
"Yo, Ava!," sapa Adriell. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini?," lanjutnya.
""Sebenarnya aku hanya ingin melihat semburat merah jingga di langit. Tapi," Ava beranjak berdiri kemudian melanjutkan kalimatnya. "Aku malah melihat dua orang yang sangat suka menjadi pusat perhatian. Suasana menjadi gaduh gara-gara mereka."
"Ohh...."
Adriell langsung tahu siapa yang dimaksud oleh Ava. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke langit yang mulai didominasi oleh warna biru abu-abu. Beberapa bintang mulai terlihat dengan jelas dan bulan sabit sudah siap dengan tugasnya malam ini.
Angin yang dingin mulai berembus cukup kuat dari arah selatan. Sudah tak nampak lagi dedaunan di pohonnya. Musim dingin akan segera tiba.
"Ava. Orang-orang sudah mulai masuk, udara juga semakin dingin. Aku dengar dari Daniel kalau kamu belum menghilangkan semua racunnya. Sebaiknya kamu segera masuk dan istirahatlah. Kalau menerima misi, hubungi kami dan kami akan menemanimu. Jangan sembarangan, ya?."
"Iya, iya...."
Setelah itu, Adriell turun dan bergegas entah ke mana. Mata Ava mengikuti ke mana Adriell pergi sampai dia tidak terlihat. Kemudian, Ava menuju asramanya.
...----------------...
Malam semakin larut dan cuaca semakin dingin. Awan mulai semakin tebal hingga menutupi cahaya bulan. Meski begitu, bintang masih jelas terlihat di beberapa bagian awan yang rumpang.
Tak lama kemudian, salju mulai turun. Dia turun dengan cukup lebat. Butiran-butiran kecil itu sedikit demi sedikit mulai menutupi apa pun yang ada di bawahnya.
Seorang gadis tengah berjalan-jalan di tengah hujan salju dengan payungnya. Dia menggunakan mantel berwarna hitam dengan celana pendek hitam dan kaus kaki panjang. Rambut putihnya yang tergerai terlihat lembut dan dingin seperti salju yang sedang turun. Dia berjalan dengan santai, seolah-olah dingin tidak mengganggunya.
Itu adalah Ava yang sedang berjalan-jalan. Dia sedang menuju ke pertemuan yang dihadiri para dewan siswa. Mulai dari kelas satu sampai kelas tiga. Ada juga perwakilan dari setiap kelas yang diambil yaitu satu anak.
Mereka akan membahas banyak hal, terutama tentang sistem yang akhir-akhir ini sering diubah. Banyak juga sistem baru yang akan dilaksanakan. Mereka cukup sibuk dengan banyak hal akhir-akhir ini.
Tempat yang digunakan tidak terlalu istimewa. Hanya seperti rumah kecil berbentuk bundar dengan banyak jendela dan satu pintu lebar. Tidak memiliki ruangan lain kecuali kamar mandi. Jadi, setiap orang yang keluar-masuk akan langsung terlihat.
__ADS_1
Saat sampai di sana, Daniel tiba-tiba muncul entah dari mana. Dia langsung berjongkok dan menggenggam tangan Ava kemudian mencium punggung tangannya. Mereka langsung menjadi pusat perhatian.
"Selamat datang, Lady. Izinkan saya untuk menjadi pasangan Anda malam ini," ujar Daniel.
"Baiklah."
Daniel beranjak berdiri dan mereka menuju meja bundar bersama. Daniel menyiapkan kursi untuk Ava kemudian duduk di sampingnya.
"Kamu mencolok seperti biasanya, ya," ujar Firenze, ketua dewan siswa.
"Di pertemuan pertama datang bersama murid terbaik, di pertemuan kedua datang dengan Kepala Akademi, dan kali ini mengajak calon penerus keluarga Galaxy. Siapa lagi yang akan kamu bawa selanjutnya?," tanya Damian, wakil dewan siswa.
"Entahlah," jawab Ava cuek.
"Ya, pokoknya kita mulai dulu rapatnya," ujar Firenze.
"Pertama, kita akan membahas tentang sistem yang rencananya akan segera dilaksanakan oleh akademi. Itu adalah jadwal pelajaran di mana banyak kegiatan di luar akademi. Yang akan memimpin kegiatan itu adalah kita, yaitu dewan siswa. Sementara itu, guru akan mempersiapkan ujian yang akan diadakan setiap minggunya."
"Ketua, bagaimana dengan lokasi dalam kegiatan itu? Apakah kita yang menentukan, atau sudah ada jadwalnya?," tanya salah seorang anggota.
"Kita yang akan menentukan. Itu akan menjadi nilai plus bagi kita. Yang ditentukan adalah kelas mana yang akan menjadi tanggung jawab kita. Jadwalnya sudah ada di tanganku. Nanti akan kuberikan. Apa ada yang ingin menambahkan?," ujar Firenze.
Ava mengangkat tangannya kemudian berkata, "Aku mendapat beberapa informasi. Untuk dewan siswa yang dapat memenuhi tugasnya dengan baik akan dibebaskan dari ujian setiap satu pekan itu dan akan langsung otomatis naik ke kelas 2 tanpa mengikuti ujian sama sekali. Dewan siswa juga akan mengikuti pembelajaran minimal 2 kali dalam seminggu dan sisanya untuk mencari tempat yang akan dia datangi. Selanjutnya, dewan siswa akan melaporkan kegiatannya kepada wali kelas."
"Panjang sekali tambahannya. Ya, itulah yang pertama. Selanjutnya, kita akan membahas dulu dengan seksama secara menyeluruh, barulah kita akan lanjut membahas yang kedua sekaligus yang terakhir."
Mereka mulai saling bertukar pendapat. Dampak apa yang mungkin terjadi, cara menanganinya, protes pergantian kelas, dan lain sebagainya.
__ADS_1
Rapat berlangsung cukup panjang dan lama. Mereka baru selesai saat tengah malam tiba. Hujan salju juga kembali turun setelah berhenti beberapa saat yang lalu.
Malam itu menjadi malam yang melelahkan bagi yang hadir di sana. Itu karena sebelumnya tak ada rapat yang berlangsung begitu lama. Mungkin itu karena Ava yang berani berpendapat dan membuat yang lainnya ikut mencobanya, sehingga pendapat menjadi lebih bervariasi dan membutuhkan waktu yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.
"Karena malam semakin larut, salju mulai turun kembali, dan pembahasan kita sudah selesai, maka rapat hari ini pun diakhiri."
Setelah Firenze mengatakan hal itu, semua orang segera pergi dari sana. Mereka tidak ingin jalan mereka hilang karena tertimbun salju yang mulai menumpuk. Tidak lama kemudian, Ava dam Daniel mulai beranjak dari tempat duduknya, bersiap untuk pergi.
"Kamu mau ke mana? Aku ingin bicara sesuatu denganmu," ujar Firenze.
".... Daniel, tunggu saja aku di depan. Kalau mau duluan juga boleh."
"Tidak, aku akan menunggu di depan," ucap Daniel kemudian pergi keluar.
"Duduklah di sampingku," pinta Firenze.
Ava menurutinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah ia duduk, Firenze langsung mengalihkan pandangannya pada Ava.
"Bagaimana dengan Alva?," tanya Firenze tiba-tiba.
"Bagaimana apanya?," tanya balik Ava yang mengernyitkan dahinya.
"Kau tahu, kan? Itu lho. Jika dia menjadi kepala keluarga, bukankah itu bagus? Dia bisa menjadi kepala keluarga yang bijaksana," ujar Firenze.
"Terang-terangan sekali, ya.... Aku tidak akan membiarkannya, lho. Meskipun kalian tidak sedarah, keluarga kalian mengizinkan, dan Alva menginginkan posisi itu, setidaknya aku tidak akan menyerahkannya pada wanita sepertimu. Jika tidak ada cara lain, aku yang akan membantunya mendapat posisi itu," ucap Ava tegas.
Ava berdiri dan melanjutkannya kata-katanya.
"Terima kasih sarannya. Jika dia memang menginginkannya, aku yakin dia memiliki caranya sendiri. Tidak perlu khawatir, dia akan menduduki posisi itu suatu hari nanti. Ya?," lanjut Ava dengan senyum dingin yang dia lemparkan.
__ADS_1
Dia segera pergi dari tempat itu dan pulang bersama Daniel.