Bloody Game

Bloody Game
Chapter Four


__ADS_3

Akhirnya Winter ditemani oleh Sungchan dan Jungwon. Mereka pergi ke lantai satu dan menuju ruangan Jihoon, Jake, dan Hyunjin.


"Kalian bertiga tau dimana kotak obat tidak?" Tanya Winter.


"Tau, tunggu sebentar." Jake pergi meninggalkan ruangan.


Beberapa menit kemudian, ia datang dengan kotak merah besar. Jake memberikan kotak itu ke Winter.


"Sejak kapan lo simpan kotak obat Jake?" Tanya Jihoon.


"Sejak kita kesini. Gue kan orangnya nggak mau ada kerepotan nanti, jadi untuk jaga-jaga ada kotak obat gue bawa. Untuk persediaan mereka, contohnya sekarang."


Winter kembali bersama Sungchan dan Jungwon. Darah yang keluar dari bahu kiri Jinwoo sudah dibersihkan, Winter juga sudah mengobati bahu Jinwoo dengan obat dari Jake.


"Gue heran. Kenapa dia berikan obat itu ke kita? Ada maksud atau gimana? Menurut lo gimana hyung?" Bisik


Jungwon ke Sungchan.


"Maksud lo?" Tanya Sungchan balik.


"Kenapa dia nggak biarkan Jinwoo mati aja gitu. Kan lebih mudah bagi mereka."


"Heh jaga omongan lo Won! Nanti lo dikira yang bunuh Wonyoung dan celakai Jinwoo."


Jungwon pun diam.


"Ugh." Jinwoo perlahan membuka matanya dan mendapati banyak yang mengerumuni nya.


"Kalian kenapa lihat gue begitu?" Tanya Jinwoo gugup.


"Lo—"


Jinwoo menelan salivanya dan berkeringat dingin.


"Lo sudah sadar rupanya Woo! Syukur deh!" Seru Jeongwoo.


"Oh iya Wonyoung mana? Gue nggak lihat dia disini." Ucap Jinwoo sambil melihat sekitar ruangan.


"Dia sudah nggak ada. Kita semua nggak tau siapa pelaku yang membunuh Wonyoung, sepertinya pembunuh itu sengaja matikan lampu  dan membunuh Wonyoung dengan mendorong nya kemudian menusuk dada nya." Pikir Hiyyih.


"Begitu yah. Maaf yah, harusnya gue lindungi Wonyoung." Sesal Jinwoo.


"Kenapa minta maaf?" Heran Guanlin.


"Hanya merasa bersalah saja hyung."

__ADS_1


"Lo dan Wonyoung kan jadi korban tuh, tapi gue bingung kenapa lo bisa ada di tangga lantai dua menuju lantai tiga? Bukannya lo sama Jaehyuk? Kalian berdua kemana tadi?" Curiga Beomgyu.


"Kami berdua pergi ke ruang musik. Kenapa?" Tanya Jinwoo.


"Kenapa lo ninggalin Jaehyuk?" Tanya Beomgyu lagi.


"I-itu gue jalan bareng Jaehyuk awalnya tapi karena Jaehyuk cepat jalannya gue jadi ketinggalan dan tersesat. Eh tau-tau nya gue malah sampai di tangga tempat kalian tadi."


"Gue nggak yakin dengan jawaban lo Woo." Gumam Beomgyu.


"Menurut lo siapa pelakunya?" Tanya Haruto.


"Gue nggak tau. Sepertinya cowok." Pikir Jinwoo.


"Berarti itu Jaehyuk hyung!" Seru Haruto.


"Gue sudah berkali-kali bilang kalau itu bukan gue Ruto!" Kesal Jaehyuk.


"Bohong lo!"


"Gue nggak bohong anj*ng!" Umpat Jaehyuk.


Asahi kaget karena Jaehyuk yang biasanya sabar berkata kasar.


"Jaehyuk marah. Berarti bukan dia." Ungkap Soojin.


"Cukup! Diam kalian!" Teriak Asahi memandang Soojin dan Haruto tajam.


"Gue harap kita nggak vote siapapun di meja bundar nanti." Titah Guanlin dan memisahkan diri.


"Gue setuju dengan Guanlin. Hari ini jangan ada yang ngevote di meja bundar dulu." Hiyyih pergi disusul Jihan.


Yang lain juga pasrah dan duduk sambil larut ke dalam pikiran masing-masing.


Jake datang ke ruangan istirahat, meminta semua pemain untuk pergi ke meja bundar.


"Jihoon hyung dan Hyunjin hyung sedang mengurus mayat Wonyoung, jadi gue yang akan mengurus kalian disini." Kata Jake.


"Cara votingnya mudah. Kalian duduk di meja bundar, berdiskusi sebentar. Dan sebuah kertas akan gue bagikan setelah waktu diskusi habis. Pilih orang yang kalian curigai dan berikan ke gue. Jika nggak ada yang dicurigai, malam ini nggak akan ada pertumpahan darah. Tapi jika ada, sebuah kejutan akan menghampiri kalian." Jelas Jake.


Semua pemain berkumpul tak terkecuali Jinwoo.


"Kita tadi sudah sepakat untuk tidak vote siapapun dulu. Jadi, gue rasa nggak ada gunanya diskusi lagi." Kata Guanlin sambil memberikan kertas kosong ke Jake.


Semuanya juga langsung memberikan kertasnya ke Jake.

__ADS_1


"Bentar. Gue bacakan yah."


Skip


"Dari hasil voting, Jaehyuk mendapat tiga suara sedangkan Haruto mendapat dua suara. Tapi karena yang tidak memilih lebih banyak maka gue akan meloloskan Jaehyuk kali ini."


"Siapa yang vote gue?!" Kesal Jaehyuk karena seharusnya semua orang tidak voting.


"Lo nggak perlu nanya lagi kalau sudah tau itu pasti gue." Celetuk Haruto.


"Gue vote lo karena mencurigakan." Lanjutnya.


"Terus yang dua lagi siapa?" Tanya Jaehee.


"Entah. Gue nggak ngajak siapapun tuh." Balas Haruto.


"Bukannya tadi sudah dibilang kalau jangan vote?! Kalian ini nggak dengar yah?! Mau salah satu dari kita mati lagi seperti Wonyoung?!" Guanlin benar-benar emosi.


"Tapi kami nggak mau mati konyol Lin. Kalau nggak vote, nanti kita yang di vote." Balas Soojin.


"Jangan bilang lo yang vote gue?!" Tanya Jaehyuk ke Soojin.


"Gue di pihak lo Jae. Nggak mungkin dong."


"Bisa saja lo berkhianat ke Ruto."


"Terserah sih, gue mau pergi dulu. Lagian nggak ada yang terbunuh disini." Soojin keluar dari ruang meja bundar.


"Kalian juga bisa keluar sekarang. Nanti akan gue bilang untuk babak berikutnya." Ujar Jake.


Kemudian semuanya juga ikut keluar kembali ke ruang istirahat.


Jake kembali ke ruangannya.


"Gimana? Yang vote Jaehyuk dan Ruto kalian sudah tau?" Tanya Jake.


"Hm menarik. Para pembunuhnya keren juga, nggak salah kita pilih mereka berdua. Benar-benar cerdik dan licik." Puji Jihoon.


"Tapi kekompakan mereka juga patut dijempol karena lebih banyak yang nggak voting tadi Hoon." Kata Hyunjin.


"Padahal kalau banyak pasti seru jadinya." Lanjut Hyunjin tersenyum licik.


"Gimana sekarang? Target kita siapa?" Tanya pembunuh A.


"Di setiap ronde kan bisa membunuh dua orang. Gue akan tangani saksi mata yang lihat gue membunuh Wonyoung. Lo tangani yang lain yang paling pintar. Jangan terlalu kentara." Titah pembunuh B.

__ADS_1


"Oke."


__ADS_2