
Jeno dan kedua bawahannya datang.
"Mau apa? Jadi pahlawan? Lo nggak akan bisa menang melawan setan-setan gue." Ucap Jeno.
"Hahahahahahaha." Tawa Asahi tiba-tiba.
"Kenapa ketawa? Sakit jiwa lo?"
"Harusnya lo lawan gue Jen, masa sih lawan gue doang nggak berani. Jangan pakai mereka dong, kalau lo pakai mereka itu artinya lo lemah dong."
"Gue nggak lemah!" Bentak Jeno.
"Oh ya? Kalau gitu lawan gue dong." Tantang Asahi.
"Oke kalau itu mau lo." Ucap Jeno.
Selagi mereka bertarung diam-diam kedua bawahan Jeno pergi ke lantai tiga. Asahi bahkan tidak menyadari mereka pergi.
Keduanya bertemu dengan seseorang yang sejak tadi mengawasi Jihoon, Minju, Junghwan dan Zoa.
"Apa yang perlu kami berdua lakukan?" Tanya si badut.
"Itu gampang, kalian buat Minju jatuh dari sini dengan begitu dia akan mati dan lebih mudah untuk melakukan ritual nanti." Titah orang itu.
"Baiklah, itu tidak sulit."
Si badut dan siswa itu mencari Jihoon dan Minju. Tak lama keduanya bertemu Jihoon dan Minju.
"Kalian kalau main petak umpet itu harus lebih pintar, kalau begini nggak seru."
Jihoon kaget, mau tidak mau ia melawan kedua mahkluk itu.
Di sisi lain, Jeno kalah. Ia sudah pingsan. Asahi langsung pergi ke lantai tiga.
Ia melihat Jihoon bertarung dengan dua mahkluk. Selain itu ia melihat seseorang yang memerintah badut dan siswa itu.
"Sudah gue duga dia pasti disini juga." Gumam Asahi.
Asahi langsung berlari ke Jihoon dan membantu.
Jihoon melawan siswa dan Asahi melawan badutnya. Parang itu melayang-layang tapi tidak mengenai Asahi.
"Duh gue nggak pernah basmi ginian." Ucap Asahi.
Semakin lama tenaga Asahi semakin terkuras dikarenakan ia sudah memakai banyak tenaga saat melawan Jeno.
Tiba-tiba datanglah setan perempuan jelek itu.
Asahi tidak melihat Seungmin.
"Ah pasti Seungmin kalah."
"Hohohohohohoho, gue nonton dulu deh." Ucap setan perempuan itu.
"Bantuin ini njir!" Kata si badut.
"Iya nih, lo paling kuat masa nggak mau bantu kita berdua. Nggak guna deh!" Ejek siswa itu.
"Ya udah, kasian juga kalian."
__ADS_1
Syut
Jihoon langsung terlempar ke tembok, untungnya tidak jatuh dari lantai tiga.
Asahi juga bernasib sama.
Setan perempuan itu mendekat ke Minju, ia langsung mengambil alih Minju lagi.
Tak berlangsung lama, Minju terjatuh dari lantai tiga.
Bruk
Suara itu membuat Junghwan dan Zoa langsung turun ke bawah.
Keduanya kaget dan panik sekaligus.
"Telpon ambulans." Titah Zoa.
"Oke."
Tak lama Minju dibawa ambulans, Junghwan dan Zoa juga ikut.
"Kalian terlalu ceroboh." Ucap seseorang.
"Sebentar lagi sahabat kalian itu akan kami tumbalkan untuk ritual." Kata orang itu dan pergi disusul ketiga makhluk nya.
Jihoon dan Asahi pelan-pelan berdiri. Mereka menghubungi Junghwan.
"Gimana?" Tanya Asahi ke Jihoon.
"Kata Wawan Minju masih di UGD."
Tibanya di rumah sakit, Asahi dan Jihoon langsung menuju ke UGD. Disana Junghwan dan Zoa terlihat mondar-mandir, Bahkan Hyewon dan Yoshi juga datang karena Hyewon memaksa Yoshi mengantarnya untuk melihat Minju.
"Minju gimana?" Tanya Asahi dan Jihoon bersamaan.
"Masih ditangani sama dokter." Jawab Yoshi.
Cklek
Pintu UGD terbuka.
"Siapa wali dari pasien Kim Minju?" Tanya dokter yang bernama Park Jinyoung.
Baru saja Jihoon mau ngomong, ia kalah cepat dengan Asahi.
"Saya dok."
"Kalau gitu ikut saya sebentar, yang lain tunggu disini saja." Ucap Jinyoung dan pergi, Asahi mengekori dari belakang.
"Gimana ceritanya Minju bisa disini?" Tanya Yoshi, sebelumnya ia mendapat kabar dari Haruto dan langsung kesini terburu-buru dengan Hyewon.
"Perempuan itu, dia yang menyebabkan semua ini terjadi. Dia mengambil alih tubuh Minju dan menjatuhkan Minju dari lantai tiga gedung." Jelas Jihoon.
"Gedung? Gedung yang mana?" Tanya Yoshi lagi.
"Gedung yang sedang dibangun di sebelah sekolah, kita semua awalnya berencana menghindari Jeno dan pengikutnya tapi malah terjadi yang lebih buruk."
"Jadi Jeno dalangnya?" Kaget Hyewon dan Yoshi.
__ADS_1
"Iya."
"Bukan cuma Jeno kok." Sahut Haruto.
Hyewon, Yoshi, dan Jihoon menoleh meminta penjelasan.
"Terus ada lagi gitu?" Tanya Jihoon.
"Iya, dia kepala sekolah kita. Sakura Miyawaki." Ucap Junghwan.
"Tau darimana?" Tanya Hyewon.
"Dari foto ini." Ucap Junghwan dan mengeluarkan foto Jeno, Sakura, dan Jaemin.
"Tapi kan lo nggak bisa asal nuduh Wan, kalau cuma Jeno doang gimana?? Atau mungkin memang ada orang lain tapi itu bukan Sakura." Ucap Jihoon.
"Entahlah, yang pasti gue masih berpikir mereka berdua pelakunya."
Kemudian Asahi datang dengan wajah yang sulit diartikan.
"Sahi. Gimana? Dokter bilang apa?" Tanya Jihoon.
"Minju koma." Ucap Asahi.
"Lo nggak bercanda kan??"
"Memangnya muka gue kelihatan lagi bercanda??" Tanya Asahi ke Jihoon.
Semuanya terdiam.
Buk
Jihoon terjatuh karena pukulan keras Yoshi.
"Kok lo mukul gue?!" Bentak Jihoon.
"Ini gara-gara lo Hoon, coba kalau lo nggak ngajak kita semua kesana mungkin kita nggak mengalami hal aneh begini." Ucap Yoshi mengacak rambut nya frustasi.
"Kenapa jadi gue sih?!"
"Memangnya siapa lagi kalau bukan lo hah?! Harusnya gue waktu itu nentang ide bodoh lo itu!"
"Tapi kan lo juga setuju! Gue nggak sepenuhnya salah dong!"
"Stop! Bukan saatnya kalian berdua berantem! Pikirin cara buat keluar dari semua ini!" Bentak Junghwan.
"Gue setuju dengan Wawan." Timpal Asahi.
"Jangan berantem dulu, pikirin cara agar kita bisa bebas dari mereka dan pikirin Minju."
"Sepertinya kita bernasib sial tahun ini." Sahut Hyewon.
"Yang terpenting kita harus menyelesaikan ini semua kalau nggak mau diganggu terus." Sambung Zoa.
"Tapi gimana caranya Zo?" Tanya Junghwan.
"Gue tau siapa yang bisa bantu kita." Ucap Asahi.
"Siapa?" Semuanya serempak bertanya.
__ADS_1
"Jaemin dan Jeongin, gue yakin mereka bisa bantuin kita."