Bloody Game

Bloody Game
Chapter Eleven


__ADS_3

"Kalau gitu langsung saja kalian lakukan voting." Jihoon dan Hyunjin datang.


Setelah selesai menulis nama di kertas, semua pemain memberikan ke Jihoon dan Hyunjin.


"Gue apa lo yang baca?" Tanya Jihoon.


"Lo sajalah. Gue lagi malas."


"Oke."


"Jadi yang di voting kali ini adalah..."


"Selamat kepada peserta Jaehee!" Seru Jihoon.


"Hei hei, berhenti bermain-main Jihoon!" Titah Hyunjin.


"Em iya deh."


"Kalian semua vote gue?" Tanya Jaehee.


Tidak ada yang merespon.


"Oke kalau gitu. Tapi, gue mau bilang kalau rekan gue jauh lebih licik dan pintar dibandingkan dengan gue. Dan jangan lupa kalau bukan hanya kami saja pembunuhnya." Jaehee melangkah ke depan.


Sesudah itu Jihoon mengambil pistol dan menembak kepala Jaehee.


"Jaehee di eliminasi. Selamat karena telah berhasil menemukan pembunuhnya!" Seru Jake dari speaker.


"Nah sekarang permainan sesungguhnya akan dimulai! Kalian semua pergilah ke ruang senjata, gue akan memberitahu sesuatu yang penting nanti." Titah Jake.


Semua pemain bingung namun tetap mengikuti arahan Jake menuju ke ruang senjata.


"Kami semua sudah sampai, sekarang mau kalian bertiga apa?" Tanya Jaehyuk.


"Hm pembunuhnya masih tersisa satu orang kan? Sekarang jika kalian ingin bertahan hidup dari pembunuhnya dan para pemain lain, kalian perlu senjata itu. Kali ini peraturan sudah berubah, semua para pemain akan saling membunuh untuk bisa hidup. Jadi yang akan keluar hanya satu pemain." Jelas Jake.


"Kok begitu?! Harusnya kan kita cuma menemukan pembunuh yang terakhir, kenapa jadi gini?!" Jaehyuk tidak terima.


"Memang seperti ini gamenya." Sahut Hyunjin.


"Jadi kalian harus waspada satu sama lain, dan tidak percaya siapapun lagi disini." Lanjut Jihoon.


"Berapa senjata?" Tanya Asahi.


"Hah?" Hyunjin bingung.


"Berapa yang bisa diambil?" Tanya Asahi lagi.


"Maksimal dua." Kata Jihoon.


"Kalau gitu gue pilih satu pedang dan senapan AK-47."


Sesudah itu Asahi pergi dari ruang senjata.


"Gue akan bersembunyi dulu." Batin nya.


"Gue pilih pistol ganda ini." Kata Jihan.


"Han lo beneran mau melakukan ini?" Tanya Hiyyih.


"Gue nggak punya pilihan Hiyyih. Ini satu-satunya cara biar gue bisa bertahan hidup. Walaupun harus membunuh yang lain." Jihan menunduk.


"Ya udah." Hiyyih juga mulai memilih.


Hiyyih mengambil bom asap dan satu pisau.

__ADS_1


Jaehyuk, Jeongwoo, Jungwon, Winter dan Jinwoo juga mulai memilih.


Skip


Setelah selesai memilih, para pemain keluar dari ruang senjata.


"Lo yakin dengan peraturan baru ini Hoon?" Tanya Hyunjin ragu.


"Iya. Dia kan senang dengan ini juga."


Hyunjin dan Jihoon membereskan mayat Jaehee yang berada di ruang meja bundar tadi.


Focus Jaehyuk


"Astaga. Gue nggak pintar main senjata begini lagi. Gimana caranya bisa bunuh orang??" Gumam Jaehyuk yang bersembunyi di kamar mayat.


"Jae." Panggil seseorang.


"Gue lihat lo tau."


Glek


"Astaga itu suara siapa lagi? Nggak mungkin kan ada orang yang kembali hidup disini?" Jaehyuk membalikkan badannya.


"Hantu!!!" Teriak Jaehyuk.


"Sstt. Ini gue Sahi." Asahi membekap mulut Jaehyuk.


"Oh gue kira hantu. Makanya jangan manggil gue seperti hantu dong."


"Emang iya?"


"Iyalah! Lo itu selalu aja buat gue kaget. Dimanapun dan kapanpun." Celoteh Jaehyuk.


Jaehyuk tertegun. Ia bersiap lari dan memegang kapaknya.


Sayangnya pintu kamar mayat terkunci dari luar.


"Aduh kok dikunci sih?! Mampus hidup gue nih." Gerutu Jaehyuk.


"Lo mau apa Sahi? Lo nggak akan bunuh sahabat kecil lo sendiri kan?" Jaehyuk melangkah mundur pelan.


Duk


Jaehyuk berada di ujung tembok sekarang.


"Gue mau kita kerja sama." Kata Asahi memainkan pedangnya.


"Maksudnya?"


"Gue tau lo pintar Jaehyuk. Lo sudah tau siapa pelaku yang satu lagi selain Jaehee kan?" Tebak Asahi.


Raut wajah Jaehyuk berubah.


"Terus mau lo apa?"


"Gue mau kita bunuh dia, habis itu kita bisa habisi yang lain."


"Lo gila?! Gue nggak mau!" Tolak Jaehyuk.


"Terus lo mau mati konyol gitu dibunuh sama rekan Jaehee?!"


"Dia itu pintar dan cepat Jaehyuk! Pikirkan diri lo sendiri dulu!" Bentak Asahi.


"Gue nggak mau yah setelah kehilangan Haruto, gue harus kehilangan lo dan Jeongwoo juga."

__ADS_1


Jaehyuk mulai berpikir.


"Oke. Gue setuju. Lo ada rencana nggak?" Tanya Jaehyuk yang dibalas senyuman mengerikan Asahi.


Kemudian seseorang masuk ke kamar mayat.


Drap


Drap


Drap


Semakin dekat ke tempat Jaehyuk dan Asahi bersembunyi.


"Disini sepertinya aman. Gue lebih baik bersantai dulu." Kata orang itu.


"Lagian mereka paling bunuh-bunuhan disana. Nanti gue akan keluar jika yang lain sudah mati semua. Hahahaha." Tawa orang itu.


"Itu suara Jinwoo bukan?" Bisik Jaehyuk ke Asahi.


Asahi mengangguk.


"Psikopat." Umpat Jaehyuk dan Asahi meliriknya.


"Gue tau loh kalian berdua disana bersembunyi. Keluar dong! Mentang-mentang gelap begini, lo pikir gue nggak bisa lihat apa."


Jaehyuk dan Asahi keluar.


Terlihat Jinwoo dengan senapan nya.


"Kalian berdua sudah tau siapa pelakunya?" Tanya Jinwoo.


"....."


"Gue nanya loh! Kok nggak dibalas??" Jinwoo memutar senapan nya ke depan.


"Iya. Kenapa?" Balas Asahi.


"Oh bagus deh. Gue nggak perlu sembunyi lagi." Kata Jinwoo.


Jinwoo menembak bahu kanan dan kiri Jaehyuk. Asahi langsung melotot dan mulai emosi.


"Argh." Ringis Jaehyuk.


"Hm bukannya lo nggak punya emosi Sahi? Kok lo marah ke gue?" Tanya Jinwoo santai.


Asahi mendekati Jaehyuk.


"Tunggu disini. Gue akan habisi dia." Titah Asahi.


Asahi memukul Jinwoo dengan lincah hingga Jinwoo tersungkur ke bawah.


Brak


Jeongwoo datang membantu Asahi.


"Lo nggak apa hyung?" Tanya Jeongwoo.


"Nggak. Bawa Jaehyuk keluar." Titah Asahi.


Jeongwoo merangkul Jaehyuk keluar.


Jeongwoo membawa Jaehyuk pergi ke tempat aman. Di gudang.


Ternyata disana ada Winter dan Jungwon.

__ADS_1


__ADS_2