
Di Blood Academy....
Ava dan Ax berbicara selama perjalanan mengenai banyak hal. Ava juga tanpa ragu menanyakan informasi tentang akademi yang mungkin berguna untuknya dan Alva di masa depan.
Setelah melewati gerbang yang besar, akhirnya mereka bisa benar-benar masuk ke akademi.
"Alva, bangun. Kita sudah sampai."
"Emmh.... Huaahh...," Alva menguap. Dia segera bangun dari pangkuan kakaknya dan turun dari kereta.
"Blood Academy, ya.... Benar-benar akademi yang bergengsi. Setiap sisi dan sudut akademi seakan tak bercela sedikitpun. Kuharap sistem belajarnya juga sebaik penampilan luarnya," gumam Alva dalam hati.
Ax langsung mengantarkan mereka ke depan aula.
"Tuan Alva, Lady Ava. Kepala Akademi akan langsung menyatakan sambutan. Oh iya. Tuan Alva dipilih untuk menjadi perwakilan siswa."
"Hah?! Kenapa tiba-tiba?."
"Untuk Tuan Alva bisa langsung pergi ke belakang aula. Lady, ini kunci asramanya. Saya akan pergi untuk menyiapkan dan membereskan asrama."
"Oke."
"Ax! Arghh...."
Alva terlihat frustasi. Mungkin dia memang murid terbaik. Namun, dia mudah frustasi saat dia mendapatkan tugas mendadak saat baru bangun tidur.
"Kakak.... Bagaimana ini...?"
"Tenang saja, tidak perlu panik. Ingat kataku ini, jalani aja. Kalau panik, lihat wajahku. Pilihan terakhirnya kamu boleh mengajakku untuk ikut di sampingmu. Oke?."
".... Oke."
Mereka pun berpisah. Alva masuk melalui pintu belakang untuk konfirmasi dengan tim acara. Pas sekali. Saat dia sampai, sudah hampir gilirannya untuk maju.
"Berikutnya, sambutan dari perwakilan siswa angkatan tahun ini, Alva! Yang dipanggil silakan menuju ke sumber suara."
Dengan percaya diri, Alva naik ke panggung dengan ekspresi dinginnya.
Dia mulai menyampaikan pidato dadakan tanpa rancangannya. Alva menyatakan rasa syukur, terima kasih, sambutan, argumen, isu, dan lain sebagainya. Pidatonya memang cukup panjang, namun tak satu pun siswa terlihat mengeluh.
Para siswa dan guru merasa nyaman mendengarkan pidato panjang nan lebar itu. Entah mengapa, seperti ada rasa puas yang ada di hati dan pikiran semua orang yang mendengarnya.
Berbeda dengan pikiran semua orang, Alva hanya ingin segera menyelesaikannya dan kembali ke sisi kakaknya.
"Aku tidak peduli seperti apa pun pidato yang aku keluarkan secara dadakan ini. Aku hanya ingin segera kembali ke sisi Kakak."
Setelah cukup lama, Alva akhirnya menutup pidatonya. Dia langsung turun, namun tidak ke belakang. Dia melompat dari panggung dan langsung menghampiri kakaknya kemudian duduk di sebelahnya.
Banyak pasang mata yang menatap Ava dengan tatapan tajam. Meski begitu, Ava tetap tersenyum dan membuat Alva seolah-olah tidak menyadari tatapan tajam itu.
Tatapan tajam itu bukan hanya berasal dari para murid, tapi dari para guru juga.
"Siapa perempuan ini? Kenapa Tuan Alva malah begitu dekat dengannya?," batin Mr. Farensco.
"Hah?! Apa-apaan ini? Dia memiliki rambut putih khas Xavier. Tapi matanya pink keunguan, bukan pink kemerahan yang juga khas Xavier."
"Sudah kuduga. Apa mereka tidak senang denganku? Tidak apa-apa, sih. Selama mereka tidak melakukannya kepada Alva itu sudah cukup bagiku," ujar Ava dalam hati.
Alva terus mengobrol dengan Ava tanpa menyadari tatapan tajam yang diarahkan kepada kakaknya. Sampai kemudian, Ava memberi tahu Alva untuk diam sejenak guna mendengarkan apa yang disampaikan Mr. Farensco.
"Untuk baju dan barang-barang lainnya yang kalian bawa dari luar akademi akan dibakar! Ingat itu! Kalian sudah diberikan formulir untuk mengisi kebutuhan kalian selama disini. Bagi yang tidak mengisi, itu salah kalian! Kualitas asrama juga bisa diminta kalian sesuka hati. Dari hasil survei saya dan para guru, ada empat anak yang tidak mengisi, dan hanya tujuh saja yang menulis permintaan secara lengkap."
"Kegiatan akademi akan dimulai besok. Kalian akan diberikan sistem yang akan mencatat aktivitas kalian dan dampaknya. Sistem ini berupa kartu dan yang akan memberikan kalian kesempatan untuk bisa melanjutkan ke Blood Academy: Empire. Untuk bisa masuk ke sini, kalian harus memiliki relasi dengan bangsawan tingkat tinggi. Penjelasan lebih lanjut akan kalian ketahui seiring berjalannya pembelajaran di akademi ini."
"Untuk jadwal, sudah dikirimkan ke sistem masing-masing. Sekian. Silakan kembali ke asrama."
__ADS_1
Mr. Farensco segera kembali ke ruangannya. Sementara itu, di luar aula sudah ada pengawas yang menunggu dua murid yang menjadi tanggung jawabnya. Ax juga sudah siap di sana.
"Mari, saya antarkan ke asrama."
Mereka mulai berjalan melewati lorong-lorong akademi yang terlihat begitu megah dan kokoh. Ax juga memperkenalkan ruangan-ruangan yang mereka lewati dan juga fungsinya. Selain bangunan utama yang mirip istana, ada beberapa bagian lain yang merupakan fasilitas murid dan fasilitas pembelajaran.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai di asrama mereka. Meski begitu, itu lebih indah dari yang dibayangkan.
"Ini dia tempatnya. Tuan Alva, ini System Card Anda. Kamar Anda akan terlihat setelah menyusuri jalan setapak ini."
"Oke. Ayo, Kak."
Alva menggenggam tangan Ava dan menariknya untuk ikut masuk bersamanya. Ada yang aneh. Ava tidak bergerak sedikitpun dari tempatnya. Dia seolah-olah tidak bisa melewati batas yang tak terlihat.
"Kakak?"
"Maaf, Tuan. Pihak akademi tidak mengizinkan siswa untuk berada di satu asrama. Kami juga akan memisahkan kalian untuk beberapa waktu ke depan untuk mencegah sesuatu terjadi. Kami permisi."
Ava melepaskan genggaman tangan adiknya. Dia memangkas jarak di antara mereka, menangkup wajah Alva dengan kedua tangannya, dan menyatukan dahi mereka.
"Alva, belajar saja dengan baik. Kita pasti akan bertemu suatu hari nanti. Oke?"
Alva tak mampu mengatakan apa pun. Lidahnya terasa kelu. Dia tak bisa membendung air matanya. Melihat kakaknya mulai menjauh, dia hanya bisa terisak, menangis, dan terduduk. Dia mulai menengadahkan wajahnya, menatap langit senja, dan mulai berteriak.
"Sial! Kalau tahu begini, aku tak akan mendaftar di sini! Kenapa kami harus dipisahkan?! Dia kakakku! Dia menjagaku dengan keringatnya, dengan lelahnya, dengan jiwanya, dengan sepenuh hatinya! Haruskah dipisahkan dengan begitu kejam?!"
Alva menghapus air matanya dan mulai berdiri. "Lihat saja. Aku akan menjadi murid terbaik di sini dan segera bertemu dengan Kakak."
Dia mulai menaiki tangga itu, satu demi satu. Di ujung tangga itu, ada jalan setapak yang sangat indah. Pohon-pohon rindang berada di sepanjang jalan. Cahaya lampion dan kunang-kunang mengiringi, membantunya di hari yang mulai gelap.
Tak lama kemudian, dia menemukan rumah kayu indah dengan kaca yang besar-besar. Dia mulai memasuki rumah itu dan mendapati ruang tamu yang begitu indah.
Kini, sampailah ia di tempat yang dia cari. Kamar yang akan menjadi tempat istirahatnya setelah lelah menjalani aktivitas.
"Ternyata di sini masih banyak buku, ya...."
Dia melihat ke luar jendela. Terlihat kunang-kunang yang sedang berkeliaran di hutan yang gelap bagaikan bintang di langit malam.
"Tempat yang indah. Apa Kakak yang menulisnya? Hahaha...."
Meskipun mulutnya tertawa, namun matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam, sedalam samudra.
Alva menghempaskan dirinya di sofa, mengambil acak buku di atasnya kemudian membacanya.
Di sisi lain....
Ax sedang mengantarkan Ava ke asramanya. Meski hari sudah mulai gelap, mereka belum juga sampai.
"Apa memang begitu jauh?"
"Maafkan kami, Lady. Tetapi setelah melihat kedekatan Anda berdua, kami dari pihak sekolah memang harus memisahkan Anda berdua. Kalau tidak, Anda akan menjadi kelemahan Tuan Alva."
"Berapa lama kami harus berpisah?"
"Untuk itu, saya juga kurang tahu. Yang pasti, dalam waktu yang tidak sebentar."
"Ngomong-ngomong, asrama Lady ini sangat jarang ada yang tahu keberadaannya. Bahkan tempat itu dikeramatkan oleh yang tahu. Jadi, tempat itu sangat damai tanpa gangguan seperti yang dideskripsikan oleh Lady. Bagaimana?," ujar Ax menanyakan pendapat.
"Ya, sangat bagus. Aku harap tempat itu melebihi ekspektasi yang ada di pikiranku. Tapi tetap saja, aku tidak menyangka akan dipisahkan dengan adikku tercinta. Peraturan yang kejam, ya...."
__ADS_1
Ax hanya tertawa renyah menanggapinya. Dia tidak menyangka bahwa Ava yang terlihat lemah lembut itu memiliki hati yang begitu lapang dan sifat yang bijaksana.
"Saya akan sering-sering mengunjungi Anda untuk menjadi teman."
"Lakukan saja. Sepertinya juga aku akan kesepian. Kalau begitu, anggap saja aku temanmu, jangan terlalu formal."
"Hahaha, oke oke. Oh ya, katanya telaga di sana ada seekor naga yang besar, indah, dan kuat. Aku sangat menyarankannya untuk dijadikan peliharaanmu."
"Boleh dicoba. Tunggu saja aku menjadi kuat."
"Lady Ava benar-benar membuatku kagum. Hahahaha...."
Akhirnya, setelah berjalan begitu lama, mereka sampai.
"Nah, itu dia. Kalau tidak salah, pusat asramanya ada di puncak itu dan jaraknya cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan. Jadi, maukah kamu berlatih untuk terbang dulu?."
"Sekarang? Mendadak sekali.... Baiklah, tapi aku punya syarat. Setelah aku selesai mempelajarinya, kamu harus menemani aku untuk berkeliling dan menyusuri ada ruangan apa saja di sana. Setuju?."
"Baiklah."
Ava pun belajar dengan sungguh-sungguh. Ax mengajarinya sihir dari dasarnya. Dia mengajari bagaimana cara mengontrolnya dengan sangat baik. Ava yang cerdik pun cepat paham dan langsung mahir setelah beberapa kali uji coba.
Mereka kemudian menuju ke puncak terdekat yang terlihat seperti ada jalan di sana. Di sana, mereka melihat bahwa batu bisa melayang dan menjadi pijakan yang kokoh. Gravitasi di sana juga berbeda dengan tempat lainnya.
Melihat lubang yang mirip dengan pintu, mereka pun memasukinya. Apa yang mereka lihat membuat mereka terkejut.
"Ax, inikah telaga yang dimaksud?"
"Mungkin.... Harusnya iya! Tempat ini dikeramatkan, sungguh sia-sia."
Mereka tak lagi mempedulikan hal itu. Ava sudah lelah dan ingin segera mencari kamarnya.
Akhirnya mereka sampai di tujuan. Terlihat rumah dengan nuansa biru yang begitu lekat.
"Wow...."
Mereka hanya bisa takjub sepanjang perjalanan ini. Hanya warna biru, abu-abu, ungu, hitam, dan putih yang selama ini mendominasi di mata mereka.
"Ruang tamu dan kamar yang begitu mempesona. Penuh dengan gradasi warna biru, putih, dan ungu," ujar Ax terkagum-kagum.
"Ya, begitulah. Terima kasih karena menemaniku berkeliling, Ax."
"Tidak masalah. Aku juga senang karena melihat pemandangan yang begitu indah ini. Oh ya, ini System Card mu."
Ava menerimanya dan langsung meneliti cara penggunaannya.
"Aku harus segera pergi, karena asrama setiap murid akan dikunci otomatis untuk umum. Sampai jumpa!."
Ax langsung terbang dengan begitu cepat menuju ke pintu keluar. Ava cukup kaget dengan Ax yang tiba-tiba terbang dengan begitu cepat.
"Berarti selanjutnya kami akan bertemu di luar asrama. Terserahlah. Hmmm.... Aku bisa bertemu Alva lima bulan lagi, ya? Apakah aku masih menjadi 'kakak' yang dia kenal?"
Dia melihat bahwa jadwalnya dan Alva akan sama mulai dari lima bulan kemudian. Tapi, bisakah dia mempertahankan jati dirinya selama itu?
__ADS_1
Ava tahu bahwa kehidupan di akademi tidak akan mudah. Dia khawatir kalau dia tidak lagi menjadi 'Ava'.
Alva dan Ava memutuskan untuk tidur dan melupakan semuanya. Berharap bahwa semua akan baik-baik saja.