
".... Va! .... Va...! Ava...!"
Ava yang sedang tidur terbangun. Dia mendengar suara seseorang yang memanggilnya.
"Daniel?," tanya Ava heran. "Untuk apa kamu di sini?."
"Mr. Farensco bilang kamu terluka, jadi aku ikut dokter itu ke sini. Bagaimana keadaanmu? Bagian mana yang terluka?."
Seorang wanita yang sepertinya adalah dokter mulai mendekat. Dia kemudian berjongkok dan berkata, "Lukanya di mana? Akan saya sembuhkan."
Ava memperlihatkan perutnya yang dia jahit sendiri.
"Tolong segera tangani. Senjatanya mengandung racun dan lukanya cukup dalam. Aku menjahitnya karena darahnya tidak berhenti mengalir."
"Baik!."
Dokter itu segera memulai pengobatannya. Dia membuka jahitan itu dulu untuk mengecek organ dalamnya. Ternyata bagian atas lambungnya sobek dan ususnya terpotong di beberapa bagian.
"I-ini...?!"
"Ada apa, Dr. Tera?," tanya Daniel.
"Lukanya sangat parah, belum lagi racunnya cukup kuat. Mana yang harus saya selesaikan lebih dulu?."
"Atasi organnya dulu. Nanti racunnya aku bereskan sendiri."
"Baik."
Proses operasi berjalan cukup lama. Ava terus mencoba menahan rasa sakit yang luar biasa. Karena tidak mengira akan separah itu, Dr. Tera hanya membawa sedikit pereda rasa sakit. Apalagi karena proses operasi yang lama, jadi harus menggunakannya sedikit demi sedikit dan membuat efeknya berkurang.
Lebih dari satu jam, operasi akhirnya selesai. Ava sudah dalam kondisi setengah sadar. Keringat membasahi seluruh tubuhnya.
Ava mencoba untuk menenangkan dirinya. Dia mengatur nafasnya agar menjadi lebih teratur. Tangannya yang sedari tadi meremas tangan Daniel dengan keras kini mulai sedikit lemas dan terkendali.
"Maaf, Daniel. Apa itu sakit?."
Mata Daniel berkaca-kaca. Bibirnya yang bergetar mulai terbuka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa.... Pasti yang kamu rasakan lebih sakit, kan? Bahkan wajar walaupun kamu mematahkan tulangku atau merobek kulitku. Itu tidak apa-apa," ujar sambil menahan tangisnya.
"Hahahaha.... Apa yang kau katakan? Aku tidak akan melakukannya."
Ava mencoba untuk duduk. Dia berhasil, namun masih harus bersandar pada Daniel. Bahkan tangannya pun masih tak mampu menahan berat tubuhnya.
"Daniel, maaf merepotkanmu lagi. Apa kamu bisa menyenderkan tubuhku pada pohon, batu, atau apa pun itu? Aku akan mencoba untuk menghilangkan racunnya."
"Oke."
Daniel menggendong Ava dan menyenderkannya di pohon yang cukup besar. Setelah itu, dia menjauh dan membiarkan Ava sendiri.
"Hah.... Aku tidak bisa hanya seperti ini. Aku harap bisa segera mengeluarkan racunnya."
...----------------...
"Aku.... Tidak bisa mengeluarkan seluruh racunnya. Apa efeknya masih besar? Apa pun itu, setidaknya aku jauh lebih baik sekarang. Saatnya aku kembali."
Ava akan kembali ke akademi untuk mengambil misi baru. Dia berniat untuk mengambil bayarannya nanti saat semua misinya sudah selesai.
"Bagaimana keadaanmu, Murid sialan?."
"Apa yang terjadi dengan cara bicaramu, Mister?."
"Ah, aku hanya menirukan gaya bicara Adriell. Apa aneh?."
"Ya, sangat aneh. Karena muridmu ini akan menyelesaikan misinya, tolong segera pergi karena Anda menghalangi saya," ujar Ava.
"Sebelum itu, jawab pertanyaanku dulu."
"Aku sudah baik-baik saja. Tidak perlu terlalu khawatir, Kepala Akademi. Anda, kan bawahan keluarga Xavier. Jika Anda terlalu akrab dengan saya, Anda bisa kehilangan posisi, loh...."
Setelah mengatakan itu, Ava langsung pergi menjalankan misi selanjutnya. Mr. Farensco hanya diam tanpa bisa membalas sepatah kata pun. Dia bahkan tertunduk memikirkan sesuatu.
"Benar bahwa aku adalah bawahan keluarga Xavier. Tapi aku tidak mungkin mengabaikan anak bermarga Meshach van Dominic, kan? Tugas ini sungguh sulit sekali. Apa aku resign saja, ya...," batin Mr. Farensco.
...----------------...
__ADS_1
Alva sedang bersantai di asramanya. Dia membaca buku di sofa ruang tamunya. Burung yang dia pelihara bersiul dengan nada yang indah, suaranya mirip dengan piano. Angin yang berhembus terkadang membentuk suara seperti biola, seolah-olah ikut mengiringi suara burung itu.
"Suasana yang bagus. Meski aku merasakannya setiap hari, namun tetap terasa luar biasa," ujar Alva puas.
"Tapi..., hatiku terasa tidak nyaman. Apa sesuatu sedang terjadi di luar sana? Aku akan pergi melihatnya."
Alva segera bersiap-siap dan keluar dari asramanya. Ia berniat untuk berkeliling akademi untuk melihat apa yang terjadi, sekalian jalan-jalan.
Selama perjalanan berlangsung, tak ada hal istimewa yang terjadi. Para murid dan guru sedang bersantai. Cuaca cerah dengan matahari yang hangat, burung-burung terbang bebas dengan riang gembira. Semuanya terlihat normal.
Karena tidak menemukan apa-apa, Alva memutuskan untuk istirahat di taman. Secara kebetulan, dia melihat Mr. Farensco yang nampak murung. Wajahnya benar-benar pucat. Alva pun menghampirinya karena khawatir.
"Mr. Farensco. Apa Anda baik-baik saja? Wajah Anda terlihat pucat dan muram," sapa Alva.
"A-ah, bukan apa-apa. Aku hanya memikirkan beberapa hal yang membuatku kesulitan akhir-akhir ini."
"Kalau boleh tahu, kesulitan apa itu?," tanya Alva.
"Misalnya, ya. Kamu ada di posisi sebagai pengawal suatu kelompok yang berpengaruh, namun kamu memiliki seseorang yang jauh lebih berpengaruh di mana mau tidak mau tetap harus berinteraksi dengannya. Sementara kelompok tempat kamu bekerja akan membunuhmu jika tahu bahwa kamu berinteraksi dengan kelompok lain. Apa yang akan kamu lakukan?."
"Hmmm.... Kalau saya sendiri, sih akan mundur perlahan dan pergi ke kubu yang lebih kuat."
"Lalu bagaimana jika kamu memiliki sebuah janji atau sumpah pada kubu yang lebih lemah?."
"Kalau begitu, kita harus menepati janjinya dulu. Jika sudah menepatinya, kita bisa kabur dari sana jika memungkinkan."
".... Baiklah. Kenapa kamu malah pergi ke taman sendirian di hari libur ini?."
"Perasaan saya tidak enak. Jadi mungkin sesuatu sedang terjadi dan saya pergi untuk melihatnya."
"Ohhhh.... Ngomong-ngomong, jangan terlalu baku saat berbicara denganku. Itu sedikit tidak nyaman," pinta Mr. Farensco.
"Ah, maaf. Baiklah."
Mereka meneruskan perbincangan itu lama sekali. Bahkan mereka pindah ke tempat lain padahal matahari sudah mulai terbenam. Mereka berbicara dengan sangat asyik tanpa mempedulikan tatapan yang tertuju pada mereka.
"Dasar. Mereka sangat suka menjadi pusat perhatian...," ujar Ava yang sedang nongkrong di atas atap menara.
__ADS_1