Blood Academy

Blood Academy
Kalian Benar-Benar Saudara


__ADS_3

"Kakak!," panggil Alva.


"Hm? Alva," balas Ava dengan senyuman yang mengembang di bibirnya.


Tanpa aba-aba, Alva langsung memeluk Ava dengan begitu erat. Setelah beberapa waktu yang panjang— yang sebenarnya belum genap satu hari— akhirnya mereka bertemu.


"Alva, lepaskan dulu. Semua orang melihat kita," ucap Ava sambil menepuk pelan pundak adiknya.


Alva melepaskan pelukannya sambil berkata, "Ah, maafkan aku, Kak."


"Apa Kakak baik-baik saja?," tanya Alva dengan nada khawatir.


"Tentu. Bagaimana dengan keadaan adikku ini?."


"Saangat baik. Hehe...."


Dengan suasana yang sedang hangat-hangatnya, tiba-tiba Mr. Gyofano memberikan instruksi kepada para muridnya. "Murid terakhir sudah melakukan tes. Ikuti Miss Nelshon untuk tes selanjutnya. Untuk murid-murid Miss Nelshon bisa di sini untuk menjalankan tes dengan saya."


"Siap, Mr."


Saat semua murid sudah pergi dengan Miss Nelshon, Mr. Gyofano segera memulai tesnya. Orang pertama yang dipanggil adalah Ava.


Untuk mempersingkat waktu, Ava menggunakan kemampuannya yang diajari oleh Ax. Dia melesat terbang ke arah Phruma pusat. Seperti yang lainnya, Ava juga akan menggunakan tenaga murni saja tanpa adanya bantuan dari energi sihir dan lain-lain.


Saat Ava sedang mengambil ancang-ancang, Mr. Gyofano menghampiri Alva yang ternyata bersembunyi di balik pohon.


"Alva! Apa yang kamu lakukan di sini?," tegur Mr. Gyofano.


"Izinkan saya untuk melihatnya sebentar, Mr."


"Tidak boleh! Segera menuju ke tempat Miss Nelshon. Sekarang," tegas Mr. Gyofano.


Teguran tegas dari Mr. Gyofano membuat Alva mengurungkan niatnya. Saat hendak pergi, Mr.. Gyofano mengatakan sesuatu padanya yang membuatnya berhenti melangkah.


"Jangan terlalu peduli kepada orang lain. Dia kakakmu, bukan? Pasti dia sama luar biasanya denganmu, jadi jangan khawatir. Lebih baik kamu fokus belajar untuk menjadi lebih kuat dan bisa melindunginya."


"Yes, Mr."


Setelah mendengar nasehat dari gurunya, Alva segera berlari menyusul yang lainnya.


Benar apa kata Mr. Gyofano. Dia harus menjadi kuat, barulah dia bisa melindungi Ava dengan baik. Dia tidak boleh lemah bagaimanapun caranya.


Di sisi Ava, dia baru saja selesai dan menghampiri Mr. Gyofano yang juga baru sampai. Murid-murid lainnya langsung maju secara berurutan.


"Sudah? Kelas kalian sangat tertib, ya," ujar Mr. Gyofano saat melihat mereka mengantri dan berbaris tanpa ada keluhan.


"Kamu bisa menyentuhnya sampai mana?," lanjutnya.

__ADS_1


"9,5/10."


Ava menjawabnya dengan singkat, padat, dan jelas.


Mr. Gyofano menyuruhnya untuk menunjukkan tato yang dia dapat. Melihat ekspresi terkejutnya, sepertinya bukan tato sembarangan. Tato Ava adalah tato berupa hewan sihir yang sedang tertidur di tengah-tengah duri lunak beracun.


"Kalian benar-benar saudara. Sama-sama monster."


"Saya anggap itu pujian. Terimakasih, Mr. Kalau boleh tahu, seperti apa tato Alva?," tanya Ava penasaran.


"Tatonya menunjukkan kelincahan, kekuatan, teknik bertarung jarak dekat, dan pengobatan. Karena tato ini digunakan untuk menggambarkan kemampuan seseorang, bukankah ini luar biasa?."


"Ya. Bagaimana dengan tato saya?."


"Lincah, kontrak dengan hewan sihir, dan racun. Dilihat dari sisi manapun, ini kemampuan yang mematikan. Kamu boleh menggunakan senjata apa pun yang bisa kamu lapisi dengan racun. Bahkan masih bisa memanggil hewan sihir untuk membantumu. Lihat? Kalian benar-benar sepasang monster."


Ava hanya terdiam, tak bisa membalas sepatah kata pun. Mr. Gyofano lanjut memberi penjelasan kepada siswa lain yang juga sudah selesai.


Di sisi lain, Alva baru saja selesai memanggil roh pelindungnya. Dia berupa singa jantan berwarna putih dan hitam dengan tanda di dahinya. Roh ini menggambarkan kebijaksanaan, kekuatan, kekuasaan, dan keberanian.


1 bulan kemudian....


Kelas Alva akan mengadakan latih tanding untuk merevisi anggota kelas A. Dengan kata lain, kelas Alva dan Ava akan saling bertemu untuk lawan satu sama lain.


Di arena, kelas Alva sudah menunggu dengan wali kelas mereka yaitu Master Briyyan. Sementara itu, rombongan kelas Ava baru saja


sampai.


"Apa maksudnya ini?," Mr. Gyofano mengernyitkan dahinya, dia merasa tidak terima.


Ava maju dan mendekat ke Mr. Gyofano.


"Selama ini, semua warga sekolah mengikuti hal itu tanpa tahu apa-apa. Latih tanding tidak bisa dilakukan jika salah satu pihak tidak setuju. Jadi tidak ada yang bisa memaksa. Termasuk Anda, Mr. Gyofano."


Ava mengatakannya dengan nada yang dingin dan mata yang tajam. Mereka semua terdiam, terpaku di tempat. Tak ada yang merespon.


"Dampak dari pergantian tim hanya untuk tim sementara adalah berkurangnya kekompakan tim. Tidak menguntungkan sama sekali," lanjutnya.


"Lalu, bagaimana dengan kegiatan antar kelas yang harus ada?," tanya Mr. Gyofano yang masih merasa kesal.


"Bagaimana jika ekspedisi? Lagipula ada materi Mencari Monster Kontrak yang bisa disandingkan. Ini cukup menguntungkan, bukan?," usul Miss Nelshon.


"Baiklah. Saya setuju."


Akhirnya, mereka pergi ke salah satu hutan di lingkungan akademi untuk melakukan ekspedisi. Misi mereka adalah meningkatkan pengalaman, kekuatan, dan juga mendapatkan kontrak dengan monster yang mereka inginkan.


Saat ini, para murid sedang bersiap untuk masuk dan menjelajahi hutan itu. Murid-murid di kelas Alva dibekali peta yang hanya bisa dibuka sekali selama 20 menit. Rencananya, itu akan digunakan untuk melarikan diri di keadaan darurat. Sementara itu, Miss Nelshon hanya memberi mereka pengetahuan dasar tentang apa yang ada di dalam sana serta dampak dan fungsinya.

__ADS_1


Mereka akan melakukan ekspedisi selama 5 hari. Dalam 5 hari itu, mereka harus bisa bertahan hidup meskipun harus menyerah.


Setelah diskusi antara guru dan murid, Mr. Gyofano sebagai penengah mulai memberikan aba-aba, "Siap, sedia, mulai!"


Para murid segera pergi berpencar dengan kelompoknya masing-masing. Di hari pertama, mereka akan mencari markas yang cocok terlebih dahulu.


Tim yang dipimpin oleh Alva mendapat markas di sebuah gua. Di depannya ada sungai kecil. Ada juga tanaman yang bisa dimakan tidak jauh dari sana. Tempat yang bagus.


Sementara itu, tim yang dipimpin Ava membuat markas sendiri di sebuah tebing. Mereka membuatnya dengan cepat dan segera merapikannya supaya terlihat natural.


Setelah perjuangan mencari markas, Alva dan Ava bertugas mencarikan makanan untuk timnya. Pekerjaan ini harus dilakukan oleh anggota terkuat dalam kelompok untuk menjamin bahwa dia akan kembali dengan selamat.


Di tengah perjalanannya, Alva melihat buah yang awet untuk disimpan dalam waktu yang lama. Ia pun segera menghampiri buah-buah itu untuk mengambilnya.


Tanpa diduga, Alva bertemu dengan Ava yang terlihat baru saja selesai memetik buahnya.


"Oh, Alva. Kalau kamu ingin memetiknya, segera lakukan. Buah ini akan membusuk begitu matahari sirna. Awan mendung sudah hampir menutupinya."


"Ah, oke."


Alva segera memetiknya dan memasukkannya ke dalam tong dengan cepat. Sambil memetik, mereka saling berbicara.


"Alva, kamu pasti sudah kuat, ya?," tanya Ava.


"Kenapa Kakak berpikir begitu?," Alva membalasnya dengan pertanyaan juga.


"Soalnya kamu dikirim untuk mencari makanan. Kan biasanya orang yang melakukannya adalah orang yang kuat dan dipercayai oleh anggota tim."


"Berarti Kakak juga, kan?."


"Aku tidak bisa menjawabnya."


Mereka hening sesaat, mencari topik yang akan mereka bahas. Sementara itu, Alva yang sudah selesai memetik buah segera memasukkan tongnya ke dalam penyimpanannya.


"Kakak tidak menyimpan keranjang buah itu?," tanya Alva saat sadar bahwa kakaknya hanya membawa keranjang kecil dan masih menentengnya.


"Aku tidak memiliki alat sihir untuk melakukannya."


"Apa Kakak tidak diberi ini? Kami sekelas diberi ini oleh Master Briyyan."


"Tentu saja. Wali kelasmu itu seorang bangsawan yang cukup berpengaruh. Miss Nelshon sendiri hanya bangsawan biasa. Dia tidak akan mampu memberikan alat sihir semahal itu untuk murid-muridnya."


".... Lalu, bagaimana kalian bertahan di situasi darurat jika hanya memiliki beberapa buah itu?."


Alva menanyakannya dengan perasaan khawatir. Wajar saja. Dengan buah satu keranjang, mereka tidak bisa bertahan di situasi darurat. Kalaupun mengumpulkan buah dengan bolak-balik, itu akan menghabiskan energi. Kita bahkan tidak tahu kapan keadaan darurat bisa terjadi dan apa penyebabnya.


"Rahasia," ujar Ava sambil meletakkan jari telunjuk tangan kanannya di bibirnya.

__ADS_1


Ava segera pergi dari sana untuk kembali ke markasnya.


Alva terkejut ketika menyadari bahwa dia tidak bisa merasakan aura kakaknya sama sekali, bahkan ketika mereka sedang berhadapan. Ia sadar bahwa kakaknya sudah jauh lebih kuat darinya.


__ADS_2