
Rag dan Ava sedang dalam perjalanan kembali ke Blood Academy. Mereka terbang dengan santai di atas awan, menikmati hangatnya matahari.
Karena merasa sunyi, Rag mencoba memulai pembicaraan.
"Nona, waktu itu Raja Neptune menemui kamu secara pribadi, kan?."
"Iya, sih.... Kenapa?."
"Itu.... Apa yang kalian bicarakan? Aku sedikit penasaran."
"Oh, bukan hal yang penting. Bukankah aku pernah bilang padamu kalau dia adalah teman Kakek dan ayahku?."
Rag mengangguk pelan dan menjawab, "Ya."
"Itu dia. Dia hanya menyapaku secara pribadi saja. Saat itu dia pura-pura terkejut saat aku memperkenalkan diri karena dia pikir kau tidak tahu identitasku."
"Be-begitu, ya...."
"Oh ya. Aku dengar Blood Academy ditakuti oleh seluruh negara. Memang sekuat itu kah? Kalau begitu, bukankah sama saja mereka jadi penguasa di dunia ini?."
"Haha, pertanyaan konyol macam apa itu?.... Memang benar kalau mereka ditakuti semua negara, tanpa terkecuali. Memang benar kalau mereka kuat dan memiliki peralatan canggih yang mumpuni. Tapi satu hal yang harus semua orang tahu...."
"Mereka masih tunduk pada pihak lain."
Rag terdiam. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Awalnya dia memang berpikiran sempit seperti Blood Academy adalah penguasa dunia. Namun pendapatnya terpatahkan oleh kata yang dilontarkan Ava.
__ADS_1
Itu memang meragukan, tapi juga tidak bisa diragukan. Karena yang mengatakannya adalah putri dari keluarga legendaris.
Setelah cukup lama, akhirnya dia memiliki sebuah pertanyaan.
"Lalu, siapa yang membuat Blood Academy tunduk?."
"Itu.... Ah, di sana Blood Academy. Kita turun dulu, nanti aku akan menjawabnya saat jalan."
"Baik."
Rag menambah kecepatannya ke arah yang ditunjuk Ava. Dia mendarat di lapangan dan membiarkan Ava turun. Setelahnya dia berubah menjadi wujud manusianya.
Mereka langsung bergegas menuju ruang Kepala Akademi untuk melaporkan misi. Tentu saja, semua itu tidak terlepas dari penglihatan para siswa. Namun seperti biasa, Ava tidak memedulikannya.
"Ada beberapa, tapi jumlah tepatnya ada 5. Ada Xavier, Galaxy, Razer, Alneeshon, dan Meshach van Dominic. Dari jejeran itu, yang paling berpengaruh adalah Xavier."
"Eh? Xavier? Bukan Nona?."
"Itu karena Xavier memiliki 2 penerusnya di sini. Satunya menjadi ketua dewan siswa, satunya lagi menjadi murid terbaik. Apalagi Kepala Akademi ini adalah orang mereka. Dibanding itu, aku adalah satu-satunya keturunan keluargaku, dan lagi aku adalah seorang wanita. Hal itu masih menjadi alasan bagi mereka untuk tidak menghormati aku."
"Eh~ Tapi Nona tidak diapa-apakan, kan?."
"Tentu saja tidak. Aku cukup 'kuat' untuk membuat mereka bergantung padaku."
Tak terasa, mereka sudah sampai dia depan ruangan Kepala Akademi. Ava hanya mengetuknya dua kali kemudian langsung masuk tanpa menunggu jawaban dari pemilik ruangan.
__ADS_1
"Kamu benar-benar.... Bukankah ini tidak sopan? Dasar...."
"Wow.... Kau mengeluh tentang Nona dua kali," ujar Rag kagum.
"Bukan itu intinya! .... Kau siapa?."
"Kepala Akademi, dia adalah peliharaanku yang baru, Rag. Aku mendapatkannya di Kerajaan Polyleia. Aku juga sudah mengumpulkan data dan memenuhi tugasku. Kali ini aku akan minta semua bayaranku."
"Baik, baik.... Sudah ditransfer, ya. Mana dokumennya?."
"Ini," Ava meletakkannya di meja.
"Dan juga, Kepala Akademi. Untuk pembagian kelasnya, apa tidak masalah kalau menangani kelasnya sendiri?."
"Tidak apa-apa. Ingat, pikiran para murid tentangmu sebagian besar akan buram. Jadi pikirkan nama yang akan diingat oleh mereka. Kami akan mengecualikan yang satu itu."
"Baiklah. Mois.... Tolong catat itu sebagai nama panggilan mereka untukku."
"Mois, ya? Itu nama yang cocok untukmu."
^^^*'Mois' dalam bahasa Prancis artinya bulan. Sama seperti penampilan Ava.^^^
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya."
"Baiklah."
__ADS_1