Blood Academy

Blood Academy
Bertemu


__ADS_3

Keesokan harinya....


Alva terbangun dari tidurnya. Dia melihat ponselnya yang menunjukkan jam 5 pagi. Alva bersiap dengan seragamnya dan bergegas menuju ke kelasnya.


Dalam perjalanan, Alva bertemu dengan berbagai hewan yang ada di dekat asramanya. Alva menuruni tangga dengan diikuti beberapa jenis burung.


Alva heran sekaligus takjub akan apa yang ada di dalam asramanya. Dia berniat untuk menelusuri asramanya dengan benar. Siapa tahu dia menemukan fasilitas luar biasa lainnya.


Saat sampai di kelasnya,— kelas 1A— dia mendengar berbagai obrolan anak-anak di kelas. Alva segera mencari bangku yang kosong kemudian pura-pura tidur.


"Katanya, pelajaran pertama kita adalah olahraga, lho...."


"Eh.... Kalau begitu, ayo kita ke ruang ganti. Bakalan gawat kalau kita telat dan guru kita adalah guru yang galak."


"Ya, sebaiknya begitu."


Sedang asyik mendengarkan pembicaraan para murid, Alva dikejutkan dengan sepasang laki-laki yang menyapanya. Sepertinya mereka kembar.


"Halo! Namaku Varrel dan dia Verrel. Boleh kita berteman?."



"Hm? Tentu saja. Namaku Alva," balas Alva. "Apa kalian kembar?," lanjutnya.


"Hehe, begitulah."


"Apa asrama kalian dipisah?."


"Ya! Tempatnya juga cukup jauh," jawab Varrel.


"Kita senasib. Bedanya, kalian lebih beruntung daripada aku."


"Kenapa?," tanya Verrel.


"Aku juga memiliki saudara kembar, dia perempuan. Sayangnya, jadwal kami tidak sama, jadi mungkin akan butuh waktu lama untuk kembali bertemu."


"Oh.... Cewek yang waktu itu kamu ajak bicara, ya? Kalian memang mirip dari segi wajah dan postur tubuh. Seperti apa wajahnya? Boleh aku lihat?," ujar Verrel.


"Tentu."


"Woah..., dia cantik dan manis! Aku tahu kekhawatiranmu. Dengan wajahnya ini, bisa saja teman sekelasnya naksir sama dia," sahut Varrel.


"Varrel! Kamu nggak boleh kayak gitu. Alva, sebaiknya kita siap-siap untuk olahraga. Tentang saudaramu itu, aku yakin dia baik-baik saja. Ayo."


"Hm."


Setelah mereka ganti baju, mereka langsung pergi ke lapangan. Di sana, juga ada beberapa kelas lain yang juga memiliki jam olahraga saat itu.

__ADS_1


Hari ini, mereka harus lari dengan jarak 7 km dan diberi waktu sampai jam pelajaran olahraga berakhir. Sebelum berlari, mereka dibimbing untuk melakukan pemanasan supaya tidak kram dan kaku nanti.


Guru mulai meniupkan peluit, menandakan bahwa murid harus segera berlari. Para murid terlihat tidak kesulitan sama sekali. Mereka berlari dengan santai tanpa ada hambatan apa pun.


Di sisi lain....


Ax sedang melihat Alva yang sedang berlari dari salah satu gedung. Tiba-tiba seseorang menghampirinya.


"Sedang mengawasi Alva?."


"Tentu saja, itu tugasku. Kenapa kamu di sini, Ava?."


"Sebentar lagi aku juga ada pelajaran olahraga. Jadi aku sedang menuju ke lapangan. Sampai jumpa, Ax."


"Ya, sampai jumpa."


Ava kemudian langsung turun dan menghampiri teman-temannya.


Sebenarnya, Ava juga kelas 1A, namun setiap kelas juga dibagi menjadi beberapa kelompok. Kelompok itu akan memiliki kegunaannya sendiri untuk masa yang akan datang. Setiap kelompok sudah diseimbangkan kemampuannya, jadi tidak ada yang lebih kuat atau lebih lemah pada awalnya.


Di sisi lain, Alva yang baru saja selesai berlari melihat Ava dengan rambut putih panjangnya yang diikat. Alva berniat untuk menghampirinya, namun Varrel sudah lebih dulu memanggilnya.


"Alva! Mr. Gyofano memanggil kita untuk kembali."


"Hum, oke."


Di salah satu gedung dekat lapangan, Mr. Gyofano sedang menjelaskan tentang mapel selanjutnya, yaitu seni berpedang. Mereka dibawa ke suatu tempat yang menakjubkan.



Memang terlihat sempit dari atas, namun sebenarnya memiliki lebar yang sangat luar biasa— sekitar empat panjang lapangan bola.


"Di sinilah kita akan berlatih. Jalan yang cenderung berbentuk lingkaran ini dinamakan Phyone. Menara atau puncak di tengahnya di sebut Phruma. Untuk hari pertama, kalian akan saya panggil secara acak untuk mengetahui jiwa petarung kalian. Cara mengetahuinya adalah dengan pergi ke Phyone yang memiliki dua Phruma itu."


"Setiap orang memiliki jiwa petarung yang berbeda-beda. Tidak akan ada yang tahu potensinya sebelum adanya pelatihan. Baik, untuk yang pertama, Alva. Kamu maju lebih dulu."


"Yes, Mr."


Alva langsung berjalan ke sana. Dia sudah sampai di sela-sela Phruma. Alva bingung, apa yang harus dia lakukan sekarang? Mr. Gyofano belum menjelaskan apa pun.


"Mr. Gyofano! Bagaimana caranya? Anda belum memberitahukannya!," teriak Alva dari sana.


"Lompat saja setinggi mungkin dan sentuh cahaya biru yang lebar itu!," balas Mr. Gyofano.


Di sisi lain, Alva agak heran. "Setinggi itu? Bagaimana jika ada yang tidak berhasil? Titik terendahnya saja setinggi gedung sepuluh lantai. Baiklah, aku akan mencobanya sebaik mungkin."


Alva mencoba untuk memfokuskan tenaganya pada kedua kakinya. Hal ini lebih sulit daripada mengalirkan energi sihir yang begitu kentara.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, Alva mulai bersiap-siap. Ia mundur tiga langkah kemudian memposisikan kaki kanannya di belakang. Alva menghela nafas beberapa kali kemudian berlari kecil dan melompat.


'Wussshhhh!!!'


Bagaikan roket yang lepas landas, lompatannya begitu tinggi dan cepat.


'Plak!'


Alva menepuk cahaya biru itu di bagian yang sangat tinggi. Mungkin sekitar lebih dari ¾-nya. Sebelum kakinya kembali berpijak, cahaya biru itu mengeluarkan berbagai macam cahaya dan warnanya yang mengelilingi tubuh Alva. Cahaya-cahaya itu terus melingkari tubuhnya sampai dia kembali berpijak dan kemudian masuk ke punggung tangan kanan Alva.


Setelah Alva turun, dia langsung melihat punggung tangannya, tempat cahaya-cahaya itu masuk ke tubuhnya. Saat itulah Alva melihat semacam tato bergambar seorang pria dengan pakaian orang China zaman dahulu. Mulut dan hidungnya ditutupi kain hitam dan ada caping yang menghiasi kepalanya. Tangan kirinya menggenggam pedang dan tangan kanannya memegang daun yang mengambang.


Dari kejauhan, terlihat Mr. Gyofano yang sedang menjelaskan apa yang terjadi tepat setelah Alva kembali ke sana.


"Nah, itulah yang akan kalian lakukan. Lompat lah sampai menyentuh cahaya biru itu. Setelah itu, kalian akan mendapatkan tato yang bisa muncul dan hilang sesuka hati kalian. Alva, coba tunjukkan."


Alva mendekat dan menunjukkan tangan kanannya.


"Nah, seperti ini."


"Mari lanjut ke siswa selanjutnya. Varrel."


"Mr. Gyofano, apa maksud dari tato saya?," tanya Alva.


"Coba saya lihat sekali lagi. Hmmm.... Sepertinya kamu petarung jarak dekat dengan pedang. Tipe serangan kamu lincah. Daun ini, kamu juga memiliki kemampuan untuk menyembuhkan. Kira-kira begitu. Jika ingin tahu lebih lanjut, kamu bisa pelajari sendiri karena itu kekuatan kamu."


"Baik, terima kasih, Mr."


"Bukan apa-apa. Memang tugas saya untuk membimbing murid."


Pada pembelajaran awal, Alva sudah memiliki kekuatan yang dapat diandalkannya dalam menggapai dunia. Hanya perlu pelatihan yang tepat untuk dikembangkan menjadi hal yang luar biasa.


Hal itu juga terjadi pada Ava. Saat ini, dia sedang proses untuk mendapatkan roh pelindungnya.


Roh pelindung merupakan hal yang sangat penting. Mereka biasanya berupa makhluk hidup seperti hewan, manusia, dan tumbuhan. Setiap murid wajib memilikinya sejak awal pembelajaran karena sulitnya untuk mengendalikan roh dengan baik. Jika tidak dikendalikan dengan baik, bisa saja mereka lepas kendali dan itu bisa sangat gawat jika roh itu kuat.


Roh juga dapat merubah penampilan fisik dan kepribadian tuannya. Saat ini, kelas Ava sedang mengadakan pemanggilan roh pelindung. Tak ada satupun yang mengecewakan. Ava sendiri mendapatkan roh pelindung berupa seorang wanita iblis yang menjadi ratu siluman. Velize— temannya— mendapatkan roh berupa pedang besar yang lebar.


"Bagus sekali. Kalian adalah anak yang sangat luar biasa!," seru Miss Nelshon— wali kelas mereka.


"Baiklah, kita akan pergi ke tempat Mr. Gyofano. Mata pelajaran selanjutnya adalah mencari kemampuan kalian dengan 'mengambil' tato kalian."


"Baik."


Mereka kemudian menuju ke Phyone. Di sana, mereka menyaksikan beberapa murid terakhir yang sedang diuji sambil memahami caranya.


Alva yang menyadari keberadaan kakaknya pun segera menghampirinya.

__ADS_1


"Kakak!," panggilnya.


__ADS_2