
Beberapa hari setelah festival selesai, para murid disibukkan dengan ujian akhir semester yang harus mereka jalani. Mereka juga harus bersiap untuk semester selanjutnya. Katanya sistemnya akan diubah lagi. Jadi, mereka harus siap dengan semua kemungkinan yang akan terjadi.
Setelah ujian akhir semester yang berlangsung selama dua pekan, mereka kemudian menerima catatan nilai mereka dan hari libur selama dua pekan juga. Selama hari libur itu, banyak dari mereka ingin pulang ke rumahnya. Namun sesuai perjanjian, hal itu tidak diizinkan oleh akademi. Akhirnya keluarga mereka lah yang melakukan kunjungan ke akademi dalam kurun waktu tertentu.
Alva sendiri terkejut karena mendapat kunjungan dari keluarganya, Keluarga Xavier. Mereka mengobrol di ruang Kepala Akademi.
"Kamu sudah besar, ya...," ujar seorang pria paruh baya yang duduk bersebelahan dengan istrinya.
"Kamu kah itu, Nak? Sudah lama ibu mencari kamu, Alva."
"Apa maksudnya ini? Apa kalian Ayah dan Ibuku? Tolong jelaskan ini semua."
Kedua pasangan itu saling pandang kemudian mengangguk. Mereka mulai menceritakan kisahnya dari awal.
Dulu, setelah sang istri— Tisshelle— melahirkan bayi kembarnya, dia dalam keadaan lemah dan hampir sekarat. Seluruh kediaman fokus untuk merawat dan menjaganya sampai-sampai penjagaan untuk kedua anaknya melemah. Sampai suatu hari, pengkhianat yang menyamar menjadi pelayan menculik mereka berdua. Dia ditemukan tewas dan kedua anak kembar itu tidak ditemukan jejaknya. Setelah pencarian yang panjang, akhirnya mereka tahu bahwa Alva adalah anak mereka.
"Lalu bagaimana dengan Kakak? Kalian tidak mengakuinya?," tanya Alva.
"Seingat Ayah, kalian berdua harusnya sama-sama lelaki. Tidak mungkin perempuan itu adalah saudaramu," jawab Devon.
"Bagaimana Ayah yakin?."
"Pelayan yang membantu proses persalinannya sudah mengatakan demikian, tidak mungkin dia salah."
"Huh! Bahkan seorang pelayan berkhianat, apa kalian masih bisa percaya dengan pelayan yang lainnya?."
Alva menekan setiap kata-katanya. Dia kesal dengan mereka yang tidak mengakui Ava sebagai kakaknya. Kalau bukan, lalu kenapa Ava masih menjaganya selama ini?
"Kalau begitu, apa kalian bisa membuktikan di mana saudaraku itu? Atau setidaknya buat aku percaya bahwa Ava bukan saudaraku."
"Kami bisa membuktikannya," sahut Tisshelle.
"Kalian pernah diambil sampel darahnya oleh akademi, kan? Kami sudah mengujinya dan itu membuktikan kalau kalian memang bukan saudara. Ini hasil uji cobanya."
Devon memberikannya kepada Alva. Dia ingin anaknya sadar akan kebenaran bahwa Ava bukanlah saudaranya.
__ADS_1
"Selain itu, Ava sudah terbukti sebagai keturunan dari keluarga Meshach van Dominic. Marganya sudah berhasil diubah sejak beberapa hari terakhir. Untungnya tidak banyak yang tahu marga kalian."
Alva meremas kertas di tangannya dan menyerahkannya kembali kepada ibunya. Dia berdecak kesal.
"Ck! Lalu apa yang kalian inginkan?."
"Nak, kami hanya ingin kamu belajar dengan baik di sini. Kami juga berharap bahwa kamu mau untuk melanjutkan pendidikan ke Blood Academy: Empire tanpa mengkhawatirkan apa pun."
"Ya, hanya itu. Setelah itu kamu bebas memilih jalan hidupmu."
"Baiklah. Aku akan menjadi anak yang baik."
Setelah sedikit berbincang-bincang, mereka pun keluar dari sana. Alva kembali ke asramanya dan pergi ke telaga yang tidak jauh dari rumahnya. Dia berenang dan sesekali menenggelamkan dirinya untuk memikirkan semua yang terjadi.
"Apa Kakak benar-benar bukan kakakku? Berarti dia sudah tahu lebih dulu daripada aku? Lagipula, apa ciri-cirinya masuk dalam kategori keluarga Meshach van Dominic? Lebih baik aku mencari informasinya."
Alva segera keluar dari telaga dan memakai bajunya. Dia segera kembali ke rumahnya dan mencari buku tentang keluarga-keluarga besar. Setelah mencari cukup lama, akhirnya dia menemukan buku yang dia inginkan.
"Ternyata di sini juga ada keluarga Xavier," gumamnya.
"Meshach van Dominic. Keluarga legendaris yang kabarnya masih hidup di dunia ini. Salah satu keluarga yang pernah menguasai dunia dengan kebijaksanaan dan kekejamannya. Ciri-cirinya memiliki mata dan rambut putih keperakan setelah memiliki kekuatan. Tidak ada informasi lain? Apa-apaan ini?."
Alva mencoba untuk membalik semua halaman buku itu, berharap akan ada informasi yang lainnya. Namun semua itu sia-sia. Tidak ada informasi lain yang tersisa.
Dia sangat heran. Keluarga Xavier bahkan memiliki catatan sebanyak 5-6 lembar, tapi mereka malah kurang dari satu halaman.
Karena tidak mendapati informasi apa pun, Alva memutuskan untuk menyerah melakukan penyelidikan pada keluarga Ava. Dia akan menjalani kehidupannya seperti biasa.
...----------------...
Dua pekan berlalu dengan cepat. Pembelajaran di akademi kembali dimulai. Saat ini, para guru wali kelas 1A dan 1B sedang berjalan dengan murid mereka yang mengikuti. Mereka menggiring murid-muridnya untuk pergi ke ruang kelas yang lebih besar. Mereka semua dikirim ke satu kelas yang sama.
Setelah mengantar murid-muridnya ke kelas itu, para guru itu pun pergi. Waktu sudah berlalu cukup lama, namun Ava dan Alva belum terlihat batang hidungnya. Bahkan wali kelas baru mereka sudah masuk dari tadi.
"Daniel, apa kau tahu di mana Ava? Dia kelas 1A, kan?," tanya Neron.
__ADS_1
"Tentu saja dia kelas 1A. Tapi aku tidak tahu di mana dia. Coba tanya Adriell. Sekalian ajak dia ke sini," jawab Daniel.
"Oke."
Neron menghampiri Adriell yang duduk di sisi lainnya. Guru hanya menatapnya dan Adriell. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat muridnya belum lengkap.
Daniel mulai menanyakan tentang Ava. Namun Adriell juga tidak tahu. Mereka akhirnya saling berbicara untuk menghilangkan kebosanan mereka.
Waktu sudah berlalu cukup lama. Karena tidak ingin menunda pelajaran lebih lama, Miss Vallen— guru tadi— segera memperkenalkan dirinya.
"Baik, semuanya. Karena kedua murid itu tidak segera datang, maka kita mulai saja pelajaran hari ini tanpa mereka. Sebelumnya, saya akan memperkenalkan diri. Nama saya—"
'Brakk—!'
Belum sempat memperkenalkan diri, suara pintu yang dibuka dengan keras mengalihkan perhatian mereka semua. Ternyata itu Alva dan Ava yang sedari tadi mereka tunggu.
"Maafkan kami yang terlambat, Miss Vallen," ujar mereka berdua dengan sedikit membungkukkan badannya.
"Ya sudah. Kalian segera duduk dan kita mulai pelajarannya."
Mereka segera duduk di bangku yang masih kosong. Alva duduk di bangku yang tadi ditempati oleh Adriell. Ava duduk di bangku belakang Neron.
"Baik, kita mulai pelajarannya. Saya Vallen Gardenia Octavian yang akan menjadi wali kelas baru bagi kalian. Panggil saya Miss Vallen."
"Sebelumnya, saya akan menunjuk siswa yang akan menjadi pengurus kelas ini. Alva sebagai ketua dan Daniel sebagai bendahara. Neron bertanggung jawab atas kebersihan kelas, Ava sebagai sekretaris, Adriell untuk ketertiban. Lima siswa yang saya panggil, silakan berdiri dan perkenalkan diri kalian."
"Saya Alva Dylan Xavier. Saya akan menjalankan tugas yang diberikan kepada saya dengan baik."
"Daniel Alatas Galaxy. Tolong kerjasamanya."
"Ava Deliza Meshach van Dominic."
"Neron Eliseo Razer. Akan saya pastikan piket berjalan dengan baik."
"Adriell de Alneeshon. Saya akan menjalankan tugas saya."
__ADS_1
Setelah itu, mereka kembali duduk dan pelajaran pun dimulai. Akhirnya, semester 2 di Blood Academy dimulai.