
"Jadi, Ayahku tercinta.... Ada masalah apa yang mengharuskan keluarga kecil kita untuk berkumpul?."
"Sebenarnya Ayah ingin menyelesaikan ini sendiri dengan kakekmu, tapi ini juga akan mempengaruhi kamu, jadi kami ingin memberitahukannya."
"Hm, baiklah. Apa itu?."
Sang ayah menceritakan tentang rumor yang beredar akhir-akhir ini. Ada seorang pemuda yang mengaku-ngaku kalau dia adalah keturunan satu-satunya dari keluarga mereka—Meshach van Dominic. Dia dengan bangga dan lantang menyerukan pada semua orang bahwa 'aura' mencekam itu berasal darinya.
"Banyak yang tidak percaya padanya. Mereka para rakyat biasa sudah tahu kisah kita yang merupakan keluarga berambut putih, senada dengan mata kita. Namun...."
Pemuda itu kembali dengan rambutnya yang dicat dengan warna putih.
"Dia juga menggunakan alat untuk mengubah warna matanya menjadi putih. Entah bagaimana dia mendapatkan alat seperti itu," ujar sang kakek geram.
"Saya tahu benda itu, Kakek," sahut Ava.
"Hanya satu alat yang seperti itu dan hanya satu tim pula yang bisa membuatnya. Teman sekelas saya yang membuatnya untuk nilai praktek semester lalu."
Kakeknya yang terlihat geram sedari tadi mulai menunjukkan ketertarikan di wajahnya. Sehebat apa orang itu langsung terbesit dalam pikirannya.
Ava menjelaskan panjang lebar tentang alat itu dan pembuatnya juga tentang tanggapannya untuk pemuda gak tahu malu itu.
Dia tak masalah jika dia berpura-pura dengan nama keluarganya, namun lain halnya jika masalah kekuatan.
Menurut Ava pribadi, kekuatan adalah hal yang memperkuat eksistensi seseorang. Satu dari diri kita yang merupakan bagian dari jati diri. Itu tidak pantas untuk dipalsukan.
__ADS_1
"Kita akan memberinya pelajaran, tidak. Kita harus memberinya pelajaran. Tidak ada hal tiru-meniru seperti itu di keluarga kecil kita. Hanya kita bertiga," ucap Ava dengan seringainya.
Ayah dan kakeknya saling berhadapan kemudian tersenyum. "Baiklah, lakukan sesukamu," ujar sang Ayah pasrah.
"Hehe, aku butuh Ayah untuk membantuku. Ayo sekarang saja, 'Yah!."
"Baik, baik. Apa rencananya?."
...----------------...
Ava dan ayahnya pergi ke kota, menuju tempat di mana pemuda itu berada.
Sepanjang perjalanan, semua orang memperhatikan Adrastos. Mereka tahu bahwa di hadapan mereka ada sosok yang benar-benar luar biasa. Adrastos memang pernah beberapa kali menampakkan diri, jadi masyarakat mengenalnya.
Tak lama kemudian, sampailah mereka di taman yang dikerumuni banyak orang. Seseorang dengan rambut dan mata putih yang sedang menyombongkan diri menjadi pusat mereka.
Setelah menyadari kedatangan Adrastos, pemuda itu menghampirinya.
Dia kemudian menepuk-nepuk pundaknya sambil berkata, "Yo, ada apa? Kenapa kau juga di sini, saudara?."
"Ohhh.... Dia benar-benar anggota mereka?."
"Aku tidak yakin. Tuan Besar saja belum membalas apa pun kan?."
"Benar, benar. Aku tidak sabar melihat dia dipermalukan!."
__ADS_1
Adrastos diam. Dia sangat marah. Anak di depannya bahkan lebih muda dari putrinya, tapi dia berani memanggilnya 'saudara'?! Gila.
"Turunkan tanganmu dariku. Kau tidak pantas."
"A-apa? Saudara, kamu melupakanku? A-aku, aku putra dari anak kedua Kepala Klan Neiro!."
Adrastos menatap tajam pemuda itu yang membuatnya mundur ketakutan. Dia bahkan terduduk di tanah dengan sekujur tubuhnya yang gemetaran.
"**Putra dari anak kedua? Kepala Klan Neiro? 'Klan'?! Omong kosong!."
"Sejak kapan Keluarga Meshach van Dominic menjadi Klan, hah?! Kepala Keluarga saat ini adalah ayahku, dan namanya bukan Neiro. Setiap dari kami memiliki nama diawali dengan huruf A! Aku anak satu-satunya, mana mungkin ada anak kedua, apalagi putranya?!."
"Kami hanya keluarga kecil dengan dua orang laki-laki dan satu perempuan! Aku, ayahku, dan putriku! Tidak lebih dan tidak kurang. Ingat itu**!."
Adrastos mendengus kesal menahan amarah. Dia tak bisa menghilangkan kekesalannya hanya dengan menekan setiap katanya.
"Seseorang, tolong siram dia dengan air," ujar Adrastos yang mencoba untuk tenang.
Seorang pedagang dan nelayan yang membawa ember langsung mengambil air kolam yang ada di taman itu. Mereka langsung mengguyur pemuda itu tanpa keraguan sedikit pun.
Apa yang terjadi membuat mereka terkejut. Warna rambutnya memudar menjadi hitam, air yang jatuh ke tanah menjadi warna putih karena terkena catnya.
Dalam keterkejutan itu, Ava berjalan ke tengah-tengah mereka dengan rambutnya yang sedikit demi sedikit kembali menjadi putih.
"Saya Ava Deliza Meshach van Dominic, putri sekaligus pewaris satu-satunya keluarga Meshach van Dominic."
__ADS_1