
Tak terasa, satu bulan telah berlalu. Dalam kurun waktu itu, para murid telah berkembang pesat dalam bersosialisasi maupun dalam hal kekuatan. Dengan proyek mereka, mereka jadi menemukan hal baru yang tak pernah diajarkan kepada mereka. Hal yang mungkin hanya mereka yang tahu.
Proyek mereka sudah sampai kurang lebih sudah setengah jalan. Ada yang kerangka dan desainnya sudah jadi, ada juga yang sistemnya dulu yang jadi. Ada juga beberapa yang sedang merakit.
Saat ini, Mater Briyyan dan Mr. Farensco datang. Mereka datang sebagai tamu yang akan mengecek perkembangan dari generasi penerus mereka. Miss Vallen selaku wali kelas mendampingi mereka berdua untuk berkeliling mengawasi para murid.
Setelah selesai berkeliling, mereka bertiga mengawasi dari bagian atas. Mereka melihat semua murid dari kejauhan. Tiba-tiba, Mr. Farensco protes karena mendapati keanehan.
"Loh! Di mana satu tim lagi? Apa mereka tidak mengerjakan proyek yang diberikan?," protes Mr. Farensco.
"Mereka.... Ah! Itu salah satu dari mereka," ujar Miss Vallen saat melihat Neron kembali untuk mengambil beberapa alat dan bahan.
"Dia berjalan keluar lagi? Apa yang sedang mereka kerjakan?."
"Saya sendiri juga tidak tahu, Mr. Mereka meminta izin kepada saya untuk membuat sesuatu yang besar. Karena proyek ini seluruhnya melibatkan kreativitas murid, maka saya tidak berhak untuk melarangnya. Saya juga tidak ingin mengeceknya karena takut mengganggu. Proyek besar tidak akan selesai dalam waktu singkat, bukan?."
"Baiklah. Sebagai gantinya, minta mereka untuk menjelaskannya saat sudah selesai nanti."
"Tentu saja, Mr."
Waktu sudah melalui pekan ke-5 dan mulai memasuki pekan ke-6. Beberapa tim sudah menyelesaikan proyeknya dan sedang menguji alat ciptaan mereka. Begitu juga dengan tim Bane of Your Existence yang sedang menguji alat yang mereka ciptakan.
Hasil uji coba tim Bane of Your Existence berhasil. Satu set— tindik dan softlens— yang mereka buat dapat bekerja dengan baik. Tindiknya bekerja sesuai perkiraan dan softlensnya bekerja untuk mendukung tindiknya. Hasil yang sempurna.
"Bagaimana? Apa ada yang kurang?," tanya Alva pada timnya yang sedang mencoba alat ciptaan mereka.
"Sama sekali tidak ada yang kurang. Kita bisa melihat dengan baik meskipun menggunakan softlens. Sistem informasinya juga bisa dialihkan dari mendengar ke membaca dan juga sebaliknya," ujar Velize.
"Ya, ini sempurna. Sistem analisisnya bekerja dengan baik, bahkan bisa melihat aura yang pada umumnya hanya bisa dilihat seseorang yang sangat kuat seperti guru," sahut Verrel.
__ADS_1
"Woahhh...! Auramu besar dan kuat sekali, Alva! Velize juga!," ujar Varrel takjub.
Di mata mereka yang memakai alatnya, Alva dan Velize memiliki aura yang berbeda. Aura mereka begitu besar dan pekat. Saking kuatnya, aura itu sampai hampir setara dengan para guru.
Seperti biasanya, waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Minggu ke-7 sudah berlalu. Para murid sudah siap dengan proyek yang dikerjakan tim mereka. The Four of the Winds juga sudah kembali ke laboratorium dan berkumpul dengan tim lainnya.
Sudah ada Mr. Farensco, Miss Vallen, dan Mr. Gyofano yang akan menilai mereka. Penilaian meliputi kepraktisan, kegunaan, dan dampaknya. Setidaknya mereka harus memiliki nilai 83 di setiap aspek untuk bisa sampai di zona aman.
Para guru membagi tugas mereka. Mereka pergi ke beberapa tim untuk mempercepat proses penilaian.
Setelah selesai menilai beberapa tim, Mr. Farensco akhirnya sampai di tim Ava. Karena kemarin dia berkunjung dan mengetahui bahwa buatan mereka adalah sesuatu yang besar, dia langsung menanyakannya.
"Jadi, bisa ditunjukkan di mana ciptaan kalian?," tanya Mr. Farensco dengan nada datar.
Mr. Farensco tahu bahwa mereka bukan murid biasa. Prestasi yang mereka torehkan selama satu semester begitu luar biasa. Jadi dia sangat penasaran dengan hasil karya mereka. Benar-benar salah satu karya yang paling dia tunggu.
"Huh!," Mr. Farensco berbalik dan memanggil semua murid. "Semuanya! Kita harus pergi ke luar. Teman kalian ingin menunjukkan sesuatu."
Mereka kemudian keluar dari laboratorium. Mereka bingung. Apa yang harus dilihat di luar sana?
Tidak lama kemudian, Mr. Farensco mengeluarkan kendaraan yang sangat besar. Cukup untuk memuat mereka semua. Kendaraan itu berbentuk kapal selam berwarna jingga keemasan.
"Segera masuk ke dalam kapal ini. Kita akan berangkat dengan menggunakannya."
Mendengar hal itu, para murid terkejut. Mereka saling berbisik dan membicarakan kendaraan yang dikeluarkan oleh Mr. Farensco.
"Apa kita akan menaikinya? Sungguh?."
"Sepertinya kita sangat beruntung!."
__ADS_1
"Keberuntunganku seumur hidup dipakai untuk hari ini...."
"Aku tidak akan menyesal meskipun aku mati sekarang juga."
Kapal selam itu adalah kapal yang digunakan untuk perang dahulu. Leluhur akademi sekaligus leluhur kekaisaran menggunakan kendaraan itu untuk mempertahankan tanah yang sekarang menjadi kekaisaran besar— Kekaisaran Aluaska. Karena merupakan harta nasional, Mr. Farensco selaku Kepala Akademi memiliki tanggung jawab untuk menyimpannya.
Para murid pun segera naik ke kendaraan itu. Mereka sangat senang. Mereka menaikinya dengan perasaan gembira yang terlukis dengan jelas di wajah mereka.
Mr. Farensco menyeringai kemudian berkata, "Biaya bahan bakarnya ditanggung kalian, lho."
Alva yang mendengar itu terkejut dan langsung menyahutinya.
"Apa? Mr. Farensco, kendaraan ini menggunakan 27 kristal energi yang sangat mahal setiap menitnya. Bukankah hal ini terlalu berlebihan?," protes Alva tidak terima.
Ava menepuk pundak Alva untuk menenangkannya.
"Tidak apa-apa, Alva. Kami berempat memang berencana untuk menyewanya suatu hari nanti. Tapi baguslah karena kalian juga bisa merasakannya," ujar Ava dengan santai.
"Jangan cemas, Mr. Biaya akan kami tanggung, tapi itu urusan nanti. Lihat dulu bagaimana kerja kendaraan ini," ucap Neron.
"Sudahlah, ayo kita masuk. Tidak perlu menunggu Pak Tua licik ini," ujar Adriell.
"Ayo. Kamu juga masuklah bersama kami, Alva," ajak Daniel sambil merangkul Alva dan Ava.
Mereka pun masuk diikuti oleh Mr. Farensco yang berwajah masam. Dia cukup kesal dengan ucapan Adriell yang secara terang-terangan mengejeknya. Untung saja murid lainnya sudah masuk lebih dulu dan tidak ada yang mendengarnya selain mereka.
Mereka berenam menghabiskan waktu bersama selama perjalanan. Mereka berbicara tentang banyak hal di ruang VIP. Uniknya, Mr. Farensco yang merupakan Kepala Akademi ternyata memiliki hubungan yang baik dengan kelima siswa itu.
Yah, siapa yang tahu?
__ADS_1