Blood Academy

Blood Academy
Misi


__ADS_3

Keesokan harinya, para murid bersiap untuk kembali ke akademi. Mereka akan istirahat sambil menunggu informasi selanjutnya. Tidak ada pelajaran untuk beberapa hari ke depan.


"Baiklah, semua murid sudah masuk, kan?," tanya Mr. Farensco memastikan.


"Sudah, Mr.," jawab Master Briyyan.


"Kalau begitu, tolong bantuannya ya, Miss Vallen. Ada beberapa hal yang masih harus saya urus di sini," ujar Mr. Farensco.


"Baik."


Miss Vallen dan semua murid kembali ke akademi. Sementara Mr. Farensco masih di sana dengan Ava, Daniel, Adriell, dan Neron. Mereka akan membicarakan hal yang cukup penting.


"Jadi, ada yang harus kita bicarakan," ujar Mr. Farensco.


"Silakan, Pak Tua," balas Adriell.


Mr. Farensco cukup marah mendengarnya. Namun tak ada yang bisa dia lakukan selain menerimanya dan menahan amarahnya.


"Aku pikir kalian sudah tahu. Kalian akan dipindahkan ke kelas khusus. Jadwalnya akan aku jelaskan langsung."


"Kenapa tidak lewat sistem saja?," tanya Daniel.


"Namanya juga kelas khusus. Oh iya. Di mana letak kelas khusus itu?," tanya Neron.


"Kelas itu ada di bawah akademi. Nanti akan aku tunjukkan tempatnya. Kelas itu akan dicampur dengan kakak kelas kalian."


"Tahun ini, kalian yang dipilih untuk masuk ke sana. Di sana ada 9 murid termasuk kalian. Di kelas khusus itu, kalian akan diberikan praktik untuk langsung terjun ke medan perang. Ada yang secara individu dan juga tim. Ada 5 orang yang seperti kalian di sana, jadi tidak perlu sungkan."


"Hanya itu?," tanya Ava.


Mr. Farensco menggelengkan kepalanya kemudian berkata, "Ya, informasi tentang kelas khusus memang hanya itu. Namun ada informasi lain untuk kalian."


"Selama hari libur ini, kalian akan disibukkan dengan tugas dari guild. Setelah 5-7 hari, kalian akan masuk ke kelas khusus lewat perpustakaan. Nanti kalian akan dipandu oleh pustakawan. Tugas dari guild itu akan sangat banyak dan mungkin kalian akan telat masuk ke kelas baru kalian. Aku berharap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik."


"Tentu saja," ujar Ava dengan penuh keyakinan.


Tidak lama kemudian, kartu mereka berdering. Ada pesan dari guild. Mereka mendapatkan tugas individu yang harus segera diselesaikan.

__ADS_1


Mereka segera pamit dengan Mr. Farensco dan segera pergi menjalankan misinya.


Di suatu tempat, Ava sedang menjalankan misinya. Dia sedang menyamar untuk menangkap seorang kriminal yang sangat terkenal, Beggy the Red. Orang itu sudah membunuh banyak orang tanpa belas kasihan. Dia bahkan menyiksa korbannya dengan sangat sadis. Data yang diterimanya membuat Ava berdecak kesal dan menggerutu.


"Ck. Misi ini sangat berbahaya, bukan? Di sini juga tidak ada data lain yang mendukung pencarian. Pokoknya, aku akan jalan-jalan du— Eh?."


Ava melihat Beggy the Red sedang nongkrong di salah satu kedai. Dia sedang makan dengan lahap. Ava menunggunya di depan kedai itu. Saat Beggy sudah keluar, dia mengikutinya.


Cukup lama mengikuti, sampailah mereka di jalan yang sepi dan sempit. Tidak ada orang sama sekali.


"Seorang gadis? Untuk apa kamu mengikutiku?," tanya Beggy.


"Aku ditugaskan untuk membunuhmu," jawab Ava.


"Oh.... Begitu, ya. Karena seorang gadis menungguku, maka aku tidak boleh membiarkannya menunggu terlalu lama, bukan?."


Mereka mulai bersiap untuk bertarung. Beggy mengeluarkan kedua pedangnya dari belakang, begitu juga Ava yang mengeluarkan pedangnya dari samping.


Suara dentingan pedang mulai bergema di gang yang sempit itu. Tak ada satu pun dari mereka yang terlihat terganggu dengan lawannya. Mereka saling beradu pedang tanpa mempedulikan lahan yang sempit itu. Sesekali mereka berpijak pada dinding untuk menahan lawan.


"Gadis sialan. Kau meletakkan racun di pedangmu. Uhuk—" Beggy muntah darah.


"Dasar Pak Tua. Kau juga melakukannya. Bahkan racunmu lebih kuat."


Ava memuntahkan darah berkali-kali. Luka di perutnya juga membuat darahnya terus mengalir. Tebasannya memang kecil, namun cukup dalam. Sepertinya Ava memiliki beberapa organ yang terpotong.


Beggy memanfaatkan kesempatan itu untuk kabur. Dia segera berlari dari atap ke atap tanpa mempedulikan luka besarnya. Ava mengejarnya dengan tetesan darah yang menjadi jejaknya.


Cukup lama mereka bermain kejar-kejaran. Akhirnya, Ava menginjak luka Beggy dan tanda tangan di atas kulitnya dengan belati kecilnya. Setelah itu, Ava menggunakan belati itu untuk menusuk satu tangan dan kaki Beggy.


"AARRGHHH....!"


Beggy merintih kesakitan. Dia menggeliat seperti cacing kepanasan. Dia terus memohon untuk dibunuh saja daripada disiksa seperti itu.


"Bunuh aku! Bunuh saja aku! Aku tidak tahan lagi...."


Setelah cukup lama, suaranya mulai menghilang dan dia pun tewas dengan mengenaskan. Ava segera turun dari tubuhnya dan langsung pergi menuju sungai. Dia akan membersihkan darah di tubuhnya dulu.

__ADS_1


...----------------...


Ava mengambil kain di tas kecilnya kemudian membasahinya dengan air. Dia kemudian mengusapkannya pelan di bagian lukanya. Meskipun tidak merasakannya, melihatnya saja pasti sudah tahu kalau itu sakit.


"Sial, darahnya tidak mau berhenti. Tidak ada cara lain. Untuk sementara, aku akan menjahitnya sendiri."


Ava menjahit perutnya sendiri sambil menahan sakitnya. Dia menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan untuk tidak teriak. Karena lukanya pendek, dia menyelesaikannya cukup cepat. Ava langsung tergeletak lemas dengan darah yang mengalir dari bibirnya.


"Hah..., hah.... Pria itu harusnya masuk ke kriminal peringkat B, kenapa di datanya dia peringkat D?! Apa orang yang melaporkannya itu buta?," protes Ava.


Dia sangat kesal. Pengetahuan dan informasi memanglah senjata terkuat yang harus dimiliki. Namun jika informasi itu salah, dia dapat menjadi pedang bermata dua. Apalagi jika menyangkut hal-hal seperti itu.


Ava mendudukkan dirinya dan mulai menghubungi Mr. Farensco.


"Ada apa, Ava? Apa ada masalah dengan misimu?."


"Ya, ada. Beggy the Red. Di datanya, dia merupakan kriminal peringkat D, benar?."


"Ya. Apa peringkat D terlalu tinggi untukmu?."


"Jangan bercanda! Jika benar peringkat D, aku akan bisa mengalahkannya dalam waktu singkat. Aku ingin mengatakan bahwa dia sebenarnya peringkat B, bahkan mungkin bisa di peringkat A. Informan yang kamu miliki salah, loh, Kepala Akademi."


"Apa?! Bagaimana bisa? Lalu, bagaimana dengan keadaanmu?," tanya Mr. Farensco khawatir.


"Yah, hanya satu luka saja. Oh ya, aku menginginkan sesuatu."


"Apa itu?."


"Pertama, aku ingin bayaranku dinaikkan sesuai dengan peringkat yang aku laporkan. Kedua, aku ingin informan yang mencatat data ini diawasi. Aku hanya ingin dua hal itu."


"Baiklah. Apa aku perlu mengirimkan dokter padamu?."


"Ya, tolong. Aku ada di sungai sebelah selatan dari tempat pembunuhan."


"Baiklah."


Ava memejamkan matanya, berharap bahwa lelahnya akan sedikit berkurang saat ia bangun nanti. Tak butuh waktu lama baginya untuk terjun ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2