Blood Academy

Blood Academy
Izin


__ADS_3

Sudah dua minggu dan aku tidak pernah melihatnya lagi. Yah, sebenarnya aku juga tidak tahu dia itu siapa dan bagaimana rupanya. Tapi satu hal yang membuatku yakin dia ada adalah, hatiku yang kosong.


Dia tidak kuingat wajah dan namanya, namun aku bisa merasakan kehadirannya, auranya, dan kondisinya. Hal yang kuingat tentang dia hanyalah satu, aku biasa memanggilnya dengan sebutan 'Kakak'. Dalam ingatanku aku selalu memanggilnya seperti itu dengan hati yang bahagia. Aura di sekitarnya bagaikan musim semi bagiku. Selalu hangat dan menyenangkan.


Dalam kepergiannya itu, ada seseorang yang hadir. Mois, begitulah dia memperkenalkan dirinya. Sosoknya dingin, hampa, dan jauh, rasanya sulit bagiku untuk menggapainya. Dia terasa kabur, tak terlihat. Jelas-jelas aura mereka berbeda, namun aku berpikir bahwa dia adalah orang yang sama dengannya, seseorang yang kusebut ‘Kakak’.


Rajutan dari kata yang lembut nan indah ini, tengah menjadi dilema di hatiku.


Sesak rasanya ketika berpikir tak bisa lagi (?) memanggilnya ‘Kakak’. Sulit menahan tubuhku untuk menjaga jarak darinya.


Namun di sisi lain, aku tak bisa melakukannya. Dia dekat, namun terasa asing bagiku. Dia seperti musim semi yang dedaunan segarnya telah rontok tak bersisa. Kini batangnya yang kokoh pun mulai tak berdaya. Mengisut kering, jauh di tengah tumpukan salju yang hanya semakin tebal.


Oh, Tuhan.... Oh, Dewa....


Jika dia memang pernah hadir untukku sebagai orang yang berharga, maka nampakkanlah dirinya dalam ingatanku. Anda tidak akan bermain-main dengan perasaan, kan? Kalaupun ini hanya sebagai hiburan, tolong hentikanlah. Ini begitu menyakitkan.


Perasaan ini begitu membuncah. Aku hanya ingin tahu, aku hanya ingin melihat. Itu saja, yang aku inginkan saat ini....


...----------------...


 


“Hah-!”


Alva terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah. Teriakannya berhasil membuat teman sekamarnya ikut terbangun.


“Alva! Ada apa?!.”


“Ti, tidak ada.... Sepertinya aku memimpikan kejadian saat kita kelas satu setelah Mois muncul.”


“Ohh.... Waktu kamu berdoa di depan gereja dan kuil tua sambil menangis? Padahal kamu tidak pernah percaya pada hal seperti itu,” ujar Reza mengejek.


Alva termenung memikirkannya.


“Aku benar-benar yakin kalau aku dekat dengannya...," gumam Alva dengan penuh kegelisahan.


Melihat temannya begitu gelisah, Reza mencoba untuk membantu Alva mengatasi masalahnya.


“.... Bagaimana kalau kamu menceritakannya pada temanmu seperti Varrel atau Verrel, gitu?."


"Boleh. Makasih sarannya, nanti temani aku menemui mereka, ya."


"Tentu. Sekarang kita harus bersiap supaya gak terburu-buru nanti."

__ADS_1


"Oke."


Alva segera beranjak dari tempatnya, begitu juga dengan Reza. Satu pergi ke kamar mandi, satunya lagi pergi untuk sarapan. Itu salah satu cara mereka untuk menghemat waktu selama ini.


Mereka tinggal bersama di satu asrama. Berbeda dengan sebelumnya yang tinggal di asrama mewah milik masing-masing.


Dalam semester ke-3 ini, para murid ini akan tinggal di asrama biasa dengan murid lainnya.


Asrama mewah mereka akan disita. Untuk mengambilnya kembali, mereka harus berusaha mencapai posisi yang cukup layak. Jika sampai akhir Semester 4 mereka tidak mencapainya, mereka harus rela untuk tinggal di asrama itu selama sisa tahun belajarnya.


Namun hal itu tidak selalu berdampak buruk. Ada juga murid yang memiliki asrama yang sama sekali tidak bagus.


Coba ingat Episode 2: Asrama. Ada banyak murid yang tidak menuliskan kebutuhannya dengan benar, jadi kemungkinan mereka akan sengaja tidak mendapatkan posisi agar mendapat tempat yang layak.


Bukannya apa-apa. Akademi melakukan sistem ini karena banyaknya murid yang mulai terlena. Bahkan ada yang tidak ingin lulus demi bisa tinggal di sana selamanya. Itu hal yang tidak pantas.


Keberadaan mereka sebagai murid di Blood Academy adalah tunas yang akan tumbuh menjadi seorang pemegang kekuasaan di dunia.


Memang, hanya beberapa murid saja yang akan lulus setiap tahunnya. Barulah mereka merasakan dunia sosial di tempat mereka masing-masing. Tapi itulah yang menjadikan lulusan mereka berkualitas.


Dari hal itulah akademi berpikir untuk membuat muridnya mendapat posisi saat masih di akademi. Agar mereka memiliki penghasilan sendiri dan mereka bisa bebas melakukan apa pun. Dengan itu, setidaknya para murid memiliki kesenangannya sendiri.


...----------------...


Alva dan Reza berjalan bersama menuju asrama Verrel dan Varrel seperti yang mereka bicarakan tadi.


Diketuklah pintu itu sebanyak tiga kali. Terdengar sahutan dan langkah kaki yang mendekat ke arah mereka dengan terburu-buru.


Ceklek.....


Pintu terbuka. Terlihat dua remaja yang memiliki penampilan identik. Serupa tapi tak sama.


"Ada apa pagi-pagi sudah ada di sini?," tanya Verrel.


"Hanya mengajak kalian berangkat bersama. Dan juga, ada yang ingin ditanyakan oleh Alva," jawab Reza.


"Oh, baiklah. Kami juga mau berangkat. Ayo, Varrel."


"Hum...," balas Varrel sambil menganggukkan kepalanya. Dia berjalan keluar kemudian berbalik untuk mengunci pintunya.


Mereka pun berjalan bersama. Alva beriringan dengan Verrel di depan kemudian Rezal dan Varrel mengikuti di belakang. Barisan depan saling berbicara sedangkan yang belakang hanya diam dan mendengarkan mereka.


Reza masih tetap dengan senyumannya yang merekah dan Varrel dengan wajah tidak pedulinya. Kemudian, Alva mulai menanyakan sesuatu.

__ADS_1


"Verrel, apa kamu ingat seseorang yang kupanggil kakak? Kita sudah dekat di hari pertama, jadi kupikir kalian akan tahu?."


"Emmm..... Setelah kamu mengatakannya, aku jadi ingat. Dulu kamu menceritakannya dengan antusias. Apa kamu ingat yang lainnya, Varrel?," Verrel menoleh ke belakang, diikuti dua yang lainnya.


"Ingat. Namanya hampir mirip denganmu, sepertinya Ava. Kalian sangat dekat, tapi hubungan kalian mulai renggang karena jarang bertemu. Entah sejak kapan kita mulai melupakannya," ujar Varrel.


"Apa kamu ingat bagaimana wajahnya?," tanya Alva dengan antusias.


"Ada kalanya dia muncul dalam ingatanku dan mimpiku. Mata dan rambutnya berwarna putih, putih yang sangat elegan, indah, dan memukau. Biasanya dia akan memakai pakaian yang tertutup, bahkan menggunakan kaus kaki yang sangat panjang saat mengenakan seragam. .... Sangat cantik."


"!! Argh-!"


Alva baru saja mendengar suara lembut yang berbisik di telinganya.


"Lakukan dengan caramu...," itu yang dia dengar.


"Aku baru saja.... Bukan apa-apa. Terima kasih sudah menjawab pertanyaanku. Aku sudah tenang sekarang," ujar Alva.


Mereka kembali melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Mereka tidak boleh telat untuk ujian akhir pekan.


...----------------...


Terlihat Kepala Akademi sedang duduk di kursi kebesarannya. Seorang gadis tengah minum secangkir teh dengan tenang di sofa yang tak jauh dari tempat Kepala Akademi.


Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tak bertatapan, apalagi bertegur sapa dan bertukar kata.


Hanya suasana hening di sana.


Oh, sepertinya ada yang tidak nyaman dengan itu.


"Kenapa kamu suka sekali ke ruanganku hanya untuk menikmati tehmu, Ava?."


"Kali ini saya datang karena ingin membicarakan sesuatu. Saya ingin meminta izin untuk sementara waktu."


"Hm? Tumben sekali. Izin untuk apa?."


"Anggap saja acara keluarga. Saya ada urusan internal."


"Kalau begitu boleh. Aku akan segera membuatkan surat izinnya. Datang ke sini besok pagi dan berikan ini pada wali kelasmu. Akan aku berikan waktu selama 2 minggu, kembali sebelum batas waktunya."


"Tentu. Terima kasih. Saya pergi dulu."


Mr. Farensco menatap lekat Ava sampai dia keluar ruangan. Kemudian dia memijat keningnya pelan. Kepalanya terasa berdenyut.

__ADS_1


"Hah, apa yang dia lakukan? Aku merasakan Varrel yang masih bisa mengingatnya dengan jelas. Dia pasti sengaja melakukannya."


"Ini masih semester ke-3, tapi kekuatannya sudah sebesar itu.... Apa tidak masalah kalau aku menjadikannya pengajar secara resmi? Aku yakin dia berguna."


__ADS_2