Blood Academy

Blood Academy
Guild Prefix


__ADS_3

"5 hari yang ditentukan sudah berlalu. Aku tidak lagi bertemu dengan Kakak setelah kejadian di gua itu. Aku bahkan tidak melihatnya saat keluar dari hutan. Aku hanya melihat beberapa temannya yang memiliki beberapa luka kecil di tubuhnya."


"Tak ada lagi kabar tentangnya. Ax juga semakin jarang muncul. Bahkan lima bulan sudah hampir berlalu. Ke mana kamu pergi, Kak?."


...----------------...


Alva berada di pinggir kolam dengan pakaian khas China— hanfu. Akademi sedang mengadakan festival di mana seluruh siswa harus memakai hanfu untuk memperingati salah satu leluhur mereka.


"Akademi sangat menghormati leluhur mereka, ya. Bahkan desain dan suasana akademi diganti sementara karena festival ini," gumam Alva.


"Haishhh.... Aku akui bahwa rambut panjang, baju, dan aksesoris yang kupakai sangat cocok denganku. Bahkan payungnya pun cocok denganku."


Alva memakai hanfu berwarna putih dengan corak hijau douglas fir. Bagian bawahnya terdapat lukisan rumput. Kakinya terbalut sepatu boot hitam ketat sampai beberapa senti di atas mata kaki. Payungnya senada dengan corak bajunya. Rambut putih palsunya yang panjang bagaikan bulan yang bersinar. Mata merahnya yang redup bagaikan bintang di malam itu. Dia berpenampilan seolah-olah dia bagian dari alam.


Ia terus menyusuri pinggiran kolam itu. Sesekali dia menoleh ke kolam untuk melihat pantulan dirinya yang terlihat bersinar.


Dari sudut matanya, dia melihat siswa lain sedang bahagia bersama teman-temannya. Di sisi yang lain, dia melihat dua orang yang menurutnya cukup familiar. Alva segera menghampiri kedua orang itu.


Setelah sampai di belakangnya, Alva mengatakan, "Ax, Kakak. Benarkah kalian?."


Kedua orang itu menoleh.



Alva tersenyum lebar. Itu benar adalah mereka. Pandangannya teralihkan pada Ava.


Ava telah berubah drastis. Mata dan rambutnya menjadi putih keperakan. Bahkan ekspresinya dingin dan datar.


Dengan segala hal yang dia lihat, Alva mencoba untuk mengabaikan perubahan kakaknya. Dia akan menanyakan langsung tentang hal itu.


"Kakak, bagaimana kabarmu? Ada apa dengan matamu? Bulan apa yang ada di belakang kepalamu?," tanya Alva berturut-turut.


"Selamat malam, Tuan Alva. Saya akan menjelaskannya, jadi mari kita mencari tempat duduk terlebih dahulu," sahut Ax.


Alva hanya mengangguk, tak mengatakan apa pun. Dia akan menunggu mereka menjawab semua pertanyaannya.


Mereka duduk di tempat yang tidak jauh dari danau. Tempatnya berupa batu-batu yang cukup besar dengan meja yang tidak terlalu tinggi di bagian tengahnya.


"Jadi—," Ava sudah lebih dulu memotong kata-kata Ax. Dia ingin menjelaskannya sendiri kepada Alva.


"Kabarku baik-baik saja. Mataku seperti ini karena cahaya biru redup yang selalu kulihat. Bulan di kepalaku hanya sebagian dari kekuatanku. Aku pikir itu bagus jika diletakkan di situ," ujar Ava membalas pertanyaan Alva.


"Apa tidak bagus?," tanya Ava.


"Tidak, itu sudah bagus. Kakak, ke mana kamu pergi beberapa bulan ini- Kakak?."


Alva heran. Ava langsung pergi begitu saja meninggalkan mereka sambil terburu-buru. Bahkan dia sampai terbang untuk bisa bergerak dengan cepat.


"Maaf, Tuan Alva. Sepertinya Lady sangat sibuk. Bahkan saya harus membujuknya beberapa hari ini agar Lady mau datang ke festival ini."


"Jadi kamu menghilang beberapa hari untuk membujuk Kakak?."


"Ya, begitulah. Karena Lady sudah pergi, saya akan menggantikannya untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda. Bolehkah saya melakukannya?."


"Tentu. Jawab aku dengan jujur."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Alva mulai melayangkan pertanyaannya satu per satu. Ax dengan sabar menjawabnya dengan semaksimal mungkin.


"Ke mana Kakak selama ini?."


"Lady sedang menjalankan misi dari Akademi."


"Kenapa dia menjalankan misi?."


"Lady mendaftar ke guild akademi yaitu Guild Prefix. Karena sudah mendaftar, maka Lady harus memenuhi tanggung jawabnya untuk menjalankan misi-misi dari guild bagaimana pun caranya."


"Bagaimana cara mendaftar ke guild? Aku juga mau."


"Sebenarnya caranya sangat mudah. Anda hanya perlu membeli formulirnya di koperasi dan mengisinya. Setelah diterima maka akan segera diberikan misi dan bayaran. Jika tidak bisa menjalankan misi, berikan alasannya."


"Sangat mudah. Kalau begitu aku akan mendaftar sekarang juga. Ax, temani aku."


"Baik, Tuan."


Akhirnya, Ax dan Alva menghabiskan malam mereka dengan mengurus pendaftaran Alva ke guild. Karena Ax memang tidak ada kerjaan, jadi dia akan menemani Alva dengan senang hati. Lagipula, dia juga bosan jika sendirian. Itulah mengapa Ax akan membantu Alva.


Sementara itu, Ava yang sedang menjalankan misi sedikit merasa kesal karena beberapa hal. Dia menyerang sekumpulan serigala sambil menggerutu.


"Baju ini sungguh merepotkan!."


Setelah mengalahkan kawanan serigala itu, Ava mencari pohon yang besar untuk dia bersantai. Setelah menemukan pohonnya, Ava segera masuk ke tengah-tengah dahan dan daunnya. Dia membuatnya elastis dan membentuknya seperti gelas raksasa kemudian memadatkannya kembali.


Ava bersiap untuk bersantai. Dia duduk di dahan pohon itu dan mengeluarkan camilan dan teh yang sudah diseduh. Sebelum meminumnya, Ava memanaskan tehnya dulu. Suasana malam itu benar-benar dingin.



"Tehnya belum panas," gumamnya.


Ava termenung sejenak. Entah apa yang dia pikirkan, wajahnya tak menunjukkan apa pun.


Dia melirik akademi yang terlihat di belakangnya. Dari sana, Ava tidak sengaja melihat Alva yang mencoba untuk mendaftar di guild. Ava mengabaikannya dan kembali termenung.


"Bukankah sekolah mengadakan festival untuk murid-muridnya? Mengapa malah menyuruh muridnya berjaga di luar akademi? Benar-benar...."


Saat sedang asyik menggerutu, tiba-tiba ada telepati yang mencoba masuk ke pikirannya. Dia segera membiarkan suara itu masuk.


"Ava, kamu di mana?," tanya Adriell.


"Aku di atas pohon. Di sisi dekat koperasi. Ada apa?."


"Kita ditugaskan untuk membuat kubah pelindung yang menutupi seluruh akademi," jawab Neron.


"Hah?," ucap Ava tidak terima.


"Jangan protes, Ava. Kita juga bertugas untuk menjaga dan mempertahankan pelindung itu sampai festival selesai. Bayarannya bisa kita pilih antara uang dan mansion atau guru pembimbing khusus. Jadi selesaikan saja dengan baik."


"Iya iya...."


Daniel— orang yang berbicara barusan— mengomeli Ava dengan telak. Ava jadi tidak punya pilihan lain karena bayarannya sangat memuaskan.

__ADS_1


Mereka berempat kemudian terbang dan bertemu di tengah-tengah akademi. Meskipun mereka berada di atas ribuan manusia, tak ada satu pun yang menyadari keberadaan mereka kecuali kepala akademi dan beberapa guru.



—Neron



—Daniel



—Adriell


"Huh! Kalian terlihat pantas berpenampilan seperti itu," ejek Ava.


"Coba lihat dirimu sendiri. Kau terlihat seperti siluman merak," balas Adriell.


Mereka memang sering saling mengejek seperti itu. Namun kerja sama mereka selalu sangat baik.


Mereka berasal dari kelas yang berbeda. Adriell dari kelas 1B. Neron 1B juga, namun dari kelas yang berbeda. Daniel dari pecahan kelas 1A yang satunya lagi.


"Oh ya. Bukankah adikmu juga sangat kuat? Kenapa aku tidak pernah melihat dia diberikan misi oleh akademi?," tanya Neron.


"Entahlah. Dia sedang mendaftar ke guild, namun firasatku mengatakan dia tidak akan diterima," jawab Ava.


"Why?"


"Alva Dylan Xavier. Dengan marga itu, apa kalian pikir dia bisa menjadi anggota guild?."


"Tunggu, dia adikmu dan juga 'Xavier'? Oke, dia tidak akan diterima. Lalu, bagaimana kau bisa diterima?," tanya Neron.


"Aku tidak tahu. Tapi kalau aku diterima, berarti aku 'palsu' kan? Mereka tidak mengakui aku."


"Bagaimana pun, Ava memang tidak diakui oleh mereka. Keluarga bangsawan tingkat tinggi tidak akan membiarkan keturunan mereka masuk ke guild mana pun. Meski itu adalah guild di akademi ternama," ujar Daniel.


Yang lainnya hanya mengangguk kecil, setuju dengan ucapan Daniel.


Tidak lama kemudian, mereka mendapat perintah dari akademi untuk mulai membentuk kubah pelindung. Mereka kemudian saling membelakangi dan membentuk lingkaran. Masing-masing dari mereka menghadap ke satu sudut akademi.


"Segel apa yang akan kita buat?," tanya Adriell.


"Yang penting segel kan?," sahut Neron.


"Segel tingkat dua, Segel Yuan Ding," usul Daniel.


"Baiklah. Sepertinya cocok dengan penampilan kita hari ini yang khas China," sahut Ava.


Seolah sedang bermain game, mereka melakukan prosesnya dengan senyum lebarnya. Mereka mulai melipat tangan mereka dengan gerakan yang berbeda-beda. Setelah beberapa saat, mereka mulai memancarkan energi sihir dari tangan mereka dan mengarahkannya ke sudut yang mereka inginkan. Kubah pelindung pun jadi dan menutupi seluruh area akademi.


Kini keempat remaja itu tersenyum puas. Kubahnya jadi sesuai dengan apa yang mereka inginkan.


"Hahaha! Karena sudah berpakaian seperti ini dan tugas utama kita sudah selesai, mari kita abadikan saat ini," ujar Daniel.


Mereka berfoto bersama dari atas sana kemudian kembali ke tempat mereka berjaga. Mereka saling bicara dan melakukan semacam Video Call untuk mengetahui keadaan masing-masing. Dengan begitu, mereka bisa saling membantu jika ada yang membutuhkan.

__ADS_1


Tugas itu mereka jalankan selama beberapa hari sampai festival itu selesai.


__ADS_2