
Alva baru saja sampai di markasnya. Dia langsung mengeluarkan tong yang berisi buah-buahan. Mereka sangat senang karena mereka mendapat buah yang sangat banyak.
"Yey! Kita mendapatkan buah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan kita selama lima hari di sini!," ucap Varrel bahagia.
Gara-gara ucapan Varrel, Alva jadi teringat dengan obrolannya tadi dengan kakaknya.
"Hei, aku ingin menceritakan sesuatu," ujar Alva tiba-tiba yang membuat teman-temannya bingung.
Teman-temannya tidak ada yang menjawab, namun mereka sudah dalam posisi siap mendengarkan. Mereka menatap Alva dengan seksama untuk mendengarkan dengan baik apa yang akan disampaikan.
"Tadi saat memetik buah, aku bertemu dengan kelompok lain, dia kakakku. Kalian tahu? Kelompok mereka hanya terdiri dari 6 anggota, sedangkan kita memiliki 13 anggota. Dengan jumlah mereka yang sedikit, mereka tidak memiliki perlengkapan yang kita miliki. Contohnya alat sihir untuk menyimpan barang."
"Apa?! Serius?!," sahut Varrel memotong cerita Alva.
"Kalau begitu, mungkin saja mereka juga tidak memiliki alat lainnya yang membantu pertarungan. Bukankah mereka sangat lemah?," tanya Giselle— nadanya seperti meremehkan.
"Tapi! Mereka sangat kuat. Kakakku saja sudah jauh lebih kuat dariku. Aku memang tidak tahu apa kekuatannya, namun jika kita bahkan tidak bisa merasakan auranya, bagaimana bisa kita sanggup untuk mengalahkannya?."
Pernyataan Alva membuat semuanya diam dan termenung. Benar juga. Jika ketua mereka yang paling kuat merasa tak sanggup, bagaimana dengan mereka yang hanya 'keroco'-nya.
Sementara itu, Ava baru saja sampai di markasnya setelah matahari terbenam. Dia pulang dengan membawa keranjang buah tadi dengan beberapa sayuran di atasnya dan 1 ekor rusa biru di tangan kanannya.
"Selamat datang, Ava."
"Terima kasih karena sudah bekerja keras."
"Bukan apa-apa."
Ava mendapatkan sambutan hangat dari anggota kelompoknya. Mereka yang di markas baru saja selesai menyiapkan alat-alat untuk memasak. Mereka juga sudah menyalakan api untuk memasak.
Mereka memasak bersama dan membuat resep baru sesuai dengan bahan yang ada. Setelah itu, mereka makan bersama dengan saling berbagi cerita saat mereka terpisah dengan kelompoknya.
Velize dan yang lainnya menemukan seekor monster yang terlihat cukup kuat di dalam tebing yang mereka gali tadi. Jadi mereka melaporkannya kepada Ava.
"Baiklah, akan aku urus nanti. Sekarang kita harus latihan terlebih dahulu."
"Baik, Ketua."
Mereka kemudian latihan sampai tengah malam ditemani dengan bulan dan bintang yang bersinar terang.
__ADS_1
Berbeda dengan kelompok Ava yang latihan sampai tengah malam, kelompok Alva malah sedang bersantai-santai.
Hari pertama sudah berlalu. Saatnya mereka mulai menjalankan misi mereka. Kelompok Alva bersama-sama mencari monster sedangkan kelompok Ava berpencar dan mencari monster mereka sendiri-sendiri.
Di suatu tempat, terlihat Velize sedang di serang oleh Orc. Di balik semak-semak, kelompok Alva sedang mengamatinya. Mereka keheranan karena Velize belum melayangkan satu pun serangannya.
Setelah cukup lama, Velize melayangkan tangannya. Dia menampar orc itu. Saking kuatnya, kepala orc itu sampai hancur dan membuatnya mati seketika.
Velize segera mengambil barang berharga dari tubuh Orc yang bisa dimanfaatkan. Setelah itu, dia beranjak pergi jika saja Giselle tidak memanggilnya.
"Hei, kamu yang di sana! Bisakah kamu mengajariku jurus yang kamu gunakan tadi?," pinta Giselle.
"Tidak. Itu bukan sesuatu yang bisa diajarkan."
Tanpa mempedulikan apa pun, Velize segera pergi meninggalkan mereka. Dia masih punya misi yang harus diselesaikan.
"Sayang sekali...."
Giselle merasa agak kecewa karena tidak bisa mempelajari jurus hebat yang dia lihat. Namun, benar yang dikatakan Velize. Itu hanyalah murni kekuatan fisiknya, jadi tidak bisa diajarkan pada siapapun.
"Teman-teman, ayo kita lanjutkan pencariannya. Kita harus segera mendapatkannya dalam 2 hari dan sisanya kita gunakan untuk meningkatkan kekuatan," ujar Alva.
"Oke."
"Siap, Kapten."
Tak terasa, ternyata sudah memasuki hari ketiga. Hanya tersisa Alva, Varrel, Verrel, dan Ava yang belum mendapatkan monster kontrak. Alva, Varrel, dan Verrel berpencar untuk mencari monster yang cocok untuk mereka. Meskipun Ava juga sedang mencari monster, namun dia tidak berniat untuk buru-buru mendapatkannya.
Di tengah perjalanannya, lagi-lagi dia bertemu dengan Alva. Melihat adiknya sedikit kesulitan dengan monster yang dihadapinya, Ava menghampiri Alva dan membantunya.
"Apa kamu berniat menjadikannya hewan kontrakmu?," tanya Ava setelah melemparkan beberapa pisau beracun.
"Ya! Tolong bantu aku, Kak."
"Oke."
Tidak butuh waktu lama untuk mengalahkannya. Setelah beberapa menit, monster itu sudah kalah. Alva segera membangun kontrak dengannya.
"Hufft.... Terima kasih, Kak. Kalau tidak ada Kakak, pasti aku akan sulit mengalahkannya."
__ADS_1
"Hum. Coba panggil dia."
Alva mengangguk. Dia memanggilnya dengan nama, "Fexa."
Seekor rubah putih yang tadi mereka kalahkan muncul di depan mereka. Rubah itu memiliki ukuran yang sedikit lebih kecil dibandingkan tadi.
"Fexa, bisakah kamu lebih mengecilkan tubuhmu lagi?," pinta Alva.
"Baik, Master."
"Kakak, kamu sudah membantuku untuk mendapatkannya. Apa ada yang bisa aku lakukan?."
"Baguslah. Temani aku untuk melakukan kontrak dengan monster."
"Oke."
Ava memimpin jalannya. Mereka melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Ava membawa Alva ke sebuah gua yang terhubung ke hutan gelap yang diselimuti cahaya bulan.
"Kok tiba-tiba gelap?!," ucap Alva yang terkejut.
"Aku sudah ke sini sebelumnya. Tempat ini adalah rumah dari Rubah Malam yang cukup kuat. Aku pikir bagus jika mengontraknya," ujar Ava sambil tersenyum dan terus berjalan.
"Apa ada alasan lain?," tanya Alva.
"Hm, ada. Karena kamu mengontrak rubah putih, aku pikir akan lebih baik jika aku juga memiliki seekor rubah. Kita kan kembar, hehe."
Alva tersenyum. Dia lega karena dia masih melihat kakaknya yang dulu. Bahkan dia sendiri sadar jika dia sudah berbeda dengan dia yang dulu. Alva takut jika kakaknya berubah.
Seperti memori yang terhubung, Ava seakan-akan tahu apa yang dipikirkan adiknya dari tadi.
"Aku sudah berubah loh, Alva."
Ava menghentikan langkahnya, begitu juga Alva. Ava membalikkan badannya sehingga mereka saling berhadapan. Alva mengernyit heran. Apa maksudnya?
"Jadi, roh pelindungku adalah sesosok iblis yang merupakan ratu siluman. Dengan roh seperti itu, aneh jika aku tidak berubah kepribadian, kan?."
Ava menatap dengan sendu. Dia ingin lihat, bagaimana reaksi adiknya ketika tahu dia sudah berubah.
Alva menggelengkan kepalanya dan memeluk Ava. Dia berbisik, "Tidak apa. Selama itu tidak menyakitimu."
__ADS_1
Tiba-tiba, Rubah Malam muncul dari arah belakang Alva. Ava yang tidak ingin merusak suasana langsung membuat kontrak dengannya dan rubah itu pun menghilang.
Salah satu syarat kontrak; harus melemahkan monster yang akan dikontrak, tidak akan berlaku jika orangnya jauh lebih kuat dari monsternya.