
Setelah cukup lama perjalanan, akhirnya tim Ava menunjukkan di mana tempatnya. Mereka meminta Mr. Farensco untuk pergi ke atas awan terlebih dahulu. Saat itulah, mereka melihat sebuah tempat yang penuh akan teknologi canggih.
Semuanya takjub dengan apa yang mereka lihat. Itu terlihat seperti dunia lain bagi mereka. Ada kendaraan yang melaju ke sana kemari tanpa awak, lingkaran-lingkaran putih yang berputar stabil, dan ketenangan yang tiada duanya.
"Mr.! Turun dan masuk ke pintu di atas lingkaran besar itu!," ujar Neron sedikit keras karena suara kendaraan mereka memang agak bising..
"Memangnya bisa masuk?! Pintu sekecil itu tidak akan muat, bukan?!," tanya Mr. Farensco.
"Kami yang merancangnya! Anda tidak berhak protes, Mr.," sahut Daniel.
"Baik, baik."
Mr. Farensco segera melajukan kapalnya. Mereka akan pergi ke pintu itu sesuai dengan arahan dari Daniel dan Adriell. Mereka berdua lah yang paling memahaminya.
Setelah memarkirkan kapalnya dengan benar, mereka pergi keluar untuk melihat-lihat. Meski begitu, para murid tidak diizinkan untuk pergi dari pandangan para guru.
Para guru segera menghampiri tim Ava. Mereka akan bertanya mengenai proyek mereka ini. Tentang bagaimana mereka membuatnya, apa yang menginspirasi mereka, dan lain sebagainya.
"Untuk cara membuatnya itu sudah kami dokumentasikan berupa video full yang bisa disaksikan. Masalah kreativitas, usulannya diberikan oleh Neron dan rinciannya dibuat oleh Ava. Saya dan Adriell yang membantu untuk mewujudkan itu semua," ujar Daniel.
"Bagaimana kalian akan mempresentasikan karya sebesar ini? Jika dengan videonya, maka itu akan menghabiskan waktu yang tidak sedikit," tanya Miss Vallen.
"Kami akan mengadakan wisata untuk berkeliling di Krufylts ini,' jawab Ava.
"Baiklah, semuanya! Kami akan membawa kalian untuk berkeliling di sini dan menjelaskannya. Ikuti kami. Jangan sampai tersesat," ujar Adriell.
Adriell, Daniel, dan Neron di barisan depan untuk memimpin jalan. Mereka akan menunjukkan arah mana yang harus dituju. Ava di belakang untuk memastikan tidak ada yang tertinggal. Dia ditemani oleh Alva. Dengan itu, wisata berkeliling Krufylts dimulai.
Mereka berkeliling dengan menggunakan kendaraan berteknologi tinggi. Seluruh bagiannya transparan sehingga mereka bisa melihat sekeliling mereka dengan bebas. Di dalamnya ada sistem gravitasi yang membuat mereka seperti berdiri di atas tanah. Uniknya, meskipun seluruh bagiannya transparan, teknologi dan mesinnya tidak terlihat sama sekali. Entah bagaimana cara menyembunyikannya.
Sementara itu, Ava sedang nongkrong di bawah bagian belakang. Tempat itu tidak akan terdeteksi oleh sembarang orang, jadi kebanyakan murid tidak menyadari keberadaan tempat itu.
Di sisi lain, Alva yang menyadari keberadaannya pun memasukinya. Pintunya terbuka lebar. Terlihat Ava yang sedang termenung duduk di tepi pintu itu, seakan-akan dia akan terjun ke bawah.
"Kakak, apa yang kamu lakukan di sini?."
"Tidak ada. Aku bukan lagi kakakmu itu, jadi jangan memanggilku seperti itu lagi."
"Jangan mengatakannya seolah-olah kalian adalah orang yang berbeda! Bagiku, kamu ya kamu. Aku hanya tahu kamu sebagai kakakku, bukan yang lain," sahut Alva.
__ADS_1
"Ya, terserahlah. Kemarilah. Sudah lama kita tidak berbicara dengan santai."
Alva mendekat kemudian duduk di samping Ava. Tanpa aba-aba, Alva langsung memposisikan dirinya untuk tidur di pangkuan Ava. Dia menatap wajahnya lekat.
"Kakak, kamu semakin cantik."
Ava tersenyum tipis dan membalasnya, "Biasa saja."
"Kakak, kamu semakin kurus."
"Benarkah? Aku memang tidak pernah beristirahat, sih.... Aku memiliki sangat banyak tugas."
"Dari guild?."
"Iya."
"Kenapa aku tidak bisa masuk guild, ya...?"
"Kamu kan anak bangsawan tingkat tinggi."
"Tapi Kakak juga."
"Prinsip keluargaku berbeda, khukhukhu...."
Di sisi lain, Neron sedang mencari Ava. Mereka sudah harus berkumpul untuk turun dari kendaraan itu. Setelah cukup lama, dia baru ingat dengan tempat yang sulit disadari oleh orang lain. Dia langsung menghampiri tempat itu dan menemukan Ava di sana. Dia sedang bercanda dengan Alva.
"Ava! Kita harus berkumpul," ujarnya.
Ava menengok dan melihat Neron. Dia mengatakan beberapa kata kepada Alva, kemudian mereka menghampiri Neron.
"Kalian ini.... Yang lainnya menunggu tapi kalian malah menghabiskan waktu di sini."
"Ahahaha...."
"Yah, tidak apa-apa. Alva, nikmati sana momen ini untuk yang terakhir kalinya," ujar Neron.
"Terakhir kali?," tanya Alva keheranan.
"Setelah melihat proyek ini, aku yakin kita akan dipindahkan ke kelas khusus. Seseorang tidak akan tahu dan lupa tentang keberadaan kita seakan-akan kita memang tidak pernah ada di dunia ini," balas Neron.
"Melihat kalian yang begitu hebat, bagaimana aku harus menemui kakakku ini? Aku hanya punya satu."
__ADS_1
"Siapa yang tahu. Lihat saja nanti."
Mereka segera keluar dari sana dan kembali bergabung dengan rombongan. Mereka pergi ke lantai Krufylts kedua dari atas. Di sana berisi beberapa hewan kontrak dari anggota The Four of the Winds. Mereka bertugas untuk menjaga tempat itu bagaimanapun caranya.
"Apa itu benar-benar merak? Besar sekali!."
"Iya, besar sekali.... Di sini tertulis kalau merak itu adalah hewan sihir Ava."
"Ah, aku pernah melihatnya menggunakan baju dengan desain seperti bulu merak ini. Mungkin dia terinspirasi oleh hewan sihirnya."
"Yah, bisa jadi."
"Kakak, benarkah itu milikmu?," tanya Alva.
"Ya. Dia salah satu yang aku sukai. Di tempat selanjutnya akan ada hewan yang membuatmu lebih terkesan lagi," balas Ava.
Tidak lama kemudian, mereka sampai di tempat selanjutnya. Mereka diperlihatkan Phoenix yang sedang terbang ke sana kemari dengan gerakan yang halus. Warnanya biru transparan. Ada aurora biru yang tertinggal sesaat di bagian yang dia lewati.
Mereka semua terpana. Keindahan di depan mata mereka membuat mereka tak bisa memalingkan pandangannya. Sorot mata mereka terus mengikuti ke mana Phoenix itu terbang.
"Oke, semuanya!," ujar Ava menyadarkan semuanya. "Mari kita lanjutkan perjalanan. Sebentar lagi matahari akan terbenam, dan berikutnya adalah wisata terakhir."
Kini Ava yang maju ke depan dan menjelaskan. Yah, siapa pun yang memimpin jalannya tidak akan merubah apapun. Mereka menyelesaikan wisata itu tidak lama setelah matahari terbenam.
Malam itu, mereka semua menginap di sana. Tidak ada kamar untuk setiap orang, namun ada kasur yang lebih dari cukup untuk mereka semua. Kasur itu awalnya berupa seperti kapsul dengan satu tombol kecil. Kapsul itu akan berubah menjadi kasur jika menekan tombol itu. Teknologi yang sama juga diterapkan pada bantalnya.
"Jadi, apa rencana kalian membangun tempat luar biasa ini?," tanya Mr. Farensco.
"Untuk itu, biar Ava yang menjelaskan," jawab Daniel.
Mr. Farensco mengalihkan pandangannya pada Ava. Tidak lama kemudian, Ava mulai bicara.
"Kepala Akademi. Beberapa tahun terakhir ini, monster-monster langka mulai bermunculan. Hal ini diduga sebagai tanda-tanda Raja Siluman bangkit. Meskipun hal itu belum pasti, tidak ada salahnya jika melakukan persiapan. Dengan adanya tempat ini, setidaknya generasi muda bisa selamat dan membangun kembali kekaisaran ini semisal kemungkinan terburuk terjadi."
"Tempat ini besar dan luas, tersedia semua hal untuk bertahan hidup. Seluruh tempat ini juga sudah dilengkapi pelindung yang sangat kuat, hasil dari kekuatan penuh kami berempat. Kami juga terus memperkuat pelindung ini setiap beberapa bulan sekali. Setidaknya ini bisa membantu semua orang dan membantu perkembangan teknologi akademi. Begitulah harapan kami."
"Baiklah. Saya harap tempat ini bisa berfungsi sesuai dengan harapan kalian. Terima kasih juga karena sudah memberikan fasilitas yang berguna bagi kekaisaran dan juga semua orang," ujar Mr. Farensco.
__ADS_1
"Bukan apa-apa."