Bloody Game

Bloody Game
Chapter Two


__ADS_3

Wonyoung sudah jatuh dengan darah bercucuran di kepala nya dan sebuah pisau menancap di dadanya. Jinwoo terluka di bagian bahu kirinya dan pingsan karena jatuh.


"Wonyoung telah di eliminasi. Tersisa lima belas orang lagi." Jihoon mengumumkan di speaker.


"Jinwoo! Wonyoung!" Teriak Guanlin dan Beomgyu bersamaan.


Keduanya menghampiri Wonyoung yang sudah tidak bernyawa dan Jinwoo yang pingsan.


Jihan dan Hiyyih yang di sebelah Wonyoung tadi syok dengan kejadian yang menimpa Wonyoung. Mereka terlalu kaget.


"Kalian nggak samperin Wonyoung?" Tanya Soojin.


Pertanyaan itu membuat Jihan dan Hiyyih sadar dan menghampiri Wonyoung.


Jihoon, Hyunjin, dan Jake datang.


"Oh jadi ini korban pertama yah. Terlalu cantik untuk di tumbalkan."


Perkataan Hyunjin membuat Guanlin marah besar, Guanlin berkali-kali memukul wajah tampan Hyunjin itu.


"Sekali lagi mulut lo jelek-jelekin pacar gue, gue nggak akan segan untuk bunuh lo disini!" Ancam Guanlin.


Tentu saja semua yang disana kaget dengan penuturan Guanlin. Guanlin yang dikenal dingin dan jutek ke semua cewek termasuk Wonyoung malah berpacaran dengan Wonyoung.


Bahkan Haruto, Somi dan yang lain yang baru datang juga kaget.


"Lo pacaran sama Wonyoung? Sudah berapa lama?" Tanya Beomgyu.


"Sorry gue nggak kasih tau ke lo Gyu. Ini juga permintaan dia ke gue supaya nggak ada yang ejekin dia dan gue. Apalagi kalian suka minta pj."


"Dan gue juga minta maaf kalau gue tikung lo padahal gue tau lo juga suka sama dia." Sesal Guanlin.


"It's okay Lin. Gue nggak apa kok, cinta kan nggak bisa dipaksakan. Gue ikut senang kalau lo jadian sama Wonyoung, lo kan baik orangnya."


"By the way, Wonyoung kenapa bisa jatuh dari tangga? Jinwoo juga?" Tanya Haruto.


"Kami nggak tau. Tadi mati lampu danĀ  tidak ada yang lihat pembunuhnya siapa." Jawab Jihan.


"Itu bukan kalian berdua kan?" Tanya Haruto ke Hiyyih dan Jihan.


"Bukanlah! Kami ini sahabat nya Wonyoung, nggak mungkin berbuat begitu!" Bentak Hiyyih.


"Yah kan gue cuma nanya ke lo. Nggak usah marah dong Hiyyih."


"Jangan membuat suasana jadi panas Ruto." Kata Jaehyuk.


"Oh iya yang sendirian tadi siapa saja? Lo dan Haruto kan Jae?" Ucap Somi memandang Jaehyuk dan Haruto.

__ADS_1


"Lo nggak bunuh Wonyoung dan celakakan Jinwoo kan?" Curiga Somi.


"Nggaklah! Gue di perpustakaan lantai dua, jauh dari sini!" Elak Haruto.


"Lo sendiri Jaehyuk?"


"Gue ditinggal sama Jinwoo. Tadi katanya dia mau ke suatu tempat. Eh taunya malah jatuh dan pingsan disini." Tutur Jaehyuk.


"Gue nggak percaya sama lo Jae." Somi memicingkan matanya.


"Terserah sih. Gue kan jujur dan nggak pernah bohong."


"Di game ini semua nggak ada yang bisa dipercaya Jae." Ucap Hiyyih.


"Tapi gue jujur tau Hiyyih!"


Asahi menepuk pundak Jaehyuk menenangkan sahabatnya itu.


"Gue lihat." Ucap Asahi membuat semua orang disana meliriknya.


"Lihat apa?" Tanya Jaehee.


"Dia bukan Jaehyuk tapi orang lain." Kata Asahi.


"Siapa dia? Cowok atau cewek?" Tanya Jeongwoo.


"Lah terus?" Bingung Jeongwoo.


"Dia cepat dan sedikit tinggi."


"Nggak ada lebih spesifik?" Tanya Sungchan yang sejak tadi diam.


"Nggak." Balas Asahi masih dengan wajah datarnya.


"Berarti itu cowok." Pungkas Winter.


"Kok lo tau?" Bingung Jihan.


"Sahi bilang cepat dan tinggi. Disini yang cepat dan tinggi cuma Wonyoung, Jinwoo, Jaehyuk, Haruto, dan Guanlin. Karena korbannya Jinwoo dan Wonyoung otomatis yang patut dicurigai hanya mereka bertiga." Winter menatap Jaehyuk, Haruto, dan Guanlin bergantian.


"Gue pacarnya Wonyoung. Gue nggak mungkin tega seperti itu." Alibi Guanlin.


"Tapi lo mau hidup kan? Bisa saja lo lebih egois dari pemikiran kita semua. Nggak ada yang tau Lin." Balas Sungchan.


"Cih."


"Bukannya Sungchan hyung juga tinggi dan cepat? Dia kan salah satu pemain di ekskul bola sekolah kita." Ucap Jeongwoo.

__ADS_1


"Mungkin. Bisa jadi Sungchan juga." Balas Winter.


"Sudahlah! Gue pusing, mau pergi ke ruang istirahat. Nggak bisa gue berpikir cerdik begini. Duluan yah." Pamit Beomgyu dan ke ruangan istirahat.


"Mayat Wonyoung gimana?" Tanya Guanlin.


"Kami akan urus itu. Beristirahat dan pikirkan pembunuhnya dulu." Ucap Jihoon dan membawa Wonyoung diikuti Hyunjin dan Jake.


"Jinwoo gimana?" Tanya Haruto.


"Bawa ke ruang istirahat. Kita obati lukanya itu." Titah Hiyyih.


Haruto dan Jungwon merangkul Jinwoo menuju ke ruang istirahat.


Skip


Semuanya tiba di ruangan istirahat. Haruto dan Jungwon meletakkan Jinwoo di paling pojok ruangan karena di ruangan itu tidak berisi apa-apa. Hanya sebuah ruangan kosong.


"Duduk sini Hiyyih." Panggil Haruto ke Hiyyih.


"Nggak ah! Gue bareng Jihan saja." Tolak Hiyyih.


"Duh kasian banget lo Ruto, ditolak mentah-mentah. Sabar yah." Jeongwoo menepuk pundak Haruto.


"Gue akan obati Jinwoo." Ucap Winter.


"Ya udah. Mau dibantu nggak?" Tanya Sungchan.


"Nggak perlu. Gue akan cari kotak P3K sendirian."


"Tapi lo itu cewek, nggak boleh keluar sendirian Win." Larang Sungchan.


"Lo khawatir sama gue? Lo nggak takut kalau misalnya gue itu pembunuhnya gitu?" Tanya Winter.


"Nggak mungkin. Gue percaya sama lo dan lo itu sama gue sejak tadi. Lo nggak bisa ke lokasi Wonyoung dan Jinwoo secepat itu."


"Gue rasa pembunuhnya berada di dekat Wonyoung tadi. Nggak mungkin gue, Winter, Jungwon, dan Somi yang bunuh Wonyoung karena kami ada di lantai tiga dan temani Somi ke toilet bareng-bareng." Jelas Sungchan.


"Jadi lo nuduh kami gitu?!" Guanlin tidak terima.


"Nggak juga. Gue nggak tau siapa yang bunuh Wonyoung. Cuma gue curiga saja kalau itu di antara kalian semua yang di dekat Wonyoung. Tak terkecuali Hiyyih dan Jihan, kalian juga menjadi tersangka." Balas Sungchan.


"Itu benar. Kalian yang berada di dekat Wonyoung lah yang patut di curigai, apalagi orang-orang yang ciri-ciri nya disebutkan Asahi hyung tadi. Asahi hyung adalah kunci untuk menemukan pembunuh sebenarnya." Sambung Jungwon.


"Dan gue pikir Asahi hyung bisa jadi korban selanjutnya disini." Jungwon ngesmirk.


"Gue harus hati-hati sekarang." Batin seseorang.

__ADS_1


"Mereka berdua lumayan pintar."


__ADS_2