
Malam semakin larut. Tak ada lagi butiran salju yang turun. Sinar bulan mulai menampakkan keperkasaannya yang menaungi makhluk di bawahnya.
Ava baru saja sampai di asramanya. Tadi dia diantar oleh Daniel yang memaksanya karena kondisinya belum sehat. Mereka juga berencana pergi besok untuk mencari orang yang bisa mengobati racunnya.
...----------------...
Keesokan harinya, Alva dan teman-temannya sedang jalan-jalan di pasar akademi. Mereka berniat menghabiskan hari libur mereka untuk bersenang-senang bersama. Di sana ada Alva, Varrel, Verrel, dan Velize.
Mereka memulainya dengan pergi ke area wahana. Di sana, Velize langsung menuju stan penjual permen kapas, membuat yang lainnya harus mengikutinya.
"Velize, kalau mau ke mana-mana bilang dulu. Nanti kita tersesat dan terpencar 'gimana? Kita baru pertama kali ke sini, lho," ujar Alva.
Saat Alva sedang sibuk menceramahi Velize, Varrel dan Verrel pergi ke stan lainnya. Mereka membeli sesuatu kemudian kembali dengan cepat.
"Kalian dari mana saja? Kenapa cepat sekali?."
"Ini."
"Kami membeli peta area pasar ini karena katanya banyak yang tersesat dan terlalu meremehkannya," ujar Verrel.
"Oh, peta ini juga bisa digunakan dengan sihir untuk lebih memudahkan kita," sahut Varrel.
Alva dan Verrel saling pandang. Ada tanda tanya besar di dalam kepala mereka. Tidak biasanya Varrel bersikap santai, tidak riuh seperti biasanya. Mereka menjauh dari Varrel dan mulai saling berbisik.
"Verrel, apa yang terjadi?," tanya Alva.
"Sejak lusa sore, Varrel tidur terus dan baru bangun jam 12 malam. Setelah itu dia menjadi seperti itu. Jam tidurnya juga menjadi cukup banyak, sekitar 12 jam sampai saat ini. Tidak tahu bagaimana jika hari libur telah berakhir. Apa kamu bisa melakukan sesuatu? Aku khawatir padanya...," jelas Verrel.
__ADS_1
"Apa kamu sudah bertanya langsung padanya?," tanya Alva yang dibalas dengan gelengan Verrel.
"Aku akan bertanya padanya dulu."
Alva menghampiri Varrel kemudian bertanya dan bicara banyak hal. Varrel berbicara dengan tenang, begitu juga dengan Alva. Setelah cukup lama berbicara, Alva kembali menghampiri Verrel dengan diikuti oleh Varrel di belakangnya.
"Jadi, apa yang terjadi?," tanya Verrel khawatir.
"Varrel bilang dia baik-baik saja. Dia hanya bermimpi tentang suatu hal kemudian dia sadar bahwa dia harus semakin dewasa. Setelah dia coba, ternyata ada yang terjadi dan membuatnya kehilangan senyumnya. Tapi intinya, dia baik-baik saja," jelas Alva.
"Kakak, tenanglah. Aku benar-benar baik-baik saja. Aku akan kembali seperti biasanya agar kamu tidak khawatir," ujar Varrel.
Verrel mengembangkan senyumnya. Dia berjalan ke arah Varrel dan membisikkan sesuatu padanya.
"Kalau ada sesuatu, cerita padaku. Aku akan selalu ada untukmu."
Tak lama kemudian, mereka menemukan sebuah tempat kecil dengan tulisan 'Ahli Racun' di pintunya. Mereka langsung masuk tanpa ragu sedikitpun.
Di dalamnya ada barang dan cairan aneh. Ada juga seorang nenek-nenek yang berjaga di ujung ruangan.
"Oh.... Dua anak muda. Apa yang kalian cari?."
"Nenek, bisa tolong periksa tubuhku? Saya terkena suatu racun saat menjalankan misi."
"Baiklah, duduklah dulu."
Setelah Ava duduk, nenek itu langsung memegang pergelangan tangannya. Setelah beberapa saat, nenek itu melepaskannya dan meminta izin untuk mengambil sampel darah Ava.
__ADS_1
Setelah mendapat persetujuan, Ava memberikan beberapa tetes darahnya untuk di tes. Namun tesnya sangat cepat yang membuat Ava cukup keheranan.
"Cepat sekali pengetesannya. Aku pikir akan memakan waktu cukup lama," batin Ava yang cukup heran.
"Hmm.... Gadis ini terkena racun yang hanya sedikit orang yang tahu. Tapi tenang saja. Penawarannya sangat mudah ditemukan. Aku juga memiliki beberapa. Apa kalian mau beli?."
"Tentu saja!," sahut Daniel.
"Tapi...."
"Kenapa, Nek?," tanya Ava cemas.
"Hah.... Kau ini anak keluarga bangsawan, ya? Darahmu tidak berwarna merah jika dilihat lebih dekat, apalagi jika menggunakan sihir. Warnanya oranye dengan kilau biru. Sungguh bukan warna yang biasa."
"Ya. Namaku Ava. Ava Deliza Meshach van Dominic."
"...?! Kalau begitu ambil kembali sampel darahmu. Maaf membuatmu menunggu. Ini penawar racunnya. Sebenarnya dengan darah itu, kamu bisa menetralisir racun itu secara alami. Namun penawar itu bisa digunakan untuk menambah daya tahan tubuh terhadap racun lainnya. Itu gratis."
"Oh, terima kasih. Kalau begitu kami pergi dulu."
Mereka berdua pun pergi ke luar. Mereka pergi ke jalan yang tadi mereka lalui. Ada makanan yang ingin mereka beli tadi.
Ava meminum penawarnya sambil berjalan. Ekspresinya terlihat tidak meyakinkan. Sepertinya rasanya tidak enak.
"Rasanya agak mirip seperti Vodka, ya...."
"Heh? Jangan-jangan itu bukan penawarnya?."
__ADS_1
"Mana mungkin."