
Semuanya kembali ke ruang istirahat dengan wajah suram. Terlebih Sungchan dan Guanlin yang menyudutkan Haruto tadi. Mereka sangat menyesal dalam diam.
"Ini semua gara-gara kalian berdua! Coba kalau kalian dengarkan Haruto tadi, dia nggak akan mati!" Kesal Jeongwoo dan memukul wajah Guanlin.
"Woo sudah berhenti!" Lerai Jinwoo dan Jungwon.
"Kalian berdua terlalu sok pintar! Kalau tidak tau maksud dari petunjuk itu lebih baik diam saja!" Bentak Jeongwoo ke Guanlin dan Sungchan.
"Soal petunjuk, gue ada yang baru nih." Kata Jaehee.
"Lo kapan nemunya Jae? Perasaan lo nggak bilang apa-apa." Curiga Soojin.
"Hehe gue nggak mau bilang tadi karena lebih baik diskusi disini."
"Kenapa tadi nggak bilang memang sebelum Haruto dibunuh?" Tanya Jaehyuk curiga.
"Gue nggak bilang karena kalian semua lagi berantem. Gimana cara ngomongnya?"
"Dimana petunjuknya Jae?" Tanya Guanlin ke Jaehee.
"Ini." Jaehee memberikan ponsel yang di layarnya terdapat sebuah nomor.
Disana tertulis nomor 010211417.
"Kali ini petunjuk nya dengan nomor. Ada yang tau artinya nggak?" Tanya Guanlin.
"Gue nggak mau asal nebak lagi deh. Tobat." Kata Sungchan.
"Sama, gue juga." Tambah Guanlin.
"Menurut gue angka 010 itu kan nomor telepon di Korea. Berarti dia dari Korea. Dan jika gue analisis lebih lanjut, angka 10211417 itu mengarah ke huruf Jung. Dan yang marganya cuma Jung itu Sungchan." Terka Soojin.
"Lah kok gue??" Kaget Sungchan.
"Jadi lo tumbalin Haruto buat bebas dari tuduhan gitu?! Wah hebat sekali. Gue nggak nyangka sih Chan." Jeongwoo tersenyum.
"Gue rasa petunjuk pertama dari Winter adalah petunjuk pelaku yang satunya. Dan petunjuk dari Jaehee ini menuju ke Sungchan. Kalau Sungchan sudah kita tau, berarti kita hanya perlu menebak satu lagi." Pikir Soojin.
"Dan Sungchan lebih baik sendirian dulu kali ini. Winter, Somi, dan Jungwon kalian lebih baik bertiga." Titah Guanlin.
"Kalian nggak ada yang percaya sama gue?? Gue bukan pelakunya! Itu manipulasi doang!" Teriak Sungchan.
"Sayangnya kami percaya sama petunjuk itu Chan." Balas Hiyyih.
Salah satu dari mereka tersenyum puas melihat pemandangan itu.
__ADS_1
"Nah mari cari petunjuk baru tentang mereka lagi."
"Mayat Haruto gimana bodoh?!" Teriak Jeongwoo.
"Sudah kami bertiga urus tadi. Lanjutkan permainan saja Jeongwoo!"
Sungchan pergi sendirian. Asahi juga sendirian. Jaehyuk yang ingin pergi sendirian ditahan Guanlin. Guanlin meminta Jaehyuk menemaninya berdua saja.
Somi ikut dengan Jaehee dan Jinwoo. Soojin bersama Hiyyih dan Jihan. Jeongwoo ikut dengan Jungwon dan Winter.
"Som! Lo nggak mau ikut bareng gue?" Tawar Jungwon.
"Nggak. Gue percaya sama Jinwoo dan Jaehee kok. Mereka nggak mencurigakan sama sekali." Balas Somi menarik Jinwoo dan Jaehee menjauh.
Somi, Jinwoo, dan Jaehee mencari di sekitar gudang lantai tiga. Soojin, Jihan, dan Hiyyih masih suntuk di ruang senjata.
"Duh ini petunjuknya mana sih?! Nggak ketemu-ketemu! Nanti bisa-bisa tambah banyak korban lagi." Gerutu Hiyyih.
"Pelan-pelan dong Hiyyih. Emosi nggak akan selesaikan masalah." Bijak Soojin.
"Iya nih, gunakan mata besar lo Hiyyih. Biar bisa ketemu." Celetuk Jihan.
"Bacot lo Han! Dasar pendek!" Ejek Hiyyih kembali.
"Harusnya gue nggak disini." Batin Soojin.
"Gue pergi dulu deh. Nanti kalau kalian sudah berhenti berantem baru gue kembali. Bye." Pamit Soojin.
Hiyyih dan Jihan masih berantem tidak mendengarkan Soojin.
Focus: Jinwoo, Jaehee, Somi.
"Duh gudangnya berantakan sekali. Kalian nemu sesuatu nggak?" Tanya Somi ke Jaehee dan Jinwoo.
"Nggak." Balas Jaehee.
"Ah dapat!" Seru Somi.
"Mana?" Tanya Jaehee.
"Nih. Gue bacakan dulu." Kata Somi.
"Hello everyone. Tulisannya gitu Jae." Ucap Somi.
"Gue nggak ngerti Som." Balas Jaehee.
__ADS_1
"Jinwoo mana?" Tanya Somi.
"Tadi katanya mau nyari Jaehyuk. Soalnya dia kan pintar tuh."
"Eh bentar." Somi mulai berpikir.
"Ini tulisannya hello everyone. Dan yang selalu pakai kata-kata itu cuma Jaehee. Setiap pagi ke sekolah pasti sapaan nya begitu. Jangan bilang—" Somi menatap Jaehee dengan seksama.
"Lo kenapa Som?" Jaehee pura-pura nanya sambil mengeluarkan sesuatu.
"Lo bukan pembunuhnya kan Jae?" Tanya Somi sudah gemetaran.
"Bukan kok, tenang aja."
Jaehee mulai melangkah ke depan Somi. Somi mundur perlahan.
"Anjir ini tembok kenapa disini sih?! Gue lari ajalah!" Somi berlari sekuat tenaga.
Saat mau keluar, tiba-tiba sebuah balok menghantam kepalanya.
"Untung lo datang. Coba kalau nggak, dia bisa kabur." Kata Jaehee.
"Iya dong. Gue kan pintar." Balas pembunuh satunya.
"Kita apakan Somi?" Tanya Jaehee.
"Seperti biasa, lo urus dia. Gue mau pergi duluan. Ingat jangan sampai ada yang ketinggalan!"
"Oke."
Jaehee mengeluarkan pisaunya menancapkan ke leher Somi sampai Somi kehabisan darah dan Jaehee pun keluar dari gudang.
"Somi telah di eliminasi."
Bersamaan dengan itu, muncul sebuah pemberitahuan lagi.
"Soojin telah di eliminasi."
Jaehee tersenyum saat mendengar pemberitahuan Soojin.
"Ternyata dia melakukan itu dengan cepat yah. Gue nggak nyangka targetnya itu Soojin. Mungkin karena Soojin pintar kali yah." Gumam Jaehee dan berlari ke ruang meeting.
"Hm jadi mereka berdua pelakunya." Seseorang tengah memperhatikan Jaehee dan pembunuh satunya sejak tadi.
"Menarik sekali." Batin nya.
__ADS_1