
Hari pertama pada semester dua sudah dimulai. Miss Vallen sedang menjelaskan sistem baru yang dibentuk Kepala Akademi.
Akan ada dua kelas yang saling bergabung. Di dalam kelas baru itu, murid-murid akan dibagi menjadi 13 kelompok. Setiap kelompok akan memiliki 4 anggota. Satu kelompok harus memiliki laki-laki dan perempuan, terserah untuk perbandingannya. Kelompok wajib memiliki namanya sendiri dan tidak boleh ada yang sama. Kelompok yang dibentuk akan digunakan untuk pertarungan apa pun sebelum dan sesudah lulus dari akademi. Jika satu anggota tidak lulus, maka satu kelompok juga tidak lulus.
Para siswa diberikan waktu lima menit untuk menentukan anggotanya. Setelah itu, mereka akan diberikan satu wilayah untuk kelompok mereka. Entah itu di kelas, kantin, dan lainnya.
Setelah hitungan mundur dimulai, para siswa sibuk mencari anggota yang akan menentukan masa depan mereka. Setidaknya mereka harus mencari yang hebat dalam pertandingan nyata dan cukup bisa dipercaya.
Saat batas waktu yang ditentukan sudah habis, para murid sudah siap dengan timnya masing-masing. Alva satu tim dengan Varrel, Verrel, dan Velize. Ava tentu saja dengan Adriell, Neron, dan Daniel. Mereka sudah bekerja sama sejak lama, jadi tidak ada keraguan di antara mereka.
"Untuk langkah selanjutnya, kalian harus mencari nama yang cocok untuk tim kalian. Setelah selesai dan yakin dengan nama itu, tulis di kertas berserta nama anggotanya. Jangan lupa dengan desain untuk kartu anggota kalian. Kumpulkan satu-satu di depan," ujar Miss Vallen.
Para murid kembali berdiskusi. Kelompok Ava sedang menuliskan nama tim dan nama mereka. 'The Four of the Winds' akan menjadi nama tim mereka.
Setelah beberapa menit, akhirnya semua tim sudah selesai menuliskan nama tim mereka dan mulai mengumpulkannya ke Miss Vallen. Kini Miss Vallen yang sibuk untuk membuat kartu anggota. Miss Vallen juga mendaftarkan nama tim-tim di kelas itu ke sistem. Setelah itu, Miss Vallen memanggil nama tim mereka dan membagikan kartu anggotanya.
"Bane of Your Existence."
Alva dan timnya maju ke depan. Seperti beberapa tim sebelumnya, mereka juga mendapat beberapa pertanyaan.
"Apa tim kalian ada masalah pada kerjasamanya? Bukankah Velize berasal dari kelas yang berbeda dengan kalian bertiga?," tanya Miss Vallen.
"Justru karena dia Velize kami menerimanya. Dia bisa diajak kerjasama dengan baik, kekuatannya juga tidak bisa diremehkan. Itu menjadi alasan yang cukup untuk kami," jawab Alva.
"Baiklah."
Mereka kemudian kembali duduk setelah menerima kartu anggota mereka. Mereka berdiskusi tanpa mempedulikan tim lainnya.
__ADS_1
"The Four of the Winds."
Tim kali ini berbeda dengan tim lainnya. Mereka sedang diskusi tentang siapa yang akan maju.
"Ava, kamu saja yang maju," ujar Daniel.
"Kenapa harus aku?," protes Ava.
"Kamu kan perempuan sendiri di sini," balas Neron.
Ava tak lagi protes dan segera maju ke depan. Dia juga mendapat pertanyaan yang tak jauh berbeda dengan siswa-siswa sebelumnya.
"Bagaimana dengan kerjasama kalian? Setiap dari kalian berasal dari kelas yang berbeda sebelumnya. Bahkan kalian terlihat bertengkar sebelum kamu maju ke sini."
"Tidak perlu khawatir begitu, Miss Vallen. Kami jauh lebih akrab dari yang Anda pikirkan. Bahkan mereka yang paling dekat dengan saya," ujar Ava.
Tanpa aba-aba, Ava langsung mengambil kartu anggota yang ada di atas meja. Dia tidak mempedulikan Miss Vallen yang sedikit kesal dengan sifatnya yang sedikit kurang ajar. Setelah mengambilnya, Ava segera kembali ke tempat duduknya.
Mendengar itu, Ava hanya berdehem untuk membalasnya. Seperti biasanya, Ava hanya diam dan mendengarkan mereka bertiga berbicara.
...----------------...
Setelah berkeliling untuk pembagian wilayah setiap tim, Miss Vallen membawa mereka ke laboratorium yang penuh dengan alat dan bahan dasar mesin. Mereka disuruh untuk bersiap-siap dan mengenakan pakaian khusus untuk laboratorium bagian mesin.
"Teknologi terbaik yang kita miliki saat ini adalah kereta mini yang bisa mengambang di atas tanah dan juga terbang sampai ketinggian tertentu. Di hari ini, kalian akan diberikan tugas yaitu membuat teknologi baru yang berguna dan ramah lingkungan. Kalian akan diberi waktu selama tujuh pekan untuk menyelesaikannya kemudian satu pekan untuk presentasi."
"Jadi, mulai besok sampai tujuh pekan ke depan kalian bisa langsung ke sini saat jam pelajaran di mulai. Saya harap kalian memiliki hasil yang memuaskan. Selama proses, saya dan beberapa guru akan mengawasi. Jadi tidak perlu ragu untuk bertanya."
__ADS_1
"Baiklah, tugas itu dimulai sekarang! Ambil barang yang kalian butuhkan. Diskusikan dengan baik apa yang akan kalian buat dan apa yang akan kalian lakukan."
Daniel memblokir suara dari luar wilayah mereka dan saling berkomunikasi dengan telepati. Mereka membutuhkan suara hening untuk mendapatkan ide yang cemerlang. Meskipun tim lain menatap mereka aneh karena terlihat hanya saling pandang dalam diam saja.
"Bagaimana? Aku pikir rencana itu sangat baik," ujar Adriell.
"Tentu saja. Kita berempat juga berpikir hal yang sama," sahut Neron.
"Masalahnya, apa guru mengizinkan kita untuk melakukannya? Kita harus memastikan itu dulu," usul Daniel.
"Itu sudah pasti, kan? Aku akan menanyakannya kepada Miss Vallen," ujar Ava.
Ava segera berdiri dari tempat duduknya dan beranjak pergi. Saat dia hendak melangkah, Daniel memegang tangannya untuk menahannya.
"Ada apa lagi?," tanya Ava.
"Biar aku saja. Kali ini kami akan menjadikanmu ratu."
Daniel menghampiri Miss Vallen dan membicarakan rencana mereka. Ava tidak mempedulikannya dan kembali duduk. Dia sudah sejak lama heran dengan sifat ketiga temannya itu. Terkadang menjadikannya seperti pelayan, kadang juga menjadikannya seperti ratu. Entah apa yang mereka pikirkan. Namun Ava suka dengan mereka yang bersifat dewasa dan juga kuat.
Tidak lama kemudian, Daniel kembali dan menghampiri mereka. Dia mengatakan bahwa Miss Vallen mengizinkan mereka asalkan mereka sendiri tidak keberatan.
Karena sudah diizinkan, mereka segera keluar dari laboratorium untuk mengerjakan proyek mereka. Tidak lupa, mereka membawa beberapa alat dan terbang menembus awan. Para murid heran dengan perilaku mereka, namun mereka lebih memilih untuk mengerjakan proyek mereka daripada mengurusi tim lain.
Sementara itu, Alva dan timnya memutuskan untuk membuat sebuah tindik. Tindik itu memiliki sistem yang luar biasa di mana bisa membuat penggunanya meningkatkan 5% kekuatannya untuk sementara dalam keadaan darurat. Selain itu, tindiknya juga bisa digunakan untuk memprediksi gerakan lawan selanjutnya dan memberitahunya lewat suara. Namun bagaimanapun, itu hanyalah rencana yang belum terbukti secara nyata.
Miss Vallen terus berkeliling. Dia mengamati para murid dengan seksama. Setiap tim dia datangi untuk melihat proses kerja mereka.
__ADS_1
Setiap tim bekerja dengan baik. Mereka berdiskusi, saling memberi pendapat, dan merancang segalanya bersama. Yang pada awalnya masih asing dan terpaksa membentuk tim kini menjadi lebih akrab.
"Tujuan pertama kami selesai," batin Miss Vallen.