Blood Academy

Blood Academy
Keluarga Kecil


__ADS_3

Ava tengah berada di dalam kamarnya. Sedang berdandan dengan pakaian cantik yang sudah membalut tubuhnya.




Rambutnya sudah terikat dengan indah di kepalanya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata.


Hari ini dia akan kembali ke rumahnya, rumah yang dihuni keluarganya.


Tadi dia sudah menerima surat izin dan memberikannya pada wali kelasnya. Dia juga masih punya dua lainnya untuk diberikan kepada penjaga gerbang dan untuk konfirmasi dirinya saat kembali nanti. Prosesnya sangat rumit.


Sebenarnya, niat awalnya adalah dia akan langsung pergi saja tanpa izin. Kalau dia minta izin, pasti akan bisa libur yang pastinya lebih lama daripada bolos. Itu yang membuatnya tidak jadi melancarkan aksinya.


Nah, akhirnya dia bangkit dari duduknya.


Dia segera keluar dari asramanya dan memanggil hewan peliharaannya satu per satu. Mulai dari Phoenix, Rubah, sampai Rag, semua dia panggil. Ava membutuhkan kekuatan mereka semua untuk membantunya menekan semua orang yang mereka lewati.


Itu semacam 'tanda' kalau anggota Meshach van Dominic sedang berada di sekitar mereka.


Sebelum pergi, Ava menyuruh rubahnya untuk mengantarkan satu surat izin ke penjaga gerbang. Perintah itu langsung dilaksanakan dan dia kembali dengan cepat.


"Rubah kecil, apa kamu benar-benar sudah memberikannya langsung pada mereka? Jika tidak nanti aku bakal repot, loh~"


"Tentu saja, Master. Saya menembus bayangan dan muncul di depan mereka, saya yakin mereka mengetahuinya."


"Baiklah.... Ayo berangkat."

__ADS_1


Ava naik ke punggung Phoenix dan mereka semua pun berangkat. Setiap orang dalam radius 2km hanya bisa menundukkan kepalanya tanpa bisa bicara sepatah kata pun. Termasuk orang-orang hebat yang juga tak berkutik.


"Dia sudah berangkat, ya...," gumam Mr. Farensco dalam hatinya.


Hal itu terus terulang sampai Ava tiba di tempat yang dicap sebagai tempat terkutuk. Kata itu memang pantas untuk mendeskripsikannya, melihat hanya ada gurun luas berwarna hitam yang sangat gelap.


Atau setidaknya, itulah yang orang-orang lihat.


Berbeda dengan apa yang mata Ava tangkap. Hanya ada tempat indah yang dia lihat.


Padang rumput dengan bunga-bunga liar yang bermekaran dengan indahnya. Ribuan lebah kecil yang menyibukkan diri pada bunganya masing-masing. Hangatnya matahari yang membuat mereka bersinar bak berlian. Tempat itu sangat indah.


Jika maju sedikit, kamu akan menemukan hal menakjubkan lainnya. Ada sungai yang berisi popcorn bermacam-macam rasa. Di sampingnya ada air terjun sirup dingin yang di sebelahnya ada kios mini berisi lemon yang sudah teriris rapi, disiapkan untuk menemani sirup itu.


Setelah turun sepenuhnya, Ava langsung menyapa seorang pria tampan yang sibuk memainkan kekuatannya.



"Oh, putriku sudah datang...."


Ava berlari kecil ke arah pria itu untuk bergegas memeluknya. Mereka melepas rindu yang tak tersampaikan sekian lamanya.


"Hahaha.... Putriku sudah besar.... Berapa usiamu tahun ini, hm?."


"16 nanti di musim dingin. Ayah, di mana Kakek?."


"Ada di dalam. Masuklah dulu, dia sudah tidak sabar sejak kemarin lusa...."

__ADS_1


"Hehe, kalau begitu aku akan segera menemuinya!."


Ava berlari menuju rumah yang tak jauh dari sana. Hanya sebuah kediaman bernuansa China tradisional yang terbuat dari kayu.


Dia membuka pintunya—dengan sedikit membantingnya—dan terlihatlah seorang pria berusia ratusan tahun. Namun tak satu pun dari tubuhnya yang menyiratkan fakta itu.



"Kakek~! Maaf membuatmu menunggu. Cucumu ini sudah sampai...."


Saat hendak memeluk kakeknya, Ava membuat kakinya keseleo karena berjalan terlalu cepat. Padahal dia tidak memakai alas kaki, bisa-bisanya hal itu terjadi.


Itu membuat sang Kakek dengan sigap menjauhkan tangan kirinya dan menangkap cucunya agar tidak jatuh begitu saja. Kemudian dia meletakkan cangklong yang ia pegang guna membantu sang cucu untuk duduk di pangkuannya.


"Hm, ini dia ratu kecilku.... Lain kali lebih berhati-hati, kamu masih ingat bagaimana leluhurmu itu tiada, kan?."


"Iya.... Mereka terkena serangan jantung karena beberapa penerus mereka tiada di medan perang...."


"Itu tahu.... Dulu keluarga hanya tersisa aku dan ayahmu, sulit untuk mencari seseorang yang bisa melahirkan anak dengan tingkat kemurnian tinggi. Apalagi orang itu hanya bisa bertahan satu kali kemudian tiada.Kami bingung tentang apa yang harus dilakukan."


"Saat Ayahmu mulai remaja, dia menemukan metode unik, yaitu 'Sinar Bulan'. Metode itu bisa memberimu anak tanpa harus berhubungan dengan orang lain. Namun prosesnya terbilang lama. Butuh minimal 5 tahun untuk menunggumu lahir. Jadi hargailah hidupmu!."


"Baik, baik. Kakek yang paling perhatian padaku~"


"Ayah tidak ingin mengganggu kalian, tapi ayo kita bicarakan masalah yang terjadi."


"Baik, Ayah~"

__ADS_1


Ava duduk di lantai, sedangkan ayahnya—Adrastos—dan kakeknya—Aeolus—duduk di kursi di depannya.


Mereka pun mulai membahas masalah yang mereka hadapi.


__ADS_2