Mr. Farensco.
Mr. Farensco segera kembali ke ruangannya untuk membuat surat yang menyatakan bahwa dialah perwakilan siswa baru. Guru yang lainnya menyiapkan seragam dan juga kurir untuk mengantarkannya ke rumah para siswa. Juga surat persetujuan untuk tinggal di asrama selama menjadi siswa akademi.
Keesokan harinya....
'tok tok tok....'
Alva dan Ava dikejutkan dengan seseorang yang mengetuk pintu rumah mereka di pagi yang bahkan masih redup sinarnya.
Ava duduk di kursi sambil mengusap matanya yang sedikit berair. Alva bersiap membuka pintunya. "Ya, siapa?," tanyanya.
Kurir itu sedikit mengangkat topinya dan memberi salam. Dia mengatakan bahwa ada kiriman dari Blood Academy. Setelah memberikan dua dus yang cukup besar, kurir itu memberi salam kemudian langsung pergi.
Isi dari dus itu adalah beberapa set seragam dan beberapa lembar kertas. Kertasnya ada surat persetujuan, laporan, dan kebutuhan. Bagian laporan bisa diisi untuk seragam jika ada yang kurang pas. Mereka juga sudah mendapatkan sepatu dan lain-lain.
"Dua hari lagi kita akan berangkat ke akademi, ya...," gumam Alva. "Kakak, apakah ada bajunya yang terlalu besar atau kecil?," lanjutnya.
"Tidak ada. Kamu mau baju sehari-hari yang seperti apa?."
"Yang apa saja. Terserah Kakak."
"Oke. Sini, biar aku yang menuliskan."
Ava tiba-tiba terlihat begitu sibuk untuk menggambar sesuatu. Dia juga menyempatkan diri untuk mengisi formulir kebutuhan. Alva sedang setengah mengantuk, berusaha untuk tidak tertidur.
"Alva, Alva...!"
Sang adik seketika terbangun dari tidurnya. Kakaknya memanggil, bagaimana mungkin dia tidak bangun?
"Jeng jeng...!"
Ava menunjukkan sketsanya. Dia menggambar desainnya dengan detail. Bagus, simpel, dan pastinya keren.
__ADS_1
"Ternyata Kakak pintar menggambar, ya?," ujar Alva kemudian menguap.
Ava mengangguk kemudian meletakkan tangannya di kepala Alva dan mengelusnya pelan. "Kalau mengantuk, tidur lagi aja."
"Terus, Kakak mau ngapain?."
"Beres-beres rumah dong, adikku yang tampan...."
"Rumah kita kan nggak kotor. Mendingan Kakak nemenin aku tidur. Lebih berguna, kan?."
"Nggak. Yaudah, aku mau masak dulu. Kalau nggak, kita nggak akan makan pagi ini."
Alva langsung berdiri, merangkul kakaknya dan berjalan menuju kamar. "Tenang saja. Kalau sudah waktunya sarapan, akan kubuatkan omelette."
Ava yang kesal tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa membiarkan dirinya menjadi guling lagi pada pagi hari ini. Ingin lepas pun tidak bisa. Setiap kali dia menjauh, Alva langsung menariknya kembali.
Dua hari kemudian....
Alva dan Ava sudah bersiap untuk berangkat. Saat ini, mereka sedang menunggu jemputan dari akademi.
"Padahal masih dini hari.... Kenapa kita harus menunggu sepagi ini, Kak?."
"Kamu ini.... Kalau nggak gitu, orang lain akan melihatnya dan mereka tidak lagi menjadi misterius."
Alva hanya menguap berkali-kali. Dia terlihat sangat mengantuk.
Tak lama kemudian, ada kereta yang melayang di atas tanah menghampiri mereka. Setelah dilihat-lihat, kereta itu hanya bisa diisi 4-6 orang. Beberapa saat setelah kereta itu berhenti di depan mereka, ada seorang laki-laki yang keluar dari kereta itu.
"Maaf membuat Anda menunggu. Nama saya Axliano sebagai pengawas. Anda berdua bisa memanggil saya Ax."
"Ya," balas Ava.
"Silakan naik, Tuan, Lady. Apa ada barang bawaan yang lainnya?."
Mereka berdua langsung naik. Ava duduk di bagian pinggir, Alva langsung memposisikan dirinya untuk tidur di paha kakaknya.
"Tidak ada. Kami hanya membawa set seragam. Lagipula, bukankah akan mendapatkan baju dari sekolah? Aku yakin bajunya sudah jadi sesuai dengan permintaan muridnya," ujar Ava.
"Baik."
Ax ikut naik setelah memasukkan tas berisi seragam.
Sesaat kemudian, kereta mulai melaju dengan kencang, mengejar waktu yang terus berjalan.
__ADS_1